
*Kantor Pengacara Yoon*
"Halo tuan Kim. Bagaimana kabar anda. Tampaknya ada berita sangat penting hingga di malam natal seperti inipun anda bersikeras bertemu denganku." Sapa seorang pria berusia sekitar 45 tahunan dengan ramah.
"Maaf mengganggu waktumu pengacara Yoon." Jawab Kim Yo Han sambil duduk di sofa di tengah ruangan pengacara terkenal itu.
"Bagaimana kabar putra anda?" Tanyanya lagi. Kim Yo Han mengerutkan dahinya karena heran.
"Kau mengetahui tentang putraku?"
"Ya. Bahkan seluruh sekolah tahu. Kau memenangkan acara hari bapak di SD Byeol beberapa waktu lalu kan? Aku juga ada disana. Putraku kelas satu juga." Pria itu terkekeh.
Kim Yo Han tampak tertawa. Sesaat ia teringat bagaimana takdir mempertemukan nya dengan putranya. Mana ia sangka bahwa Tae Yang ternyata adalah putra kandungnya.
"Baiklah kalau begitu, pengacara Yoon, aku Ingin membuat surat wasiat."
Pengacara Yoon tiba-tiba tertawa.
"Apa yang menyebabkan keputusanmu itu? Anda seperti akan mati saja." Tanya pengacara itu disela-sela tawanya.
Namun kemudian ia menghentikan tawanya saat melihat kliennya itu berwajah serius dan tidak ikut tertawa dengannya.
"Ya. Ada kemungkinan aku akan mati. Entah kapan. Yang penting aku sudah menyiapkan segalanya." Jawab Kim Yo Han dengan tenang.
Kini pengacara Yoon duduk dengan tegak dan ikut memasang wajah serius.
"Apakah kau sakit?" Tanyanya pelan.
"Tumor otak." Jawab Kim Yo Han.
Pengacara Yoon benar-benar tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Apakah tidak bisa disembuhkan? Tidak bisa dioperasi?" Tanyanya penasaran.
"Ya bisa, tapi ada resikonya. Kita tidak tahu nanti nasib apa yang akan menungguku setelah operasi. Untuk itu aku minta kau siapkan ini."
Kim Yo Han mengulurkan selembar kertas yang disimpan di saku jasnya.
Pengacara Yoon membaca tulisan tangan Kim Yo Han sambil mengerutkan keningnya.
"Baiklah. Segera kusiapkan. Setelah selesai akan kuhubungi lagi."
Kim Yo Han mengangguk.
"Tuan Park apakah sudah mengetahuinya?" Tanya pengacara itu.
Pengacara Yoon mengenal Kim Yo Han pertama kali karena Park Chul Moo alias Pandai Besi yang memerintahkan dirinya untuk mengurus kasus Kim Yo Han saat ia dipenjara. Meskipun Kim Yo Han tidak mau, namun tuan Park terus menyuruhnya datang mengunjungi anak muda itu. Dari saat itulah mereka semakin dekat. Sampai saat ini Kim Yo Han menjadi klien tetapnya.
"Sudah. Tampaknya ia juga sudah bertemu dengan dokterku. Aku heran sebenarnya berapa telinga dan mata yang ia punya." Kim Yo Han tertawa kecil.
"Ia pasti sangat sedih." Pengacara Yoon berbicara setengah berbisik.
"Baiklah pengacara Yoon. Kutunggu kabar darimu secepatnya. Oya, jadwal operasiku awal Januari besok."
"Oke Tuan Kim. Aku yakin kau pasti bisa mengalahkan penyakitmu. Aku akan pergi ke gereja khusus untuk mendoakanmu. Kuharap Tuhan mendengarkan doaku walau aku sudah lama tidak mengunjungiNya."
Kim Yo Han tertawa keras.
***
Tingtong..
Ae Ri cepat-cepat berjalan ke arah pintu. Ia penasaran siapa orang yang bertamu dirumahnya menjelang malam itu.
Ia sedikit terkejut melihat sesosok pria setengah baya di layar monitor CCTV.
"Mau apa sih malam-malam kesini." Alisnya berkerut. Namun ia tetap membukakan pintu.
"Ae Riku.." Senyum tuan Park mengembang.
Ae Ri tidak menjawab apalagi tersenyum.
"Ayah ingin memberi kado natal untuk putramu. Mana si tampan itu?" Ia celingukan mencari-cari Tae Yang.
Ae Ri sebenarnya kesal pada pria itu. Namun ia berpikir akan sulit untuk menolak keinginannya.
"Duduklah, akan ku panggilkan." Ujarnya datar lalu masuk kedalam menemui Tae Yang.
"Tae Yang, diluar ada kakekmu. Ia ingin berkenalan denganmu. Kau panggil dia kakek ya."
Tae Yang tampak bingung.
"Kakek?" Keningnya berkerut. Ae Ri mengangguk.
"Ayo, kita temui dia." Ajak Ae Ri sambil tersenyum. Meskipun ia tidak suka dengan tuan Park Chul Moo, namun ia ingin anaknya tetap berlaku sopan dengan pria itu.
"Halo kakek." Sapa Tae Yang dengan ramah.
Tuan Park yang sedang melihat keluar jendela sedikit terkejut. Namun tiba-tiba senyumnya merekah mendengar cucunya itu memanggilnya kakek
"Cucuku sayang." Ia mendekat lalu jongkok dan memeluk Tae Yang dengan erat.
"Ayo sini duduk dekat kakek." Tuan Park menggandeng tangan Tae Yang ke sofa.
Ia membelai rambut pria kecil itu dengan kasih sayang sambil meneliti wajah bocah lelaki itu.
"Kau sangat mirip dengan ayahmu."
"Ya. Bukankah ayahmu itu Kim Yo Han? Dia putraku. Dan mamamu juga putriku. Hahaha.." Tuan Park tertawa sambil menoleh pada Ae Ri. Ia sendiri merasa aneh dengan kata-katanya.
"Entah bagaimana kalian bertemu, namun aku sangat senang hal itu terjadi. Kim Yo Han yang ku sayangi menjadi suami dari putriku."
"Sebenarnya kami tidak menikah." Jawab Ae Ri datar. Tuan Park melotot terkejut.
Tiba-tiba tuts kunci pintu berbunyi. Serentak mereka bertiga menoleh ke arah pintu. Ae Ri sedikit cemas, siapakah yang datang itu.
Sesosok pria tinggi dan tampan yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil menggeret sebuah koper yang cukup besar.
"Daddy!!!" Tae Yang bersorak sambil berlari ke arah KimnYo Han.
Kim Yo Han menangkap tubuh bocah itu lalu memeluk dan menggendongnya.
"Apa yang kau lakukan dengan kopermu itu?" Tanya Ae Ri dengan nada tidak suka. Tuan Park menoleh ke arahnya dan bergantian ke arah Kim Yo Han.
"Ayah, kau disini?" Kim Yo Han tidak menanggapi Ae Ri. Ia mendekat ke sofa dan menyapa tuan Park. Dengan santainya ia duduk disebelah Ae Ri sambil memangku Tae Yang tanpa merasa bersalah.
"Kau tampak semakin kurus." Suara tuan Park tiba-tiba berubah sendu.
"Apa kau tidak pernah makan?!" Kali ini ia meninggikan suaranya.
"Iya kek. Daddy tidak suka makan. Ia sering tidak menghabiskan makanannya. Kan jadi kurus ya kek kalau tidak menghabiskan makanan." Lapor Tae Yang. Kim Yo Han tertawa.
Tuan Park menghela nafas.
"Aku tidak mau membahas itu disini." Ujar Kim Yo Han serius pada ayah angkatnya itu.
Park Chul Moo melirik pada Ae Ri. Kini ia paham, Kim Yo Han masih merahasiakan penyakitnya dari putrinya.
"Kakek kesini mau memberimu hadiah Tae Yang, sini. Besok hari natal kan. Ini hadiahmu Tae Yang." Tuan Park menyerahkan paperbag besar berwarna hijau tua pada Tae Yang.
Tae Yang melompat dari pangkuan Kim Yo Han.
"Terimakasih kakek." Ia mendatangi kakeknya dan memeluknya erat. Tuan Park tampak sangat terharu dibuatnya. Matanya tiba-tiba berair.
"Boleh kubuka sekarang?"
"Tentu saja boleh. Bukalah?"
Tuan Park membantu Tae Yang mengeluarkan sebuah kotak dari dalam paperbag itu.
"Wow.. Bagus sekali! Aku suka mobil ini kek. Terimakasih!" Seru Tae Yang kegirangan saat melihat sebuah mobil remot berwarna merah didalam kotak itu.
"Syukurlah kau suka. Tadi kakek bingung saat akan memilihnya. Kakek takut kau tidak menyukainya."
"Tentu aku suka. Semua yang kakek berikan aku suka. Karena aku menyukai kakek." Ujar Tae Yang dengan mata yang berbinar.
Park Chul Moo tertawa dengan kedua mata yang sudah penuh dengan air.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah asik memainkan mobil remot itu.
Kim Yo Han mengambil ponselnya dan merekam mereka sambil terkadang ikut tertawa melihat tuan Park yang tiba-tiba menjadi seperti anak kecil.
"Tae Yang, kau mau makan apa? Kita pesan makanan saja ya." Tanya Kim Yo Han setelah menyimpan ponselnya kembali. Ia menoleh pada Ae Ri untuk meminta persetujuan.
Ae Ri hanya meliriknya sebentar tanpa komentar.
"Ayam goreng!" Seru bocah itu.
"Ayam goreng? Coba tanyakan mommy apakah boleh?"
Wajah Tae Yang mendadak lesu.
"Boleh ya mom.. Kan kita sudah lama tidak makan ayam goreng. Ya.." Bujuknya lucu.
"Ya tapi jangan banyak-banyak." Jawab Ae Ri.
"Horee!! Asik. Terimakasih mommy.." Seru Tae Yang dengan wajah berbinar kembali.
"Okelah kalau begitu daddy akan pesan ya. Kau masih sabar menunggu kan?"
"Ya dad. It's oke!" Jawab Tae Yang sambil membuat tanda oke dengan jarinya.
"Kakek jangan pulang dulu ya. Kita makan rame-rame disini."
"Apakah boleh?" Tuan Park balik bertanya. Tae Yang langsung menoleh pada mommynya.
Ae Ri mendadak menjadi jengah karena ketiga pria berbeda usia diruangan itu sontak melihat ke arahnya.
"Ya." Jawabnya lirih.
"Horee..!" Untuk kesekian kalinya Tae Yang bersorak kegirangan.
Beberapa waktu kemudian Ae Ri terperangah melihat beberapa pengantar makanan datang bergantian ke rumahnya. Dari ayam goreng, pizza, kue tart berhiasan natal, dan beberapa masakan khas Korea.
"Wow. Banyak sekali dad.." Tae Yang tampak keheranan melihat makanan yang begitu banyaknya.
"Aku mengundang satu orang lagi. Kuharap kau tidak marah." Ujar Kim Yo Han pada Ae Ri.
Sebelum Ae Ri menjawab terdengar suara bel pintu berbunyi.
Kim Yo Han cepat-cepat membukan pintu.
***