
Ae Ri cepat-cepat duduk menghadap ke lapangan dimana perlombaan dari kelas-kelas lain berlangsung.
Meski matanya melihat ke sana namun pikirannya sudah melayang.
'Ia adalah pemilik sekolah ini. Jika ia bertanya pada kepala sekolah pasti kepala sekolah akan memberitahunya. Apakah aku harus memindahkan sekolah Tae Yang?' Pikirannya berkecamuk.
'Tapi jika aku memindahkan Tae Yang, ia akan kesulitan. Pasti akan mengganggu tumbuh kembangnya. Ia baru mulai dapat beradaptasi di sini. Tapi jika tidak pindah..' Perlahan Ae Ri menoleh pada Yo Han disebelahnya.
Jantungnya berdesir saat beradu mata dengan pria yang tampan itu.
Kim Yo Han meletakkan kepalanya di atas kepala Tae Yang seperti bantal. Dan entah sejak kapan ia terus memandangi Ae Ri.
"Kau sangat mirip dengannya?"
"Hah?!" Ae Ri tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya.
"Mi Cha.." Bisik Kim Yo Han.
Dahi Ae Ri berkerut.
"Siapa Mi Cha?" Ia berusaha kembali tenang.
"Cinta pertamamu? Atau justru musuhmu?" Tawa Ae Ri.
"Istriku."
Kembali degup jantung Ae Ri berdetak semakin cepat.
Kim Yo Han tertawa.
"Kau terkejut aku sudah memiliki istri? Apakah kau berharap aku masih single, Nona Park?"
Ae Ri melirik Kim Yo Han yang sedang tertawa lebar memamerkan giginya yang rapi dan putih itu.
"Lalu hilang kemana istrimu?" Ae Ri berusaha tetap tenang.
"Bukan.. Mi Cha bukan istriku. Tadinya aku berniat mencarinya dan menjadikannya istriku. Kau benar. Mungkin dia cinta pertamaku. Tapi dia menghilang entah kemana."
Tanpa bisa ditahan Ae Ri tertawa sinis. Dan itu sedikit membuat Yo Han tidak nyaman. Ia menatap intens pada Ae Ri.
"Mengapa kau tertawa?" Tanyanya dingin.
"Mungkin Mi Cha lari karena tahu kau pria br*ngsek yang pandai merayu wanita. Lebih baik baginya untuk menjauh darimu."
Kim Yo Han menegakkan punggungnya dan menatap jauh ke depan.
Selama beberapa waktu ia hanya terdiam. Kemudian ia kembali meletakkan kepalanya diatas kepala Tae Yang yang masih terlelap. Wajahnya menghadap ke arah Ae Ri namun kini ia memejamkan matanya.
Ae Ri menatapnya heran.
'Apa yang ada di pikirannya?' Ae Ri sangat penasaran.
Tiba-tiba suara ponsel Yo Han berbunyi. Ponsel Yo Han berada di kantong belakang celananya sehingga ia kesulitan mengambil karena ada Tae Yang di pangkuannya.
"Tolong ambilkan." Perintah Yo Han pada Ae Ri sambil ia memiringkan sedikit tubuhnya.
Dengan sedikit ragu Ae Ri meraba kantong celana belakang Yo Han. Karena sempit ia mengalami kesulitan mengambilnya. Namun akhirnya ia berhasil mengambilnya.
"Ada apa?"
Ae Ri melirik saat mendengar suara pria itu sangat tidak bersahabat dan dingin pada penelponnya.
"Aku tidak bisa kembali sekarang. Batalkan semua jadwalku hari ini."
Kim Yo Han memutuskan panggilannya dan mematikan ponselnya.
'Dasar pria gila. Bukankah dia CEO, seenaknya bersikap tidak bertanggungjawab seperti itu.'
"Titip simpankan dulu ponselku." Ujar pria itu sambil memberikan ponselnya pada Ae Ri.
Ae Ri dengan malas menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas.
***
"Lomba final antar juara kelas 1 siap dimulai. Kita sambut para juara kelas dari kelas 1a sampai kelas 1f. Silahkan para ayah dan putra putri untuk masuk ke lapangan. Mari kita berikan tepuk tangan untuk mereka!!"
Kim Yo Han dan Tae Yang berdiri dan bersiap untuk turun. Teman-teman Tae Yang dan para orangtuanya bertepuk tangan untuk mereka.
Tae Yang tampak sangat senang dan bangga. Kim Yo Han meskipun terlihat dingin ia sangat menarik. Senyum tipis terukir di bibirnya.
Ae Ri menarik tangan Yo Han agar ia bisa berbisik.
"Jangan sampai menang. Kau nanti terlalu menarik perhatian orang. Kasihan Tae Yang, orang-orang mengira kau adalah papanya."
Kim Yo Han memandang wajah Ae Ri yang berada sangat dekat dengannya, lalu pria itu tersenyum. Tangannya mengacak lembut poni Ae Ri.
"Jangan khawatir, Sayang." Ujarnya dengan sedikit keras. Tampaknya ia ingin orang-orang mendengarnya. Lalu dengan gaya penuh kharisma ia menggendong Tae Yang turun ke lapangan.
"Wah papa Tae Yang sangat tampan dan penuh kasih sayang ya.." Ujar seorang wanita di samping Ae Ri.
Ae Ri tersenyum. Ingin sekali ia menjelaskan. Namun bibirnya terkatup, bingung mau memulai dari mana.
"Lomba yang terakhir ini adalah lomba bertiga. Mohon untuk semua mama yang putra putrinya ada disini silahkan datang ke lapangan!" Terdengar suara host memanggil.
Tae Yang dan Yo Han otomatis melihat ke arah Ae Ri. Yo Han tersenyum melihat Tae Yang yang sibuk memanggil Ae Ri.
"Mommy mommy! Sini!!" Serunya bersemangat.
Dengan lemas Ae Ri menuruti kemauan putranya.
'Bagaimana bisa seperti ini? Seharusnya tadi aku tidak usah datang kesini. Semuanya menjadi berantakan. Semua yang kurencana kan akhirnya ku bongkar sendiri.'
Ae Ri terus mengomel dalam hati.
"Lomba terakhir adalah dedikasi untuk ibu. Tahukah ayah, bahwa selama ini seringkali ibu harus memasak untuk ayah sambil menggendong putra putri anda? Nah hari ini, lakukanlah seperti yang biasa dilakukan mereka.
Kita akan lomba membuat kimbap untuk ibu.
Tetapi dari mengambil bahan di swalayan itu sampai membuat kimbap harus dilakukan sambil menggendong putra putri ayah. Lalu setelah selesai berikan pada ibu. Waktu yang dihitung adalah sejak belanja ke swalayan sampai ibu menghabiskan kimbap buatan ayah."
"Apakah sudah jelas?"
"Jelas!" Suara para ayah terdengar bersamaan.
"Wah aku seperti menghadapi para tentara. Hahaha.." Tawa ibu guru yang menjadi host acara itu.
"Tetapi kimbap yang dibuat harus sempurna, jika bentuknya buruk tidak akan di nilai. Mama juga boleh membuang kimbapnya jika tidak enak ya, dari pada mama keracunan. Hahaha.."
"Di lomba ini kita akan melihat lebih tangguh siapa antara ayah atau ibu!"
Para penonton maupun peserta lomba tertawa.
"Sudah siap untuk lomba?"
"Siap!"
"Baiklah kita mulai pada hitungan ketiga. 1.. 2.. 3..!!!"
Para ayah langsung menggendong anak mereka. Tak terkecuali Yo Han. Ia menggendong Tae Yang dengan tangan kirinya. Dan tubuhnya yang tinggi dan proporsional terlihat sangat anggun dan penuh kharisma.
Tak dapat dipungkiri Ae Ri menatapnya dengan kagum.
Tampak Yo Han berdiskusi sedikit dengan Tae Yang saat memilih bahan untuk isian kimbab yang disediakan di meja panjang di pinggir lapangan. Ia terlihat sangat tenang dan tidak terburu-buru seperti ayah yang lain.
Setelah selesai ia kembali ke meja persiapan di depan Ae Ri. Yo Han masih menggendong dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya membawa baki berisi bahan kimbab.
"Tae Yang berani duduk di pundak?" Tanya Yo Han.
"Berani!" Seru Tae Yang.
Yo Han memindahkan Tae Yang ke pundaknya.
"Pegangan yang kuat ya. Pegang rambut daddy." Tae Yang mengangguk. Ia memegang erat rambut Yo Han.
'Gila. Tae Yang kan sudah berat. Berapa lama ia akan tahan?!' Batin Ae Ri.
Sesaat kemudian tampak Kim Yo Han dengan cekatan membuat kimbap dengan isian sayuran, telur dan sosis. Tangan kaosnya yang panjang tampak mengganggunya.
"Tolong tarik lengan bajuku." Bisik Yo Han pada Ae Ri di seberang meja.
Ae Ri segera menarik lengan baju Yo Han sampai ke sikunya.
"Whoaa.. Pemandangan yang sangat sejuk ya. Tae Yang apakah kau senang?"
Tiba-tiba host berkomentar di dekat mereka. Ia mengarahkan mikrophone pada Tae Yang yang duduk di pundak Yo Han.
"Ya." Jawab Tae Yang dengan tertawa.
"Kau tidak takut duduk disana?"
"Tidak. Daddyku akan menjagaku." Jawabnya.
Ae Ri melihat Yo Han tersenyum sambil memotong kimbapnya yang hampir jadi.
"Wah.. Ayah Tae Yang sangat cepat sekali. Ia sudah selesai."
Tae Yang bertepuk tangan.
"Hebat, Daddy.." Serunya.
Kim Yo Han menyodorkan piring berisi potongan kimbap pada Ae Ri.
"Mommy cepat habiskan!" Seru Tae Yang.
"Makan pelan-pelan. Waktu kita masih banyak." Ujar Kim Yo Han sambil tersenyum.
Ae Ri memakan satu persatu potongan kimbap. Ada perasaan ingin memakannya lama-lama supaya mereka kalah. Namun ia tidak tega saat melihat binar mata putranya yang berharap mereka menang.
"Jika kau tidak mau kita menang tidak apa-apa." Bisik Yo Han sambil mengelap sudut bibir Ae Ri yang terkena saus.
Ae Ri memandangnya dengan debaran jantung yang sudah tidak berirama lagi.
Kim Yo Han menuangkan air ke sebuah galas yang disediakan di meja mereka.
"Minumlah pelan-pelan. Jangan sampai tersedak." Bisiknya lagi sambil memberikannya pada Ae Ri.
"Apakah sudah selesai mama Tae Yang? Tampaknya sebentar lagi kita akan segera mendapatkan juaranya." Seru host yang kembali berada di samping mereka.
"Cepat Mom!!" Seru Tae Yang yang masih berada di pundak Yo Han.
Akhirnya Ae Ri menyerah. Secepat kilat ia menghabiskan kimbapnya. Dan dengan sedikit kunyahan ia langsung menelannya.
"Juara pertama ayah ibu Tae Yang!!!"
Terdengar suara tepuk tangan dari penonton.
Tae Yang sangat senang saat menerima piala dan hadiahnya. Mereka juga mendapat sebuah album yang berisi foto-foto saat lomba berlangsung.
Kim Yo Han dan Tae Yang tampak berebutan ingin melihatnya. Mereka tertawa-tawa senang.
"Lihat! Mulut mommy penuh kimbap! Lucu sekali! Hahaha.." Seru Tae Yang sambil menunjuk foto Ae Ri dengan pipi menggembung.
Kim Yo Han ikut tertawa.
"Bolehkah daddy menyimpan album foto ini?" Tanya Yo Han pada Tae Yang. Ae Ri menoleh karena ia sedikit terkejut.
Seketika raut wajah Tae Yang menjadi sendu.
"Tapi aku ingin melihatnya terus." Ujarnya pelan. Tampaknya ia juga tidak tega menolak permintaan Yo Han.
Kim Yo Han tertawa.
"Kalau pinjam boleh? Besok akan daddy kembalikan ke sekolah. Daddy janji."
Tae Yang menatap Yo Han. Tampaknya ia sedang menimbang-nimbang.
"Tapi besok kembalikan ya?"
Yo Han mengangguk.
"Sungguh?"
"Sungguh! Ayo ikat perjanjian kita."
Mereka saling mengaitkan kelingking dan menyatukan jempol mereka.
"Cap!!" Keduanya berseru bersamaan sambil tertawa.
***
"Gantilah pakaianmu di mobilku!" Perintah Ae Ri saat mereka tiba di parkiran.
Kim Yo Han mengangkat tangan kirinya dan menggerakkan bahunya memutar. Kini ia mulai merasakan pegal di bahunya karena terlalu lama menggendong Tae Yang di pundaknya.
"Ini pakaianmu. Cepat ganti. Aku mau kembali ke butik."
"Tak bisakah kita mencari makan dulu. Sepertinya tenagaku tadi banyak terkuras jadi terasa lapar sekali sekarang."
"Maaf Tuan Kim. Saya tidak bisa, sudah ditunggu seseorang di butik."
"CEO Ahn?"
Ae Ri tertawa sinis.
"Kau pikir yang mencariku hanya dia?"
"Siapa lagi?" Tiba-tiba raut wajah Kim Yo Han berubah kesal.
"Banyak. Aku tidak suka menjalin hubungan hanya dengan satu orang. Kita perlu banyak koneksi agar bisnis kita sukses kan? Bukankah anda pasti memahaminya."
"Anggap saja sebagai bayaran aku tadi memakai pakaianmu. Ayo traktir aku makan."
"Maaf tidak bisa. Lagipula sangat banyak orang yang ingin memakai pakaianku meski tanpa di bayar."
"Mereka bukan aku! Sudah ku katakan aku sangat mahal."
"Tutup pintunya dan cepat ganti pakaianmu?" Perintah Ae Ri dengan kesal.
Sejenak Ae Ri terkejut sendiri dengan sikapnya terhadap Kim Yo Han. Namun tanpa disangkanya pria itu langsung menurut. Ia menutup pintu mobil Ae Ri dan mengganti pakaiannya.
"Mommy!!!"
Tiba-tiba suara teriakan Tae Yang terdengar. Bocah laki-laki itu berlari dan memeluk Ae Ri.
Ae Ri sangat terkejut. Ia sangat takut karena Kim Yo Han pasti mendengar suara Tae Yang.
***