
Selama beberapa hari kemudian Kim Yo Han selalu menyibukkan dirinya seolah-olah tidak ada lagi waktu baginya. Ia seperti selalu dikejar-kejar.
Lee Chan yang selalu menemaninya merasa Kim Yo Han kembali menjadi gila kerja seperti awal-awal ia mendampinginya mendirikan agensi ini.
"Bos.. Apa kau tidak terlalu lelah. Lihatlah kau tampak pucat." Ujarnya saat menyetir mobil dan Kim Yo Han bersandar di kursi belakang.
Seperti biasa pria itu tidak memberikan jawaban. Ia justru memejamkan kedua matanya.
"Hari apa ini?" Tanyanya. Ia menunggu hari Sabtu dimana ia bisa bertemu lagi dengan Ae Ri.
"Jumat tuanku." Jawab Lee Chan dengan gaya Joseon.
"Besok acara TV itu jam berapa?"
"Jam 7 malam tuanku."
'Masih lebih dari 24 jam!' Keluhnya dalam hati.
"Apakah ada yang perlu kusiapkan khusus untuk besok?" Tanya Lee Chan.
"Tidak perlu." Jawab Kim Yo Han. Kini ia menoleh ke arah jendela disampingnya.
Pohon-pohon berdaun kuning dan kemerahan berjajar di sepanjang jalan menghiasi bulan Nopember ini.
"Aku perlu ke suatu tempat. Carilah taksi." Ujar Kim Yo Han tiba-tiba.
Lee Chan langsung melirik bosnya ingin protes. Namun seperti biasa ia tidak berani.
Perlahan ia memarkirkan mobil hitam itu di pinggir jalan. Kim Yo Han keluar dari mobil dan mengambil alih kemudi lalu meninggalkan Lee Chan melaju dengan mobilnya tanpa sepatah kata.
Lee Chan mengepalkan tinjunya ke arah mobil bosnya itu. Sedangkan Kim Yo Han hanya meliriknya dari kaca spion.
***
"Sebaiknya kita makan dulu sebelum kembali ke butik, Hye Rin." Ujar Ae Ri pada nona Kang, asistennya merangkap sekretarisnya.
"Baik nona. Mau makan dimana?" Tanya Kang Hye Rin.
Mereka berdua sedang menyusuri koridor rumah sakit ternama di kota Seoul. Rumah sakit ini lebih dikhususkan menangani sakit kanker. Mereka baru saja membesuk ibu dari pegawai di butik Liberty Park yang sedang sakit kanker payudara.
"Nona Park. Bukankah itu pacar anda, tuan Kim?"
Ae Ri sangat ingin protes dengan pernyataan asistennya itu namun tertahan saat melihat pria itu jalan menunduk dan tampak sibuk menutupi wajahnya dengan hoodie yang ia pakai.
Seingat Ae Ri, laki-laki itu tidak pernah berpenampilan seperti itu. Ia mengenakan celana jeans yang lututnya sobek-sobek, hoodie coklat dan sepatu kets. Kim Yo Han tampak naik tangga eskalator.
Ada rasa penasaran ingin mengikutinya namun Ae Ri berusaha menangkisnya.
"Sudah ayo kita pergi sekarang. Aku sudah lapar." Ajak Ae Ri. Namun beberapa kali ia menoleh kemana arah perginya pria itu.
***
Ae Ri yang didampingi nona Kang disambut hangat oleh salah seorang kru televisi yang telah menunggu mereka di depan pintu masuk lobi stasiun TV ternama itu.
"Selamat datang nona Park. Terimakasih anda datang tepat waktu." Sapa pria muda sekitar 25an tahun itu.
Ae Ri mengangguk dan tersenyum manis.
"Mari ikuti saya ke ruang rias." Ujar pemuda itu dengan ramah. Ae Ri dan Hye Rin mengikuti di belakangnya.
Ae Ri sedikit melirik ke berbagai tempat mencari sesosok pria. Namun ia tidak terlihat dimana-mana. Sedangkan untuk bertanya dia merasa gengsi.
"Nona Park ini perias anda silahkan duduk. Sebentar lagi nona Go Ah Ra dan sutradara akan menemui anda disini. Jika ada yang anda butuhkan silahkan bicara saja." Pemuda itu menjelaskan dengan tergesa-gesa ciri khas para kru acara televisi.
"Baiklah. Trimakasih." Jawab Ae Ri.
Tim penata rias segera bekerja dengan cepat. Mereka tampak sangat profesional sehingga Ae Ri merasa puas dengan hasil make up nya.
"Apakah ada yang kurang nona?" Tanya seorang wanita yang tampaknya ketua timnya.
Ae Ri memperhatikan wajahnya di cermin besar dihadapannya.
"Kupikir sudah cukup. Trimakasih." Ujarnya.
Ae Ri termasuk wanita yang tidak terlalu menyukai make up yang bolt. Ia lebih menyukai make up yang natural.
"Baiklah kalau begitu nona. Dan saya mendapat informasi bahwa anda akan mengenakan pakaian anda sendiri saat acara nanti. Jadi kami tidak menyediakan pakaian untuk anda."
"Iya benar. Aku akan memakai pakaianku sendiri."
"Baiklah kalau begitu, selamat bersiap-siap nona Park. Semoga sukses acaranya nanti dan juga untuk butik Liberty."
"Trimakasih nona." Ae Ri membungkukkan tubuhnya membalas nona perias itu.
Beberapa saat kemudian setelah Ae Ri berganti pakaian dengan dress rancangan terbarunya terdengar suara pintu di ketuk. Nona Kang cepat-cepat membukanya.
Go Ah Ra sang presenter acara dan seorang pria muda masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat sore menjelang malam nona Park. Saya adalah sutradara acara ini. Saya akan mendiskusikan beberapa hal dengan anda dan nona Go."
"Oke, baiklah." Jawab Ae Ri.
"Jadi nanti yabg pertama diwawancarai adalah tuan Kim, baru setelah jeda iklan anda juga akan dipanggil masuk, kemudian bla..bla..bla.." Sutradara muda itu menjelaskan dengan semangat.
"Bagaimana nona Park, adakah yang belum jelas?"
"Sudah. Sudah jelas. Aku mengerti." Jawab Ae Ri.
"Oya, ciri khas acara kami adalah akan ada tiga pertanyaan masing-masing untuk setiap narasumber yang bersifat gosip. Bisa dibilang gosip murahan tetapi yang sangat disukai penonton. Jadi mohon siapkan mental anda untuk pertanyaan tidak terduga itu ya. Dan anda sebisa mungkin harus menjawabnya" Sutradara itu menjelaskan sambil tertawa.
"Pertanyaan apa?" Ae Ri sedikit bingung.
"Tidak bisa kami sampaikan sekarang. Bahkan nona Go belum tahu apa pertanyaannya. Anggap saja surprise."
"Baiklah kalau begitu, persiapkan diri anda masih ada sekitar 30 menit acara akan dimulai." Ujar sutradara.
"Kami duluan nona Park. Sampai jumpa di stage nanti." Sambung nona Go.
"Baiklah. Sampai jumpa. semoga sukses." Jawab Ae Ri dengan senyum lebarnya.
Ae Ri menghembuskan nafasnya setelah kedua orang itu meninggalkan ruangan.
"Aku gugup sekali. Bagaimana ini Hye Rin. Haruskah aku pura-pura sakit saja dan minta pulang?" Ujarnya lemah.
"Jangan berbuat hal yang memalukan nona. Jika kau berbuat seperti itu, besok kau pasti akan menjadi tranding topik."
Ae Ri menggeleng-geleng.
"Selama di Amerika aku tenang-tenang saja jika diwawancarai atau masuk acara televisi. Tapi disini.. Terlalu banyak yang harus aku sembunyikan."
"Jangan khawatir nona Park. Semua akan baik-baik saja. Aku tahu pasti kau memiliki jurus-jurus keramat untuk mengatasinya." Kang Hye Rin berusaha memotivasi bosnya itu.
Ae Ri hanya tersenyum kecut. Pikirannya melayang ke berbagai hal.
***
Kembali Ae Ri menghembuskan nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia sudah berjalan mengikuti si pemuda yang tadi menyambut kedatangannya menuju studio tempat acara itu berlangsung.
Rasa gugup kian bertambah saat mulai terdengar suara ramai dari dalam studio. Mereka sudah berdiri di belakang stage menunggu saat Ae Ri dipanggil untuk masuk ke acara.
"Anda mau minum dulu atau ke belakang nona?" Bisik pemuda itu.
Ae Ri menggeleng. Kini ia fokus mendengar suara pria yang sangat ia kenal itu.
"Selamat datang tuan Kim. Bagaimana kabar anda. Anda terlihat semakin tampan." Suara ramah nona Go menyapa tamunya.
"Kabar saya sangat baik. Dan terimakasih atas pujiannya." Jawab Kim Yo Han sambil tersenyum.
"Aku ingin sekali bertanya, mengapa anda selalu memilih-milih aktris di manajemen anda? Apa kriteria aktris anda tuan Kim?"
"Tidak. Aku tidak pilih-pilih. Tapi para aktrisnya yang mungkin tidak cocok dengan manajemenku jadi mereka pergi begitu saja." Kim Yo Han dan nona Go tertawa.
"Sedangkan kriteria.. Kupikir kriterianya sama dengan manajemen yang lain. Harus punya keunikan, mau kerja keras dan disiplin. Itu saja." Lanjutnya lagi.
"Kalau begitu apakah aku bisa menjadi aktrismu? Karena seperti yang kita tahu aktris-aktris dari YH Manajemen semuanya sukses. Benarkan tuan Kim?" Terdengar suara nona Go tertawa.
Kim Yo Han tidak langsung menjawab.
"Bisa saja. Tapi kau harus menjadi trainee dulu selama beberapa waktu." Jawab Kim Yo Han kembali sambil tertawa.
"Oya, beberapa waktu lalu kau mengadakan acara yang cukup sukses kan. Kudengar itu hasil kerjasama anda dengan beberapa teman anda."
"Ya benar. Nona Park dari Liberty dan tuan Ahn pemilik departemen store. Mereka berdua sangat hebat. Aku senang bisa bekerjasama dengan mereka."
"Ya anda bertiga memang sangat hebat. Diusia yang masih muda namun sangat sukses. Sampai menginspirasi kami untuk mengangkat tema ini hari ini."
Kim Yo Han menundukkan kepalanya sambil tersenyum sebagai tanda terimakasih atas pujian nona Go.
"Baiklah saya akan panggil salah satu wanita muda yang sangat cantik dan juga sukses, yang bekerjasama dengan anda beberapa waktu lalu. Nona Park Ae Ri." Nona Go meneriakkan nama Ae Ri sebagai tanda agar ia masuk ke stage itu.
Dengan sedikit berdebar dan menahan rasa silau dengan cahaya lampu yang sangat terang, Ae Ri memasuki studio itu. Ia berusaha tampak tenang dan tersenyum semanis mungkin.
Kim Yo Han berdiri saat melihat Ae Ri datang. Wanita itu memakai dress selutut berwarna coklat muda dengan sedikit rample dibagian pinggul sebelah kirinya. Kim Yo Han terpesona melihat Ae Ri sangat cantik dan anggun.
"Silahkan duduk nona Park dan tuan Kim." Ujar nona Go.
"Anda terlihat sangat cantik nona Park. Benar begitu kan tuan Kim?" Nona Go tertawa karena berhasil membuat Kim Yo Han sedikit tergagap.
Ae Ri berusaha bersikap tenang. Ia ikut tertawa bersama nona Go.
"Trimakasih nona Go. Saya senang sekali akhirnya anda mengundang saya ke acara ini. Acara anda sangat luar biasa."
Ucapan Ae Ri langsung disambut tepuk tangan penonton. Ae Ri memandang pria yang duduk di seberang nya itu. Kim Yo Han tampak sedikit berbeda, namun seperti biasa ia terlihat sangat tampan.
Nona Go menyadari bahwa kedua tamunya sedang saling memandang.
"Saya pun senang sekali dapat mengundang kedua orang yang sangat tampan dan cantik seperti anda berdua ini. Penonton, bagaimana jika kita jodohkan saja mereka berdua ini ya. Tampaknya mereka berdua sangat cocok." Kelakar nona Go disambut tepuk tangan juga komentar mengiyakan dari penonton.
Kim Yo Han dan Ae Ri hanya bisa tertawa.
"Nona Park, bagaimana bekerjasama dengan tuan Kim? Karena seperti yang banyak orang ketahui tuan Kim sedikit dingin dan sangat tegas, maksudnya sedikit galak." Nona Go menekankan kalimat terakhirnya sambil tertawa dan melirik Kim Yo Han.
"Saya justru senang mendapat rekan yang seperti itu. Dan kami bertiga juga bisa bekerjasama dengan baik."
"Oya, kami sebenarnya juga mengundang Tyan Ahn Jae Hyun namun sayang ia tidak dapat hadir. Kalau tidak salah nona Park dan tuan Ahn berteman baik ya?"
"Ya benar. Kami sering sekelas saat kuliah di Amerika. Karena sama-sama orang Korea jadi kani cukup akrab. Dia banyak membantuku." Terang Ae Ri.
"Kalau dengan tuan Kim, apakah anda sudah mengenal lama atau baru saja?"
"Baru saja. Kami kebetulan juga bekerjasama sebelumnya. Saya mengerjakan pakaian seragam di sekolah milik tuan Kim."
"O benar. Tuan Kin memiliki sekolah ya. Sekolah Byeol itu kan tuan Kim? Mengapa kau memutuskan untuk mengelola sekolah?"
"Ya benar SD sampai SMA Byeol. Alasanku sebenarnya cukup naif. Aku agak malu mengatakannya." Kim Yo Han tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Ayolah, katakan saja. Apa alasan mu?"
"Sebenarnya waktu aku kecil, aku tidak sekolah. Jadi aku sangat ingin merasakan bagaimana rasanya sekolah, bercanda dengan teman atau di marah oleh guru." Kim Yo Han tertawa kembali.
"Ya aku mendapat informasi bahwa tuan Kim sudah tidak memiliki orangtua lagi sejak kecil. Maukah anda berbagi cerita dengan kami sehingga mungkin bisa menjadi motivasi bagi banyak anak muda di luar sana yang sedang putus asa." Ujar nona Go.
Kim Yo Han mengangguk. Lampu sorot kini lebih banyak mengarah pada pria itu.
***