
Pintu mobil dibuka tiba-tiba oleh Kim Yo Han.
Ae Ri terbelalak dan bingung harus berbuat apa. Begitu juga dengan Tae Yang, ia sangat terkejut karena tiba-tiba Yo Han muncul dari dalam mobil Mommynya.
"Paman daddy? Mengapa paman daddy ada disana?"
"Paman daddy berganti pakaian. Kau sudah pulang?"
Tae Yang mengangguk. Lalu takut-takut ia melirik Ae Ri.
"Kau mau pulang? Siapa yang menjemputmu?" Ae Ri pura-pura bertanya. Padahal tadi ia yang menyuruh Tae Yang pulang bersamanya.
Ia benar-benar lupa jika Yo Han harus berganti pakaian dulu.
Tae Yang mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya. Sebuah kartu debit.
"Mommy ku tidak bisa menjemputku karena masih kerja. Jadi aku akan memanggil taksi."
Ae Ri terbelalak karena ide cemerlang Tae Yang.
'Whoaa.. Anak ini sangat berbahaya!' Serunya dalam hati.
"Dimana rumahmu? Biar paman daddy antar ya."
"Tidak boleh. Mommy pasti akan marah."
"Paman daddy hanya akan mengantar dari jauh. Jadi mommy mu tidak akan tahu."
"Itu namanya bohong paman daddy. Aku tidak boleh berbohong."
Ae Ri meringis menahan geli.
"Kalau aku yang mengantar apakah boleh?" Tanya Ae Ri tiba-tiba. Tae Yang tampak ragu. Ia menatap Yo Han dan Ae Ri bergantian.
"Boleh." Jawab Tae Yang.
"Whoaa.. Mengapa kau menyakiti hati paman daddy! Kau pilih kasih. Mengapa kau mau diantar nona Park?!" Protes Yo Han.
"Karena nona Park cantik. Aku menyukai gadis yang cantik. Aku menyukai mommy ssi." Tae Yang tersenyum manis sehingga memperlihatkan lesung pipinya.
"Bagaimana jika kita pulang bersama-sama. Begini, tangan dan bahu paman sangat sakit, jadi tidak bisa menyetir sendiri. Nona Park tolong antarkan aku ya. Tapi sebelumnya kita makan dulu. Bagaimana?" Tanya Yo Han pada Ae Ri dan Tae Yang.
Tae Yang langsung tersenyum ceria. Tampak sekali ia mengharap Ae Ri menyetujuinya.
Ae Ri serba salah. Di satu sisi ia tidak suka pergi dengan pria itu. Namun disisi lain ia tidak tega terhadap pandangan penuh harap Tae Yang.
"Baiklah. Tapi kita harus cepat-cepat karena aku harus segera kembali ke butik."
"Oke!!" Tae Yang dan Yo Han kompak menyetujuinya.
***
"Tae Yang mau makan apa?" Tanya Yo Han sambil menoleh pada Tae Yang. Mereka berdua duduk dibelakang sedangkan Ae Ri menyetir di depan mereka.
Ae Ri sangat kesal karena dianggap seperti supir oleh Kim Yo Han.
"Ayam goreng ya. Aku sudah sangat lama tidak makan ayam goreng."
Ae Ri melirik Tae Yang lewat spion. Ia memang selalu melarang Tae Yang makan goreng-gorengan. Ia kesal tampaknya bocah ini sangat pandai memanfaatkan keadaan.
"Yang lain saja." Jawab Ae Ri.
"Tidak apa-apa. Kita makan ayam goreng saja. Paman daddy juga sudah lama tidak makan itu."
"Hore! Terima kasih paman daddy! Aku suka paman daddy!!" Seru Tae Yang.
Kini ia melirik Yo Han yang tertawa bangga padanya. Ia tampak merasa menang karena membuat Tae Yang menyukainya.
Mobil Ae Ri masuk ke lahan parkir sebuah restoran ayam goreng.
Tae Yang cepat-cepat keluar dari mobil. Tampaknya ia sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke dalam.
Kim Yo Han berlari mengejar Tae Yang dan menangkapnya. Ia berjongkok dihadapan Tae Yang.
"Jangan lari sendiri. Berbahaya. Kau harus menunggu orang dewasa dulu jika di tempat keramaian begini. Banyak mobil yang lewat kau bisa tertabrak nanti." Kim Yo Han tampak benar-benar khawatir.
Tae Yang mengangguk.
"Katakan apa jika kau merasa bersalah?" Tanya Yo Han sambil tersenyum.
"Maaf paman daddy. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Kim Yo Han mengangguk dan mengacak poni Tae Yang.
"Anak pintar. Ayo!! Kau sudah lapar kan?" Ia berdiri dan menggandeng bocah itu.
"Iyaa!!" Seru Tae Yang kembali ceria.
"Let's go!!" Yo Han menirukan ucapan yang sering dikatakan Tae Yang. Tae Yang tertawa.
Di belakang mereka, Ae Ri menggigit bibirnya. Berbagai perasaan bercampur-aduk dibenaknya. Hatinya sedikit tersentuh saat melihat pria itu memperlakukan Tae Yang dengan sangat lembut.
'Kim Yo Han. Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu dia adalah anakmu sendiri? Darah dagingmu.'
Ae Ri menggelengkan kepalanya.
'Aku tidak akan memberitahunya. Jika ia tahu, ia pasti akan merebutnya dariku. Tidak akan!'
***
"Selamat sore Tuan, Nyonya. Mau pesan apa?" Tanya seorang gadis pelayan sekaligus kasir di restoran cepat saji itu dengan senyum ramah.
Kompak ketiga orang itu saling toleh.
"Atau akan memesan Family Pack? Bisa untuk bertiga sekaligus ada es krim untuk si kecil."
"Baiklah itu saja." Jawab Kim Yo Han. Entah mengapa ia senang mendengar kata family.
Ia dan Ae Ri mengeluarkan kartu dari dompet mereka masing-masing.
"Aku saja yang bayar." Dengan senyumannya yang menawan ia menyerahkan kartunya pada pelayan. Gadis pelayan seperti terhipnotis dan langsung menerimanya.
Yo Han menoleh pada Ae Ri dan menampilkan tawa bangganya lagi. Ae Ri cepat-cepat menggandeng Tae Yang untuk mencari meja yang kosong untuk makan.
Ae Ri memandang tubuh atletis pria itu dari kejauhan datang membawa makanan mereka. Ia menyadari tidak hanya ia yang melihatnya tetapi hampir seluruh mata memandangi pria tampan bertubuh indah itu.
"Silahkan!" Seru Kim Yo Han saat ia meletakkan makanan di atas meja.
Tae Yang sudah akan memegang ayam goreng itu. Namun cepat-cepat Kim Yo Han dan Ae Ri memegang tangannya.
"Kau belum mencuci tangan!" Kompak keduanya berseru.
Tae Yang cemberut.
Sedangkan Ae Ri dan Yo Han berdebar karena tangan mereka kembali bersentuhan.
Ae Ri cepat-cepat menarik tangannya.
"Ayo kita cuci tangan dulu."
Yo Han menggandeng tangan Tae Yang menuju tempat cuci tangan disudut ruangan.
Ae Ri kembali memperhatikan orang-orang yang menatap Kim Yo Han. Mereka tampak berbisik-bisik. Ada juga yang tersenyum tampak memuji kelembutannya memperlakukan Tae Yang yang mereka kira putranya.
"Nah, sekarang baru boleh makan. Ayo makan yang banyak!" Ujar Yo Han. Ia tersenyum menatap Tae Yang yang sangat bersemangat menggigit ayam goreng.
"Pelan-pelan saja. Tidak usah terburu-buru nanti tersedak." Kim Yo Han mengelap pipi Tae Yang yang tertempel remahan ayam.
"Kau tidak makan?" Tanya Yo Han pada Ae Ri yang duduk di seberang mereka.
"Aku masih kenyang, tadi makan kimbap."
"Cuma sedikit itu. Ayo makan lagi."
Ae Ri menggeleng.
"Kau takut gemuk?" Tanya Yo Han lagi sambil menggigit ayam gorengnya.
"Tidak. Hanya tidak terlalu menyukai makanan berminyak saja."
"Kalau begitu mau makan apa? Ada menu lain kok disini.. Sandwich atau sup? Mau?" Tanya Yo Han.
Ae Ri sangat risih dengan sikap Kim Yo Han. Ia sangat tidak menyukainya dan ingin segera berada jauh dari pria itu.
"Sudah, jangan memperdulikan aku. Makan saja itu cepat sehingga aku bisa segera kembali ke kantor."
"Ini sudah sore. Kau mau bekerja lagi? Bukankah seharusnya sudah jam pulang?"
"Karena aku meninggalkan butik tengah hari tadi jadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang kutinggalkan."
"Kau tidak memiliki asisten atau wakil yang bisa membantu atau menyelesaikan tugasmu?"
"Ada. Tapi tidak semua hal bisa ia selesaikan. Bukankah kau juga begitu?"
Kim Yo Han mengangguk.
"Kalau begitu ini dibungkus saja. Aku bisa makan dirumah supaya mommy ssi bisa kembali bekerja." Tae Yang tiba-tiba bersuara.
Ia tampak terburu-buru menyelesaikan kunyahannya.
"Pelan-pelan Tae Yang. Nanti tersedak." Seru Yo Han.
Kemudian ia menatap dingin pada Ae Ri.
"Jika kau terburu-buru pergilah duluan. Aku akan menemaninya makan. Biar aku nanti yang akan mengantarnya."
Ae Ri menatap Tae Yang. Hatinya sangat perih melihat Tae Yang yang sangat pengertian untuknya. Anak kecil itu sangat memahami kondisi mommy nya.
'Maafkan mommy, Nak. Kabahagiaanmu tanpa kau ketahui sudah aku rampas.' Batin Ae Ri.
"Apa kau tidak merasa bersalah karena sudah mengecewakan hati seseorang?" Desis Yo Han. Wajahnya terlihat sangat dingin. Ia menatap Ae Ri dengan sangat tajam.
"Aku tidak menyangka kau sama sekali tidak peduli dengan perasaan orang lain. Terlebih lagi ini perasaan seorang anak kecil."
"Paman daddy, jangan memarahi nona Park. Ayo kita pulang sekarang." Tae Yang menggoyang-goyang lengan Yo Han.
Kim Yo Han menoleh dan tersenyum pada Tae Yang.
"Tidak marah. Hanya kecewa. Ayo kita pulang sekarang."
Kim Yo Han berdiri dan menggandeng tangan Tae Yang meninggalkan Ae Ri dengan perasaan yang kacau.
***
Selama di perjalanan Kim Yo Han sama sekali tidak mengajak bicara Ae Ri. Ia hanya bergurau dengan Tae Yang.
"Kita sudah sampai di kantormu, Tuan Kim." Ujar Ae Ri. Ia sengaja mengantar Yo Han lebih dahulu supaya pria itu tidak mengetahui rumah Tae Yang yang juga rumahnya.
"Mengapa kau mengantarkan aku dulu. Seharusnya Tae Yang dulu." Seru Yo Han dengan nada kesal.
"Rumahnya lebih dekat dengan kantorku. Jika Tae Yang dulu maka aku akan repot."
"Dari rumah Tae Yang aku bisa pulang sendiri tak perlu kau antar. Mengapa tadi tidak menanyakannya dulu padaku?!"
"Oke.. Aku bersalah. Maaf!" Seru Ae Ri dengan kesal.
Kim Yo Han sudah akan berkomentar lagi, namun tangan Tae Yang menyentuh tangannya. Ia tahu Tae Yang ingin mencegahnya.
Akhirnya ia hanya bisa tersenyum pada Tae Yang.
"Sampai ketemu besok ya. Besok paman daddy akan ke sekolah dan mengembalikan album fotomu." Bisik Yo Han sambil mengelus rambut Tae Yang.
Tae Yang mengangguk.
"Sampai jumpa, Paman."
"Sampai jumpa, Tae Yang."
Kim Yo Han keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada Ae Ri.
"Bukankah paman itu sangat baik, Mom? Mengapa Mommy tidak menyukainya?"
Tanya Tae Yang saat mobil Ae Ri kembali melanjutkan perjalanan.
"Dia tidak baik, Sayang. Kau tidak boleh terlalu akrab dengannya."
"Tapi dia sangat baik padaku."
"Tidak boleh terlalu akrab dengannya. Ingat itu!"
"Mengapa?" Tae Yang tampaknya masih penasaran.
"Mommy akan sedih jika kau melakukannya."
"Mengapa mommy akan sedih?"
"Mommy tidak menyukainya. Dia suka mengganggu mommy. Dan dia pernah menjahati mommy."
Tae Yang terbelalak. Meski ada rasa tidak percaya namun ia memutuskan untuk menuruti perintah mommynya.
***
"Tae Yang.. Ayah JJ datang!!" Ahn Jae Hyun berseru saat masuk ke rumah Ae Ri.
"Ayah JJ!" Teriak Tae Yang.
"Kau sedang apa?"
"Bermain di kamar."
"Mana mommymu?"
"Ke kantor sebentar. Katanya akan mengambil sesuatu."
Jae Hyun duduk di sofa disusul oleh Tae Yang.
"Ayah JJ baru sampai dari Busan. Capek sekali." Jae Hyun merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya.
"Ayah JJ. Ayo main tato-tatoan."
"Mainlah sendiri dulu ya. Ayah istirahat sebentar." Jawab Jae Hyun setengah tidur.
"Ayah JJ ku buatkan tato ya?"
"Ya.." Jae Hyun benar-benar sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya.
***
Ae Ri perlahan masuk ke dalam rumahnya. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Ia merasa sangat menyesal karena tidak dapat menepati janjinya pada Tae Yang. Ia tadi mengatakan hanya akan pergi sebentar namun ternyata sampai larut malam.
Ae Ri sedikit terkejut melihat Jae Hyun tertidur di sofa. Di sofa bagian lain Tae yang juga sudah terlelap.
Perlahan Ae Ri mengangkat putranya dan memindahkannya ke dalam kamar.
Ae Ri mengambil selimut dan akan menyelimuti Jae Hyun namun tiba-tiba matanya terbelalak.
"Tae Yang. Apa yang kau lakukan padanya?!" Seru Ae Ri tetapi dengan suara yang di tahan. Ia menutup mulutnya karena sangat ingin tertawa melihat wajah Jae Hyun yang digambari oleh Tae Yang.
Ae Ri mengguncang tubuh Jae Hyun.
"Jae Hyun.. Bangunlah!"
Setelah berkali-kali mengguncang tubuhnya akhirnya pria itu bangun juga.
"Aku sangat lelah. Biarkan aku tidur sebentar." Rengeknya.
"Bangun dulu. Cuci dulu wajahmu lalu tidur lagi."
"Besok saja."
"Jangan. Kalau kelamaan nanti sulit hilang."
"Apanya yang hilang?" Jae Hyun berbicara sambil tetap menutup matanya.
"Coba bangun dulu dan berkacalah. Kau bermain apa tadi dengan Tae Yang?"
Tiba-tiba Jae Hyun membuka matanya. Ia mencoba mengingat-ingat.
Ae Ri mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah Jae Hyun. Kemudian ia menunjukkannya pada pria itu.
"Lihatlah!"
"Apa ini?!" Serunya sambil memegang wajahnya.
"Makanya cepat cuci wajahmu!" Tawa Ae Ri.
Jae Hyun cepat-cepat berlari ke kamar mandi. Ae Ri masih terkekeh.
"Iya aku ingat dia tadi sempat menanyakan padaku apakah aku mau di tato. Tapi aku sudah sangat mengantuk."
Ae Ri masih tertawa geli melihat wajah Jae Hyun di ponselnya.
"Kau baru pulang?" Tanya Jae Hyun.
"Ya. Ada sedikit yang perlu dibereskan di kantor."
"Kasihan Tae Yang sendirian. Untung aku tadi datang."
"Iya. Aku juga merasa bersalah. Tadi aku bilang hanya sebentar ternyata memakan banyak waktu."
"Seharusnya kau ajak saja dia. Jangan biarkan dia sendirian di rumah."
"Ya.. Baik Tuan Ahn.."
"Kau selalu seperti itu. Tidak memikirkan anakmu." Desis Jae Hyun.
"Ah sudahlah. Aku mau istirahat. Kalau mau pulang, ya sudah sana pulanglah!"
Ae Ri berdiri dan berjalan ke kamarnya. Jae Hyun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian menarik selimut dan tidur lagi.
Di dalam kamar Ae Ri merenung di atas tempat tidurnya. Terngiang ucapan Jae Hyun.
'Apakah aku tidak memikirkan anakku? Ah, omong kosong! Aku selalu memikirkannya. Dia sok tahu!'
Kemudian ia juga teringat ucapan Kim Yo Han di restoran ayam tadi.
'Pria itu mengatakan aku tidak memikirkan perasaan Tae Yang. Dia juga sok tahu? Aku selalu memikirkan perasaan anakku kok!'
Lalu ia teringat kata-kata Tae Yang.
"Aku menyukai paman daddy. Ia sangat baik padaku. Mengapa mommy tidak menyukainya."
Ada perasaan bersalah bergelayut di dalam dadanya.
***