Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Tiga Puluh Tiga



Beberapa hari kemudian.


"Selamat pagi nyonya Park. Saya Song Soo Jin. Guru yang dikirim SD Byeol untuk putra anda."


Guru Song adalah seorang wanita muda yang menarik dan tampak cerdas. Wajahnya tirus dan berambut hitam lurus sepunggung.


"Selamat datang guru Song. Mari silahkan duduk." Ae Ri meminta bibi Seo untuk memanggil Tae Yang.


"Tae Yang sini. Perkenalkan dirimu. Ini adalah guru Song. Gurumu yang akan mengajarimu sekarang."


Guru Song tersenyum ramah pada Tae Yang.


Tae Yang membungkukkan tubuhnya.


"Halo, salam kenal bu Song. Saya Park Tae Yang." Ujar Tae Yang sopan.


"Halo Park Tae Yang. Saya Song Soo Jin. Semoga kau suka belajar denganku ya." Senyum wanita muda itu.


"Apakah kita akan memulai belajar hari ini?" Tanya Tae Yang. Ia tampak kurang bersemangat.


"Benar sekali sayang. Ibu membawakan buku-buku dan jadwal untukmu." Guru Song memamerkan barang-barang yang ia bawa.


"Baiklah kalau begitu ajaklah guru Song ke kamarmu Tae Yang. Supaya bisa tenang belajar disana. Perhatikan baik-baik ya. Supaya kau mengerti. Oke?" Kata Ae Ri.


"Baiklah. Ayo bu Song." Tae Yang masuk diikuti oleh guru Song.


Ae Ri menghela nafas. Ia sangat tahu bahwa Tae Yang tidak menyukai sekolah di rumah. Kemarin anak itu telah menentangnya. Namun bagi Ae Ri inilah jalan terbaik untuk saat ini. Satu-satunya cara untuk menjauhkan putranya dari Kim Yo Han.


***


Kim Yo Han berjalan di koridor sekolah. Begitu sampai di kelas Tae Yang, ia mengintip lewat jendela.


Ia ingin memberikan mainan robot mobil-mobilan yang ia belikan saat Tae Yang sakit namun belum sempat ia berikan.


Kedua matanya menyapu seluruh isi kelas. Dahinya berkerut saat tidak menemukan Tae Yang disana.


Wali kelas Tae Yang buru-buru keluar saat melihat Kim Yo Han.


"Selamat siang CEO Kim. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Ujarnya.


"Apakah Tae Yang tidak masuk hari ini?" Tanya pria itu.


"Tae Yang sekarang home schooling pak. Mulai minggu ini."


Kim Yo Han terkejut. Lama ia terdiam.


"Baiklah. Trimakasih." Ucapnya sambil melangkah lunglai.


Kim Yo Han menuju ke ruang kepala sekolah.


"Mengapa Tae Yang home schooling? Dan siapa guru yang dikirim kesana?"


"Mamanya mengatakan karena alasan keamanan pak. Ia bilang tampaknya ayahnya mengetahui keberadaan Tae Yang dan mamanya takut anak itu akan direbut oleh ayahnya. Jadi untuk sementara waktu ia tidak ingin Tae Yang keluar dari rumah." Jawab kepala sekolah Yoon.


Kim Yo Han hanya diam menyimak.


"Dan guru yang dikirim kesana adalah guru Song pak. Song Soo Jin."


"Apakah Guru Song pintar? Apakah dia baik pada anak kecil?" Tanyanya gencar.


"Iya pak. Guru Song memiliki kualitas yang sangat baik. Jangan khawatir." Jawab Kepala Sekolah sambil tersenyum. Ia merasa seperti menghadapi seorang ayah yang mengkhawatirkan pendidikan putranya.


"Jika saya tidak mengenal anda mungkin saya akan mengira anda adalah ayahnya Tae Yang." Ujarnya sambil tertawa.


Kim Yo Han ikut tertawa.


"Baiklah kalau begitu saya pergi sekarang. Tarimakasih bu kepala."


Kepala sekolah menatap kepergian Kim Yo Han. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


'Dia bahkan khusus datang ke sekolah hanya demi Tae Yang. Padahal ia adalah orang yang sangat sibuk." Batinnya.


***


"Halo paman daddy."


Kim Yo Han tersenyum lebar mendengar suara anak itu di ponselnya.


"Bagaimana kabarmu? Apakah tanganmu sudah sembuh?"


"Sudah paman. Aku sudah bisa bermain."


"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana sekolahmu?"


"Sekarang aku sekolah dirumah. Sebenarnya aku tidak suka. Tapi mommy bilang aku belum boleh keluar rumah. Jadi aku menurut."


"Mengapa tidak suka? Apakah gurumu tidak baik?"


"Bukan. Bu guru Song sangat baik. Tapi aku lebih suka belajar di sekolah jadi bisa bertemu dengan teman-teman."


"O.. Jadi karena itu. Tapi kau harus menurut pada mommymu ya. Tidak apa-apa sekarang belajar di rumah saja. Nanti kalau keadaanya sudah baik kau bisa kembali lagi belajar di sekolah."


"Baik paman."


"Oya. Paman daddy menitipkan sesuatu pada guru Song. Saat ia kerumahmu dia akan membawakannya."


"Hore.. Apa itu paman? Mainan?"


"Surprise.. Nanti lihatlah saat barangnya datang."


"Oke paman!"


"Jika Tae Yang butuh sesuatu atau ingin sesuatu. Makanan atau apalah. Nanti telpon paman ya. Akan paman titipkan pada guru Song."


"Baiklah paman. Sebenarnya.." Tae Yang ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Ada apa? Sebenarnya apa? Katakanlah." Luar Yo Han penasaran.


"Sebenarnya aku ingin jalan-jalan dengan paman daddy. Tapi aku tidak berani mengatakannya pada mommy, aku takut mommy marah."


Kim Yo Han terdiam beberapa saat.


"Coba nanti akan ku tanyakan pada nona Park. Apakah ia bisa memintakan ijin pada mommymu. Tunggulah kabar selanjutnya ya."


"Oke. Nanti akan paman telpon lagi ya."


"Baik paman. Dadah.."


***


"Selamat siang nona. Di luar ada tuan Kim Yo Han ingin menemui anda katanya ada hal penting yang harus ia sampaikan." Sekretaris Ae Ri berbicara di depan mejanya.


Ae Ri terkejut. Ia tidak menyangka pria itu akan datang. Seketika ia merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.


"Baiklah suruh masuk." Jawab Ae Ri gugup.


"Baik nona."


Toktoktok


Kim Yo Han masuk setelah sekretaris Kang membukakan pintu ruangan Ae Ri.


"Silahkan duduk tuan Kim. Ada apa?" Ujar Ae Ri tanpa basa basi.


Kim Yo Han mendudukkan diri di sofa merah di tengah ruangan itu


"Apakah kau bisa menelponkan mommy nya Tae Yang? Aku ingin menanyakan sesuatu padanya."


Jantung Ae Ri seakan lepas seketika. Ia mencoba mengatur emosinya agar tidak nampak gugup.


"Ada apa? Kau mau menanyakan apa?"


"Kemarin aku baru tahu ternyata Tae Yang sekarang home schooling. Kutanyakan pada kepala sekolah alasannya karena ayah Tae Yang kemungkinan sudah mengetahui keberadaan anak itu. Aku ingin menawarkan bantuan. Karena kupikir Tae Yang tidak menyukai sekolah dirumah. Aku bisa memberikan pengawal pribadi untuk Tae Yang. Jadi dia aman kemana saja dia mau." Kim Yo Han menjelaskan.


Ae Ri tertawa sinis.


"Kau pikir mommy nya tidak bisa membayar pengawal pribadi untuk Tae Yang?"


"Lalu mengapa dia tidak melakukannya? Mengapa ia malah memenjara anaknya seperti itu."


"Siapa yang dipenjara. Itu kan untuk keamanan anak itu!"


"Tapi itu sangat kejam. Aku tidak menyangka mommynya sangat egois. Hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan dampaknya pada anaknya."


"Mengapa kau malah marah-marah padaku! Apa hubungannya denganku?!"


"Aku tidak marah. Aku kasian pada anak itu. Tadi baru saja aku menelponnya. Suaranya sangat berubah. Ia tidak lagi seceria dulu. Apa kau tidak menyadari itu? Kau kan cukup dekat dengannya."


Ae Ri terdiam beberapa saat. Ia sangat kesal dan marah. Tetapi ia mencoba untuk tetap tenang.


"Tolong katakan pada mommynya. Tadi Tae Yang bilang ingin sekali bertemu denganku. Jika diperbolehkan aku akan mengajaknya bermain sehari bersamaku besok hari Sabtu. Aku akan menjemputnya disini."


Ae Ri terperangah.


'Berani sekali dia memerintahku.' Batinnya.


"Aku tidak yakin mommynya memberi ijin."


"Telponlah dia sekarang. Cepatlah aku tidak punya banyak waktu."


Ae Ri pura-pura sibuk menggambar. Padahal pikirannya melayang.


'Siapa yang harus aku telpon? Bukankah mommynya Tae Yang itu aku. Dasar laki-laki brengs*k. Sangat senang mengganggu ketenangan orang.' Omelnya dalam hati.


"Jika kau sibuk pergilah. Nanti aku akan menghubungimu saat sudah menanyakan pada mommy Tae Yang."


"Apakah aku bisa memegang kata-katamu?" Kim Yo Han ragu pada wanita itu.


Ae Ri mendongak memandang Yo Han sebentar dengan kesal tetapi tidak memberikan jawaban.


"Baiklah kalau begitu. Aku menunggu kabar darimu." Ujar Kim Yo Han.


Ae Ri masih tetap diam. Tangannya masih sibuk menggambar.


Selama beberapa waktu itu ia larut dalam kegiatannya hingga ia menyadari pria itu masih disana.


Ia mendongak dan mata mereka beradu pandang.


"Kenapa kau masih disini?!" Bentak Ae Ri.


"Apa kau sudah makan siang?" Tanya Kim Yo Han kini suaranya kembali lembut seperti biasanya.


"Belum."


"Kau mau makan siang bersamaku?" Suara pria itu sangat hati-hati.


"Tidak." Jawab Ae Ri dengan cepat.


"Tapi aku sangat lapar."


"Aku tidak peduli. Pergilah. Aku sangat sibuk." Ujar Ae Ri dengan kesal.


Toktoktok


"Masuk!" Jawab Ae Ri.


"Maaf nona, ini pesanan makanan anda sudah datang." Kata sekretaris Kang.


"Aku tidak memesan makanan." Ujar Ae Ri heran.


"Aku yang memesan. Bawa sini nona Kang. Terimakasih."


Nona Kang mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.


Ae Ri ternganga keheranan.


'Apa yang dilakukan pria ini?!' Batinnya.


"Ayo kita makan. Ini kesukaanmu semua." Ujar Yo Han dengan senyum manisnya.


"Aku tidak tertarik. Silahkan kau makan sendiri, habiskan cepat. Lalu pergilah."


"Aku tidak akan pergi jika kau tidak makan. Aku akan disini terus sampai kau pulang." Kim Yo Han meletakkan kembali sumpit yang telah ia pegang lalu duduk bersandar di sofa dengan santai.


***