Be My Brides

Be My Brides
Episode 39



Suasana hati Gavin pagi ini terbilang cukup cerah. Meskipun tadi malam dia tidak memiliki waktu tidur yang cukup, bukan berarti dia akan terlihat lesu menjalani aktifitasnya untuk pergi ke kantor. Buktinya sekarang, dimana wajahnya terus menunjukkan rona-rona semangat yang begitu kentara.


Dia terus saja tersenyum seorang diri, sambil membayangkan wajah Kalya yang menurutnya begitu cantik. 


Atau, manis? Karena kata orang, cantik itu akan membuat seseorang akan bosan menatapnya. Tidak seperti manis, yang akan membuat orang lain malah semakin sering memandangnya. Seperti yang dirasakan Gavin terhadap istrinya itu. Sejak dulu hingga sekarang, belum ada kata jenuh di hati Gavin bila sudah menyangkut urusan Kalya. Memandangnya, menatapnya dan memperhatikannya, semua terasa sangat menyenangkan. Ah, entahlah...


"Cie yang lagi bahagia… kelihatan banget, sih…"


Gavin yang tadinya mengira lift yang ditumpanginya sudah kosong menyisakan dirinya sendiri --setelah beberapa orang baru saja turun di lantai sebelumnya-- menoleh ke arah belakang, tepat pada sosok perempuan yang selama ini ditandainya sebagai wanita tidak normal. 


"Eh, Mbak Anggi… Udah datang, Mbak?" sapa Gavin cukup ramah, melihat wanita itu lenggangkan tubuhnya sintalnya ke arah Gavin.


Dan hap! Dalam hitungan ke tiga, wanita itu sudah berhasil melingkarkan tangannya manja di lengan Gavin yang cukup berisi.


"Gue perhatiin, dari tadi lo senyum-senyum aja. Kenapa? Lagi bahagia, ya?" selidik Anggi menyeringai usil, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Gavin.


"Tadi, malam dikasih berapa ronde sama bini lo? Banyak? Kok muka lo bahagia banget?" tanya perempuan itu curiga, menyipitkan matanya kepada Gavin.


"Ronde? Ronde apaan? Emangnya tintu?" balas Gavin datar, mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman Anggi.


Tapi, bukannya melepaskan, wanita itu justru semakin memeluk lengan Gavin kuat dan tersenyum genit padanya.


"Yah, bukannya emang gitu? Kalian itu ibarat lagi bertinju, di atas ranjang sebagai ring yang tersedia. Bergumul mesra, yang menghasilkan keringat mengucur di sela-sela tubuh kalian. Uh! Pasti hot banget, deh! Ya 'kan?!" seru Anggi terlihat girang, mengepalkan sebelah tangannya dengan gemas.


"Apalagi…" Sambung Anggi kemudian, mengusap lengan Gavin --meraba maksudnya-- yang cukup berbentuk dari panggal lengan hingga ke jari tangan.


"Kalo badan cowoknya kayak lo. Pasti… bini lo puas banget, deh. Yakan?" goda Anggi lagi mengerling sejenak, dan membuat Gavin mendengus melihatnya.


Rasa-rasanya, Gavin kok tersinggung atas ucapan Anggi barusan, ya? Puas apanya? Jangankan untuk bergumul mesra, didekati saja Kalya terlihat enggan. Jadi, apanya yang bisa dibanggakan?


"Mau tahu aja sih, urusan orang…! Kayak nggak ada kerjaan lain aja…" Balas Gavin sedikit sewot, hendak melepaskan lengannya lagi dari Anggi.


Dan saat tangan wanita itu kembali mencengkram, maka dia pun mulai menyerah. Dia takut emosi, dan malah memukul wanita genit itu di sana.


"Ulu-ulu… Yang ngambek soal urusan ranjangnya ketahuan… Lucu banget, sih lo! Gemes gue lihatnya!" ujar Anggi senang, lantas mencubit pipi Gavin sejenak, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka dan menampilkan sesosok pria yang sudah menunggu di luar sana.


"Eh, Pak Mario?"


Untuk beberapa saat, Mario yang tadinya hendak masuk ke dalam kotak besi tersebut, tiba-tiba saja berhenti. Matanya menatap Anggi, Gavin serta pitingan kedua tangan wanita itu di tubuh Gavin, secara bergantian.


"Pak Mario," sapa Anggi ramah, kemudian tersenyum dengan mentelnya.


"Selamat pagi, Pak…"


"Selamat pagi, Anggi…" Balas Mario setelah masuk ke dalam lift, dan melirik sekilas kepada Gavin.


"Manggsa baru, Nggi?" tanya Mario --setengah bergurau, sih-- pada Anggi, dengan menunjuk Gavin menggunakan dagunya.


"Iyah… Kalau dia mau sih, Pak… Iya…" Angguk Anggi tertawa renyah, dan kembali menempelkan tubuhnya kepada Gavin.


Sementara itu, Gavin yang sudah merasa tidak enak mendengar pertanyaan Mario yang seolah mengejeknya barusan, semakin terlihat sebal dengan gerakan Anggi yang terasa sangat mengganggunya.


"Mbak, bisa berdiri yang bener, nggak? Kayak nggak punya tulang aja, nyender mulu!" gerutu Gavin cemberut, pada Anggi yang malah tersenyum menggoda ke arahnya.


"Iya, emang nggak punya… Soalnya, aku kan cuma tulang rusuk. Sedangkan tulang punggungnya itu kan kamu… Makanya aku nyender…" Jawab Anggi menggombal, sontak membuat wajah Gavin tertekuk merah saking jengkelnya.


Sementara itu, Mario, hanya terkekeh melihat wajah sebal Gavin yang terus mendengus ke arah Anggi. Kelihatan sekali pria itu ingin menghajar Anggi, andaikan Anggi itu adalah seorang pria.


Ting!


Pintu lift yang terdengar terbuka, membuat Gavin langsung menghempaskan tangan Anggi dan pergi meninggalkan mereka.


"Ih, Gavin sayang! Kok malah pergi, sih?! Tungguin, dong!" rengek Anggi manja, sengaja untuk membuat Gavin semakin marah. Dia tahu, kalau cowok satu itu memang tidak akan tergoda dengannya. Dan karena itulah, letak kebahagiaan Anggi mengganggu Gavin.


"Tungguin, tungguin! Emang Mbak Anggi itu pohon keramat yang mesti gue tungguin?!" sungut Gavin masa bodo, dimana Anggi hanya cemberut dan Mario yang tertawa.


"Emang, kalo gue jadi pohon keramat, lo mau jadi pocongnya?" timpal Anggi mendengus, melihat Gavin yang malah semakin meninggalkannya.


"Nggi, kamu nggak takut gangguin Gavin? Dia kan udah punya istri?" tanya Mario, berjalan di sisi Anggi yang sudah berjalan di belakang Gavin.


"Enggak, lah! Ngapain takut? Kalo Gavinnya sendiri yang mau, gimana? Ya nggak, Beb?" tanya Anggi balik menggoda Gavin, sambil mencolek pinggang pria itu sedikit.


Tapi, bukannya menjawab, Gavin malah mendengus, dan mencebik menahan kesal.


"Oh, ya? Padahal, istri Gavin itu galak, loh… Saya nggak yakin, kalo Gavin berani buat selingkuh." Kata Mario santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam satu celana.


Saat ini, ketiganya sedang berjalan menuju ruangan staf penjualan, yang memang berada agak sudut dari bangunan tersebut.


"Loh, emang Pak Mario kenal sama istrinya Gavin?" tanya Anggi penasaran, sontak membuat tidak hanya Mario, tapi Gavin pun juga ikut berhenti.


Dengan tatapan setajam belati, pria itu menoleh ke arah Mario dan menggeram.


"Iya, kenal sih… saya dan istri Gavin itu…"


Mata Gavin semakin tajam, melihat Mario yang melirik ke arahnya.


"Teman satu kantor, dulu. Jadi, ya kenal…" Sambung Mario, membuat Anggi membulatkan mulutnya.


"Oooh…" Angguk wanita itu, kemudian berpikir sejenak.


"Loh, emang istri Gavin lebih tua, ya? Kok bisa temenan sama Pak Mario?" tanya Anggi lagi, seketika membuat Mario dan Gavin saling lirik beberapa saat.


"Apa…"


"Iya, dia emang lebih tua. Kenapa? Masalah?" sahut Gavin dingin, melirik Anggi yang menautkan alisnya menatap Gavin.


"Ya, enggak, sih… Namanya juga cinta, mana peduli sama umur." Jawab Anggi, menipiskan bibirnya sejenak.


Kemudian, seolah tidak ingin membahas apapun lagi, Gavin pun kembali melangkahkan kakinya. 


"Eh, Pak, kalau boleh tahu, emang istri Gavin itu gimana, sih orangnya? Kok mau sama cowok dingin kayak dia gini?" tanya Anggi lagi pada Mario, yang serta merta membuat Gavin berhenti dan melirik dongkol ke arahnya.


Memang kenapa kalau Gavin dingin? Apa Kalya tidak boleh menyukainya?


"Ya, istri Gavin itu lembut. Dia cantik, baik dan juga perhatian. Dia juga manis. Dia tahu cara menghargai orang dan bisa buat orang lain nyaman berada di sampingnya." Cerita Mario tersenyum lembut, membayangkan wajah Kalya di benaknya.


Untuk beberapa saat, alia Anggi bertautan melihat punggung Mario yang menjauh. Lalu, sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang, Anggi pun berdiri di samping Gavin dengan tatapan yang heran.


"Perasaan gue aja, atau cara Pak Mario emang aneh, pas lagi bahas istri lo?"


*** 


Gavin dan Anggi masuk ke dalam ruang departemen penjualan yang terlihat sudah cukup ramai. Pandangan Gavin langsung tertuju pada Mario yang saat ini sedang berbicara dengan beberapa orang di divisi mereka seperti tengah membicarakan sesuatu yang lucu.


"Eh, Vin! Ringkasan catatan gue kemarin, ada sama lo nggak? Kok perasaan, nggak ada di gue, ya?" tanya Dita menghampiri Gavin, yang sontak mengalihkan perhatian cowok itu dari Mario.


"Ah, iya. Ada, Mbak." Jawab Gavin langsung, menuju meja kerjanya dan membuka tas samping yang selalu dibawanya. 


"Nih," ujar Gavin memberikan buku catatan bersampul cokelat itu kepada Dita.


"Kemarin ketinggalan di dekat tukang sembako. Untung gue lihat. Makanya bisa gue bawain." Jelas Gavin pada Dita, yang tampak tersenyum tipis kepadanya.


"Iya, kemarin gue emang buru-buru banget. Makasih ya, Vin…" Ucap Dita, lantas meninggalkan Gavin menuju meja kerjanya.


"Awalnya saya nggak percaya sama omongan anak-anak yang bilang kamu itu baik loh, Vin..." Kata Mario tiba-tiba, sudah berdiri di dekat Gavin, yang baru saja akan duduk di kursi kerjanya.


"Eh, Pak," sapa Gavin datar, sebenarnya enggan untuk bersikap ramah pada laki-laki tersebut. Terlebih, dia masih kesal dengan apa yang Mario gambarkan tentang Kalya beberapa saat yang lalu.


"Dulu kayaknya kamu nggak kayak gini, deh… Kamu udah berubah?" tanya Mario, kemudian mengambil satu buah buku catatan Gavin di atas meja dan berpura-pura membacanya.


Mungkin, dia ingin orang lain mengira kalau mereka itu tengah membahas tentang pekerjaan. Bukannya hal pribadi, yang seperti Gavin duga saat ini.


"Memangnya kenapa? Anda keberatan?" timpal Gavin sarkastik, mencoba mengabaikan Mario, dengan duduk di kursinya dan mencari pekerjaan yang bisa dilakukannya.


"Nggak, sih… Siapa bilang saya keberatan? Malah, saya senang. Seenggaknya, saya nggak perlu khawatir sama Kalya yang mungkin bakal menyesal udah menikah sama kamu." Jawab Mario, seketika membuat Gavin menoleh ke arahnya.


Kilat-kilat emosi mulai terlihat di kedua mata pria itu terhadap Mario.


"Emang, kalau dia menyesal, dia bakal lapor sama Bapak, gitu?" sindir Gavin tajam, melirik Mario yang hanya mengedikkan bahunya sekilas.


Setelah itu, berusaha mengabaikan orang yang ada di sampingnya lagi, Gavin pun kembali berpaling membuka buku agendanya yang ada di atas meja.


"Ngomong-ngomong… Kamu benar-benar tulus sama Kalya?" tanya Mario dengan suara rendah, sekarang menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Gavin yang kokoh.


"Kamu benar-benar serius… bukan karena penasaran sama dia?"


"Penasaran? Maksudnya?" tanya Gavin bingung, menatap dalam Mario yang seperti termenung di tempatnya.


"Kalya itu bukan tipe orang yang mudah didapatkan. Dia itu bukan orang yang gampang luluh, cuma karena perlakuan lembut dari seseorang aja. Dan kamu… pasti tahu alasannya kan?" 


Mario yang tadi sibuk membolak-balikkan buku dari atas meja Gavin, berpaling menatap serius pada pria tersebut.


"Jangan bicara seolah-olah lo tahu semuanya tentang dia. Gue nggak suka!" peringatkan Gavin rendah, pada Mario yang sontak membuat sudut bibir pria itu tertarik.


"Sayangnya, saya memang tahu." Jawab Mario, sama sekali tidak takut. "Bahkan, bisa jadi saya yang lebih tahu dari kamu sekarang." Tambah Mario lagi, semakin membuat Gavin bertambah berang.


Apa maunya laki-laki satu ini?


"Kenapa? Lo mau bilang, kalo lo mau ngerebut dia dari gue? Lo pikir lo bisa?"


"Bisa." Sahut Mario tegas, kemudian menarik napas panjang, melihat seringai Gavin yang menghilang.


"Tapi, saya nggak mau." 


"Nggak mau?" dengus Gavin kaku, dengan bibir yang sudah gemetar, karena sudah saking emosinya.


"Kenapa? Karena sekarang dia lagi hamil? Lo pikir dia perempuan kotor, makanya lo bisa bilang gitu? Lo--"


"Saya menghargai dia." Sela Mario sedikit keras, hingga tanpa sadar, memancing perhatian orang-orang di sekitar mereka.


Untuk beberapa saat, mereka berdua pun terdiam. Meski tidak berucap, sepertinya mereka berdua sepakat untuk tidak menarik perhatian karyawan lain dalam masalah mereka saat ini.


Setelah kira-kira aman, dengan karyawan lain yang sudah mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Mario pun kembali berkata.


"Kalau memang saya berpikir seperti yang kamu bilang, tentu saya nggak akan buang-buang waktu saya buat melamar dia." Kata Mario, menatap tajam ke arah Gavin.


"Kamu menuduh saya, padahal kamu sendiri yang udah melakukan hal licik kayak gitu sama dia." Tuding Mario dalam, memojokkan Gavin dengan kata-katanya.


"Kenapa? Kenapa kamu melakukan hal itu sama dia? Kamu tega untuk menghancurkan masa depan dan kebahagiaan dia cuma karena keegoisan kamu." Tunjuk Mario lagi, membuat sorot mata Gavin kian sengit kepadanya.


"Kalo niat lo ngelakuin ini semua cuma buat dengar gue berkata maaf atau menyesal, hmph! Sory…" Gavin yang tengah tersenyum sinis, mendorong tangan Mario yang menuding ke arahnya.


"Lo nggak punya kapasitas apapun untuk dengar dua kata itu dari gue. Jadi, mending sekarang lo--"


Brak!


"Kenapa kamu ngelakuin itu, Gavin? Kenapa? Kamu takut, kalau dia nggak bisa mencintai kamu? Kamu takut kalah, makanya kamu mengambil jalan pintas kayak gitu? Kamu nggak percaya diri buat dapetin hatinya dan malah mutusin buat melakukan hal bodoh itu sama dia? hah?!"


Mario yang tiba-tiba saja marah, sontak menghempaskan buku yang tadi dia pegang ke atas meja Gavin. Membuat mereka menjadi bahan tontonan, dengan aura kemarahan yang terpancar tadi tubuh keduanya.


Samar, pandar kekecewaan terlihat di kedua mata Mario, saat dia menatap Gavin.


Berbeda seperti tadi, tampaknya kali ini keduanya sudah tidak peduli jika pandangan semua orang sedang tertuju pada mereka.


"Eh, Pak Mario kenapa, tuh?" bisik salah satu orang yang ada di belakang Mario.


Alih-alih peduli, yang bersangkutan malah terus adu pandang debgan Gavin yang menyeringai.


"Lo lagi emosi karena nggak bisa dapatin bini gue?" tanya Gavin tenang, melihat Mario yang mengedip beberapa kali.


Rasa kecewa dan frustrasi yang tidak bisa Mario kalahkan, malah membuat pria itu terlihat konyol dengan marah-marah kepada Gavin.


"Sory…" Ucap pria itu bergetar, menegakkan tubuhnya yang terasa kaku.


Sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal, Mario pun menepuk bahu Gavin sebentar.


"Saya… mengaku kalah."


Bersambung