Be My Brides

Be My Brides
Episode 43



Gavin baru saja pulang ke rumahnya dengan perasaan lelah yang luar biasa. Hari ini, adalah hari yang sangat panjang, menurutnya. Karena beberapa pekerjaan dan kejadian yang dialaminya, membuat tubuh Gavin terasa sangat berat dan hampir remuk begitu sesampainya di rumah.


Pekerjaannya di lapangan hari ini cukup padat. Banyak yang harus dia dan teman satu timnya lakukan untuk menyambut peluncuran produk makanan yang baru akan diluncurkan oleh perusahaan tempat dia bekerja. 


Gavin sudah masuk ke dalam kamar untuk membuka pakaian yang tengah dipakainya, ketika sebuah pesan singkat dari salah satu aplikasi di ponselnya masuknya.


Mengalihkan perhatian Gavin yang tadinya sedang mendesah panjang karena kelelahan, ke arah ponselnya yang tadi dia letakkan di atas nakas.


Diraihnya ponsel pintarnya tersebut, dan mulai membaca isi pesan yang tertera di layarnya.


"Vin, lo ada lihat dompet gue, nggak? Kayaknya tadi ketinggalan, deh. Kata Dita, ada sama lo, ya?"


Lagi-lagi, Gavin mendesahkan napas panjangnya melihat pesan yang dikirimkan oleh Anggi. Sedikit kesal, sih membacanya, karena Anggi juga merupakan orang yang menjadi salah satu alasan Gavin merasa sangat lelah hari ini. 


Dengan sedikit malas, Gavin pun membalas. "Iya, ada sama gue. Karena nggak ada yang mau nampung, terpaksa gue bawa. Besok gue kasih." Kata Gavin, menekan tombol enter di layar ponsel tersebut.


Setelah itu, matanya beralih pada tas kerjanya yang tadi ia lemparkan sembarangan ke atas ranjang. Tas dimana dompet Anggi saat ini berada. 


Tadi, saat akan pulang bekerja, Andi --salah satu senior Gavin yang sudah cukup dekat dengannya-- sempat mengajak Gavin untuk singgah ke sebuah kafe yang ada di dekat kantor mereka. Katanya sih, ada yang mau Andi bicarakan. Seperti ingin bertukar pikiran, maksudnya. Jadi, sebagai teman, dan demi toleransi sedikit, Gavin pun menerima ajakan itu dan meluangkan sedikit waktunya untuk Andi. Meski dia sendiri pun sudah merasa sedikit lelah karena pekerjaan yang dilakukannya hari ini, Gavin bersedia karena dia juga agak kasihan dengan Andi yang seperti orang yang tengah depresi.


Tapi, alih-alih mendapat waktu yang tepat untuk bicara, Andi malah terlibat adu mulut dengan Anggi yang secara tidak sengaja mereka temui di sana. 


Entah apa yang membuat dua orang itu bisa saling membenci seperti itu. Yang jelas, saat Gavin dan Andi tiba, perempuan itu --yang tadinya tampak sedang bercerita dengan Dita di depannya-- langsung menoleh dan melayangkan tatapan tajam kepada Andi.


Kalimat sindiran bernada sinis pun pelan-pelan mulai terdengar saling bersahutan, begitu Gavin dan Andi duduk di kursi yang tidak jauh dari meja yang ditempati Anggi. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Andi dan juga Anggi? Bahkan Gavin yakin, kalau sejak dia dan Andi duduk di tempat mereka, belum ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Andi tentang cerita yang katanya ingin Andi sampaikan kepadanya.


Seketika, Gavin merasa seperti orang yang tembus pandang saat itu.


Alhasil, bukannya mendengar cerita dari Andi seperti niat awal mereka ke sana, Gavin malah mendengar pria itu dan Anggi bertengkar dengan hebat. Tidak peduli kalau saat itu mereka sudah menjadi pusat perhatian, keduanya justru saling memaki dengan keras.


"Lo memang perempuan paling murahan yang pernah gue temui! Dan gue menyesal udah pernah kenal sama manusia nggak punya harga diri kayak lo!"


Dan kalimat sarkastik yang dilontarkan Andi kepada Anggi itulah yang akhirnya mengakhiri pertengkaran keduanya. 


Meski wajahnya terlihat sangat merah, Anggi tidak menunjukkan gelagat akan menangis saat mendengar kalimat penuh makian yang Andi tujukan kepadanya. Dia hanya terdiam, sampai akhirnya dia berlari pergi meninggalkan kafe tersebut bersama dengan Dita di belakangnya. 


"Anggi…!"


Gavin memejamkan kedua matanya rapat. Sungguh ironis sebenarnya, kalimat yang dilontarkan Andi kepadanya Anggi. Tapi, Gavin tidak bisa berkata-kata saat dia sadar kalau mungkin temannya itu memang punya sebuah hubungan dengan Anggi sebelumnya.


Gavin yang tadinya ingin pergi juga --karena tidak mungkin setelah ini Andi akan berbicara mengenai masalahnya tadi dengannya-- tidak sengaja melihat sebuah dompet panjang yang dia duga sebagai milik Anggi.


Sempat Gavin berpikir ingin memberikan dompet itu kepada Anggi. Namun, perempuan aneh itu ternyata sudah menghilang tanpa bisa dia hubungi. Bahkan Dita sendiri pun --yang tadinya pergi bersama Anggi-- tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. 


"Mbak Dit, dompet Mbak Anggi ketinggalan. Gimana, nih?" tanya Gavin saat itu menghubungi Dita, yang malah dibalas dengan nada panik oleh perempuan tersebut.


"Aduh, Vin… Gimana, ya… Gue ada urusan mendadak, nih… Mana gue udah jauh lagi… Lo simpan aja, deh. Besok baru deh lo kasih ke dia. Paling besok dia juga masuk, kayak nggak ada kejadian apa-apa…" Kata Dita, segera mematikan panggilan Gavin secara terburu-buru. 


Selalu begitu. Di saat-saat tidak terduga, Dita selalu terlihat sangat sibuk daripada biasanya. Membuat Gavin hendak memaki, andai orang yang bersangkutan sedang ada di hadapannya.


Gavin yang bingung pun, akhirnya memutuskan untuk memasukkan dompet Anggi ke dalam tasnya. Berhubung ini  masalah yang menyangkut soal tempat menyimpan uang, Gavin tidak ingin sembarangan menitipkannya kepada orang lain. Meskipun Anggi itu adalah tipe orang yang tidak disukainya, bukan berarti dia bisa bersikap semena-mena terhadap barang berharga milik wanita tersebut.


Suara ponsel Gavin yang bergetar di tangannya, menyadarkan Gavin kalau Anggi telah membalas pesannya.


Dengan alis yang mengerut, dia membaca isi pesan yang perempuan itu balaskan kepadanya.


"Oh, syukurlah kalau gitu… Gue kira ilang. Makasih ya, Sayang… Kamu baik, deh… Aku jadi makin cinta sama kamu…" kata Anggi, seketika membuat Gavin bergiduk membacanya.


"Amit-amit," batin Gavin merasa sebal.


Sambil mencebik, dia pun mengetik balasan "Jijik"untuk Anggi. Setelah itu, dia langsung melemparkan ponselnya kembali ke atas ranjang.


"Gavin, kamu udah mandi?"


Gavin yang hendak membuka kancing kemejanya kembali, menoleh saat Kalya masuk dengan membawa beberapa pakaian di tangannya. Sepertinya, wanita itu baru saja mengangkat kain jemuran di belakang pekarangan rumah.


"Belum. Kamu ngapain?" tanya Gavin, menghampiri Kalya, dan mengambil kain yang ada di tangan wanita tersebut untuk dia letakkan di atas tempat tidur.


"Kamu ini ya, udah dibilang jangan angkat yang berat-berat, kok masih aja dilakuin juga? Bandel banget, sih..." Gerutu Gavin menuding Kalya dengan telunjuknya, hingga wanita itu meringis melihatnya.


"Ya, tapi, ini kan nggak berat. Masa aku nggak boleh angkat,"


"Kalau aku bilang berat, ya berat. Jangan melawan bisa, nggak?" tukas Gavin tegas, melihat Kalya yang hanya mampu menarik napasnya panjang.


Memang, kalau sudah menyangkut urusan kandungan Kalya, pria itu tidak mengenal sistem mengalah.


"Iya, bisa… Sama suami nggak boleh melawan! Puas?" ujar Kalya dengan tampang sebal, dibalas Gavin dengan anggukan penuh kemenangan dari Gavin.


Dia bangga, jika Kalya sudah mengakuinya sebagai suami.


"Ya udah, sekarang aku mau lipat kain dulu. Kamu, kalau udah mandi, nanti langsung makan, ya… Aku udah siapin semuanya di atas meja." Kata Kalya kemudian, melepaskan kemeja Gavin yang masih menggantung di tubuh pria itu hingga menampilkan bentuk tubuh Gavin yang terbilang cukup atletis.


Meski bukan bentuk perut enam kotak, setidaknya Kalya merasa sedikit tergiur dengan bentuk tubuh suaminya tersebut. Apa mungkin, dalam waktu dekat Kalya bisa menyentuh tubuh itu tanpa rasa takut?


Tiba-tiba, Kalya terdiam. Apa mungkin Gavin masih menginginkannya setelah kejadian malam itu?


"Hm, Vin…" Panggil Kalya pelan, dibalas gumaman menyahut dari pria tersebut.


"Kamu…"


"Ya?"


Kalya yang bingung dengan apa yang hendak dia katakan, mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa tidak terlalu munafik, kalau misalnya dia bertanya sekarang? Bagaiamana kalau misalnya Gavin berharap dan Kalya masih belum bisa melakukannya? Apa itu tidak keterlaluan, namanya?


"Kenapa, Kal? Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Gavin heran, melihat Kalya yang seperti ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.


"Enggak,"


"Jangan bohong. Aku--"


"Hah?"


"Aku segan, bilangnya. Cuma, kamu--"


Belum selesai Kalya berbicara, Gavin --secara tiba-tiba-- mundur secepat kilat menjauhi wanita tersebut.


Dengan tampang yang terlihat malu, Gavin berkata. "Ka--kalau gitu, aku mandi dulu." Ujarnya tergagap, lantas melesat meninggalkan Kalya di dalam kamar.


Sambil menggigitnya tidak enak, Kalya yang merasa telah membohongi Gavin pun, hanya bisa bergumam. 


"Maaf, Gavin. Aku bohong…" Ucapnya begitu pelan, kemudian membuang napas berat, dan berjalan menuju ranjang.


Dia duduk di samping nakas, hendak melipat pakaian mereka yang baru dia angkat dari jemuran, agar mudah rapi saat nanti disetrika.


Kalya sudah melipat satu potong baju, ketika tiba-tiba saja ponsel Gavin di atas ranjang, kebetulan di samping Kalya duduk saat ini, bersuara dan bergetar.


Sekilas, Kalya melihat ke arah luar kamar tidur mereka yang terbuka. Suasana sepi, menadakan kalau Gavin mungkin sudah berada di dalam kamar mandi sekarang. 


Menoleh sedikit, Kalya tidak sengaja membaca isi pesan yang muncul di layar ponsel suaminya tersebut.


"Ah, kamu bisa aja, Sayang. Suka gitu deh, kamu…" Isi pesan itu, yang seketika membuat darah Kalya seolah berhenti mengalir.


Dengan dada yang mulai berdegub kencang, Kalya bergumam. "Siapa Anggi?" 


***


Hubungan Kalya dengan Kaisar, semakin lama semakin bertambah dekat. Setiap hari, selama beberapa hari ini, Kaisar selalu datang membawakan cemilan ke rumah Kalya. 


Bisanya, Kaisar datang pada rentang pukul sebelas siang dan akan kembali ke rumahnya sekitar pukul satu atau dua berikutnya. Selama itu, dirinya akan terus menemani Kalya berbincang di teras rumah.


Banyak hal yang sudah mereka bahas selama beberapa hari ini. Mulai dari keluarga Kaisar yang selama ini tinggal di Malaysia, hingga alasan cowok itu bisa fasih menggunakan Bahasa Indonesia, meski pun dia tidak tinggal di sana.


"Jadi, kamu udah sering datang ke Indonesia dari jaman kamu SMP? Berarti baru beberapa tahun, dong?" tanya Kalya, sedang menikmati cookies buatan Kaisar yang katanya diolah menggunakan bahan jagung.


"Ya, begitulah…"


"Tapi, kamu cukup hebat, ya, bisa fasih Bahasa Indonesia, biarpun jarang datang ke sini. Keren…" Puji Kalya terkagum, sembari mengacungkan satu ibu jarinya kepada Kaisar.


Sementara itu, Kaisar yang tabiatnya memang pantang dipuji --apalagi oleh Kalya-- tampak mulai sombong dengan mengidikkan bahunya sedikit angkuh.


"Iya, dong… Siapa dulu… Kaisar…" Ujarnya meninggi, yang hanya dibalas Kalya dengan anggukan.


"Oh ya, kamu bilang, kamu suka liburan ke mari, karena pengen lihat seseorang. Siapa? Pacar kamu?" tanya Kalya penasaran, terus mengunyah pelan makanan yang Kaisar berikan kepadanya.


"Bukan," geleng Kaisar sedikit, sambil menipiskan bibirnya sebentar.


"Terus?"


"Dia lebih berharga daripada pacar. Dia… lebih istimewa." Jawab Kaisar sendu, menatap Kalya dengan sorot mata kesedihan.


"Maksud kamu… Mantan?"


"Ha?"


Kalya terlihat menggidikkan bahunya kecil, ketika Kaisar menatapnya dengan sorot mata kebingungan.


"Soalnya, Mantan itu kan, kadang lebih istimewa daripada pacar sendiri. Jadi, kali aja kamu--"


"Orang yang gagal move on, gitu?" sambar Kaisar sengit, lagi-lagi dibalas gidikan bahu sekilas oleh Kalya.


"Bisa aja, kan…" Ucapnya pelan, sembari tersenyum tipis.


"Iya, bisa aja… Omongan Kakak tuh, yang bisa aja…" Celetuk Kaisar mencebik, dan mengelengkan kepalanya sedikit.


"Gagal move on, emang aku cowok apaan? Please, deh…" Gerutu cowok itu sebal, seketika membuat Kalya tertawa.


Alih-alih merasa kesal karena ucapan dan nada bicara Kaisar yang terkadang suka asal, Kalya malah merasa cukup senang mendengarnya. Dia merasa, ada kemanjaan yang diberikan Kaisar setiap dia berbicara kepadanya. Seperti interaksi seorang adik yang tengah berbicara dengan kakaknya. Menghiburnya, serta membuatnya lupa sejenak dengan permasalahan yang saat ini tengah dihadapinya.


"Oh ya, Kak… Ngomong-ngomong, Kakak belum ada cerita loh, soal Kakak yang bisa menikah sama Bang Gavin. Kalau nggak salah, ada yang bilang kalau Bang Gavin itu lebih muda dari Kakak, ya? Kakak suka berondong?" tanya Kaisar asal, dengan nada menggoda, pada Kalya yang tampak sedikit syok mendengarnya.


"Heh! Apaan, sih?! Berondong-berondong… Ngaco deh, kamu!" semprot Kalya sedikit cemberut, pada Kaisar yang kembali tertawa melihatnya.


"Abis, kalo nggak Kakak yang suka berondong, kok bisa jadi suami, sih? Atau… Bang Gavinnya yang suka sama cewek lebih tua? Hm… Apa ya, sebutannya…?" kata Kaisar lagi, sekarang mengetuk dagunya dengan pelan.


Sekilas, Kalya jadi terdiam mendengar ucapan anak tersebut. Entah kenapa, kalimat Kaisar yang mengatakan Gavin menyukai perempuan yang lebih tua, seperti mempunyai garis bawah sendiri dalam otak Kalya. Dia jadi teringat, soal nama perempuan yang kemarin mengirim pesan mesra kepada Gavin. Ada kata 'Mbak' di depan nama Anggi yang dibaca oleh Kalya waktu itu. Apa ini ada hubungannya dengan persepsi Kaisar soal Gavin yang menyukai perempuan yang lebih tua?


Apa mungkin pesan itu salah kirim? Batin Kalya menerka, di malam setelah dia membaca pesan singkat tersebut. Ingin bertanya, tapi dia takut mengganggu privasi Gavin yang menurutnya harus dia jaga. Meski Gavin itu adalah suaminya, tapi hati Kalya merasa tidak berhak sepenuhnya bertanya karena kondisinya yang juga mungkin belum bisa memberikan hak bagi Gavin sebagai seorang suami.


Kalya jadi sangat sensitif mengenai hal tersebut.


"Kak Kal, kenapa?"


Sentuhan pelan tangan Kaisar di lengannya, mengagetkan Kalya atas pikirannya soal Gavin.


"Kak Kal! Kakak kenapa? Kakak sakit? Atau pusing?" tanya Kaisar cemas, melihat wajah Kalya yang tiba-tiba saja memucat.


"Enggak, kok… Kakak nggak papa. Kakak cuma lagi mikirin sesuatu yang nggak penting aja tadi. Jadi, nggak usah khawatir," jawab Kalya beralasan, diam-diam menggigit bibirnya pelan.


Ah, ayolah… Apa benar Gavin itu adalah sesuatu yang tidak penting?


"Benar nggak papa? Kakak nggak lagi bohong, kan?" selidik Kaisar, kali ini dibalas gelengan kepala oleh Kalya.


Melihat kekhawatiran yang tergambar di wajah anak laki-laki itu, membuat hati Kalya sedikit tersentuh. Sebelum ini saja, dia sudah merasa cukup dekat dengan Kaisar. Apalagi sekarang, saat Kaisar menunjukkan keakraban layaknya seperti seorang saudara kepada Kalya. Dia jadi merasa tidak sendirian lagi sekarang. Hatinya seperti tidak sepi, mengingat selama ini dia selalu sendiri.


Entahlah, kehadiran anak itu, seperti memberikan angin sejuk di tengah musim kemarau yang panjang.


Bersambung