
Ae Ri terbelalak mendengar pernyataan Jae Hyun.
"Nam Hyun, Jae Hyun cukup! Kita sedang makan bersama, tolong hentikan. Maaf ya Yu Ri, kau pasti merasa kurang nyaman." Ujar mama Jae Hyun. Senyumnya sangat manis pada gadis itu.
Alis Ae Ri sedikit berkerut.
'Mangapa ia hanya meminta maaf pada Yu Ri. Aku juga merasa sangat tidak nyaman.' Batin Ae Ri.
Makan malam itu benar-benar tidak dapat dinikmati oleh Ae Ri. Meskipun menunya sangat mewah namun terasa sangat hambar.
"Yu Ri bagaimana kabar pak Kim? Tampaknya perusahaannya semakin tinggi harga sahamnya." Ujar tuan Ahn papa Jae Hyun. Pria itu tampaknya hanya memikirkan bisnis saja.
"Papa baik paman. Iya kami sedang bersiap mendirikan dua perusahaan baru. Yang satu nanti papa bilang untukku dan calon suamiku." Ujar gadis itu lembut. Ia melirik manja pada Jae Hyun.
Ae Ri berusaha untuk menahan tawa sinisnya. Ia berusaha bertahan demi Jae Hyun meskipun ia sangat ingin keluar dari rumah itu secepatnya.
"O iya nona Park, kau belum kenal kan pada nona Kim Yu Ri. Dia adalah anak satu-satunya tuan Kim So Jun. Pemilik Kimso Group." Kakak Jae Hyun mengenalkan tepatnya memamerkan Yu Ri.
Ae Ri hanya bisa menanggapinya dengan senyum.
Ae Ri tahu bahwa Kimso Group adalah perusahaan multi bisnis. Mereka memiliki beberapa hotel, perusahaan makanan, dan perusahaan kosmetik. Dan Kim Yu Ri adalah pewaris tunggalnya.
'Bodohnya Jae Hyun. Kalau aku menjadi dirinya pasti akan ku terima perjodohan itu.' Batin Ae Ri sambil melirik pria disampingnya.
"Tapi kalau aku akan tetap memilih Ae Ri, karena dia lebih pengalaman dan saat Jae Hyun menikah dengannya akan dapat bonus anak sekaligus kan." Kini kakak ipar Jae Hyun berbicara.
Ingin sekali Ae Ri menampar laki-laki itu. Namun ia berusaha menahan diri.
"Kau! Tutup mulutmu! Kau pikir kau siapa? Hanya menumpang hidup disini tapi berani-beraninya kau berkata seperti itu." Jae Hyun tidak dapat menahan dirinya. Ia hendak berdiri tapi Ae Ri cepat-cepat menariknya duduk kembali.
"Tenanglah Jae Hyun. Aku tidak apa-apa." Bisik Ae Ri.
Hal seperti inilah yang sudah ia prediksi dari jauh-jauh hari. Meski Jae Hyun sangat baik dan tulus padanya, namun keluarganya mesti tidak akan menyetujuinya. Hal yang selalu ia hindari akhirnya terjadi.
"Maafkan ketidaksopanan keluargaku Ae Ri. Aku sangat malu." Ujar Jae Hyun.
"Jika kau malu, kau bisa pergi." Nam Hyun tertawa.
"Maafkan kakaknya Jae Hyun nona Park. Terus terang kami berharap banyak pada Jae Hyun karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki keluarga ini. Jadi kami berharap ia mendapat istri yang layak. Mama tidak bisa memaksa jika ia bersikeras ingin mendapatkan istri yang seadanya, yang tidak bisa mengangkat nama keluarga." Mama Jae Hyun tampak ingin tetap terlihat ramah meski kata-katanya menusuk.
Tiba-tiba ponsel Ae Ri berdering. Ia terkejut karena lupa mengheningkan suaranya. Namun sesaat kemudian ia senang karena akan menjadikannya alasan untuk ia pergi secepatnya dari rumah aneh itu.
"Maaf aku harus mengangkat telepon dari putraku." Ujar Ae Ri tanpa beranjak dari kursinya. Ia berpikir tidak perlu berlaku sopan disana.
"Ya sayang. Ada apa?"
"..."
Ae Ri langsung menegang.
"Baiklah mommy akan pulang sekarang."
Cepat-cepat Ae Ri menyimpan ponselnya.
"Mohon maaf saya tidak bisa menyelesaikan makan malam yang sangat menyenangkan ini. Saya harus pulang karena terjadi sesuatu dirumah. Maaf Jae Hyun." Ae Ri berdiri dan membungkuk hormat lalu berjalan keluar ruangan.
Jae Hyun yang kebingungan segera sadar dan berlari mengejar Ae Ri.
"Tae Yang baik-baik saja?"Tanyanya cemas.
"Iya dia baik-baik saja. Aku hanya menjadikannya alasan untuk segera pergi dari sini. Aku tidak kuat menghadapi ini. Maaf Jae Hyun."
"Aku yang seharusnya minta maaf." Bisik Jae Hyun lemah sambil membukakan pintu mobil untuk Ae Ri.
"Tidak apa-apa. Kapan-kapan kita bahas ini lagi. Aku pulang sekarang." Ujar Ae Ri buru-buru menjalankan mobilnya.
Dalam perjalanan ia begitu cemas nya. Ia teringat kata-kata Tae Yang tadi di telepon.
"Mommy.. Mommy.. Cepatlah pulang, daddy.. Daddy tidur tidak mau bangun-bangun. Dia pingsan mom. Hidungnya keluar darah banyak sekali. Aku takut mom. Cepat pulang mom." Tae Yang berbicara dengan kacau sambil menangis.
'Apa yang terjadi?' Batin Ae Ri cemas.
Ae Ri langsung berlari secepatnya masuk kerumahnya.
"Tae Yang!!" Panggilnya. Ia melirik jam, sudah satu jam dari ia mendapat telepon anaknya.
'Semoga tidak terjadi hal yang menakutkan.' Batin Ae Ri. Ia segera masuk ke kamar Tae Yang.
Begitu ia membuka pintu kamar, betapa terkejutnya ia melihat Kim Yo Han dan putranya tiduran dengan santai sambil.membaca buku cerita. Mereka berdua masuk dalam satu selimut.
Kim Yo Han tersenyum padanya.
"Kau sudah pulang? Sudah selesai acaranya?" Tanya pria itu.
Ae Ri membelalakkan kedua matanya. Ia seprti tidak percaya apa yang sedang dilihatnya.
'Tadi Tae Yang tampak bersungguh-sungguh. Apakah ia berbohong?'
"Tae Yang berbohong pada mommy?" Tanya Ae Ri datar. Ia sangat kesal pada Kim Uo Han. Pasti pria itu yang mengajari nya berbohong.
Ia menyesal karena sempat ingin menangis membayangkan hal buruk terjadi pada pria itu. Ternyata ia baik-baik saja.
Tae Yang menunduk. Ia terlihat ketakutan.
"Jangan menyalahkannya. Aku yang menyuruhnya. Kami tidak ingin jau berlama-lama disana." Kata Kim Yo Han.
Ae Ri tiba-tiba merasa matanya panas. Seluruh rasa yang telah ia tahan dari tadi rasanya sudah tidak dapat ia tahan lagi.
Wanita itu cepat-cepat pergi dan masuk ke kamarnya sendiri.
Kim Yo Han dan Tae Yang saling pandang.
"Terimakasih kau mau merahasiakannya pada mommy."
"Tapi daddy tadi benar-benar sakit kan. Mengapa tidak ke rumah sakit?" Bisik Tae Yang. Ia masih terlihat cemas.
Tae Yang mengangguk.
"Tapi mommy jadi marah. Ia mengira aku berbohong padanya."
"Jangan khawatir. Sudah tidurlah. Daddy akan menjelaskannya supaya mommy tidak marah lagi."
Kim Yo Han berdiri dan merapikan selimut Tae Yang. Lalu mengecup lembut kaning putranya itu.
Toktoktok..
Kim Yo Han mengetuk pintu kamar Ae Ri. Sesaat kemudian ia membuka pelan pintu itu. Ia melihat Ae Ri berbaring miring ditempat tidur. Tubuhnya terisak-isak karena menangis.
Pelan-pelan Kim Yo Han duduk di ranjang disamping Ae Ri.
"Maafkan aku. Kau boleh kesal padaku tapi jangan marahi Tae Yang. Aku yang salah." Ujar Kim Yo Han. Ia memegang bahu wanita itu dengan lembut.
Sebenarnya ia sedikit bingung mengapa reaksi Ae Ri malah menangis bukannya mengamuk.
Ae Ri bangun dari tidurnya dan duduk bersandar.
"Aku tidak apa-apa. Katakan pada Tae Yang aku tidak marah. Pergilah." Jawab Ae Ri.
"Apakah tadi terjadi sesuatu disana? Mengapa kau menangis? Katakan padaku." Kim Yo Han tampak cemas sekaligus penasaran.
Ae Ri meliriknya. Tiba-tiba air matanya jatuh lagi dengan derasnya. Ia cepat-cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kim Yo Han memajukan duduknya dan memeluk Ae Ri. Pria itu meletakkan kepala Ae Ri di dadanya. Perlahan ia menepuk-nepuk bahu wanita itu berusaha untuk menenangkannya.
"Apa yang terjadi?" Bisiknya. Ae Ri menggeleng dalam dekapan Kim Yo Han.
Perlahan Ae Ri berusaha melepaskan diri dari pelukan Kim Yo Han. Ia duduk lagi bersandar di kepala ranjangnya.
"Kubuatkan teh hangat ya, supaya kau lebih tenang. Tunggu sebentar." Kim Yo Han cepat-cepat keluar.
Ae Ri menatapnya sendu. Lalu terisak kembali.
'Mereka bicara seperti itu karena memang begitulah keadaanku. Siapa yang bisa disalahkan. Ya.. Aku begini karena pria itu. Karena Kim Yo Han.' Batinnya kesal.
Kim Yo Han masuk sambil membawa secangkir teh.
"Minumlah. Pelan-pelan masih panas." Bisiknya sambil menyerahkan cangkir itu.
'Lihatlah. Mengapa ia begitu baik dan perhatian padaku. Padahal ia menyuruhku menikah dengan Jae Hyun. Jika ia memang mencintaimu mengapa ia tidak mempertahankan ku. Mengapa justru ia akan pergi. Apakah ia tidak ingin hidup bersama putranya. Dasar egois!'
"Kau sudah makan? Mau ku masakkan sesuatu?"
Ae Ri menggeleng.
Kim Yo Han menghapus air mata Ae Ri yang terus berjatuhan di pipinya.
"Jangan lama-lama menangis nya. Nanti kepalamu sakit." Bisik Kim Yo Han.
Ae Ri sangat ingin mengehentika tangisan nya. Namun ia tidak mengerti banyak sekali pikiran-pikiran yang mentumpal di kepalanya yang membuatnya ingin menangis.
Namun alasan terakhirnya adalah karena pria dihadapannya itu.
Kim Yo Han menggenggam jemari tangan kiri Ae Ri dengan hangat.
"Apakah keluarga Jae Hyun tidak baik padamu?" Tanya pria itu.
Ae Ri menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya.
Kim Yo Han cepat-cepat memeluknya lagi. Ae Ri yang sedang memegang cangkir berisi teh berseru karena terkejut tehnya sebagian tumpah di tubuhnya.
"Maaf.. Maaf.." Kim Yo Han terlihat cemas dan merasa bersalah. Ia mengambil cangkir ditangan Ae Ri. Lalu menyerahkan tisu yang diambilnya dari nakas disamping ranjang Ae Ri.
Teh membasahi pakaian Ae Ri dibagian pinggang dan pahanya yang masih tertutup dees coklatnya.
"Maafkan aku. Apakah panas?"
Ae Ri menggeleng. Ia bangun untuk mengganti pakaiannya di wardrobe.
Beberapa saat kemudian ia sudah keluar dan berganti pakaian. Ia memakai kaos pink yang panjangnya sampai dibawah lutut.
Ae Ri sedikit terkejut menyadari Kim Yo Han masih berada dikamarnya. Pria itu tampak memandanginya dengan cemas.
"Aku sudah tidak apa-apa. Kau pergilah." Ujar Ae Ri sambil naik ke tempat tidurnya.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu sebentar sampai kau tidur." Kata Kim Yo Han sambil duduk di ranjang disamping Ae Ri. Ia membenahi selimut Ae Ri.
Ae Ri memiringkan tubuhnya membelakangi Kim Yo Han. Ia memejamkan matanya. Ingin sekali ia segera tidur. Namun pikirannya masih melayang-layang kemana-mana membuatnya tidak tenang.
'Bagaimana aku bisa tidur kalau dia ada disini. Apa ia tidak tahu sudah membuat jantungku berdebar.' Omel Ae Ri.
Kim Yo Han membelai rambut panjang Ae Ri. Wanita itu memberanikan diri menatap Kim Yo Han.
Kim Yo Han sejenak bingung dengan tatapan tajam Ae Ri. Namun ia menyadari tidak ada kemarahan disana.
"Kau mau kupeluk supaya tenang?" Bisiknya.
Senyumnya mengembang saat melihat wanita itu mengangguk.
Kim Yo Han membuka selimut Ae Ri dan masuk ke dalamnya. Tangan kirinya memeluk Ae Ri dengan erat seakan tidak akan ia lepaskan lagi. Sedangkan tangan kanannya membelai rambut Ae Ri dari kepala sampai kepunggung.
Ae Ri mendongak menatap pria itu. Kim Yo Han mengecup lembut kening wanita yang sangat ia cintai itu. Ia kembali tersenyum.
'Jika kau benar-benar mencintaimu mengapa kau ingin pergi meninggalkanku lagi?' Bisik Ae Ri dalam hati.
Ia kembali menangis dalam pelukan pria itu.
***