Be My Brides

Be My Brides
Extra Part 06 - Dia Thalita



Rencananya, siang ini Gavin ingin membawa Kalya untuk konsultasi ke rumah sakit. Usia kandungan istrinya saat ini sudah memasuki lima bulan. Vitamin dan nutrisi memang harus bagi perempuan itu. Jadi, sesuai jadwal, kali ini Gavin akan membawa Kalya menemui dokter yang biasa mereka temui sejak Kalya mengandung Gian waktu itu. 


Hati Gavin terasa sangat bahagia, mendengar suara detak jantung calon anak keduanya itu. Hatinya begitu mekar, seolah tidak ada lagi hal membahagiakan yang dia harapkan saat ini. 


"Pak Gavin dengar itu? Itu suara detak jantung bayi yang ada di dalam kandungannya Bu Kalya," ucap dokter tersebut, sembari tersenyum melihat tampak exited Gavin mendengar suara detak jantung anaknya. 


Dengan senyuman lebar yang menutupi wajah dinginnya, Gavin berkata. "Iya. Indah banget,"


Dan Kalya pun langsung terkekeh mendengar kalimat tersebut. "Indah… Emangnya pemandangan?" ledek wanita itu. 


Gavin tidak membalas. Dia hanya mendekat, dan mencium kening perempuan itu, lalu tersenyum. 


"Jadi, kondisi anak saya baik-baik aja kan, Dok? Nggak ada masalah, sama kandungan istri saya?" tanya Gavin pada dokter wanita yang menangani istrinya itu dengan raut wajah yang cukup serius. 


"Syukurnya, tidak ada. Kram dan segala flek yang terjadi, itu biasa. Mungkin Bu Kalya ada melakukan beberapa pekerjaan yang berat hingga menguras tenaganya cukup banyak. Karena itu, saya sarankan buat Bu Kalya, untuk tidak melakukan kegiatan yang bisa membuat Bu Kalya kelelahan," jelas dokter tersebut, menyudahi pemeriksaannya. 


"Mari, kita duduk di sana," ajak dokter tersebut ramah, berjalan ke arah kursi kebanggaannya di ruangan tersebut. 


Gavin pun mulai membantu Kalya untuk turun dari bangkar. Meskipun Kalya terlihat kuat, tapi Gavin tetap ingin menuntun istrinya itu untuk duduk di kursi yang bersebrangan dengan dokter kandungannya. 


"Nah, ini ada resep vitamin yang bisa Pak Gavin tebus di apotek. Ingat pesan saya, agar Bu Kalya tetap banyak istirahat dan tidak melakukan kegiatan yang berat." Ujar dokter tersebut, memberikan secarik keras bertuliskan beberapa macam nama vitamin penguat kandungan di atasnya. 


Setelah berbasa-basi sedikit seputar kandungan Kalya, Gavin pun lantas membawa istrinya untuk pamit dari hadapan Sang Dokter. 


"Kalau gitu, kamu tunggu di sini aja, ya. Aku mau ambil obat kamu dulu di apotik."


Gavin hendak mendudukkan Kalya di sebuah kursi tunggu yang ada di depan ruang dokter kandungan itu, ketika Kalya menolak untuk dia tinggalkan di sana. 


"Enggak mau. Aku mau ikut sama Mas aja." Kata Kalya, mencengkram lengan Gavin sedikit kuat. 


"Nggak usah. Apotik pasti rame, deh. Ntar kamu kecapekan. Jadi, di sini aja, ya?" bujuk Gavin lembut, melepaskan pegangan Kalya di lengannya. 


"Dih! Emang aku kecapekan gara-gara apa, coba? Bukannya yang buat aku capek itu selalu kamu, ya? Masa hal kayak gini aja bisa dijadiin alasan, sih?!" rungut Kalya kesal, melihat kedua mata Gavin membola. 


"Kal! Kamu ngomong apa, sih? Emang aku bikin capek kamu apa? Aku kan--"


"Yakin, kamu nggak tau, bikin capek aku apa?" bisik Kalya iseng, yang tiba-tiba saja membuat wajah Gavin sedikit memerah. 


"Sayang… kamu kok ngomongin itu, sih? Itu kan urusan kamar kita," ucap Gavin tersenyum paksa, menahan malu dengan bisikan istrinya barusan. 


"Ya emang kenapa, kalo aku ngomongin urusan kamar. Toh, aku ngomongnya cuma sama kamu ini…" Sahut Kalya masa bodoh, lantas mencebikkan bibirnya sekali. "Kamu bikin aku sebal." Lanjutnya lagi, kali ini membuat Gavin mengusap tengkuknya tidak enak. 


"Kalya… Aku nyuruh kamu nunggu sini itu, biar kamu nggak capek ikut sama aku aja, kok… Lagian, cuma ambil obat doang. Abis itu, kita pulang. Oke?" bujuk Gavin lagi, masih melihat wajah Kalya yang bertekuk. 


Oke, mungkin ini terdengar sedikit berlebihan bagi orang yang melihat mereka. Hanya saja, Gavin yang sudah mengerti dengan kelakuan Kalya saat hamil ini, hanya bisa bersabar dan mencari akal agar istrinya itu mau dia tinggalkan sebentar. 


"Gini aja, deh… Kalau kamu mau nungguin aku di sini, pas kita pulang nanti, aku bakal singgah buat beliin kamu es krim. Gimana?" tawar Gavin lembut, persis membujuk anak kecil, dimana Kalya langsung melirik sinis ke arahnya. 


"Emang aku Gian, apa? Disogok pake es krim segala…" 


"Mau, nggak?" 


"Mau…"


Dan Gavin pun akhirnya tersenyum melihat wajah polos istrinya. Menggemaskan sekali sisi Kalya yang satu ini. Meski terkadang sedikit menyebalkan, tapi Gavin tetap menikmatinya sebagai bentuk kejadian yang akan bisa dia kenang suatu saat nanti. 


"Yaudah, kalau gitu, kamu duduk sini, ya? Aku ke sana dulu," 


Gavin kemudian mendudukkan Kalya di sebuah kursi panjang yang ada di depan ruang dokter kandungan. Di sana, istrinya tidak sendiri. Ada banyak ibu-ibu hamil lainnya yang sedang mengantri untuk memeriksakan kandungan mereka. Ada yang ditemani suaminya, saudaranya, ataupun bahkan datang sendiri. 


"Jangan lama-lama!" pesan Kalya pada Gavin yang tersenyum. 


Setelah itu, Kalya yang merasa bosan pun, mengambil sebuah majalah tentang kehamilan di sisi kursi yang dia duduk. Dia melihat-lihat artikel seputar kehamilan yang ada di majalah itu. Meski ini bukanlah kehamilan pertamanya, tapi Kalya tetap harus banyak belajar, mengingat saat hamil Gian dulu, dia banyak mengabaikan tentang saran kesehatan dalam mengandung. 


"Tante Kalya?" 


Kalya baru akan membalik kertas majalah untuk halaman berikutnya, saat seseorang datang dan berdiri di tepat di hadapan Kalya. 


"Ya?" sahut Kalya bingung, melihat wanita dengan perut besar itu seperti mengenalnya. 


"Kamu…"


"Tante Kal, aku--" 


"Thalita?!" 


***


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, waktu dimana Thalita harusnya bersiap untuk memeriksakan kandungannya ke rumah sakit.


Namun, alih-alih bangkit dari posisinya yang saat ini tengah menopangkan dagu di atas meja, Thalita justru mengusap-usap lembut sebuah figura putih yang terdapat di mejanya. Figura, dimana foto pernikahannya bersama Evan --pria pilihan ibunya--, dia letakkan di sana. 


Gurat lelah dan kesedihan jelas terpasang di wajah Thalita saat ini. Dia mengandung, tapi bagaikan seorang diri. Maksudnya, jika biasanya seorang wanita hamil akan selalu menjadi perhatian dari keluarganya, tapi tidak untuk Thalita. Jangankan diperhatikan, sekedar ditanya apakah dia sudah makan siang ini atau belum saja, tidak ada yang mau tahu. Untung Thalita itu bukanlah calon ibu yang egois. Meski sakit dengan kesendirian yang dia tanggung, dia masih sangat ingat dan peduli dengan kondisi anaknya di dalam sana. 


Tok! Tok! Tok! 


"Permisi, Bu… Bu Lita jadi, pergi ke rumah sakit siang ini?" 


Thalita mendongakkan kepalanya yang tadi menyandar malas di atas meja, melihat ke arah Sekar --asistennya-- yang bertanya dari arah pintu ruangan yang terbuka. 


Thalita memang masih berada di restoran miliknya sejak pagi, hingga siang ini. 


"Ah, iya, jadi…" sahut Thalita malas.


Melihat atasannya bangkit dari atas kursi dengan tidak bersemangat, Sekar pun mendekati meja Thalita dan bertanya. "Ibu mau saya temenin?"


"Emh, nggak usah. Saya bisa sendiri, kok…" 


"Yakin? Bu Lita kelihatan lemes banget loh, ini…"


Thalita hanya menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. Dia kemudian menggeleng, seraya menjawab. "Nggak papa, kok… Saya bisa sendiri."


Sejenak, jawaban itu, membuat Sekar terdiam. "Atau Bu Lita mau, saya hubungi dokter Evan buat nemenin Bu Thalita?" tidak ingin menyerah, Sekar kembali menawarkan. 


Namun, kendati melihat Thalita senang dengan tawarannya, Sekar justru melihat wajah perempuan itu murung, dengan tarikan senyum pahit yang tercetak di bibirnya. 


"Mana mau sih, dia…" gumam Thalita gamang, terdengar lirih di telinga Sekar, dan membuat wanita itu jadi tidak enak hati. 


Sekar memang bukanlah seseorang yang dekat dengan Thalita. Tapi, bekerja bersama perempuan itu selama kurang lebih empat tahun, membuat dia tidak buta akan semua yang terjadi pada diri Thalita. Meski tidak pernah bercerita, Sekar tahu, kalau di balik kehidupan atasannya yang selalu terlihat ringan dan baik-baik saja itu, tersimpan sebuah duka dan beban yang coba ditutupi dengan semua sikap egoisnya.


Sekar juga tahu, kalau Thalita sering memandang foto pernikahannya dengan seorang dokter di salah satu rumah sakit tempat Thalita dirawat dulu--saat mencoba untuk bunuh diri--, dengan tatapan mata yang sedih. Membuat perempuan itu ingat, bagaimana terkejutnya dia dan semua pegawai restoran lainnya waktu mendengar Thalita yang tiba-tiba saja mengaku harus mengubah jadwal pulang ke rumahnya karena takut suaminya lebih dulu sampai rumah. 


Kala itu, Thalita dengan tersenyum meminta maaf, kalau dia tidak bisa mengundang semua pegawainya untuk datang ke acara pernikahan Thalita yang begitu mendadak. Alasannya sih, karena mereka hanya mengundang keluarga inti saja. Cuma, entah kenapa, baik Sekar ataupun karyawannya yang lain, bisa mencium suatu keanehan dalam gestur tubuh Thalita. Namun, alih-alih menuding wanita itu dengan tuduhan yang tidak-tidak, baik Sekar ataupun yang lainnya, memutuskan untuk diam dan percaya, demi menghargai privasi Thalita yang memang selalu berusaha terlihat baik-baik saja di luar. 


"Oh, oke…. Kalau gitu, saya permisi dulu," 


Sekar yang merasa tidak enak pun, akhirnya memutuskan untuk undur diri. Dia keluar dari ruang kerja Thalita, dan membiarkan wanita itu terdiam sejenak di tempatnya. 


Untuk beberapa saat, Thalita termenung. Dia sadar, kalau selama ini, banyak karyawannya yang cukup peduli terhadap dirinya. Namun, Thalita tidak begitu menggubris, karena yang dia mau hanya perhatian dari ibunya. Dari suaminya, yang suka atau tidak suka, kini akan menjadi ayah dari bayi yang tengah ia kandung.


Ah, Thalita baru sadar, kalau dia memanglah tipe manusia yang amat serakah. 


Rencananya, Thalita akan memeriksakan kandungannya yang sudah memasuki usia tujuh bulan ke rumah sakit. Tempat di mana suaminya bekerja saat ini. Alih-alih mengakui ucapan Sekar tadi soal Evan, Thalita memutuskan untuk memeriksakan kondisi anak mereka seorang diri. 


Lagipula, sebenarnya, Thalita bukan tidak mau mengajak Evan untuk melihat perkembangan anak mereka dalam kandungan. Tapi, dia takut. Dia tidak berani, jika nanti Evan akan memelototinya lagi, hanya karena dia mengganggu Evan yang sedang bekerja. Dalam hati, Thalita berpikir, kalau mungkin Evan tidak peduli dengan anaknya. 


Menghelakan napas, Thalita pun akhirnya menguatkan diri untuk pergi. Dia tersenyum tipis sembari mengusap perutnya dengan pelan. 


"Semoga kamu sehat-sehat aja, ya, Sayang? Soalnya… Mama nggak punya teman lagi, selain kamu." Ucap Thalita pelan, merasakan hatinya yang sangat bahagia, mengingat sebentar lagi bayi yang ada di kandungannya akan segera lahir. Meski ayah dari bayi ini ataupun keluarga dari Thalita sendiri tidak begitu antusias dengan kahadiran calon buah hati Thalita, tetap saja, wanita itu menjamin, kalau anaknya kelak tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari dirinya. Thalita berjanji, anaknya kelak, tidak akan pernah merasakan kesepian seperti Thalita, bagaimana pun caranya. 


"Ayo, kita berangkat!" 


***


Tidak berapa lama, Thalita sudah sampai di rumah sakit. Tanpa membuang waktu lagi, dia pun langsung menuju ruangan tempat biasa dia memeriksakan kandungannya. 


Di sana, Thalita yang tadinya sudah antusias, kembali terdiam, melihat beberapa wanita hamil yang tampaknya akan memeriksakan kandungan mereka juga di sana. Hati Thalita sedikit tersentil melihat wanita-wanita hamil itu datang dengan didampingi oleh suami mereka. Rona-rona bahagia tergambar di wajah mereka saat berbicara satu sama lain. Tidak seperti dirinya yang selalu saja sendiri, tanpa didampingi oleh siapapun. 


Pandangan Thalita tiba-tiba terusik dengan seorang wanita yang tampaknya juga datang seorang diri. Dia tersenyum, lalu berpikir, kalau setidaknya dia tidak begitu menyedihkan karena wanita yang dilihatnya juga tampak sangat santai membaca majalah, tanpa ada orang yang menemaninya. 


"Eh? Tapi, kok kayak kenal, ya?" gumam Thalita, kemudian mendekatkan dirinya kepada wanita yang dilihatnya tersebut.


"Tante Kalya?" 


"Ya?" 


Dan Thalita pun kembali terkejut dengan sosok yang saat ini tengah memandang heran ke arahnya itu. 


Kalya. Satu nama yang dulu membuat Thalita sempat merasa menjadi orang jahat, karena berusaha merebut Gavin darinya. 


"Kamu…"


"Tante Kal, aku--" 


"Thalita?!" 


Entah apa yang aneh dari ekspresi wanita yang terkejut itu. Dia memandang Thalita dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan raut wajah bingung luar biasa. Membuat Thalita bingung serta gugup karena ditatap sedemikian rupa oleh wanita itu. 


Apa ada yang salah dengan dirinya?


"Thalita, kamu… hamil?" 


Eh? Dari semua pertanyaan yang ada, kenapa Kalya harus menanyakan hal aneh itu? Dia kaget karena melihat Thalita yang memiliki perut besar, ya? Pikir Thalita akhirnya mengerti.


Sambil tersenyum, Thalita mengusap perutnya pelan. "Iya, Tante… Aku hamil…" sahut Thalita seperti bergumam. 


"Tapi…"


Thalita menaikkan pandangannya melihat wajah Kalya lagi. Dari ekspresinya, Thalita menduga kalau mungkin Kalya tengah memikirkan sesuatu hal yang buruk tentang Thalita. 


"Engh… Tante, ini nggak seperti yang Tante pikirin, kok…! Aku… aku udah menikah." Bantah Thalita cepat, seolah tahu, kalau mungkin Kalya sedang menduga yang tidak-tidak.


"Hah?! Kok…"


"Kamu menikah, tapi kok Tante nggak tau?" tanya Kalya mengernyit, menatap tajam ke arah Thalita yang mendadak menundukkan kepalanya sedikit. 


"Bukan kabar bahagia, kok… Dan juga…"


Thalita tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia diam, sambil terus mengusap perutnya yang buncit dengan perlahan. Rasanya, tidak enak membicarakan rumah tangganya yang tidak bahagia itu kepada orang lain. 


"Ah, ya… Tante… Tante kok ada di sini? Lagi mau periksa kandungan juga, ya?" tanya Thalita berusaha terlihat bahagia, dengan senyuman lebarnya yang siapapun juga tahu, kalau itu adalah senyuman palsu.


"Iya. Tante udah selesai periksa tadi." Sahut Kalya datar, memahami ekspresi  Thalita yang mencoba mengalihkan pembicaraan. 


"Oh, ya? Gimana hasilnya, Tante? Anak Tante baik-baik aja, kan? Udah masuk usia berapa bulan?" 


Thalita sadar, kalau kini dirinya pasti terlihat seperti orang bodoh di mata Kalya. Terlihat dari ekspresi datar wanita itu memandangnya, Thalita yakin, kalau Kalya pasti tahu, kalau dia hanya sekedar berbasa-basi saja dengannya. 


"Kondisinya baik. Baru masuk lima bulan, kok…" sahut Kalya, kali ini dibalas anggukan kepala antusias oleh Thalita sendiri. 


"Waaah… Enak, dong… Bentar lagi anaknya udah dua aja… Gavin emang hebat!" tawa Thalita kering, tersenyum konyol, menutupi gelagat anehnya. 


"Terus, Tante sendiri sama siapa ke mari? Sendiri? Kok aku nggak pernah lihat Tante sebelumnya, ya?"


"Nggak kok. Tante ke sini bareng Gavin. Cuma dia lagi nebus obat aja ke apotek. Mungkin, kita jarang ketemu karena aku biasanya sih datang agak pagian, bareng Gavin." Jelas Kalya santai, yang entah kenapa membuat senyum konyol Thalita menghilang seketika. 


Dia cemburu. Iya, jelas, dia cemburu. Bukan soal Gavin yang begitu mencintai dan sangat perhatian kepada Kalya. Hanya saja, Thalita cemburu karena pada akhirnya, dia tidak bisa mendapatkan satu laki-laki pun yang mencintainya sebagaimana sosok Gavin bisa begitu mencintai Kalya.


"Ini, dia yang terlaku beruntung, apa gue yang terlalu sial, sih?" batin Thalita tersenyum getir. 


Di dalam kegundahan hatinya saat ini, Thalita mulai berpikir, apa mungkin, di dunia ini tidak ada tempat atau sesuatu yang diciptakan hanya untuk membuat Thalita bahagia? Perasaan, dari dulu, Thalita tidak pernah merasa bahagia, deh. Dia bahkan sudah lupa, bagaimana rasanya menjadi bahagia. 


Eh? Tunggu! Thalita ingat… 


"Sebentar lagi, kebahagiaan gue kan bakal lahir…" batin Thalita, merasa menyesal telah melupakan anak yang saat ini ada di kandungannya. 


Thalita juga hampir lupa, kalau dia juga pernah bahagia, saat ayah kandungnya masih hidup.


Ah, betapa tidak bersyukurnya Thalita sebagai manusia. 


"Kamu belum bilang sama Tante, soal pernikahan kamu. Apa kamu sebegitu bencinya sama Tante makanya kamu nggak undang Tante? Terus, sekarang, suami kamu mana? Kok kamu mau periksa kandungan, dia nggak ada? Lagi ke toilet, atau bagaimana?" cecar Kalya menuntut, menyadarkan Thalita dari lamunannya yang sesaat. 


"Engh… Itu, Tante… Aku nggak benci kok sama Tante. Sumpah! Aku nggak undang, karena ya…" Thalita memutar pandangannya, mencoba mencari alasan.


"Pernikahannya mendadak. Terus juga aku…"


Thalita semakin tampak kebingungan, kala melihat tatapan Kalya yang kian menajam. 


"Laki-laki itu pilihan Mama aku. Jadi…"


Dan seolah mengerti, Kalya pun jadi terdiam. Ditatapnya wajah sendu Thalita yang masih mencoba tersenyum, meski nyatanya sorot mata kesedihan terlihat jelas di mata perempuan itu. 


"Dia bukan laki-laki yang baik, ya?" tanya Kalya pelan, menyentuh pundak Thalita begitu lembut. 


"Dia memberikan aku seorang anak. Dia… laki-laki yang baik." Gumam Thalita hampir menangis, mengusap perutnya dengan seutas senyum getir, dan membuat Kalya sadar, kalau perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. 


Sorot mata Kalya sudah menunjukkan sorot mata keprihatinan. Ingin menghibur, tapi hubungannya dengan Thalita tidak cukup baik sebelum ini. Akan terasa sangat canggung jika Kalya berusaha ramah, padahal sebelumnya dia tidak tahu keadaan perempuan itu setelah kejadian percobaan bunuh diri hampir satu tahun yang lalu. 


"Kal…!" 


Tangan Kalya baru saja terangkat, dan nyaris menyentuh pundak ringkih Thalita, ketika mereka berdua mendengar suara Gavin yang keras memanggil nama Kalya.


Tampak pria itu berjalan cepat ke arah istrinya, dengan sorot mata tajam yang entah kenapa dia hunuskan kepada Thalita yang duduk di sebelah Kalya. 


"Ngapain lo di sini?" 


Bukannya berbasa-basi sedikit, Gavin yang melihat sosok Thalita berada dekat dengan istrinya langsung berbicara ketus pada wanita itu. Tidak peduli, kalau misalnya Thalita akan sakit hati atau tidak, mendengar pertanyaan bernada tajam darinya. 


"Mas Gavin!" 


Kalya yang berusaha menegur, menyentuh lengan Gavin dan mengusapnya perlahan. Saat pandangan pria itu berpaling ke arahnya, Kalya pun menggelengkan kepalanya sedikit. 


"Thalita mau periksa kandungan. Dia…" 


Belum selesai Kalya menjelaskan ucapannya yang menggantung, mata Gavin segera menatap ke arah perut Thalita yang membuncit. 


Samar, terlihat raut wajah terkejut pria itu ketika dia menyadari kalau wanita di depannya saat ini tengah berbadan dua. Namun, alih-alih bersikap baik, Gavin malah mendengus sinis dan tertawa remeh ke arahnya. 


"Itu bayi beneran atau angin?" sindir nya sini, lagi-lagi membuat Kalya kaget dan menegurnya dengan gusar. 


"Gavin!" 


"Apa, sih?" toleh Gavin ke arah Kalya, sambil menyipit kesal melihat istrinya itu menggeleng geram ke arahnya. 


"Jangan ngomong gitu, ah! Nggak baik!" 


"Lah, nggak baik apanya? Aku kan cuma nanya doang sama dia. Ya, bisa aja kan, di perutnya itu cuma ada angin, mengingat dia itu hobi banget cari perhatian sama orang. Mungkin aja--" 


"Kayaknya aku bakal ke toilet dulu, deh. Antriannya masih panjang banget."


Tidak tahan dengan segala cercaan Gavin terhadap dirinya, Thalita pun segera undur diri dan berjalan cepat meninggalkan pasangan suami istri itu. Dadanya terasa sesak, melihat bagaimana benci dan jijiknya Gavin dengan kehadiran Thalita di sana. Dia bahkan terlihat sangat tidak suka Thalita ada di dekat Kalya, istrinya.


"Tha…"


Meskipun Thalita mendengar panggilan Kalya untuknya, namun Thalita tetap berlalu begitu saja. Dia tidak berhenti, ataupun menoleh pada wanita itu. 


Thalita sadar, kenapa Gavin bisa bersikap seperti itu kepadanya, mengingat bagaimana gencarnya Thalita dulu merusak hubungan Gavin dengan keluarganya. Terutama, hubungannya dengan Kalya. Wajar, kalau sekarang sekarang pria itu sangat enggan untuk berdekatan, atau sekedar melihat wajah menyebalkannya. 


Air mata yang sudah Thalita tahan sedemikian rupa agar tidak jatuh, akhirnya menetes juga, bersamaan dengan tubuhnya yang menabrak bahu seseorang. 


Bruk!


Dengan sedikit isakan tertahan, Thalita menunduk sedikit kepada orang tersebut. 


"Maaf," 


Tanpa menoleh sama sekali, Thalita hendak berlalu begitu saja dari hadapan orang yang ditabraknya. 


Namun, begitu dia akan melangkahkan kakinya pergi, lengannya justru ditarik oleh orang tersebut. 


"Eh? Kenapa--" 


Thalita yang terkejut dengan orang yang mencengkram lengannya, langsung menoleh dan terkejut melihat siapa yang saat ini berdiri di depannya. 


Dengan wajah yang sudah basah karena air mata, Thalita bergumam. "Kak Evan?" 


***


Sementara itu, di waktu yang sama selepas Thalita pergi dari hadapan mereka, Kalya yang kesal pun langsung menyubit keras pinggang Gavin dan mendelik gusar ke arahnya. 


"Mas Gavin! Kamu itu, ya…!" 


"Aduh, Sayang! Apaan, sih?! Kok aku dicubit? Sakit, tau! Kasar banget, sih?!" ringis Gavin kaget, bercampur sakit, yang kemudian mengusap bekas cubitan tangan istrinya di pinggang. 


"Abis kamu jahat banget mulutnya tau, nggak! Nyebelin!" rutuk Kalya dongkol, menuding wajah tidak bersalah yang Gavin tunjukkan. 


Nyebelin? Apanya?!


"Kok nyebelin, sih? Emangnya aku ngapain?" tanya Gavin bodoh, yang jelas-jelas tidak merasa bersalah sama sekali karena telah melukai hati Thalita barusan. 


"Pake nanya lagi… Emang susah ya, kalau punya laki-laki yang nggak peka. Banyak makan hatinya! Kesal!" sungut Kalya lagi memberengut, membuang pandangannya ke arah lain, sembari melipat kedua tangannya di dada. 


Sebentar… Biar Gavin cerna dulu permasalahannya dengan Sang Istri. 


"Sayang… Kamu kok jadi marah-marah sama aku, sih? Emang salah aku apa?" tanya Gavin --yang entah memang tahu, atau dasar tidak mau tahu--, dengan polosnya kepada Kalya. 


"Kal!" 


Kalya yang tampak kesal dengan ulah suaminya, melangkahkan kaki untuk pergi. 


Tapi, niatnya itu segera diurungkan Gavin dengan menahan sebelah tangannya. 


"Ih, Mas! Pake nanya lagi… Mas tadi ngomong yang enggak-enggak sama Thalita, tau! Kalo dia sakit hati, gimana? Kan kasihan…" omel Kalya kesal, menuding dada Gavin sejenak, sebelum akhirnya kembali meninggalkan pria itu.


"Ngapain kasihan, sih? Kan yang aku bilang itu emang bener… Wajar kan aku nanya gitu sama dia, mengingat dia itu orang yang suka banget bohong dan tukang cari perhatian!" bela Gavin atas dirinya sendiri, sambil menggedikkan bahunya tanda tidak bersalah. 


"Lagian, kamu pikir, aku percaya gitu aja, sama dia yang tiba-tiba muncul dan ngaku-ngaku hamil, hm? Kamu pikir, aku percaya?" tuntut Gavin, sontak membuat Kalya yang kesal berhenti dan menatap tajam pada suami brondongnya tersebut. 


"Dia itu beneran hamil. Usia kandungannya mungkin sekitar tujuh atau delapan bulan. Dan dia udah nikah, Mas Gavin."


"Oh, ya? Emang kamu lihat suaminya?" timpal Gavin, yang kali ini membuat Kalya terdiam sejenak dan menggelengkan kepalanya. 


"Suaminya bukan orang baik. Ya…" 


Kalya yang bingung ingin memberikan pembelaan apa lagi kepada Gavin, memalingkan wajahnya dan meringis. Mengatakan suami orang lain tidak baik, hanya karena dia melihat wajah Thalita yang tidak bahagia? Apakah itu masuk akal? 


"Bisa-bisa aku makin diomelin sama Mas Gavin." Batin Kalya, lantas terdiam.


"Nah, nggak bisa jawab kan kamu? Makanya, jangan terlalu mudah percaya sama orang. Apalagi, orangnya itu si Thalita. Oke, kalo misalnya sekarang dia emang hamil. Tapi, bisa aja kan, dia itu hamil tanpa suami, mengingat dia juga yang--" 


"Mas Gavin! Jangan ngomong gitu, ah! Aku nggak suka!" 


Ocehan-ocehan Gavin mengenai segala keburukan Thalita, sontak berhenti tatkala melihat wajah merah istrinya yang marah. Tampak perempuan itu mengerutkan alisnya tidak suka, menatap Gavin dengan sorot mata yang cukup tajam. 


"Emang aku akui, kalau Thalita itu dulunya nyebelin. Dia bisa bersikap egois, cuma untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tapi, belum tentu juga, kan dia yang dulu itu sama kayak dia yang sekarang?" ujar Kalya menuntut. 


"Mas, kamu pasti masih ingat deh, gimana kondisi Thalita waktu dia masuk rumah sakit karena mau coba bunuh diri. Dari situ aku merasa kasihan sama dia. Thalita yang aku pikir cuma perempuan serakah yang rela ngelakuin apa aja untuk mendapatkan apa yang dia mau, ternyata nggak seburuk kelihatannya. Aku jadi nyesel, pernah nyumpahin dia yang enggak-enggak," keluh Kalya berubah sendu, menoleh pada Gavin yang mengernyit heran. 


"Maksud kamu?" 


"Ya… Maksud aku, Thalita bukanlah orang yang jahat. Tapi…" sambil menatap Gavin, Kalya kembali menarik kedua sudut bibirnya terlihat lirih. 


"Cuma perempuan biasa, yang butuh kasih sayang." 


Selesai.