Can'T Stop Hating You

Can'T Stop Hating You
Delapan



Ae Ri dan nyonya Park seketika terbelalak karena terkejut. Sedangkan Jae Hyun menatap nyonya Park dengan serius. Ia menunggu jawaban dari wanita itu.


"M.. Ehem!" Nyonya Park terbatuk kecil.


"Kau sudah gila! Apa kau mabuk?!" Teriak Ae Ri.


"Tidak! Aku tidak mabuk sama sekali! Aku mengatakan dengan sungguh-sungguh! Aku akan menikahimu."


"Tidak! Aku tidak mau! Kau benar-benar sudah gila!"


"Aku tidak gila! Bukankah kau tahu jika aku benar-benar menyukaimu. Aku akan bertanggung jawab."


"Bertanggung jawab apa? Kau tidak melakukan apapun mengapa harus bertanggung jawab!"


"Ayolah Ae Ri. Memangnya kau tidak kasihan dengan bayimu nanti lahir tanpa ayah? Aku akan menjadi ayahnya. Ya?!"


Jae Hyun memegang kedua tangan Ae Ri.


"Mm.. Mama turun dulu ya, sudah ditunggu sama klien. Kalian bicaralah dulu baik-baik."


Nyonya Park cepat-cepat meninggalkan mereka berdua.


Bagitu sampai di dalam lift ia menghembuskan nafasnya.


"Jika Ae Ri menerimanya tidak apa-apa, tampaknya Jae Hyun baik dan menyayangi Ae Ri." Pikirnya.


"Ae Ri.. coba pertimbangkan lagi baik-baik. Baiklah! Jangan kau jawab hari ini. Aku akan sabar menunggumu."


"Tidak Jae Hyun. Aku tahu kau mau menolongku. Aku sangat berterimakasih padamu. Tapi tidak.. Aku tidak mau merusak masa depanmu."


"Tidak Ae Ri! Aku akan bahagia jika bersamamu. Sungguh!"


Ae Ri menggeleng.


"Apa sih kekuranganku hingga kau menolakku?


Ae Ri menoleh dan menatap wajah tampan Jae Hyun. Ia tertawa.


"Tidak ada."


"Hah? Apanya yang tidak ada?"


"Tidak ada kekurangannya. Kau tampan, baik, pintar dan anak orang kaya."


"Tapi?"


"Tapi apa?"


"Tapi kenapa kau menolakku?"


"Aku tidak suka laki-laki. Aku akan menikah dengan perempuan saja!" Ae Ri terkekeh.


"Kau gila!"


Ae Ri hanya diam selama beberapa lama.


"Untuk saat ini aku benar-benar muak dengan laki-laki. Dan memutuskan untuk berjalan dengan diriku sendiri. Membesarkan anakku sendiri. Dan akan berusaha bangkit dari keterpurukan ini sendiri. Aku bisa!"


Ia tersenyum getir.


"Jika kau mau menjadi ayah dari anakku. Nanti kau bisa menjadi ayah babtisnya. Oke??"


Jae Hyun duduk bersandar di sofa. Ia menghela nafas.


"Tetaplah menjadi temanku Jae Hyun. Aku terlalu menyukaimu. Sehingga aku tidak ingin kau menderita karena aku. Tapi aku juga ingin kau selalu menemaniku."


"Kau egois!"


"Mungkin.."


"Terserahlah kalau itu maumu!"


Ae Ri tersenyum.


"Sekarang kau butuh apa? Biar aku carikan."


"Tidak ada."


"Kau harus banyak makan. Karena yang makan bukan hanya dirimu sendiri. Anakku juga!"


"Jangan mulai lagi!!"


"Maksudku anak babtisku!"


"Bahkan dia belum lahir kau sudah memanggilnya anak babtismu!"


"Sesuka ku. Jangan protes!"


Ae Ri tertawa melihat mimik wajah Jae Hyun.


"Ayo kita nonton!" Seru Ae Ri.


"Hah?! Siang-siang begini nonton?!"


"Memangnya kenapa? Dilarang??"


"Tidak.. Hanya saja rasanya agak aneh.."


"Kau mau ikut tidak? Kalau tidak ya sudah. Aku akan pergi sendiri."


"Iyaa.. Ikut!" Jae Hyun meringis karena keanehan Ae Ri.


***


"Tampaknya mulai sekarang aku membutuhkan mobil." Ujar Jae Hyun saat mereka baru saja turun dari taksi.


"Kenapa? Tiba-tiba sekali."


"Karena aku harus selalu siap mengantar ibu hamil kemana-mana."


Ae Ri mencubit pinggang Jae Hyun. Ia sedikit risih karena cowok itu berbicara dengan suara keras. Sesungguhnya ia belum siap jika ketahuan hamil.


"Sakit.." Desah Jae Hyun manja. Ae Ri melotot.


***


"Mau kemana lagi kita?" Tanya Jae Hyun setelah mereka keluar dari studio film.


"Pulang."


"Hah?"


"Pulang! Apa telingamu tersumbat?"


"Mengapa kita tidak jalan-jalan dulu. Apakah kau tidak bosan hanya di dalam rumah saja berhari-hari." Rengek Jae Hyun.


"Tidak sama sekali. Aku bisa menggambar, membaca, menonton. Tidak bosan!"


"Kalau mampir sebentar ke suatu tempat mau? Aku harus membeli sesuatu."


"Boleh. Tapi jangan lama-lama ya."


"Oke!"


Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berdiri di depan sebuah show room mobil.


"Kau mau membeli sesuatu disini?"


"Iya! Ayo!!"


Ae Ri mengekor dibelakang Jae Hyun.


"Selamat datang tuan, nona. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pramuniaga menyapa mereka dengan ramah.


"Boleh aku melihat-lihat?" Tanya Jae Hyun.


"Boleh tuan. Silahkan."


Jae Hyun mendekati sebuah mobil sport berwarna kuning. Matanya bertanya pada Ae Ri.


"Norak!" Jawab Ae Ri tapi hanya dengan gerakan bibirnya. Jae Hyun tertawa.


Lalu ia mendekati mobil di sebelahnya. Masih mobil sport yang sejenis tadi tetapi berwarna putih.


"Kalau yang ini?" Tanya Jae Hyun.


Pramuniaga langsung cepat-cepat menjelaskan keunggulan mobil itu pada Jae Hyun.


Jae Hyun tertawa tanpa suara.


"Aku bertanya pada pacarku. Jika dia mau maka akan kubeli."


Ae Ri melotot.


"O.. Begitu." Jawab pramuniaga. Ia menoleh pada Ae Ri.


"Bagus atau tidak?"


"Ya bagus." Jawab Ae Ri sekenanya.


"Oke! Aku ambil yang ini! Ini kartu dabetku."


Jae Hyun menyerahkan sebuah kartu kapada pramuniaga.


Sang pramuniaga tampak sedikit bimbang dan tidak percaya. Mungkin karena ia melihat Jae Hyun yang bertampang anak kuliahan dan berpakaian sederhana itu.


"Apakah anda akan mengambil kredit tuan?"


"Tunai saja. Sekalian pengurusan surat menyuratnya kan?"


"Iya tuan."


"Kapan siapnya?"


"Besok tuan. Akan saya antar ke alamat tuan. Mari sekarang mengisi dokumen yang diperlukan." Sang Pramuniaga tampak mendadak bersemangat.


Jae Hyun menggandeng tangan Ae Ri menuju sebuah ruangan.


"Aku tidak bisa membeli mobil mewah. Papaku pelit." Bisik Jae Hyun.


"Dasar anak manja! Bisa membeli mobil saja seharusnya kau bersyukur. Lagi pula mobil itu sudah bagus sekali!"


Jae Hyun tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


"Ae Ri!!" Panggil Jae Hyun. Ae Ri datang dan duduk di sebelah Jae Hyun seperti biasa.


Semester satu sudah hampir selesai. Minggu ini mereka sedang ujian akhir semester.


"Bagaimana anakku? Baik-baik saja?" Tanya Jae Hyun sambil melihat perut Ae Ri yang sedikit membuncit. Namun Ae Ri berhasil menyembunyikannya dengan pakaiannya yang longgar.


Ae Ri melotot.


"Anak babtisku. Ah, kau sensitif sekali. Menyebut 'anak babtis' itu terlalu panjang. Jadi ku singkat saja menjadi 'anakku'. Harusnya kau biarkan saja." Omel Jae Hyun.


"Semester depan aku akan cuti. Sampai bayiku lahir baru aku kuliah lagi."


Jae Hyun menoleh.


"Kalau begitu aku juga. Supaya kita bisa kuliah bareng lagi."


"Jangan macam-macam. Kasihan orangtuamu jika kau kelamaan lulus."


"Kau kan anak orang kaya. Papamu punya perusahaan besar. Kau tidak perlu magang-magang!"


"Hei nona.. Aku tidak boleh memanfaatkan kedudukan papaku. Bukankah kita nantinya akan menjadi mitra. Kita akan membangun bisnis bersama kan?"


"Siapa bilang? Aku tidak mau berbisnis denganmu!"


"Kau! Jahat sekali!!"


"Memang!!"


Jae Hyun mengerucutkan bibirnya. Ae Ri pura-pura sibuk dengan bukunya.


***


Dan ternyata apa yang diucapkan Jae Hyun benar-benar ia lakukan. Saat Ae Ri mengambil cuti ia pun ikut cuti.


Jae Hyun juga mulai bekerja magang, setelah dia dengan segenap hati membujuk rayu nyonya Park agar mau mempekerjakannya selama satu semester ini. Nyonya Park akhirnya menuruti kemauan keras pemuda itu.


Yang menjengkelkan Ae Ri setiap jam makan siang cowok itu selalu datang dan menggeret-geret Ae Ri untuk menemaninya makan.


"Ayolah.. Cepat.. Jam istirahatku akan habis sebentar lagi. Kau lama sekali. Seharusnya sebelum jam istirahatku, kau sudah siap-siap. Jadi saat aku menjemputmu kau sudah siap berangkat."


"Siapa bilang aku mau ikut denganmu?" Ae Ri masih bermalas-malasan sambil membaca novel di sofa.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku lapar.."


"Cari saja apa yang ada di kulkas itu. Masak sendiri. Aku malas kemana-mana."


"Kejam!"


"Memang!"


Jae Hyun terpaksa memasak makanannya sendiri. Ia menggoreng sosis dan membuat omelet bayam jamur.


Ae Ri mendekat dan duduk di kursi minibar di depan pantri.


"Baunya enak. Aku mau."


Jae Hyun mencibir. Namun ia membiarkan Ae Ri mengambil makanannya.


"Enak?" Tanyanya sambil tersenyum melihat Ae Ri menikmati masakannya.


"Enak!"


"Besok aku masakin lagi ya."


"Boleh!"


Jae Hyun tertawa. Lalu ikut menyuap makanannya.


Dan saat jam kerjanya sudah selesai, Jae Hyun datang dengan begitu banyak barang belanjaannya.


Nyonya Park yang membukakan pintu keheranan.


"Apa itu?"


"Belanjaan bahan makanan ma. Mulai sekarang aku akan menumpang masak untuk makan siang disini. Mama tidak keberatan kan?"


Entah sejak kapan Jae Hyun sudah ikut memanggil nyonya Park dengan sebutan "mama". Terkadang membuat Ae Ri menjadi kesal.


Nyonya Park hanya saling pandang dengan Ae Ri. Mereka berdua menonton kesibukan Jae Hyun menata belanjaannya di rak dan kulkas.


"Saat pulang kerja seperti ini aku akan menyiapkan bahan yang akan kumasak besok siang. Jadi besok sudah tidak repot lagi."


Nyonya Park tertawa.


"Kau memang luar biasa Jae Hyun. Kau tahu sayang, kemarin mama mempekerjakannya sebagai model pakaian baru mama. Kau tahu? Pakaian yang ia peragakan langsung laris manis. Mama bisa cepat kaya kalau seperti ini terus."


"Baiklah ma. Mulai hari ini aku adalah model eksklusiv 'Liberty Park'. Kalau cuma disuruh foto-foto seperti itu akan tetap aku lakukan meskipun nanti sudah masuk kuliah lagi."


"Sungguh?!"


"Sungguh!"


"Baiklah! Kau sudah berjanji kan, tidak boleh dibatalkan lagi!"


"Baik nyonya Park." Jae Hyun membungkuk hormat. Nyonya Park tertawa terkekeh.


***


Tidak terasa waktu terus berjalan. Seperti biasanya Jae Hyun selalu menghabiskan waktu istirahat nya dengan memasak untuk dirinya dan terutama untuk Ae Ri yang kini perutnya sudah semakin besar.


Suatu kebahagiaan sendiri bagi Jae Hyun saat melihat Ae Ri menikmati masakannya.


"Enak?" Tanya Jae Hyun saat Ae Ri menyuap sesendok nasi goreng buatannya.


"Enak!"


"Sepertinya tidak ada makanan yang tidak enak bagimu."


Ae Ri mencibir. Jae Hyun tertawa lebar.


"Kapan jadwal kau mengontrol kandungan lagi?"


"Kemarin."


"Lalu sudah kontrol?"


"Sudah. Sama mama."


"Kenapa kau tidak bilang. Aku kan bisa mengantar."


"Aku tidak suka kau antar. Nanti orang-orang mengira kau suamiku seperti waktu itu."


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan."


"Aku keberatan!"


"Ya! Kau memang berat!"


Ae Ri melotot. Jae Hyun menyengir.


"Lalu apa kata dokter?"


"Tidak ada."


"Kapan lahirnya anakku? Aku sudah tidak sabar."


"Dalam satu dua hari ini. Seminggu paling lama."


"Benarkah?!"


"Semua pakaian dan keperluan sudah siap kan?"


"Sudah tuan muda. Tinggal angkat!"


"Bagus. Kira-kira apa lagi yang akan kau perlukan ya?'


"Sudah semua. Kau tidak usah ribut. Perutku jadi sakit."


Jae Hyun tertawa.


"Apa nasi gorengnya terlalu pedas ya? Perutku jadi tidak enak."


"Benarkah? Jangan dimakan lagi. Akan ku buatkan yang lain."


"Tidak usah. Aku sudah kenyang. Kau habiskan saja."


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jae Hyun cemas.


"Tidak apa-apa."


Ae Ri berjalan ke sofa dan duduk bersandar sambil mengelus perut besarnya. Rasanya sedikit sakit dan tidak nyaman.


Sambil menghabiskan makannya mata Jae Hyun tidak terlepas dari Ae Ri. Rasa cemas mulai mengganggunya.


"Kau tidak apa-apa? Atau jangan-jangan ini sudah saatnya?"


"Entahlah." Ae Ri menggeleng lemah.


"Ayo ke rumah sakit sekarang!"


"Tidak. Nanti saja tunggu mama pulang."


"Mama pulang masih nanti malam. Kalaupun kita telpon sekarang butuh lebih dari 5 jam sampai sini."


Ae Ri menghela nafas. Mamanya hari ini mengikuti acara pameran fashion di Los Angeles.


"Mana tasmu?"


"Di kamar di dalam lemari yang paling kanan." Jawab Ae Ri.


Jae Hyun masuk ke kamar Ae Ri dan mengambil tas yang sudah dipersiapkan nyonya Park dan Ae Ri untuk dibawa ke rumah sakit saat Ae Ri melahirkan.


"Ponselku dan carge nya."


"Apalagi?"


"Dompet."


"Sudah."


"Kalau begitu ayo jalan sekarang! Pelan-pelan." Jae Hyun menggandeng tangan Ae Ri.


***


"Sudah telpon mama." Kata Ae Ri saat ia didorong masuk ke kamar rawat setelah diperiksa. Jae Hyun mengangguk.


"Tapi kata dokter masih belum sekarang. Mungkin tengah malam nanti atau besok pagi."


"Tidak apa-apa. Mama bilang acaranya sudah selesai kok. Jadi dia bisa langsung pulang."


Jae Hyun membantu merapikan selimut yang di pakai Ae Ri.


"Kau butuh apa? Mau makan yang manis-manis supaya tambah tenaga?"


"Tidak. Aku tidak lapar. Nanti saja."


"Ya sudah istirahatlah dulu. Jika sakitnya datang lagi bilang ya."


Ae Ri mengangguk. Tanpa ia ketahui Jae Hyun ternyata benar-benar mencari tahu tentang persiapan proses kelahiran. Ia ingin bisa memenuhi kebutuhan Ae Ri.


Ae Ri memejamkan matanya. Sejenak terlintas di benaknya ayah dari bayinya itu.


'Jika ia tahu ini anaknya, apakah ia akan sebaik Jae Hyun?'


Ae Ri cepat-cepat mengerjapkan matanya untuk menghapus bayangan wajah itu.


'Laki-laki itu tidak akan kubiarkan ia mengetahui tentang anaknya.' Batinnya.


***


Hai thx ya yang udah baca..


Ayo dong kasih semangat untuk author..


Like n vote ya, apalagi kalo di coment.. Author tambah semangat nulisnya 😍


Ditunggu ya kakak-kakak tersayang dan adek-adek tercintah 😘😘😘