
Nyonya Park benar-benar kebingungan.
"Aku tidak memahami kata-katamu. Apa maksudmu?"
"Ayah. Aku akan mengantarmu pulang. Nyonya Park kami pulang dulu." Ujar Kim Yo Han memotong pembicaraan mereka.
Nyonya Park mengangguk dan membiarkan mereka pergi. Lalu ia duduk termenung. Betapa banyak peristiwa mengejutkan hari ini. Hampir-hampir otaknya seperti tidak mampu memprosesnya.
Park Ae Ri duduk di sebelah mamanya yang diam termenung.
"Kepala mama sangat sakit Ae Ri. Banyak sekali hal aneh terjadi hari ini. Otak mama sepertinya sudah tidak sanggup lagi mencernanya." Ujar nyonya Park sambil memijat kepalanya.
"Aku buatkan teh panas ya ma, tunggu sebentar." Ae Ri cepat-cepat melesat ke dapur.
"Minumlah ma. Kita memerlukan asupan gula supaya bisa mengembalikan energi kita."
Ya.. Ae Ri juga merasa kenadian-kejadian hari ini benar-benar telah menguras energinya. Ia juga menyeruput teh manisnya.
"Benarkah Kim Yo Han adalah ayahnya Tae Yang?" Bisik nyonya Park.
Ae Ri mengangguk. Sedangkan nyonya Park menghela nafasnya.
"Lalu apa yang akan mama lakukan terhadap paman itu tadi?" Tanya Ae Ri.
"Entahlah. Tapi mama tidak mau memperdulikannya."
"Mama belum bisa memaafkannya? Bukankah ia bilang sudah mencari mama kemana-mana?"
Nyonya Park menggeleng.
"Mama salah pernah jatuh cinta padanya. Dia adalah anak orang kaya yang manja. Saat kami menikah muda, orangtuanya selalu menyalahkan mama. Mama saat itu terpaksa tinggal dirumah mereka.
Sedangkan laki-laki itu masih sangat kekanak-kanakan, ia masih sering bermain-main dengan teman-temannya. Nongkrong sampai larut malam, atau kadang tidak pulang. Bahkan ia sampai putus kuliah karena asik bermain.
Tapi orangtuanya semakin menyudutkan mama. Mereka bilang mamalah yang merusak anak kesayangan mereka. Setiap hari diperlakukan seperti itu membuat mama tidak kuat dan akhirnya mama memilih untuk pergi. Dalam kondisi hamil mama mencoba bertahan. Syukurlah mama bertahan sampai hari ini. Mama tidak memerlukan pria itu."
Ae Ri hanya bisa memandangi mamanya tanpa bisa berkata-kata. Ia sendiripun tidak mau memaafkan Kim Yo Han atas apa yang telah ia perbuat. Biarlah mamanya mengambil keputusan sesuai dengan hatinya sendiri.
"Bersiap-siaplah. Sebentar lagi Ahn Jae Hyun akan datang dengan mamanya." Ujar nyonya Park. Ae Ri baru teringat.
Ia sebenarnya agak malas dengan pertemuan itu, tapi Ahn Jae Hyun membuatnya tidak enak jika menolaknya.
***
Ahn Jae Hyun datang dengan senyum lebar di bibirnya dan kantong yang penuh dengan belanjaan di kedua tangannya.
"Kau memborong seluruh isi supermarket?" Tanya Ae Ri keheranan.
"Aku akan memasak masakan istimewa untuk nyonya-nyonya besar malam ini. Kau lihat saja, duduk tenang, tidak usah ribut." Jawab Jae Hyun sambil meletakkan belanjaannya di meja dapur.
Dengan sigap ia langsung mempersiapkan bahan masakannya. Ae Ri mengangkat bahu dan pergi meninggalkan pria itu masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Tingtong! Suara bel pintu berbunyi. Ae Ri saling pandang dengan mamanya. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju pintu.
Jae Hyun yang sudah selesai menata hasil masakannya dimeja makan berjalan cepat ke samping Ae Ri untuk ikut menyambut kedatangan mamanya.
"Selamat malam nyonya. Selamat datang. Silahkan masuk." Ae Ri berusaha bersikap ramah dan sopan.
Mama Jae Hyun tersenyum memandang Ae Ri dan Jae Hyun yang ber dada-dada disamping Ae Ri. Ia melihat putranya sangat bahagia disamping wanita yang dicintainya itu.
"Trimakasih Ae Ri. Kau baik sekali mau mengundangku kesini." Sapa mama Jae Hyun.
"Selamat datang nyonya. Salam kenal, saya mamanya Ae Ri."
"Trimakasih mama Ae Ri, saya mama Jae Hyun. Maafkan aku, putraku pasti sering merepotkanmu dari sejak kuliah dulu kan. Aku belum sempat menemuimu."
"Ah tidak sama sekali. Justru aku sering dibantu oleh putra Anda. Karena ketampanannya dia sering menjadi model di butikku."
"Benarkah? Jangan-jangan pakaianmu jadi tidak laku gara-gara bocah itu." Mama Jae Hyun tertawa.
"Tidak. Justru sangat laku sekali." Nyonya Park ikut tertawa.
Mereka kemudian duduk melingkar di meja makan.
Kemudian Jae Hyun teringat Tae Yang dan menjemputnya didalam kamar.
Mama Jae Hyun sedikit terkejut saat putranya datang kembali sambil menggandeng tangan seorang anak laki-laki.
"Hai.. Kau tampan sekali. Siapa namamu?" Sapa mama Jae Hyun pada Tae Yang.
"Namaku Tae Yang. Park Tae Yang nyonya."
"Wah nama yang bagus sekali. Jadi siapa dia?" Tanya mama Jae Hyun penasaran.
Ae Ri masih ragu untuk menjawab.
"Tae Yang adalah anaknya Ae Ri, ma. Dan akan menjadi anakku juga." Jawab Jae Hyun serius.
Mamanya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Selama ini Jae Hyun tidak pernah menceritakan bahwa wanita yang dicintainya telah memiliki seorang anak.
Mama Jae Hyun tersenyum dengan sangat manis untuk menyembunyikan rasa kaget nya. Ia terbiasa bersikap seperti itu terutama saat harus menjamu tamu-tamu bisnisnya. Meski tidak suka ia tetap dapat tersenyum dengan ramah.
Ae Ri menyadari itu. Ia sangat tahu jika mama Jae Hyun sudah tidak menyukainya lagi. Senyumnya sudah tidak tulus seperti tadi.
***
"Seharusnya kalian berdua tidak perlu mengantar mama. Kalian juga tampak sangat lelah seharian ini pasti kalian sangat sibuk kan." Ujar nyonya Park sambil menerima koper yang sebelumnya dibawakan Jae Hyun.
"Tidak ma. Aku sama sekali tidak sibuk hari ini. Lagipula sebenarnya aku masih kangen sama mama." Jawab Jae Hyun dengan bibir yang dimanyunkan.
Nyonya Park tertawa.
"Sampaikan salamku untuk mamamu ya."
"Baik ma."
"Ae Ri, jaga diri baik-baik ya. Jaga kesehatan, perhatikan juga Tae Yang."
"Baik ma. Mama juga jaga kesehatan, jangan lupa makan. Mama sering sekali lupa makan." Jawab Ae Ri.
"Iya iya.. Baik akan mama ingat. Sudah ya mama masuk dulu, sebentar lagi pesawatnya take off. Kalian berdua hati-hati pulangnya."
"Ya ma, sampai jumpa lagi ma." Ujar Ae Ri sambil memeluk mamanya sebentar lalu melambaikan tangannya.
***
"Maksudmu?"
"Tentang mamaku."
"Mmm.. Dia baik dan cantik." Ae Ri bingung harus menjawab apa.
"Tapi kau lebih cantik." Ujar Jae Hyun sambil tertawa kecil.
"Kapan-kapan kau kuajak makan malam dirumahku ya. Aku ingin mengenalkanmu pada seluruh keluargaku."
Ae Ri menoleh memandangi pria disebelahnya itu.
"Lalu kau mau mengenalkanku sebagai siapamu?" Tanyanya penasaran.
"Tentu saja sebagai calon istriku. Bukankah dari dulu kau tahu bahwa aku hanya akan menikah denganmu."
"Kau gila. Aku tidak mau. Aku tidak mau menikah dengan siapapun." Tegas Ae Ri.
"Tapi aku harus menikah denganmu. Jika aku tidak menikahimu maka aku harus menerima perjodohan yang diatur orangtuaku. Aku tidak mau itu terjadi dalam hidupku."
Ae Ri terbelalak.
'Memang dasar orang kaya, pemikiran mereka masih saja terjebak di jaman Joseon.'
"Kumohon ya, paling tidak kau pura-pura mengaku kekasihku saja itu sudah menolongku. Mau ya. Please.." Rengek Jae Hyun.
"Tapi mamamu tampaknya tidak menyukaiku karena aku sudah memiliki anak."
"Siapa bilang. Mamaku menyukaimu kok." Jawab Jae Hyun.
Ae Ri memilih untuk diam.
"Mau ya.."
"Apa?!"
"Pura-pura menjadi pacarku."
Ae Ri diam.
"Demi menolongku ayolah.. Aku sungguh tidak mau menikah dengan gadis yang tidak ku kenal itu."
"Kalau begitu cobalah dulu kau mengenalnya. Siapa tahu setelah mengenalnya kau jadi suka."
"Kau tega sekali."
"Tega bagaimana?! Ini saranku sebagai sahabatmu. Coba siapa nama gadis itu, aku akan menyelidikinya."
Ahn Jae Hyun diam tidak menjawab. Ia merasa sangat kesal pada Ae Ri.
Mereka berdiam diri selama beberapa saat.
"Besok malam aku diundang ulang tahun nona Shin Ha Na. Kau temani aku ya." Ujar Ae Ri tiba-tiba teringat dengan undangan pesta ulang tahun nona Shin.
Dengan cemberut Jae Hyun meliriknya tanpa memberikan jawaban.
"Ya sudah kalau kau tidak mau aku akan meminta orang lain untuk menemaniku." Seru Ae Ri kesal karena Jae Hyun terus berdiam diri.
"Ya baiklah, akan kutemani. Jam berapa aku harus menjemputmu."
"Jam setengah delapan saja."
"Ya."
***
Ae Ri menatap bayangan dirinya sendiri di cermin besar dihadapannya. Gaun panjang berwarna hijau tua menempel indah di tubuhnya. Ae Ri menggerai rambut panjangnya dan mengenakan coat panjang berwarna hitam.
"Ayo berangkat sekarang." Ujar Ae Ri setelah keluar dari kamarnya.
Jae Hyun yang sedang bercanda di sofa dengan Tae Yang tampak memandang kagum pada Ae Ri.
"Kau sangat cantik." Kata Jae Hyun dengan senyum lebarnya.
"Benarkan Tae Yang?"
"Ya.." Tae Yang menganggu setuju.
"Tae Yang mommy pergi sebentar ya. Jika Tae Yang mengantuk tidur saja tidak perlu menunggu mommy."
"Baik mom. Cepat pulang ya."
"Iya sayang."
***
Ae Ri menggandeng lengan Jae Hyun saat memasuki lobi hotel bintang lima yang disewa khusus untuk pesta ulang tahun nona Shin Ha Na.
Di ruangan super besar itu terdapat banyak sekali tamu undangan. Lebih dari 90% adalah para pesohor, baik selebritis maupun pengusaha.
Ae Ri memandang sekeliling. Ia penasaran dengan sesosok pria yang sering menyendiri sambil memandanginya itu.
'Dimana dia.' Batin Ae Ri.
"Itu nona Shin, kau akan menghampirinya kan?" Tanya Jae Hyun.
Ae Ri menoleh ke arah yang ditunjuk Jae Hyun.
Seketika jantungnya berdebar saat ia melihat pria yang dicarinya berada disamping artis cantik itu.
Pria tampan itu memakai setelan jas berwarna silver dengan kemeja hitam didalamnya.
Sangat serasi dengan nona Shin memakai gaun berwarna silver yang dibuatkan khusus oleh Ae Ri untuknya. Ia semakin terlihat cantik, anggun dan sekaligus seksi saat mengenakan gaun itu.
Ae Ri merasa kurang nyaman melihat keserasian itu. Terlebih lagi melihat kedekatan Kim Yo Han dan nona Shin. Nona Shin terlihat sangat manja pada pria itu. Beberapa kali ia tertawa sambil memukul pelan lengan pria itu. Atau terkadang ia menggandeng lengan pria itu agar mengantarnya menemui tamu yang lain.
Saat ini terlihat mereka seperti pasangan kekasih.
***