Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Empat Puluh Satu



"Namanya Kim Dei Ji, nyonya." Jawab Kim Yo Han. Lidahnya sedikit kelu saat mengucapkan nama itu. Sudah sangat lama ia tidak mengucapkannya. Tanpa ia sadari ia menunduk sangat dalam.


Nyonya Park berusaha mengingat apakah ia memiliki teman atau kenalan dengan nama itu. Namun ia tidak dapat mengingatnya. Kemudian matanya menangkap suasana duka yang menyelimuti Kim Yo Han.


"Nama yang sangat indah. Aku yakin mamamu sangat cantik sehingga melahirkan putra yang sangat tampan sepertimu." Nyonya Park berusaha menghibur pria muda itu.


Kim Yo Han tersenyum.


"Iya nyonya. Dia sangat cantik. Andapun juga sangat cantik. Jika ia masih hidup mungkin seumur dengan anda." Jawabnya.


"Aku tidak tahu apakah kutukan bagi wanita cantik harus bertemu dengan pria brengs*k seperti papa-papa kalian." Nyonya Park tertawa seolah menertawakan kebodohannya.


"Kuharap nona Park tidak bertemu dengan pria seperti itu." Jawab Kim Yo Han. Ia tampak serius.


Nyonya Park tertawa.


"Jadi menurutmu putriku cantik?" Godanya.


Kim Yo Han memerah karena malu.


"Iya. Putri anda cantik." Jawabnya ragu sambil melirik Ae Ri. Ia takut wanita itu marah.


Benar saja Ae Ri meliriknya dengan tatapan kesal. Kim Yo Han cepat-cepat menunduk.


Nyonya Park yang memperhatikan tingkah kedua anak muda itu tidak dapat menahan gelak tawanya.


Beberapa pelayan datang dengan meja dorong yang dipenuhi berbagai hidangan makanan tradisional Korea.


Nyonya Park dan Ae Ri terbelalak melihat hamparan makanan di hadapan mereka.


"Tuan Kim kau mengundang berapa orang hingga memesan makanan sebanyak ini?" Seru nyonya Park.


"Saya tidak tahu makanan apa yang anda inginkan nyonya. Jadi lebih baik kupesan semuanya. Mumpung anda di Korea jadi bisa puas menikmati makanan ini. Bukankah di Amerika tidak ada yang seperti ini?" Ujar Kim Yo Han.


Nyonya Park tersenyum.


"Di Amerika ada, tapi kurang original rasanya. Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas undangan makan malamnya dan atas hidangan yang luar biasa ini. Selamat makan." Senyum lebar menghiasi wajah cantik wanita itu.


"Selamat makan. Silahkan nyonya, silahkan nona." Kim Yo Han mengambilkan sepasang sumpit untuk masing-masing wanita dihadapannya itu.


Nyonya Park dan Ae Ri menerimanya. Nyonya Park berterimakasih sedangkan Ae Ri hanya diam saja.


"Katakan sesuatu Ae Ri. Mama tidak mengajarimu untuk tidak sopan seperti itu."


Ae Ri menoleh pada mamanya yang menatapnya serius.


"Trimakasih." Ujarnya singkat dan terpaksa sambil melihat sekilas pada pria dihadapannya itu.


Kim Yo Han tersenyum.


"Aku sangat merindukan omelan mamaku." Ujarnya tiba-tiba sambil tertawa.


Tapi kedua wanita dihadapannya tidak bisa ikut tertawa, justru keduanya merasa ingin menangis.


"Jika mamamu masih ada mungkin ia tidak akan pernah mengomelimu karena kau sangat baik Yo Han. Bolehkah aku memanggilmu Yo Han?"


Kim Yo Han memandang nyonya Park agak lama.


"Tidak ada orang yang memanggilku seperti itu nyonya. Dan itu sangat membuatku bahagia."


Nyonya Park mengerutkan dahinya, heran atas ucapan pria itu. Karena berarti pria muda itu tidak memiliki seorang pun yang dekat dengannya.


"Selama ini kau tidak memiliki teman?"


Kim Yo Han menggeleng.


"Sewaktu masih sangat muda aku sudah menjadi anggota gangster yang ditakuti sekaligus banyak musuh. Jadi aku tidak bisa mempercayai siapapun. Setelah aku keluar dari gank itu aku selalu sendirian. Orang-orang biasanya memanggilku tuan Kim. Ya benar. Tidak ada yang memanggilku Yo Han."


"Aku heran mengapa tidak ada orang yang mau dekat denganmu. Padahal kau sangat baik."


"Saya tidak baik nyonya. Masa lalu saya sangat buruk."


"Itukan masa lalu. Bukankah yang terpenting adalah saat ini? Kulihat kau baik dan sopan. Pekerja keras dan juga tampan." Ujar nyonya Park sambil tersenyum.


"Bukankah begitu Ae Ri?" Ae Ri yang dimintai pendapat hanya menoleh sebentar pada mamanya lalu melanjutkan makannya seolah-olah tidak mendengar apapun.


"Nona Shin memanggilmu Yo Han." Lalu tiba-tiba tanpa angin dan hujan Ae Ri bersuara.


Kim Yo Han dan nyonya Park memandangnya heran. Lalu Kim Yo Han tersadar.


"Nona Shin memanggilku seperti itu hanya saat didepanmu. Jika diluar ia kembali memanggilku tuan Kim."


"Mengapa begitu?" Tanya nyonya Park penasaran.


"Entahlah." Kim Yo Han tidak mau menjelaskan bahwa alasannya adalah untuk membuat Ae Ri cemburu.


"Sekali lagi trimakasih atas makan malamnya Yo Han. Sampai jumpa di lain waktu. Semoga kau sehat selalu dan semakin sukses bisnismu." Ujar Nyonya Park saat mereka sudah berada di depan restoran.


"Sama-sama nyonya Park. Terimakasih sudah mau menerima undangan saya. Terimakasih juga nona Park. Sampai jumpa lagi."


Ae Ri menganggukan kepalanya.


"Tolong jangan ikuti kami." Ujarnya.


Kim Yo Han tertawa.


"Baik." Ujarnya resmi.


"Mengapa kau sangat kejam padanya? Ucapanmu selalu dingin dan ketus padanya. Ada apa?" Tanya nyonya Park saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


Ae Ri duduk di kursi kemudi karena nona Kang sudah pulang lebih dahulu.


"Itu aneh sekali jika kau membencinya tanpa sebab. Apakah dia mengingatkanmu pada seseorang yang kau benci?"


Ae Ri terdiam. Nyonya Park menoleh dan mengamati wajah putrinya.


"Apakah dia mirip dengan ayahnya Tae Yang?" Bisik nyonya Park.


Jantung Ae Ri seakan berhenti berdetak. Ia menggenggam erat kemudi mobilnya.


Ae Ri tertawa lebar.


"Mama ada-ada saja. Mama kan tahu aku tidak suka para pria hidung belang. Aku sudah memutuskan tidak mau berhubungan dengan pria-pria yang hanya ingin mencari kesenangan sendiri. Aku lebih baik fokus pada Tae Yang dan bisnis kita." Jawab Ae Ri sambil menatap lurus ke depan.


"Tidak semua laki-laki seperti itu. Kau masih muda dan sangat cantik. Wajar jika banyak pria yang menyukaimu. Pilihlah satu yang paling baik untuk menemanimu nanti.


Tae Yang akan dewasa dan meninggalkanmu. Kau harus rela melepaskannya demi masa depannya. Kalau nanti mama sudah tidak ada, mama tidak mau kau kesepian." Ujar nyonya Park lirih.


Perlahan Ae Ri memarkirkan mobilnya di depan rumahnya.


"Kapan-kapan kita bicara lagi ma. Mama pasti sangat lelah kan. Ayo istirahat." Ujar Ae Ri berjalan ke arah mamanya dan memeluk pundak wanita yang cantik dan anggun itu meski sudah memasuki usia setengah abad itu.


"Baiklah. Mama sangat tahu kau selalu berusaha menghindar jika mama mengajakmu bicara tentang yang satu itu." Nyonya Park tertawa sambil merangkul pinggang putrinya.


"Apa Tae Yang sudah tidur?" Tanya Ae Ri pada bibi pengasuh Tae Yang.


"Sudah nona."


"Baiklah terimakasih banyak atas bantuanmu. Maaf aku pulang terlambat. Anda tidur disini atau mau pulang?" Tanya Ae Ri.


"Saya pulang nona, sebentar lagi suami saya menjemput."


"Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu besok."


"Baik nona, sampai bertemu besok." Bibi Seo mohon diri.


"Kamar mama selalu kubersihkan. Jadi mama bisa tidur disana."


"Tidak. Malam ini aku mau tidur dengan cucuku. Letakan koper mama dikamar." Perintah nyonya Park.


"Mama bersihkan diri dulu, dari mana-mana jangan langsung memeluk Tae Yang." Seru Ae Ri sambil mendorong koper mamanya.


"Iya baik.." Nyonya Park menjawab dengan nada seperti bawahan kepada bosnya. Ae Ri tertawa.


"Dia semakin tampan saja. Dan coba lihat betapa panjangnya dia sekarang. Mama tidak melihatnya beberapa bulan saja dia sudah besar sekali sekarang. O cucu granny yang tampan."


Ae Ri berdiri sambil bersandar di bingkai pintu. Bibirnya tersenyum melihat mamanya memeluk Tae Yang yang sudah terlelap.


"Aku juga mau tidur ya ma. Selamat tidur mama." Ujar Ae Ri sambil mematikan lampu kamar dan menutup pintu.


Di kamarnya Ae Ri benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Ia selalu teringat mata pria itu. Yang kadang terlihat penuh cinta namun juga terkadang penuh derita.


Dan hari ini ia mencemaskan pria itu.


'Benar kata nona Go. Ia terlihat kurus. Dan tadi saat makan malam pria itu hampir tidak makan. Apakah ia benar-benar sakit?' Ae Ri gelisah.


Namun tiba-tiba ia tersentak.


'Kenapa aku begini? Kenapa? Aku tidak peduli dengannya. Bodoh. Kalau dia sakit biarkan saja. Mati pun biarlah!' Ae Ri duduk dan menghidupkan lampu di nakas di sebelah tempat tidurnya.


Ia mengambil sebuah novel yang baru dibacanya setengah.


Baru saja ia membaca beberapa baris, matanya kembali menerawang pada mata elang yang baru hari ini ia lihat merah dan basah.


Walau pria itu tidak sampai menangis tapi ia tahu Kim Yo Han benar-benar sedang sedih.


Ae Ri mengambil ponselnya dan membuka chat Kim Yo Han. Ia membaca beberapa pesan yang masuk dari pria itu namun sangat jarang ia membalasnya.


Tiba-tiba mata Ae Ri terbelalak karena melihat tulisan 'Kim Yo Han sedang mengetik pesan'.


Ia melempar ponselnya seketika seperti tertangkap basah sedang berbuat kesalahan.


Drrt..


Pesan masuk ke ponsel Ae Ri. Perlahan ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


"Kau belum tidur?" Pesan dari Kim Yo Han.


...


"Kau tidak bisa tidur? Apa kau kelelahan? Kau baik-baik saja?"


Ae Ri tetap tidak menjawab.


"Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu bersamamu dan mama."


Ae Ri hanya membaca tidak ingin membalas sama sekali.


"Bolehkah aku mengakui sesuatu? Saat nona Go bilang ada yang merindukanmu dan ingin menyatakan cinta padamu. Aku sangat marah. Kupikir itu seorang pria ternyata mamamu. Hahaha.." Ketik pria itu.


Tanpa disadari bibir Ae Ri ikut tersenyum. Dia sendiri mengira itu adalah Kim Yo Han.


"Dan aku juga ingin mengaku lagi. Saat kau bilang kau pernah sangat terpuruk sampai ingin bunuh diri aku merasa itu karena perbuatanku. Aku sangat ingin memelukmu dan meminta maaf."


Ae Ri menggigit bibirnya. Cepat-cepat ia mematikan ponselnya dan mematikan lampu. Ia sangat tidak ingin meneruskan pokok bahasan itu.


Ia memilih berdiam diri dibawah selimut tebal dan kegelapan malam. Seolah takut ditemukan oleh laki-laki itu.


***