
"Lee Chan!" Panggil Ae Ri antara cemas dan kesal sekaligus. Ia sudah semakin terserang rasa khawatir.
Lee Chan berusaha meredakan tangisan nya. Ia menerima tisu yang disodorkan Ae Ri.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi!" Perintah Ae Ri saat melihat Lee Chan sudah lebih tenang.
Lee Chan menggeleng.
"Aku dilarang menceritakannya pada kakak."
"Siapa yang melarang? Kim Yo Han?"
Lee Chan mengangguk. Ae Ri semakin tidak tenang.
"Jadi dimana dia sekarang? Apa dia sakit?" Ae Ri memberanikan diri untuk menanyakan hal yang ia takuti.
Lee Chan menatapnya sebentar lalu menunduk kembali.
"Ia bilang ia akan baik-baik saja. Ia memberikan manajemen ini untukku. Sedangkan sekolah Byeol untuk kakak. Nanti pengacaranya akan segera menghubungi kakak."
Ae Ri memejamkan kedua matanya. Kata-kata Lee Chan tidak memberinya jawaban. Justru perasaannya semakin tidak enak.
"Katakan padanya aku tidak mau." Jawab Ae Ri kesal.
Lee Chan sedikit kebingungan.
"Kakak tidak bisa menolaknya. Mau atau tidak mau sekolah itu kini sudah menjadi milik kakak."
"Lalu apa yang ia lakukan sekarang?!" Ae Ri masih terus mendesak Lee Chan.
"Dia.. Sedang ada urusan lain." Lee Chan menjawab dengan lemah.
Ae Ri semakin kesal. Ia berdiri dan meraih tasnya lalu keluar ruangan tanpa berpamitan pada Lee Chan. Ia tidak lagi memperdulikan senyuman atau sapaan dari orang-orang yang ia lalui.
Sampai di parkiran Ae Ri duduk berdiam diri di dalam mobilnya. Ia mencoba mencerna kembali kata-kata Lee Chan.
'Apa yang terjadi? Dimana dia? Apakah dia baik-baik saja?' Batin Ae Ri gelisah.
Tiba-tiba Ae Ri melihat Lee Chan berjalan tergopoh dan cepat-cepat masuk ke mobilnya. Ae Ri menghidupkan mesin mobil dan perlahan ia mengikuti pergerakan mobil Lee Chan. Ia berharap Lee Chan menuntunnya ke tempat
Kim Yo Han.
Mobil Ae Ri berjalan tenang sambil tetap menjaga jarak dengan mobil Lee Chan di depannya. Ae Ri lega karena tampaknya Lee Chan tidak menyadari ia sedang membuntutinya.
Dahi Ae Ri berkerut saat ia berhenti disebuah rumah di pinggiran kota Seoul. Rumah besar yang ditumbuhi pohon sakura di halamannya itu sangat ia ingat. Delapan tahun lalu ia pernah menjadi tawanan dirumah itu. Bahkan pria itu juga telah mengambil miliknya yang paling berharga disana.
Ae Ri cepat-cepat turun dari mobilnya dan berlari masuk melewati gerbang sebelum tertutup kembali.
Mobil Lee Chan tampak sudah terparkir di depan rumah. Ae Ri mengintip ke dalam mobil, tampaknya Lee Chan sudah masuk ke dalam rumah.
Ae Ri mencoba membuka pintu rumah namun tampaknya terkunci. Dengan ragu ia menekan bel.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Ae Ri terkejut saat melihat seorang pria paruh baya membukakan pintu.
Ae Ri menganggukkan kepalanya.
"Apa kabar paman?" Ia tersenyum pada pria tua itu. Ia masih ingat jelas, pria itu adalah kepala pelayan yang dulu sering mengurus keperluannya selama berada dirumah itu.
Dengan sedikit ragu pria itu membungkuk dan tersenyum pada Ae Ri.
"Saya baik nona. Dan anda juga terlihat semakin luar biasa." Jawab pria tua itu.
Ae Ri tersenyum.
"Ijinkan saya masuk paman." Bisiknya sambil setengah memohon. Ia mendesak masuk ke dalam sehingga pria itu terpaksa mundur dan memberinya jalan.
Ae Ri melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Ia menebak kamar pria itu ada dilantai atas sehingga ia langsung melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Nona.." Kepala pelayan memanggilnya. Ae Ri menoleh.
"Saya tidak yakin nona. Berhati-hatilah." Bisiknya. Ae Ri mengerutkan dahinya karena kurang memahami maksud perkataan pria tua itu.
Namun kakinya terus melangkah di area lantai dua bangunan besar itu. Ada beberapa pintu disana. Ae Ri mencoba membuka setiap pintu namun ia belum juga menemukan yang dicarinya.
Sampai akhirnya ia berhenti didepan sebuah pintu yang paling ujung. Dadanya berdegup kencang saat perlahan ia mendengar suara-suara dari dalam ruangan itu. Meski ia tidak dapat mendengar dengan jelas namun ia dapat menangkap bahwa itu pasti suara Lee Chan dan Kim Yo Han.
Setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya, Ae Ri membuka pintu itu dan mendorongnya sekuat tenaga.
Ae Ri dan kedua pria didalam kamar itu sama-sama terkejut. Selama beberapa saat mereka tertegun.
"Apa-apan ini?!!" Kim Yo Han membentak ke arah Lee Chan. Lee Chan tampak bingung dan merasa bersalah.
"Maafkan aku. Aku tidak..."
"Suruh dia pergi!!" Belum selesai Lee Chan menjelaskan, Kim Yo Han sudah berteriak lagi.
Ae Ri menundukkan kepalanya. Air matanya sudah membasahi pelupuk matanya. Ia benar-benar terkejut saat melihat kondisi Kim Yo Han dengan tubuh yang sangat kurus dan duduk di kursi roda. Ia tampak sangat lemah.
Ae Ri berjalan masuk ke kamar.
"Lee Chan keluarlah." Perintah Ae Ri.
Ae Ri menggeret sebuah kursi dan duduk dihadapan Kim Yo Han. Pria itu membuang pandangannya ke arah jendela. Ia tidak ingin melihat Ae Ri. Ia tidak mau wanita itu melihat kelemahannya dan mengasihaninya.
"Apa yang terjadi?" Bisik Ae Ri. Ia menahan suaranya agar tidak bergetar karena menahan tangisannya.
Kim Yo Han tetap diam tidak bereaksi. Ae Ri menghela nafas. Ia kemudian memperhatikan ke seluruh ruangan bernuansa putih dan abu-abu itu.
Ae Ri terpana saat melihat sebuah foto berbingkai besar yang tergantung tepat di depan tempat tidur. Foto mereka bertiga, Ae Ri, Tae Yang dan Kim Yo Han saat mereka sedang lomba di sekolah dulu. Kim Yo Han menggendong Tae Yang di bahunya dan Ae Ri sedang tertawa melihat ke arah Tae Yang. Foto yang bagus. Tanpa sadar Ae Ri tersenyum.
Lalu pandangannya menangkap dua buah kertas putih bergambar yang juga di figura dengan rapi. Hasil karya Tae Yang itu digantung di dinding disamping tempat tidur.
Ae Ri menoleh saat Kim Yo Han menggerakkan kursi rodanya ke arah samping tempat tidur. Pria itu menekan sebuah bel.
"Kau mau berbaring?" Tanya Ae Ri cepat-cepat sambil menghampirinya.
Kim Yo Han menepiskan tangan Ae Ri yang memegang tangannya.
"Pergilah aku ingin istirahat." Ujarnya datar.
Saat itu masuklah kepala pelayan dengan tergopoh-gopoh.
"Pak Ko, bukankah sudah kubilang jangan pernah membiarkan orang lain masuk ke rumah ini. Apa sih kerjamu?! Begitu saja tidak beres!!" Bentak Kim Yo Han.
Ae Ri sedikit terkejut dengan suara keras pria itu.
Pak Ko membungkukkan tubuhnya berkali-kali sambil meminta maaf.
"Aku masuk sendiri! Aku tahu kuncinya. Tidak perlu kau memarahi pak Ko!" Jawab Ae Ri kesal karena sikap kasar pria itu.
"Pak Ko, maafkan aku. Sekarang pergilah aku yang akan menemaninya." Ujar Ae Ri dengan sopan sambil mendorong pak Ko keluar kamar.
Kim Yo Han menatap Ae Ri dengan kemarahan. Ae Ri sempat bergidik melihatnya. Namun wanita itu mencoba menguatkan hatinya dan menantang tatapan mata pria itu.
"Aku tidak suka kau disini. Pergilah! Sebelum aku menyakitimu!" Ujar Kim Yo Han dingin.
"Hahaha.. Kau ingin menyakitiku? Lakukanlah jika kau bisa." Ae Ri menertawakan pria itu. Meski dalam hati ia merasa bersalah dengan sikapnya yang tampak meremehkan keadaan pria itu.
"Kau pasti sangat senang melihat keadaanku seperti ini. Aku tahu kau sangat membenciku. Dan kau pasti menikmatinya sekarang." Kata Kim Yo Han.
Ae Ri terbelalak. Tapi kemudian ia tertawa. Meski bertentangan dengan hatinya.
"Iya. Aku senang melihatmu seperti ini. Dulu kau selalu menggangguku. Sekarang aku ingin menganggumu. Dan iya, aku akan sangat menikmatinya, tuan Kim."
Kim Yo Han memandang Ae Ri dengan penuh emosi.
"Kenapa? Kau mau mengusirku? Lakukanlah jika kau bisa!" Ujar Ae Ri sinis sambil duduk ditepi tempat tidur, dengan santai ia menyilangkan kakinya.
"Kumohon pergilah.." Kini suara Kim Yo Han terdengar sedikit bergetar. Ia menunduk sambil memegang kepalanya yang plontos. Ada bekas jahitan terukir disana.
Ae Ri buru-buru berdiri dan mendekati pria itu.
"Kenapa? Kepalamu sakit?" Ae Ri tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.
"Aku ingin istirahat. Ku mohon pergilah.." Kim Yo Han berbisik.
Ae Ri terdiam beberapa saat. Hatinya tidak tahan melihat pria itu. Lalu ia meraih tas tangannya dan pergi keluar kamar.
Pak Ko yang bersiaga di luar kamar mengangguk hormat pada Ae Ri, lalu cepat-cepat masuk ke dalam.
Sampai dilantai satu Ae Ri melihat Lee Chan duduk di sofa dan menyusul ikut duduk dihadapannya.
"Ceritakan padaku. Apa yang terjadi?!" Perintah Ae Ri dengan suara dingin. Ia menatap tajam pemuda dihadapannya itu.
"Kak Yo Han sakit tumor otak. Tadinya ia tidak ingin operasi. Sebelum tahu bahwa ia memiliki seorang putra. Awal tahun kemari ia akhirnya ia memutuskan untuk oprasi, demi Tae Yang dan kakak. Ia ingin sekali hidup. Namun dokter sudah mengatakan resiko jika gagal ia bisa lumpuh. Dan inilah, seperti yang kakak lihat."
"Lalu mengapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Dia melarangku. Dia tidak ingin kakak melihat kondisinya yang seperti itu. Baginya lebih baik kakak menganggapnya sudah mati saja."
Ae Ri menghela nafas.
"Mengapa kursi rodanya tidak yang otomatis saja supaya ia bisa bebas bergerak?" Tanya Ae Ri.
Lee Chan menggeleng.
"Awalnya aku memberikan kursi yang otomatis. Namun ia terus mencoba mencelakai dirinya. Menabrakkan dirinya ke dinding. Dan yang terparah ia menjatuhkan dirinya di tangga itu. Untung tidak terjadi apa-apa. Sejak itu aku mengganti kursi rodanya, membuang semua benda berbahaya dari kamarnya, dan harus selalu ada yang menemaninya di dalam kamar."
"Mengapa dia seperti itu?" Ae Ri melemah.
"Baginya lebih baik mati daripada lumpuh seperti itu.Ia adalah orang yang tidak pernah bergantung dengan orang lain. Jadi ini sangat menyiksanya."
Ae Ri terdiam.
"Dia juga tidak ingin kakak maupun Tae Yang melihat kondisinya. Ia mengatakan oadaku, ia ingin Tae Yang dan kakak mengenangnya sebagai Kim Yo Han yang dulu. Yang sehat dan gagah. Kepercayaan dirinya benar-benar sudah hilang sekarang. Itulah sebabnya ia sangat marah pada kita tadi." Jelas Lee Chan.
Ae Ri menggigit bibirnya. Air matanya sudah tidak bisa lagi ia tahan.
***