
Ae Ri merasa tubuhnya sangat lemah hari ini. Setelah melihat kondisi Kim Yo Han ia merasa seperti 80% tenaganya hilang.
Ia kembali ke kantor untuk menenangkan diri. Ia takut jika pulang ke rumah akan ketahuan Tae Yang jika ia menangis.
"Nona Park, anda tampak sangat pucat sekali? Anda sakit?" Hye Rin sekretarisnya tampak khawatir.
"Tidak. Aku tidak apa-apa Hye Rin. Tolong carikan makanan yang sangat pedas. Aku harus membuang stressku ini."
Hye Rin menatap bosnya dengan sedikit heran bercampur cemas. Namun ia tetap menuruti keinginan aneh wanita itu.
***
"Aku tidak mau dia datang ke sini lagi. Kalian ingat itu!" Kim Yo Han berkata dengan suara dinginnya yang khas pada Lee Chan dan tuan Ko.
"Tapi bukankah tuan sangat merindukannya?" Tanya tuan Ko dengan polos. Kim Yo Han meliriknya dengan kesal.
"Masalah merindukan dia itu biar menjadi urusanku. Urusan tuan Ko adalah menjaga pintu agar wanita itu tidak masuk ke rumah ini lagi. Paham?!"
Dengan ragu tuan Ko mengangguk.
"Mengapa tuan melarangnya datang ke sini?" Pria tua itu seperti masih tidak terima.
Kim Yo Han menghela nafas.
"Dia datang hanya untuk mengejekku." Jawabnya dingin.
Lee Chan dan tuan Ko saling pandang.
"Tapi tuan, nona Cha tampaknya sangat mencemaskan anda. Dan kulihat dia tidak mengejek anda." Sanggah tuan Ko. Lee Chan menyenggol siku Tuan Ko karena Kim Yo Han tampak sudah memasang muka masam karena tidak suka.
"Bukan nona Cha. Nona Park. Park Ae Ri." Jelas Kim Yo Han. Entah mengapa saat ia menyebut nama wanita itu dengan lengkap ada sesuatu yang terjadi di dalam benaknya. Ya.. Benar kata pak Ko, dia sangat merindukan wanita itu.
"Pergilah kalian berdua. Aku ingin tidur." Kata Kim Yo Han sambil menarik selimutnya setinggi leher.
Cepat-cepat kedua pria itu keluar dari kamar Kim Yo Han.
"Apa yang akan kita lakukan tuan Ko. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Aku tadi sempat berpikir jika nona Park dapat menolongnya." Bisik Lee Chan sambil menuruni tangga.
"Aku juga berpikir seperti itu. Aku sangat menderita melihat tuan Kim setiap hari duduk termenung menatap foto di kamarnya itu. Tidakkah kau lihat meskipun ia marah-marah namun wajahnya terlihat senang."
"Ya benar. Kupikir hanya perasaanku saja." Jawab Lee Chan.
"Kalau begitu aku akan membiarkan nona Park datang. Kita akan mencari alasan mengapa nona Park bisa masuk. Kupikir nona Park pasti mau bekerja sama dengan kita." Ujar tuan Ko dengan semangat namun tetap menahan suaranya agar tidak terlalu keras. Lee Chan merenung lalu menganggukkan kepalanya.
"Benar. Aku yakin nona Park akan bisa membujuknya untuk menerima terapi lagi. Jadi dia bisa pulih lagi seperti yang dikatakan dokter. Nanti aku akan menelpon nona Park." Jawab Lee Chan.
***
Park Ae Ri berdiri sambil mendongakkan kepala menatap ruang atas rumah dihadapannya itu. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas yang terasa sesak didadanya.
Ia, Lee Chan dan pak Ko sudah sepakat untuk bekerjasama agar Kim Yo Han mau di terapi. Yang terpenting adalah mengembalikan kepercayaan dirinya. Itu pesan dokter Han.
Perlahan ia menekan kunci pintu dan masuk ke rumah itu lalu langsung menuju lantai dua.
Ae Ri mengetuk pintu kamar Kim Yo Han dan langsung membukanya. Tampak pak Ko sedang menyeka tubuh Kim Yo Han yang terbaring di tempat tidur.
Kim Yo Han tampak terkejut melihat kedatangan Ae Ri. Ia terlihat kesal dan menatap pak Ko dengan marah.
"Pak Ko, biar aku yang melakukannya." Kata Ae Ri sambil mengambil handuk kecil dari tangan pak Ko. Pak Ko cepat-cepat berdiri. Sebelum Kim Yo Han bersuara ia sudah melesat melarikan diri keluar kamar.
"Pak Ko.." Kim Yo Han kembali menutup mulutnya karena pintu kamar sudah tertutup kembali. Ia sangat kesal dan menepiskan tangan Ae Ri yang akan menyeka tubuhnya.
Namun Ae Ri tidak peduli. Ia tetap menyeka tubuh Kim Yo Han dengan lembut tanpa menatap mata pria itu.
"Kau bisa duduk?" Ae Ri menarik tangan Kim Yo Han dan berusaha membawanya duduk agar ia bisa memakaikan pakaian yang sudah disiapkan pak Ko tadi.
Kim Yo Han membatu, ia tidak membiarkan tubuhnya terangkat oleh wanita itu. Ae Ri memandangi Kim Yo Han yang selalu menghindari tatapannya.
Dengan susah payah akhirnya Ae Ri berhasil memakaikan kaos oblong warna putih pada pria yang masih berbaring itu.
"Apakah aku boleh mengganti celanamu?" Tanya Ae Ri polos.
"Tidak. Jangan!" Seru Kim Yo Han. Tangannya cepat-cepat memegang bagian sensitifnya. Ae Ri tertawa tergelak.
Toktoktok..
"Masuk!" Seru Ae Ri.
"Anda pasti bibi Min kan? Saya Park Ae Ri." Sapa Ae Ri.
"Ya nona Park. Saya sudah diberitahu pak Ko. Ternyata aslinya anda sangat cantik. Selama ini saya hanya melihat anda di foto." Ujarnya sambil melirik foto di dinding lalu melirik Kim Yo Han.
Seketika senyumnya menciut saat melihat tatapan kesal tuannya.
"Ini sarapan tuan Kim. Dan saya akan bawa baskomnya nona. Permisi." Ujar wanita itu cepat-cepat sambil meraih baskom air dan keluar kamar secepat kilat.
Ae Ri tersenyum lalu menoleh pada Kim Yo Han. Ia membuka blazer kremnya hingga ia hanya memakai kaos putih tanpa lengan dan rok pendek berwarna pink.
Dengan sekuat tenaga Ae Ri menarik tubuh Kim Yo Han yang tampak enggan bergerak. Setelah bersusah patah akhirnya ia bisa mendudukkan pria itu dan menyandarkannya di kepala ranjang.
Dengan sabar Ae Ri meniup sup yang masih panas lalu menyuapkannya ke mulut Kim Yo Han. Namun pria itu tetap menutup bibirnya rapat-rapat.
Ae Ri memandangi wajah tampan yang masih terlihat pucat itu. Wajahnya lebih tirus dari beberapa waktu yang lalu.
"Ayo makanlah. Buka mulutmu.." Bujuk Ae Ri.
Kim Yo Han masih diam tidak berkutik. Lama-kelamaan Ae Ri menjadi gemas melihat tingkah laku pria itu. Ia tiba-tiba naik ke tempat tidur dan duduk di pangkuan Kim Yo Han dan menghadap ke pria itu.
Kim Yo Han tampak sangat terkejut. Kedua matanya terbelalak, ia tak menyangka wanita itu akan berbuat seperti itu.
Ae Ri menggigit sepotong telur gulung lalu menempelkannya ke bibir Kim Yo Han. Pria itu tampak bingung dan dengan sedikit ragu ia menggigit ujung telur gulung itu.
Ae Ri masih mendesaknya agar menghabiskan telur yang disuapin ya menggunakan bibirnya itu. Kim Yo Han tampak tidak bisa mengelak lagi. Perlahan ia menghabiskan tiap gigitan telurnya hingga tersisa potongan kecil di bibir Ae Ri. Kembali Ae Ri mendekatkan bibirnya agar pria itu memakan telurnya.
Kim Yo Han memandangi Ae Ri, dengan sedikit ragu ia menerima telur itu. Ia berdesir saat bibirnya menyentuh bibir Ae Ri. Inilah yang ia takutkan. Ia takut jika menginginkan wanita itu lagi. Sedangkan tubuhnya tidak lagi membuatnya percaya diri. Dengan cepat ia memundurkan kepalanya dan meraih gelas di meja samping tempat tidurnya.
Sambil meneguk air putih Kim Yo Han mencoba menenangkan pikirannya yang bergejolak.
"Ayo makan nasi dan supnya." Bisik Ae Ri setelah Kim Yo Han meletakkan gelasnya kembali.
"Aku bisa makan sendiri." Ujar Kim Yo Han sambil mendorong tangan Ae Ri yang hendak menyuapinya.
Ae Ri memandangi Kim Yo Han sebentar.
"Baiklah." Jawabnya sambil turun dari pangkuan pria itu. Ia lalu meletakkan baki di pangkuan Kim Yo Han setelah sebelumnya memasang kaki-kaki baki hingga menjadi meja kecil.
"Nah, makanlah. Harus dihabiskan semuanya." Perintah Ae Ri.
Perlahan Kim Yo Han memakan makanannya. Tanpa ia sadari ia menghabiskan seluruh makanannya. Padahal biasanya ia hampir tidak menyentuhnya makanannya sama sekali.
Ae Ri tersenyum manis saat melihat Kim Yo Han telah menghabiskan makanannya.
"Pergilah. Aku ingin istirahat." Ujar Kim Yo Han pelan saat Ae Ri membereskan peralatan makannya.
"Tidak. Kau belum boleh istirahat. Sebentar lagi dokter Han dan dokter Moon datang. Dokter Moon adalah dokter fisioterapi. Mulai hari ini kau akan diterapi untuk memulihkan kakimu. Aku sudah bicara banyak dengan mereka berdua." Kata Ae Ri dengan tenang.
Kim Yo Han terkejut dan sesaat kemudian ia tampak kesal.
"Aku tidak mau!" Serunya.
Ae Ri tersenyum sinis.
"O.. Jadi kau memilih untuk seperti ini terus? Kau senang jika dikasihani?"
"Aku tidak mau kau mengasihaniku. Dan aku juga tidak mau kau mencampuri kehidupanku!"
"Siapa yang mangasihanimu?! Justru kau sendiri yang mengasihani diri sendiri. Kau sangat lemah. Kalah dengan keadaanmu!! Sampai kapan kau akan seperti itu?! Aku khawatir Tae Yang akan kecewa saat mengetahui daddy-nya adalah orang yang sepertimu." Seru Ae Ri dengan suara tinggi.
Kim Yo Han diam. Tiba-tiba terbayang di ingatannya tentang Tae Yang di matanya. Ia sangat merindukan putranya itu. Perlahan ia menundukkan kepalanya. Ia memang telah merasa patah semangat. Tapi itu karena ia tahu bahwa Ae Ri menolaknya dan akan segera menikah dengan Jae Hyun.
"Kapan kau akan menikah?" Bisik Kim Yo Han tiba-tiba. Ae Ri terkejut mendengarnya.
"Bulan depan." Jawab Ae Ri.
"Lalu mengapa kau kesini? Pura-pura peduli denganku." Ujar Kim Yo Han sinis.
Ae Ri terdiam. Ia berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Setelah menikah aku akan bulan madu ke luar negeri. Aku akan menitipkan Tae Yang padamu. Saat aku lihat kau tidak bisa berjalan aku jadi ragu. Namun setelah bertanya pada dokter Han ternyata ada kemungkinan kau sembuh. Jadi aku berharap kau bisa berjalan lagi saat aku bulan madu." Jawab Ae Ri dengan lancar.
Kim Yo Han mendongak dan menatap wajah Ae Ri dengan perasaan yang sulit diucapkan.
***