Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Empat Belas



"Park Tae Yang! Kau kemana saja, ibu mencarimu kemana-mana.."


Suara seorang perempuan mengagetkan mereka.


"Bu guru Kang.." Jawab Tae Yang sedikit terlihat takut.


Yo Han berbisik pada Tae Yang.


Tae Yang membungkukkan badannya.


"Maaf bu guru Kang."


Ae Ri melirik Yo Han tampak tersenyum melihat Tae Yang menuruti perintahnya.


Bu guru Kang cepat-cepat juga membungkuk pada Yo Han dan Ae Ri. Bu guru Kang mengenali Ae Ri, namun ia ingat pesan dari kepala sekolahnya. Sedangkan ia juga mengenali Kim Yo Han sebagai pemilik sekolah ini.


"Jika boleh tahu, anda berdua ini.." Ia bingung dan menatap Tae Yang.


"Hari ini kami akan menjadi orang tua Tae Yang. Tolong ikutkan dia dan kami di lomba-lomba nanti."


"O.. Baik CEO Kim."


"Selama lomba jangan memanggilku CEO Kim. Panggil aku daddy-nya Tae Yang."


Bu guru Kang terbelalak.


"Hanya hari ini bu guru. Aku meminjamnya sebentar." Tae Yang tersenyum.


Bu guru Kang mengangguk meski wajahnya masih terlihat bingung. Ia memandangi Yo Han dan Ae Ri bergantian.


"Dan anda, apakah saya juga harus menyebut anda mommy nya Tae Yang?"


Ae Ri mengangguk.


"Baiklah kalau begitu. Mommy dan daddy-nya Tae Yang anda berdua masuk dulu dan duduklah di kursi yang sudah disediakan. Cari saja di kelompok kelas 1 c. Ada tulisan mama papa Tae Yang. Saya akan membawa Tae Yang berganti pakaian. Oya.. Tuan Kim, sepertinya pakaian anda tidak cocok untuk lomba."


Kim Yo Han meneliti pakaian yang ia gunakan. Setelan jas formal dan kemeja serta sepatu pantofel.


"Aku akan mengganti pakaiannya." Seru Ae Ri cepat.


"Baiklah kalau begitu. Mohon agak cepat karena lomba akan segera di mulai."


"Baik!" Jawab Ae Ri dan Yo Han kompak.


Bu guru Kang mengajak Tae Yang berganti pakaian. Ae Ri berlari ke arah parkiran mobilnya. Yo Han berjalan cepat mengikuti dibelakangnya.


Ae Ri membuka bagasi belakang mobilnya. Tampak gantungan yang penuh dengan pakaian. Ia melirik tubuh Kim Yo Han untuk memperkirakan ukuran tubuhnya.


Tanpa ia duga Yo Han cepat-cepat membuka dasi, jas dan kemejanya. Tampak dadanya yang berotot seksi.


Lalu Ae Ri tampak sibuk memilih. Tepatnya pura-pura sibuk supaya tidak terlihat grogi.


Ia melempar sebuah kaos berlengan panjang berwarna hijau daun dan putih.


"Ini sangat mencolok. Tidak adakah yang warna gelap?"


Ae Ri hanya meliriknya tajam. Yo Han cepat-cepat menerima dan memakainya. Kaos yang sedikit ketat membuat dada sixpack nya tercetak seksi disana. Dalam hati Ae Ri menyesali pilihannya yang membuat pria itu semakin seksi.


"Aku tidak punya celana yang nyaman untuk olah raga. Ini ada celana jeans. Tapi dengan lutut yang sobek. Kau mau memakainya?"


"Oke tidak apa-apa. Itu lebih baik dari pada celana ini." Yo Han cepat-cepat akan membuka celananya.


"Kau gila!!" Teriak Ae Ri.


Kim Yo Han terkejut dengan makian Ae Ri. Namun sesaat kemudian ia tersadar.


"Maaf, aku tiba-tiba teringat saat masih menjadi model dan terbiasa berganti pakaian di depan orang lain karena dituntut untuk cepat." Yo Han tertawa.


Kemudian ia masuk ke dalam mobil Ae Ri dan berganti celana disana.


"Sudah?" Tanya Ae Ri.


Yo Han membuka pintu mobil.


"Kau mengintip?"


Ae Ri melotot. Yo Han tertawa.


"Pakai ini!" Ae Ri mengulungkan sepasang sepatu ket berwarna putih.


"Waah.. Memang mobil disainer sangat lengkap ya.."


"Itu sepatu Jae Hyun. Kemarin kotor lalu aku mencucinya. Tadinya aku akan mengembalikannya hari ini. Tapi lebih baik kau pakai dulu. Sepertinya kalian seukuran."


Tiba-tiba Yo Han melempar sepatu itu.


Ae Ri memandanginya dengan heran. Ia memungut kembali sepasang sepatu itu dan menyerahkannya lagi pada Yo Han.


"Pakai ini. Jika tidak nanti kau bisa kalah. Jika kau kalah akan membuat Tae Yang sedih."


Ae Ri geli melihat Yo Han dengan terpaksa memakai sepatu itu. Sebenarnya sepatu itu habis dipakai modelnya kemarin. Bukan milik Jae Hyun.


Kim Yo Han berdiri di hadapan Ae Ri.


"Bagaimana? Apakah akhirnya kau lega bisa menjadikanku modelmu hari ini? Berarti nanti kau harus membayarku." Tanya Yo Han sambil tertawa.


Ae Ri hanya meliriknya tanpa ekspresi.


"Ayo. Kita disuruh cepat oleh bu guru Kang tadi." Ujar Ae Ri mengalihkan pembicaraan.


Saat mereka sampai di tribun sudah penuh dengan orangtua murid dan anak-anak. Ae Ri menunjuk sebuah tulisan 1c.


Sesaat mereka berjalan mendekati tempat yang berada sedikit di tengah. Saat sampai di lorong kursi tempat dimana nama Tae Yang tertulis, Yo Han mendorong halus Ae Ri agar jalan didepannya.


Ae Ro tersenyum pada orang-orang tua murid yang mereka lewati.


"Permisi.." Berkali-kali ia ucapkan dengan senyum manisnya.


Dengan setia Yo Han mengawal di belakangnya. Tangannya dengan lembut memegang punggung Ae Ri.


Siapapun yang melihat mereka akan menyangka mereka benar-benar pasangan suami istri.


Akhirnya dengan lega Ae Ri duduk di kursi yang disediakan.


Sesaat kemudian Tae Yang yang sudah berganti pakaian olah raga datang menghampiri mereka dan duduk ditengah-tengah Yo Han dan Ae Ri.


"O.. Mereka orang tua dari murid baru itu.." Beberapa ibu-ibu tampak berbisik di belakang mereka.


Ae Ri tampak risih. Ia benar-benar tidak ingin diketahui sebagai mommynya Tae Yang. Bagaimana jika Kim Yo Han mengetahui bahwa Tae Yang adalah putranya.


"Putra mereka sangat mirip dengan papanya.."


"Iyaa.. Tetapi senyumnya seperti senyum mamanya.."


"Pantas saja anaknya sangat tampan. Mama papanya juga cantik dan tampan."


Kim Yo Han tertawa mendengar obrolan ibu-ibu di belakang mereka. Entah mengapa ia sangat suka mendengarnya. Ia melirik pada Ae Ri.


"Jangan diambil hati. Namanya ibu-ibu sangat suka bergosip. Kenapa? Kau takut dikira sudah punya anak? Takut nanti kekasihmu tahu?" Bisik Yo Han sambil tertawa.


Ae Ri menoleh. Ia melotot dan matanya ditunjukkan pada Tae Yang yang berdiri di depan mereka. Ia khawatir Tae Yang mendengar ocehan Yo Han.


"Tenang saja. Dia tidak dengar." Bisiknya lagi.


"Mommy.. ssi.." Tae Yang terkejut sendiri dengan seruannya.


"Tidak apa-apa.. Hari ini kau boleh memanggilku mommy.." Bisik Ae Ri.


"Dan panggil paman, daddy. Jangan paman daddy ya.." Bisik Yo Han.


Tae Yang mengangguk.


"Kau mau bilang apa tadi?"


Tae Yang mengerutkan dahinya.


"Lupaa.." Ia menyengir dengan lucu.


Yo Han menoleh dan tersenyum. Tanpa disadari mereka Tae Yang memperhatikan kedua orang itu.


Dan acara lomba pun dimulai. Hari ini ternyata khusus untuk lomba-lomba anak kelas 1.


Tae Yang tampak bersemangat menonton lomba dari kelas lain.


Kemudian tiba-tiba ia membawa seorang gadis cilik yang cantik.


"Mommy.. Ini Kim Mi Rae.."


"Halo Kim Mi Rae.." Sapa Ae Ri.


"Halo mama Tae Yang. Halo papa Tae Yang." Gadis cilik itu menyapa mereka dengan sopan.


"Orang tuamu duduk dimana?" Tanya Ae Ri. Mi Rae menunjuk daerah sebelah kanan mereka.


Tampak sepasang suami istri tersenyum pada mereka. Ae Ri dan Yo Han menundukkan kepala dan tersenyum.


'Mengapa ia sangat menjiwai berperan menjadi daddy bohongannya Tae Yang?' Batin Ae Ri dalam hati.


"Kau menyukai Kim Mi Rae?" Tanya Yo Han pada Tae Yang setelah Mi Rae kembali duduk di tempat orang tuanya.


Tae Yang mengangguk.


"Mengapa kau menyukainya?"


"Karena dia sangat baik."


"Begitukah?"


"Ya!"


"Dan pasti juga karena dia sangat cantik kan?" Yo Han tertawa.


"Iyaa.. Dia memang sangat cantik." Bisik Tae Yang.


"Cantik mana Mi Rae atau mommy Park?"


Ae Ri melotot pada Yo Han.


"Dua-duanya sama-sama sangat cantik."


"Setuju. Kita sama lagi."


"Apanya yang sama?" Tanya Tae Yang.


"Sama-sama menyukai gadis yang sangat cantik." Jawab Yo Han sambil melirik Ae Ri. Ae Ri membalas lirikan Yo Han dengan lirikan sadis.


***


"Setelah ini akan dimulai lomba yang kelas 1c. Mohon untuk daddy dan anaknya turun ke arena lomba." Pengumuman dari pembawa acara.


"Ayo daddy!!" Teriak Tae Yang dengan semangat.


"Yeobo.. Doakan kami supaya menang ya.." Kim Yo Han meniru ucapan seorang pria di belakang mereka pada istrinya sambil tersenyum manis. Ae Ri memandangnya dengan tatapan dingin. Yeobo adalah panggilan sayang untuk suami atau istri.


Tangan Yo Han sudah di geret oleh Tae Yang yang sudah tidak sabar untuk ikut lomba.


Lomba yang pertama adalah lomba berlari pasangan dengan 1 kaki diikat kepasangannya. Yang jatuh akan dianggap gugur dan sudah tidak bisa lagi ikut di lomba berikutnya.


"Tae Yang. Kita harus berjalan pelan-pelan saja. Tidak usah berlari nanti jatuh. Karena jika kita jatuh kita tidak bisa ikut lomba lagi."


Tae Yang mengangguk.


"Sebelum mulai lomba. Ayo papa dan putra putri memberi tanda cinta untuk mama yang menonton." Seru pembawa acara.


Tae Yang dan Yo Han saling pandang.


"Kita buat tanda hati yang besar untuk mommy ya."


Tae Yang mengangguk.


Yo Han jongkok di samping kiri Tae Yang lalu tangan kirinya di satukan dengan tangan kanan Tae Yang di atas kepala mereka. Secepat kilat photografer mengabadikan momen-momen itu.


Ae Ri tertawa melihat mereka. Tangan Tae Yang yang kecil susah menjangkau ujung jari Yo Han.


Lomba pertama dimulai. Tae Yang dan Kim Yo Han berhasil masuk ke babak berikutnya. Sedangkan hampir separuh lebih peserta gugur.


Lomba kedua dimulai. Lomba lempar tangkap bola. Akan diambil 5 peserta dengan perolehan bola terbanyak. Kembali Tae Yang bersorak gembira karena lolos ke babak berikutnya.


Kini lomba penentuan. Dari kelima pasangan ini akan di dapat juara 1. Dan setiap juara 1 akan diadakan lomba lagi untuk mencari juara umum.


"Lomba yang ketiga adalah lomba kerjasama mama papa dan anak. Mama dan papa akan ditutup matanya. Lalu bergandengan tangan, anak akan mengarahkan mereka untuk masuk ke sebuah lingkaran yang dibuat dilapangan. Urutan masuk ke dalam lingkaran akan menjadi urutan juaranya. Apakah sudah jelas? Jika sudah akan kita mulai dihitungan ketiga. 1.. 2.. 3.."


"Mommy! Daddy! Maju terus! Ke samping!"


"Katakan kiri atau kanannya Mommy, Sayang!" Seru Ae Ri.


"Kanan Mom! Kanan! Maju terus.. Terus!.. Ke kiri Mom! Maju lagi!! Horeee!!!"


Tae Yang bersorak karena berhasil mengarahkan mommy dan Daddy-nya lebih dulu dari teman-temannya.


Yo Han dan Ae Ri membuka penutup mata mereka. Tampak Tae Yang melonjak-lonjak kegirangan. Ae Ri mendekap erat Tae Yang dan ikut berlompatan. Kim Yo Han tersenyum melihat mereka. Ia menangkap tubuh Tae Yang dan diangkatnya tinggi.


"Kau hebat Tae Yang!!" Serunya. Tae Yang tertawa terbahak-bahak karena tubuhnya dibuat seperti terbang oleh Yo Han.


"Jangan tinggi-tinggi, nanti jatuh!" Seru Ae Ri pada Yo Han.


"Tidak apa-apa , Mom. Aku berani!" Tae Yang masih tertawa-tawa.


"Juara 1 dari kelas c adalah Tae Yang dan mama papanya. Beri tepuk tangan untuk mereka!"


Perasaan bercampur aduk dirasakan oleh Ae Ri saat ini. Ia sangat senang Tae Yang bisa menikmati momen ini. Tapi dilain pihak, ia tidak ingin dikenal sebagai mommy Tae Yang. Dan lagi ia sangat mencemaskan jika sampai Yo Han tahu tentang Tae Yang yang sebenarnya.


Ucapan selamat banyak mereka terima saat tiba di tribun penonton lagi.


"Tae Yang selamat ya. Juga mama papa Tae Yang. Kalian benar-benar hebat."


Suara-suara ramah terdengar disekitar mereka. Kim Yo Han, Ae Ri dan Tae Yang sibuk mengucapkan terima kasih.


"Tae Yang senang?" Tanya Yo Han.


Tiba-tiba Tae Yang menoleh dan memeluk Yo Han.


"Aku senang sekali. Terimakasih Paman Daddy." Bisiknya di telinga Yo Han.


Yo Han membelai rambut Tae Yang dan tersenyum.


"Sini duduk pangku daddy." Ujarnya sambil memangku tubuh mungil itu.


Ae Ri memperhatikan mereka berdua. Ia merasa aneh akan kedekatan mereka.


'Apakah ini yang disebut naluri ayah dan anak?' Batin Ae Ri.


Kim Yo Han tersenyum pada Ae Ri. Ia tahu Ae Ri pasti bingung dengan sikapnya.


'Aku sendiri saja bingung mengapa aku sangat menyayangi anak ini? Apa karena kasian, hidupnya seperti aku yang tidak memiliki papa?' Batin Yo Han.


"Saat aku kecil dulu sangat ingin duduk bersandar pada seorang papa seperti ini. Aku selalu iri pada anak-anak yang bisa bermanja pada ayahnya. Aku dulu juga tidak memiliki papa." Bisik Yo Han pada Ae Ri. Meski bibirnya tertawa tapi Ae Ri bisa melihat luka di dalam dirinya.


Tangan Yo Han membelai lembut belakang kepala Tae Yang yang entah kapan sudah terlelap didalam dekapan Yo Han. Pipinya menempel lucu di dada pria itu.


"Dia tidur.." Bisik Ae Ri. Tangannya menyentuh pipi bocah itu. Ia tak bisa mengontrol nalurinya sebagai seorang ibu.


"Biarkan saja, dia pasti kelelahan. Masih ada waktu panjang sampai lomba final nanti."


Ae Ri melirik Kim Yo Han yang terus memandangi wajah Tae Yang.


"Apa benar wajahnya mirip denganku? Aku ingin mencari tahu siapa ibu anak ini." Tanya Yo Han tiba-tiba sambil menatap Ae Ri.


Seketika Ae Ri merasakan detak jantungnya bertabuh lebih cepat dari biasanya.


***


Tq yang sudah baca.. Please kasih jempolnya dong.. Biar author ga lemesh.. 😄