Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Sebelas



Seketika darah Ae Ri mengalir lebih cepat. Ia sangat gugup mendengar lelaki itu menyebut nama Mi Cha. Nama yang sudah ia kubur dengan dirinya yang lama.


"Maaf tuan. Apakah saya tadi belum menyebutkan nama saya? Tampaknya anda salah menyebut nama saya." Ae Ri tertawa.


"Maaf nona Park. Anda mengingatkan saya pada seseorang. Anda sangat mirip dengannya."


"Begitukah? Wah berarti saya memiliki wajah yang pasaran. Sayang sekali!" Ae Ri tertawa dan pura-pura kecewa.


"Sejak kapan anda tinggal di Amerika? Saya dengar anda baru saja kembali."


"Sejak lulus SMP. Saya SMA sampai kuliah disana."


Yo Han tersenyum. Ae Ri semakin berdebar.


"Senyum anda sangat indah tuan. Saya dengar anda seorang model." Ae Ri bersikap dingin. Entah mengapa ia ingin dianggap berani dan arogan oleh pria di hadapannya itu. Meskipun sebenarnya ia sangat gugup.


"Ya. Dulu. Demi bisa makan. Seseorang telah menipuku."


"Dulu? Sekarang tidak menjadi model lagi?"


"Tidak."


"Kenapa? Bukankah anda masih tampan? Tubuh anda juga masih bagus. Masih bisa dijual" Ae Ri sengaja menilai pria di depannya dari atas sampai bawah tubuhnya dengan sudut matanya. Namun ia melihat seperti menilai sebuah benda mati. Dan itu sedikit mengganggu Yo Han.


Pria itu hanya tertawa sumbang.


"Jika saya meminta anda menjadi model saya, apakah anda mau?" Tanya Ae Ri.


"Saya akan mempertimbangkannya. Jika bayarannya cocok, mungkin saja saya mau. Tapi asal anda tahu Nona, saya sangat mahal."


Ae Ri tertawa.


"Dan saya bisa membayar anda jika mau." Jawabnya sinis sambil meninggalkan pria itu.


Kim Yo Han tertawa dan menyentuh bibirnya. Wanita itu telah membuatnya memikirkan sesuatu yang jahat.


Ae Ri berjalan cepat-cepat ke area tengah ruangan itu. Ia ingin segera menjauh dari pria itu. Ia khawatir pria itu benar-benar mengenalinya.


Beberapa tamu langsung mendatangi dan mengajaknya berbicara. Untuk sesaat Ae Ri merasa lega. Seperti terlepas dari cengkraman mulut buaya.


Namun ternyata kelegaannya tidak berlangsung lama saat tiba-tiba Ahn Jae Hyun datang dengan tawanya yang polos.


"Nona Park. Perkenalkan ini CEO Kim dari YH Manajemen yang kemarin kita bicarakan."


Ae Ri menatap Yo Han yang tersenyum tanpa merasa bersalah padanya. Pria itu mengulurkan tangannya.


"Bukankah tadi kita sudah bertemu dan berbincang-bincang CEO Kim?" Ae Ri tidak menerima uluran tangan Kim Yo Han.


"Benarkah? Maaf Nona, saya seringkali kehilangan akal sehat jika dihadapan wanita cantik." Kim Yo Han membungkuk sambil tersenyum.


Beberapa tamu yang berdiri di dekat mereka tertawa.


"Wah akhirnya ada wanita yang menarik hati CEO Kim. Biasanya Tuan Kim Yo Han sangat dingin terhadap wanita-wanita." Komentar salah seorang pengusaha muda.


"Wah saya tidak tahu jika reputasi saya seperti itu." Yo Han tertawa lagi memperlihatkan deretan gigi putihnya yang sangat rapi.


Ae Ri merasa Kim Yo Han sedang melecehkannya. Ia sangat jijik dengan pria itu.


Tiba-tiba ia menggenggam tangan Jae Hyun. Jae Hyun menoleh dan tersenyum pada Ae Ri.


"Kau mau mengajakku ke mana Nona?" Tanyanya lembut.


Seketika semua orang yang berada disekitar mereka melirik tangan Ae Ri dan Jae Hyun. Kim Yo Han menggigit gerahamnya dengan kuat untuk menahan amarah yang datang tiba-tiba.


"Tuan-tuan, bisakah saya meminjam nona cantik ini sebentar, nampaknya ia sedang membutuhkan saya." Jae Hyun tertawa dan menganggukkan kepala begitu juga Ae Ri. Sesaat kemudian kedua orang itu meninggalkan mereka.


Kim Yo Han terus memperhatikan arah perginya mereka. Darahnya seperti naik ke kepalanya saat melihat Jae Hyun melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu.


Saat sampai di pinggir, mereka berhenti. Jae Hyun melambaikan tangan pada seorang pelayan yang membawa baki berisi gelas minuman. Ia mengambilkan satu dan diberikan pada Ae Ri.


Ae Ri meminumnya. Lalu mengembalikannya pada Jae Hyun. Kembali Kim Yo Han menggigit giginya dengan keras saat melihat Jae Hyun menghabiskan minuman di gelas Ae Ri.


Jae Hyun memanggil pelayan dan mengembalikan gelas. Kemudian ia tampak membelai rambut Ae Ri.


"Ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka pacaran?" Seseorang membicarakan Ae Ri dan Jae Hyun.


"Jae Hyun. Apakah kau sedang pacaran dengan seseorang?" Ae Ri berbisik.


"Tidak. Kenapa?"


"Maaf malam ini aku akan memanfaatkanmu. Aku tidak suka para lelaki itu menempel terus padaku. Aku ingin mereka mengajakku berbisnis karena hasil karyaku bukan karena wajah dan tubuhku."


Jae Hyun tersenyum memahami situasinya. Ia membelai rambut Ae Ri dengan lembut.


"Begini sudah cukup?" Bisiknya.


Ae Ri mengangguk.


"Apa aku perlu menciummu? Akan kulakukan dengan senang hati."


"Jangan gila! Kubunuh kau kalau berani." Jawab Ae Ri namun dengan senyum yang sangat manis.


"Bagaimana jika kita menikah saja. Pasti mereka tidak akan mengganggumu lagi." Bisik Jae Hyun sambil meraih jemari Ae Ri.


Ae Ri membiarkan tangan Jae Hyun membelai tangannya.


"Aku sangat ingin memasangkan cincin di jari ini."


"Jae Hyun. Saat ini aku seperti lepas dari mulut buaya tapi masuk ke mulut singa."


Jae Hyun terkekeh melihat wanita itu tetap bisa tersenyum manis walaupun ia sedang kesal. Ae Ri selalu saja bisa membuatnya jatuh cinta. Namun wanita itu juga selalu bisa menolaknya.


"Sebentar lagi acaranya selesai. Selamat ya. Pestamu sukses. Kulihat hampir semua yang kau undang bisa datang. Dan mereka bertahan sampai pesta usai."


Ae Ri menoleh dan melihat ke seluruh tamu yang masih menikmati suasana malam ini. Ia tersenyum mendengar ucapan Jae Hyun.


Namun tiba-tiba matanya berhenti saat melihat sesosok pria yang berdiri ditengah ruangan yang diam mematung sambil menatapnya dengan tajam. Ae Ri merinding merasakan perasaan yang dulu pernah ia rasakan. Takut.


***


"Kau tampak sangat diam hari ini. Apa kau sakit?" Tanya Jae Hyun saat sedang mampir dan membawakan makan siang ke Liberty Park.


"A..tidak. Aku hanya memikirkan sekolahnya Tae Yang." Ae Ri berbohong karena sebenarnya ia sedang memikirkan Kim Yo Han.


"Apanya yang kaupikirkan. Semua sudah diurus. Seragam sudah dipesan. Tae Yang tinggal masuk saja saat ia sudah siap."


"Dia sih inginnya segera masuk sekolah."


"Lalu?"


"Hari ini aku masih sibuk."


"Kalau begitu biar aku saja yang mengantarnya."


"Tidak usah. Aku saja."


"Kapan?"


"Besok saja. Apa sekolahnya bagus?"


"Sangat bagus. SD Byeol adalah sekolah yang paling bergengsi di Seoul."


Jae Hyun tertawa.


"Tae Yang itu anak yang keren. Dia pintar dan tampan seperti aku. Tentu saja dia akan gampang bersosialisasi. Tenanglah. Jangan khawatir."


Ae Ri mencibir. Sebenarnya dalam hatinya ada lagi yang membuatnya tidak nyaman. Ia takut Kim Yo Han mengetahui keberadaan Tae Yang.


***


"Tae Yang! Mommy pulang."


"Ayah JJ juga!"


Ae Ri melirik kesal pada Jae Hyun. Sebenarnya ia tidak ingin Tae Yang memanggil Jae Hyun dengan sebutan 'ayah'. Namun Jae Hyun selalu memaksa dengan alasan ia adalah ayah babtisnya.


Tae Yang keluar dari kamar dengan langkah yang lesu.


"Tuan muda Park, apakah anda sakit?" Jae Hyun langsung menghampiri dan meraba dahi Tae Yang.


Ae Ri ikut mendekat.


"Tidak panas."


"Aku bosan...!" Tiba-tiba Tae Yang berseru.


"Mommy enak bekerja bertemu banyak orang. Ada ayah JJ juga. Aku di rumah sendirian!" Rengeknya lagi.


"Kan dirumah ditemani bibi Seo.." Jawab Ae Ri. Bibi Seo adalah asisten Ae Ri untuk mengasuh Tae Yang.


Tae Yang hanya cemberut.


"Mommy bilang aku akan masuk sekolah. Kapan?"


"Besok Sayang. Hari ini mommy kan menyuruhmu untuk istirahat dulu."


"Tubuhku jadi sakit semua karena tidak bisa bermain."


Ae Ri dan Jae Hyun tertawa.


"Baiklah kalau begitu apa kau mau bermain dengan ayah JJ? Kita bermain pesawat terbang diluar. Mau?"


"Tuan Ahn. Sekarang aku sudah besar. Tidak suka lagi bermain seperti itu." Tae Yang berbicara dengan sopan dan serius.


Jae Hyun melirik Ae Ri.


"Lalu kau mau main yang seperti apa?"


"Aku mau melihat-lihat kantor Paman. Boleh?"


"Tapi mengapa tiba-tiba kau memanggilku paman?"


"Kata mommy jika ada banyak orang aku tidak boleh memanggil ayah. Bolehnya paman."


"Mengapa begitu?" Protes Jae Hyun pada Ae Ri.


"Aku tidak ingin mencari masalah dengan keluargamu. Lagi pula jika Tae Yang memanggilmu ayah, para gadis akan lari ketakutan."


Jae Hyun yang tampak kesal. Ia berdiri dan duduk di sofa.


Tae Yang menyusul dan duduk disebelahnya.


"Apakah paman marah padaku? Atau pada mommy?"


"Dua-duanya?"


Tae Yang membelai punggung Jae Hyun. Seperti biasanya ia diperlakukan mommynya jika sedang sedih.


"Ayah sedih, Tae Yang sudah tidak mau memanggilku ayah lagi."


"Bukannya tidak mau. Tapi hanya mengurangi. Hanya jika ada orang lain saja aku memanggil paman. Jangan sedih ya?"


'Gayanya sok dewasa sekali. Sedangkan yang dewasa justru bersikap kekanakan." Batin Ae Ri geli.


"Oke. Tapi sekarang kita main ya." Jawab Jae Hyun.


"Oke!!" Seru Tae Yang sambil menarik Jae Hyun ke kamarnya.


Ae Ri tertawa lebar melihat kelakuan dua orang itu.


***


Dengan senyum ceria Ae Ri menggandeng tangan Tae Yang memasuki lokasi SD Byeol.


Tae Yang sendiri tampak sangat mengagumi suasana sekolah barunya yang sangat luas itu dan asri itu. Kedua matanya membulat dan berbinar cerah.


Semangat bocah 6 tahun itu terlihat dari langkah kakinya yang panjang-panjang seolah tidak sabar untuk masuk ke sekolah.


Setelah Tae Yang di bawa ke kelas oleh guru walinya, Ae Ri meminta waktu untuk berbicara dengan kepala sekolah.


"Saya ingin meminta tolong pada Anda, Bu."


"Baiklah Nyonya. Silahkan Anda sampaikan."


Ae Ri merasa sedikit lega karena kepala sekolah SD Byeol seorang perempuan sehingga mungkin bisa lebih memahami kondisinya.


"Begini Bu. Tae Yang tidak memiliki ayah. Dan saya ingin menyembunyikan keberadaannya dari orang lain. Saya tidak ingin orang lain tahu bahwa saya adalah mamanya. Karena saya takut nanti ketahuan ayah biologisnya. Saya tidak ingin pria itu merebut Tae Yang dariku."


"Jadi ayah Tae Yang ada di sini? Di Seoul?"


"Ya bu. Tapi dia tidak tahu saya memiliki anak darinya. Saya dulu masih sangat muda. Saya lari darinya karena dia sangat br*ngsek."


Selama beberapa saat wanita berusia sekitar 45 tahunan itu memandangi Ae Ri dengan perasaan yang bercampur-aduk.


"Baiklah. Nanti saya akan mengkoordinasikan dengan wali kelasnya. Supaya identitas orang tua Tae Yang dirahasiakan."


"Terimakasih banyak ibu kepala sekolah. Saya sangat bersyukur Anda mau menolong saya."


"Tidak apa-apa Nyonya Park. Saya sangat memahami kondisi Anda."


"Bagaimana dengan Tae Yang. Apakah dia tahu?"


"Tentang ayah kandungnya?"


Ibu kepala sekolah mengangguk.


"Tidak Bu. Tae Yang tidak tahu. Dan selama ini juga mereka tidak pernah bertemu. Dan saya sangat tidak menginginkan itu terjadi."


Ibu kepala mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Anda sangat cantik dan sukses di usia semuda ini, Nona. Seharusnya, ah pasti, pria itu merasa menyesal meninggalkan Anda." Tawanya.


Ae Ri ikut tertawa.


'Ya! Aku akan membuat dia menyesal telah meninggalkanku begitu saja." Batin Ae Ri dalam hati.


***


Tae Yang yg emesh banget..