
"Siapa kalian?" Tanya nyonya Park.
"Selamat siang nyonya besar. Tuan besar ingin bertemu dengan anda dan putri anda." Jawab salah seorang dari preman-preman itu.
"Tuan besar?" Ae Ri tampak bingung, namun nyonya Park sudah menduga siapa orang yang dimaksud.
"Katakan padanya aku tidak mau menemuinya." Jawabnya.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam datang. Dengan cepat Kim Yo Han keluar dari mobilnya.
Saat ia mengikuti Ae Ri dan nyonya Park tadi ia menyadari bahwa beberapa preman itu mengikuti mereka. Dengan sigap ia pun mengejar.
"Apa yang kalian lakukan disini?!!" Serunya dengan marah.
"Tu.. Tuan Kim. Anda mengikuti kami?"
Tampak anggota geng itu sedikit takut pada Kim Yo Han. Mereka menundukkan tubuhnya pada pria itu.
"Ya! Dan katakan siapa yang menyuruh kalian?!!"
"Aku yang menyuruh mereka. Apa yang kau lakukan disini?" Sebuah suara berat seorang pria terdengar.
Mereka menoleh ke asal suara.
"Ayah?!" Seru Kim Yo Han terkejut.
Pria yang dipanggilnya ayah adalah Park Chul Moo alias Pandai Besi. Ketua geng mafia yang dulu pernah ia ikuti.
"Park Chul Moo!" Nyonya Park berseru.
"Yeobo.." Park Chul Moo mendekat dan ingin memeluk nyonya Park. Namun langkahnya terhenti.
"Berhenti disana. Jangan mendekat!" Seru nyonya Park.
Kim Yo Han dan Ae Ri sangat terkejut saat mendengar Park Chul Moo memanggil nyonya Park dengan sebutan Yeobo. Itu adalah panggilan sayang untuk pasangan yang sudah menikah.
***
"Yeobo.. Aku mencarimu kemana-mana. Kau bersembunyi dimana selama ini?" Park Chul Moo tampak putus asa.
Kim Yo Han menyadari ia belum pernah melihat ekspresi ayah angkatnya seperti itu. Ia tampak sangat putus asa.
Park Chul Moo menoleh pada Ae Ri.
"Apakah ini Ae Ri ku? Ae Ri ku sayang. Putriku.." Tanpa disangka-sangka Park Chul Moo menangis tersedu-sedu.
Kim Yo Han merasa iba pada pria tua itu. Ia mendekat dan menepuk-nepuk bahu ayah angkatnya itu.
Park Chul Moo memeluk Kim Yo Han dan meletakkan kepalanya di dadanya karena tubuh Kim Yo Han lebih tinggi darinya.
"Mereka adalah istriku dan anakku yang sudah lama aku cari.." Isak pria itu.
Kim Yo Ha tekesima mendengar penjelasan Par Chul Moo.
Ae Ri sedikit risih dengan keramaian itu dan banyak orang-orang yang menonton mereka.
"Ma kita masuk saja. Biarkan dia menyampaikannya didalam sebentar." Bisik Ae Ri pada mamanya.
Meskipun enggan akhirnya nyonya Park mengangguk.
"Bawa dia ke dalam dan suruh semua anak buahnya untuk pergi!" Perintah Ae Ri pada Kim Yo Han. Setelah itu ia menggandeng Tae Yang dan mamanya masuk ke rumah.
Kim Yo Han memerintahkan semua anak buah ayahnya untuk pergi. Mereka segera menuruti perintah Kim Yo Han.
"Tenangkan dirimu. Masuk dan jelaskan apa keinginanmu. Dan kau juga harus mendengarkan apa keinginan mereka." Ujar Kim Yo Han pada Park Chul Moo.
Pria setengah baya itu mengangguk lemah. Air matanya masih membasahi wajahnya. Kim Yo Han merangkulnya dan membawa masuk kedalam rumah.
"Tae Yang, ayo main sama daddy diluar." Tae Yang ingin memberi kesempatan pada mereka untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
"Jangan diluar. Dingin. Main di kamarmu Tae Yang." Seru nyonya Park. Ia tanpa sadar mengatakan 'kamar Tae Yang'.
Tae Yang mengangguk dan menggandeng tangan Kim Yo Han dan membawanya masuk ke kamarnya.
"Siapa kakek itu dad? Mengapa ia menangis?"
Kim Yo Han memandangi wajah bocah dihadapannya itu. Lalu membelai lembut rambutnya.
"Ini kamarmu? Kamarmu sangat bagus." Tanya Kim Yo Han.
Dengan polosnya Tae Yang mengangguk.
Kim Yo Han memandang sekeliling ruang kamar itu. Di atas nakas disamping tempat tidur tampak foto Ae Ri yang sedang memeluk Tae Yang. Disebelahnya lagi foto Ae Ri, Tae Yang dan nyonya Park.
Kim Yo Han mengepalkan tangannya dan menempelkannya ke bibirnya. Ia menahan gejolak batinnya.
"Mommy dan grany mu sangat baik. Kau pasti sangat menyayangi mereka kan?" Kim Yo Han bertanya sambil meraba foto mereka bertiga. Ia memancing agar Tae Yang jujur tanpa disadari oleh bocah itu.
"Iya. Aku sayang mereka." Jawab Tae Yang dengan polos, sambil ikut menatap foto itu.
Kim Yo Han mencoba menata jantungnya yang berdetak sangat cepat. Dulu ia memang sempat mencurigai hubungan antara Ae Ri dan Tae Yang. Baginya bibir, senyum dan lesung pipi mereka sangat identik. Namun ia ternyata masih sangat terkejut dengan kenyataan ini.
"Daddy.." Seru Tae Yang. Ia sedang menunjukkan gambarannya pada Kim Yo Han.
"Iya anakku." Bisiknya hampir tidak terdengar.
"Baguskan gambarku? Aku menggambar mommy dan daddy dan aku. Waktu kita bermain di pantai." Tae Yang sangat bersemangat.
Kim Yo Han tersenyum ia mengambil buku gambar yang disodorkan Tae Yang.
"Ya.. Ini indah sekali. Bolehkah daddy minta. Akan daddy tempel dikamar daddy. Boleh?"
Kini ia tahu mengapa ayah angkatnya, Park Chu Moo tadi menangis seperti itu saat melihat anak dan istrinya. Kini ia mengalaminya sendiri. Dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya didepan Tae Yang.
"Tentu saja boleh." Tae Yang tertawa gembira karena Kim Yo Han menghargai hasil karyanya.
"Bolehkah daddy memelukmu?" Tanya Kim Yo Han.
Tae Yang langsung mendekat dan memeluk Kim Yo Han yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.
Kim Yo Han memeluk erat tubuh anak itu. Tanpa bisa ia tahan lagi air matanya jatuh. Tapi ia berusaha agar Tae Yang tidak menyadarinya. Cepat-cepat ia mengelapnya.
Disaat yang bersamaan Ae Ri masuk ke kamar Tae Yang. Wajahnya tampak sedikit tegang.
Ia sempat terkejut saat melihat Kim Yo Han memeluk Tae Yang. Namun ia memutuskan untuk membiarkannya. Pikirannya kini masih terfokus pada kedua orang di ruang tamunya itu.
"Apakah aman meninggalkan mereka berdua?" Tanya Kim Yo Han.
Ae Ri duduk di sofa di depan Kim Yo Han.
"Tidak apa-apa. Biar mereka saling bicara dulu." Jawab Ae Ri. Ae Ri memandangi putranya yang sedang dipangku Kim Yo Han.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
'Astaga.. Ini kamar Tae Yang. Dan foto-foto dikamar ini..' Ae Ri melirik pada Kim Yo Han.
'Apakah dia menyadarinya? Ah.. Semoga saja tidak.' Batin Ae Ri mencoba menenangkan diri.
"Mommy aku haus.. Bolehkan aku mengambil minum?" Tiba-tiba Tae Yang bicara. Ae Ri terkejut dan melotot ke arah Tae Yang.
'Aduh kenapa kau memanggilku mommy, Tae Yang..' Omel Ae Ri di dalam hati.
"Tunggu disini, akan daddy ambilkan." Kim Yo Han berdiri dan keluar kamar.
Setelah Kim Yo Han keluar Ae Ri langsung berbicara dengan Tae Yang dengan suara yang dipelankan.
"Mengapa kau memanggil mommy 'momny' Tae Yang.." Omelnya.
Tae Yang tampak terkejut lalu menutup bibirnya. Ia tahu ia telah keceplosan bicara.
"Tapi daddy sudah tahu kalau mommy adalah mommyku." Jawab Tae Yang.
Ae Ri terbelalak dan baru saja akan menjawab tapi ia batalkan karena Kim Yo Han sudah kembali masuk ke kamar.
"Nah minumlah. Hati-hati tumpah." Ia menyerahkan botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya pada Tae Yang.
Kim Yo Han juga memberikan sebotol air pada Ae Ri.
"Minumlah. Kau juga pasti membutuhkan ini." Ujarnya.
Ae Ri mengambil botol itu dan meminumnya langsung sampai hampir habis. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan air itu.
"Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mamamu akan memaafkan papamu?" Tanya Kim Yo Han.
"Dia bukan papaku. Enak sekali dia datang dan mengaku-ngaku. Saat mamaku melahirkanku dia dimana? Saat mamaku membesarkanku dia dimana? Aku tidak mengenalnya sama sekali. Aku bahkan membencinya. Ia telah membuat mamaku menderita." Jawab Ae Ri dengan penuh emosi. Ia sepenuhnya mengatakan itu untuk Kim Yo Han.
"Bukankah tadi dia bilang sudah mencari kalian tapi tidak ketemu? Dia sudah berusaha."
"Hah.. Kalau dia serius mencari, ia pasti akan menemukan kami."
"Luar negeri memang tidak terjangkau olehnya. Aku tahu itu."
Ae Ri hanya tertawa sinis.
"Bagaiman jika mamamu memaafkannya dan mau menerimanya kembali." Tanya Kim Yo Han.
"Hahaha.. Itu sangat tidak mungkin. Mamaku sangat membencinya. Orang itu menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja."
"Ia mungkin tidak tahu bahwa mamamu hamil."
Ae Ri kembali tertawa sinis.
Kim Yo Han dan Ae Ri menyadari pembicaraan mereka berdua itu sudah bukan tentang nyonya Park dan tuan Park lagi. Tapi tentang mereka berdua.
"Apakah mommy dan daddy sedang bertengkar?" Tae Yang bertanya dengan polosnya. Matanya terlihat sendu. Ia tidak menyukai suasana itu.
Kim Yo Han membelai kepala Tae Tang.
"Tidak. Kami tidak bertengkar hanya berdiskusi membahas sesuatu. Maafkan daddy dan mommy karena bicara telalu keras ya." Ujarnya lembut.
Untuk beberapa saat mereka berhenti dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Tae Yang memperhatikan mereka berdua. Lalu ia memilih duduk disebelah Kim Yo Han. Kim Yo Han membelai kepala anak itu dengan penuh kasih sayang.
Ae Ri memandangi itu dengan sangat tidak nyaman. Ia tidak suka itu.
Sementara itu diruang tamu.
"Mengapa kau pergi begitu saja? Apa yang telah aku lakukan sehingga kau meninggalkan aku?!" Tanya Park Chul Moo.
"Bukankah kau yang memintaku pergi?"
"Tidak pernah aku seperti itu. Kau tahu sendiri aku sangat mencintaimu. Aku sangat bahagia saat kau hamil dan aku senang bisa menikahimu."
"Tapi orangtuamu tidak menyukaiku. Aku tahu pasti kau menderita."
"Kau mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya padaku."
"Aku tidak mau merusak hubunganmu dengan keluargamu."
"Setelah kau pergi aku juga pergi dari rumah. Sampai sekarang aku tidak mau pulang. Aku jadi seperti ini karena aku frustasi. Aku ingin cepat mati. Tapi ternyata aku tidak mati-mati. Justru anak itu yang akan mati. Bagaimana ini.." Tiba-tiba Park Chul Moo menangis lagi.
Nyonya Park bingung keheranan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.
"Siapa yang akan mati?" Tanyanya heran.
"Anak bodoh itu. Ia menolak dioprasi. Bujuk lah dia agar mau dioprasi."
***