Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Dua Puluh



Ae Ri keluar kamar hotel dengan senyum puas di bibirnya.


"Halo Hye Rin. Tadi kau mau mengatakan apa?" Ae Ri menelpon kembali sekretarisnya yang sempat kebingungan karena bosnya tiba-tiba menjawab teleponnya dengan sangat mesra.


"Begini nona Park..."


***


"Mom.. Bukankah ini hari minggu. Mengapa Mommy ke kantor?"


"Mommy tidak ke kantor, Sayang. Hanya menemui klien sebentar."


"Tapi , Mom..."


"Nanti kita bicara lagi ya. Maaf mommy terburu-buru."


Ae Ri cepat-cepat berlari keluar rumah. Ia ada janji dengan sepasang calon pengantin dari kalangan selebriti yang ingin memesan khusus padanya.


Mobilnya melaju kencang menuju butik Liberty Park.


"Maaf, apakah kalian menunggu lama?"


"Kami baru saja tiba, Nona Park."


"Oke baiklah.. Bisa kita mulai sekarang. Ceritakan apa keinginan anda berdua." Ujar Ae Ri langsung ke intinya.


***


Drrt.. Drrt..


"Halo Jae Hyun."


"Kau dimana?"


"Di kantor."


"Nanti sore aku ingin mengajakmu dan Tae Yang makan bersama."


"Maaf sepertinya aku sangat sibuk."


"Tae Yang hari ini ulang tahun. Kau lupa lagi?"


Ae Ri menghentikan gambarannya dan memandang ke arah kalender di mejanya.


'Ya Tuhan. Aku benar-benar lupa.'


"Baiklah Jae Hyun. Sampai bertemu nanti." Ae Ri memutuskan hubungan telponnya dan segera berbenah untuk pulang.


Ia berpikir akan membelikan hadiah untuk putranya namun kemudian berpikir lebih baik mengajaknya memilih sendiri hadiah apa yang ia inginkan.


"Tae Yang.. Mommy pulang!" Seru Ae Ri sambil berjalan ke arah kamar Tae Yang.


Ae Ri terkejut saat tidak menemukan anaknya di kamar. Ia mencari keseluruh ruangan namun tidak juga nampak Tae Yang dimanapun.


Ae Ri mengambil ponselnya dan menelpon putranya.


"Mommy ssi.. Aku senang mommy ssi menelpon."


'Mommy ssi? Berarti ia sedang bersama Yo Han. O iya benar. Tae Yang bilang akan ke taman bermain hari Minggu ini."


"Kau dimana?"


"Aku sedang di taman bermain. Apakah Nona Park mau kesini juga. Aku akan senang sekali."


"Baiklah aku akan kesana."


Ae Ri segera meraih kunci mobilnya dan melaju dengan kencang ke arah taman bermain.


"Nona Park! Sini!" Seru Tae Yang saat melihat Ae Ri datang. Mereka sengaja menunggu di dekat pintu masuk.


Tampak Kim Yo Han tersenyum sangat tampan. Sejenak Ae Ri merasa sedikit risih dengan tatapan pria itu.


"Halo Tae Yang. Bagaimana kabarmu?" Ae Ri berbasa -basi agar Kim Yo Han tidak mencurigai hubungan mereka.


"Halo Nona Park. Kabarku baik." Jawab Tae Yang dengan sangat sopan.


"Hari ini dia berulang tahun ke tujuh." Ujar Kim Yo Han pada Ae Ri.


'Tak perlu kau beri tahu aku sudah tahu!' Batin Ae Ri kesal.


"Benarkah? Wah kau sudah besar. Selamat ulang tahun ya, Sayang." Ae Ri memeluk putranya dengan erat. Ada perasaan bersalah pada dirinya yang sempat lupa ulang tahun putranya sendiri.


"Terimakasih Mommy Ssi.." Tae Yang tersenyum lebar.


"Ayo kita bermain. Tae Yang ingin bermain yang mana?" Ujar Kim Yo Han.


"Semuanya!" Serunya bersemangat sambil melompat-lompat kecil. Ia menggandeng tangan Yo Han dan Ae Ri di kanan kirinya.


"Let's go!!" Teriaknya sambil menggeret kedua orang itu.


***


"Kau senang hari ini, Tae Yang?"


"Ya Paman Daddy. Aku senang sekali. Aku seperti benar-benar memiliki mommy dan daddy yang sesungguhnya."


Kim Yo Han tertawa. Ia membelai rambut Tae Yang yang sedang menikmati es krimnya di sebuah kedai.


"Pelan-pelan saja." Ujarnya lembut sambil menyeka es krim yang mengenai pipi bocah itu.


"Tae Yang ingin kado apa? Bagaimana jika setelah dari sini kita ke toko mainan? Kau bisa memilih sendiri nanti disana." Tanya Ae Ri.


Tae Yang menggeleng.


"Jika mommyku tidak melarangku untuk bertemu paman daddy, aku sudah senang. Aku tidak memerlukan kado yang lain."


Ae Ri menatap Tae Yang. Ia sangat tahu apa yang di maksud Tae Yang. Namun ia pura-pura bingung.


"Tapi Nona Park ingin memberimu hadiah." Ujar Kim Yo Han.


"Tidak usah. Saat ini adalah hadiah dari Nona Park dan Paman Kim. Aku sangat suka pergi dengan kalian."


Ae Ri merasakan matanya tiba-tiba panas dan basah. Ia menundukkan kepalanya ingin menyembunyikan air matanya dari kedua pria dihadapannya itu.


Kim Yo Han dan Tae Yang saling pandang. Yo Han berpindah tempat ke samping Ae Ri.


Perlahan ia memeluk Ae Ri. Ia mengira Ae Ri terharu dengan ucapan Tae Yang. Padahal sebenarnya Ae Ri menangis karena merasa sangat bersalah pada putranya yang selama ini kurang diperhatikannya.


Ae Ri menumpahkan air matanya di dada Yo Han. Tae Yang memandangi Kim Yo Han dengan bingung. Ia tak mengerti mengapa mommynya tiba-tiba menangis.


"Ae Ri.. Hei.. Kau membuat Tae Yang takut. Ada apa?" Bisik Yo Han.


Kim Yo Han memegang kedua pipi Ae Ri dan menatapnya. Jempolnya mengusap air mata di pipi Ae Ri.


"Tidak apa-apa. Maaf.. Maafkan aku." Ae Ri cepat-cepat melepaskan tangan Kim Yo Han dan menghapus air matanya.


Kim Yo Han membelai rambut Ae Ri. Lalu mengecupnya lembut.


Tae Yang kembali menatap kedua orang dewasa di hadapannya itu.


"Apakah Paman Daddy dan nona Park akan menikah?"


Ae Ri yang sedang meminum jusnya hampir tersedak. Sedangkan Kim Yo Han tertawa.


"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Yo Han.


"Aku pernah melihat papanya Mi Rae mencium rambut mamanya. Mereka menikah." Jawab Tae Yang polos.


"Ya!! Aku senang sekali! Apakah kalian benar-benar akan menikah? Kapan?" Tae Yang bersemangat.


"Tidak Tae Yang. Kami tidak akan menikah." Jawab Ae Ri.


Seketika wajah Tae Yang berubah muram.


"Tae Yang tidak perlu bersedih. Paman daddy akan berusaha supaya nona Park mau menikah dengan paman daddy. Oke?"


Tae Yang menatap Kim Yo Han dan Ae Ri secara bergantian. Lalu ia tersenyum dan mengangguk.


"Paman janji?"


"Tentu!"


Kim Yo Han mengangkat kelingkingnya. Tae Yang mengaitkan kelingking kecilnya dan menempelkan jempol mereka.


"Cap!!" Seru mereka berdua lalu tertawa.


Ae Ri hanya memandangi mereka tanpa bisa berkata-kata.


"Setelah ini kita bermain lagi ya. Jangan pulang dulu." Tae Yang menatap Ae Ri dan Yo Han dengan penuh harapan.


Kim Yo Han menoleh pada Ae Ri. Ia ikut menunggu jawaban wanita itu.


"Baiklah. Tapi jangan sampai terlalu malam. Nanti mommy mu marah."


"Baik, Nona Park." Seru Tae Yang riang. Kim Yo Han tersenyum lebar melihat anak itu sudah kembali ceria.


"Kau tidak sibuk? Bukankah biasanya kau selalu sibuk di kantor?" Tanya Yo Han pada Ae Ri.


Ae Ri terdiam. Ia sepenuhnya menyadari ucapan pria itu benar. Ia bahkan lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun anaknya karena kesibukannya.


"Kau pernah bilang akan mengajariku supaya aku tidak terlalu sibuk di kantor? Apakah itu benar-benar efektif?" Tanya Ae Ri sambil menoleh pada pria disampingnya.


Kim Yo Han menatap Ae Ri dengan intens. Ia meletakkan sikunya di meja dan menggunakan kepalan tangannya untuk menyangga kepalanya yang di miringkan menghadap Ae Ri.


"Ya. Itu sebabnya aku mempunyai banyak waktu untukmu dan Tae Yang. Karena ada orang-orang yang membantuku menyelesaikan tugasku."


"Tapi kan aku harus mendisain sendiri. Beberapa klien meminta hasil karyaku."


"Kapan kau mau aku ajari? Aku akan memeriksa pekerjaanmu dan kita lihat apa yang bisa kau lakukan dan yang asistenmu bisa lakukan."


Ae Ri memainkan sedotan di gelas jusnya.


"Kapan kau ada waktu?" Tanya Ae Ri. Ia benar-benar memerlukan waktu lebih agar dapat memperhatikan anaknya.


"Untukmu aku akan selalu ada waktu." Kim Yo Han tersenyum. Ae Ri meliriknya namun kemudian cepat-cepat ia membuang muka melihat ke arah Tae Yang yang masih sibuk dengan es krimnya.


Kim Yo Han semakin tersenyum lebar.


"Kemana perginya Ae Ri yang berani kemarin? Mengapa hari ini kau malu-malu denganku?" Bisik Kim Yo Han.


Ae Ri meliriknya dengan kesal. Ia takut Tae Yang mengerti ucapan pria itu.


Drrt.. Drrt..


Ponsel Ae Ri bergetar. Ae Ri melihat ke layar, Ahn Jae Hyun menelpon. Ia tiba-tiba teringat janjinya pada pria itu.


"Jae Hyun. Aku sedang ada pertemuan diluar. Akan kuusahakan selesai lebih cepat."


"..."


"Oke, aku akan mengabarimu saat akan pulang."


"..."


"Oke. Sampai nanti."


Ae Ri menatap Tae Yang. Ia ingin menyampaikan bahwa Jae Hyun ingin mengajaknya makan malam, namun ia tidak tahu bagaimana caranya.


"Halo CEO Ahn. Aku minta maaf, tampaknya Nona Park tidak dapat menemuimu. Ada yang harus kami urus dan harus selesai malam ini. Tolong jangan menunggunya. Baiklah. Terimakasih."


Kim Yo Han mematikan teleponnya. Dan menoleh pada Ae Ri tanpa rasa bersalah. Ae Ri melihatnya dengan terbelalak.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa yang akan kau lakukan dengannya adalah hal yang tidak penting. Lebih baik kau disini bersamaku." Jawabnya dengan pandangan mata yang sangat tajam.


***


"Kau sudah puas bermainnya?" Tanya Kim Yo Han pada Tae Yang.


"Sudah Paman Daddy."


"Kau mau makan?"


"Ya. Aku lapar?"


"Kau mau makan apa?"


"Apa saja Paman."


"Bagaimana jika paman daddy memasakkan untuk kalian?"


Ae Ri sudah ingin berteriak menolak. Namun ia kalah dari Tae Yang.


"Mau..mau!!"


"Oke kalau begitu kita kerumah paman."


Darah Ae Ri seketika berdesir.


'Rumahnya? Bukankah itu rumahku yang dulu. Tempat kemarin dia...' Ae Ri cepat-cepat menghalau pikirannya.


'Bagaimana jika Tae Yang keceplosan mengatakan itu rumahku? Bagaimana ini??' Ae Ri merasa sangat cemas. Ia merasa tegang saat di dalam mobil.


Kini mereka bertiga menggunakan mobil merah Ae Ri dan seperti biasa Yo Han meninggalkan mobilnya seenaknya.


Ae Ri duduk di belakang, sedangkan Kim Yo Han mengemudikan mobil dan Tae Yang duduk manis di sampingnya.


Kira-kira setengah jam kemudian mobil masuk ke dalam parkiran basemen dan Kim Yo Han memarkirkan mobil Ae Ri disana.


"Kita sampai!" Seru Yo Han.


"Apa ini? Ini rumah Paman Daddy?"


"Ya. Apartemen paman daddy. Ayo kita naik ke lantai atas. Apartemen Daddy ada di lantai 10."


"Ayoo!" Seru Tae Yang. Ia cepat-cepat keluar dari mobil. Begitu pula dengan Ae Ri. Ia sedikit lega karena Yo Han tidak mengajaknya kerumah masa kecilnya.


"Kenapa? Kau kira aku akan mengajakmu ke rumah biru itu?" Bisik Kim Yo Han tepat di telinga Ae Ri saat mereka berada di dalam lift.


Ae Ri meliriknya.


Di dalam lift mereka hanya bertiga. Sedangkan Tae Yang tampak tenang sambil memperhatikan nomor lantai yang dilalui mereka.


Cup!


Kim Yo Han mencium bibir Ae Ri. Ae Ri terbelalak terkejut. Namun sesaat kemudian Yo Han justru kembali mencium bibir wanita itu, namun kini lebih panas.


"Aku sangat ingin menyelesaikan yang kemarin terhenti itu." Bisik pria itu.


***