Be My Brides

Be My Brides
Episode 61



Bu Sarah tidak bisa menutupi rasa kaku yang keluar dari setiap persendian di tubuhnya. Tangannya gemetar, ketika ia mencoba menyentuh puncak kepala Kalya, dan mengusapnya secara perlahan. 


"Kal--" suara Bu Sarah bahkan ikut tercekat, ketika nama itu keluar dari mulutnya yang juga ikut gemetar. 


"Kalya…"


"Ibu," dan saat kata itu keluar dari sela bibir pucat Kalya, seketika itu jugalah, Bu Sarah berhambur memeluk tubuh wanita itu erat. 


"Ibu…" Isak Kalya langsung menangis, kala Bu Sarah mengecup puncak kepalanya dan terus mengusap rambutnya berulang kali. 


"Kalya…!"


Pelukan Kalya di tubuh Bu Sarah, terasa semakin kencang, seiring suara lembut wanita itu menembus ke pendengaran Kalya, bak suara malaikat yang terdengar begitu merdu. 


"Kalya, ini Ibu, Nak… Iya, ini Ibu kamu, Kalya… Ibu yang melahirkan kamu…" Ucap Bu Sarah pun ikut menangis memeluk Kalya. 


Hangat dan eratnya pelukan tangan Kalya di pinggang Bu Sarah, membuat wanita paruh baya itu yakin kalau dia sedang tidak bermimpi saat ini. 


"Kalya… anakku…" Gumam Bu Sarah dengan air mata yang terus berderai, dan wajahnya yang memerah. 


"Ibu kangen kamu," bisik Bu Sarah serak, yang merasa Kalya mengangguk di dalam pelukannya. 


"Maafin Kalya, Bu… Kalya udah nyakitin hati Ibu dan menolak Ibu. Kalya memang jahat! Kalya anak durhaka, Bu… Maafin Kalya,"


Entah apa yang membuat Kalya bisa berbicara seperti itu kepada Bu Sarah. Yang jelas, saat semua orang yang ada di sana mendengar, jadi melirik satu sama lain, kecuali Bu Sarah yang kian menangis, karena rasa bersalah yang dia punya. 


"Gavin," bisik Nia pada Gavin, sesaat setelah putranya itu menenangkan Gian untuk terlelap kembali. 


Seolah paham dengan arti tatapan heran kedua orang tuanya, dia membawa Nia beserta Kendra untuk menjauh dari Kalya dan juga Bu Sarah. 


Gavin meletakkan Gian ke atas ranjang tidur bayinya dan memberikan jarak pada Kalya, agar tidur Gian tidak terganggu karena mendengar suara tangisan ibunya.


Setelah itu, dia menghampiri Nia dan Kendra yang ternyata sudah menunggu dirinya di luar. 


"Jadi, kenapa Bu Sarah bisa datang ke sini? Apa…"


"Gavin yang menghubungi dan minta Bu Sarah datang ke sini, Ma… Kemarin, Kalya nangis, bilang pengen ketemu sama Ibunya. Makanya--" 


"Kalya minta ketemu sama Bu Sarah?" pekik Kendra tanpa sadar, lanjut melihat Nia yang juga sedikit kaget mendengar kabar tersebut. 


"Dia nangis? Kok bisa?!" kernyit Nia, seolah tidak percaya, yang sayangnya, kali ini hanya mendapat gidikan bahu tidak mengerti oleh Gavin. 


"Gavin juga nggak ngerti, Ma. Dan Gavin juga nggak berani nanya, karena kayaknya dia memang sedih banget kemarin. Jadi, ya… Mau nggak mau, waktu dia tidur, Gavin terus menghubungi Bu Sarah dan bilang soal keinginan Kalya sama beliau." Jelas Gavin menghelakan napas, dan menundukkan kepalanya sedikit. 


Sedangkan Kendra dan Nia, hanya terdiam satu sama lain, dengan pikiran yang melayang entah kemana. 


"Mungkin dia sadar, perjuangan berat seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya kali, ya?" ujar Nia kemudian, menatap pintu kamar perawatan Kalya yang tertutup. 


"Mungkin dia tahu, gimana sakitnya Bu Sarah waktu melahirkan dia dan gimana juga, perasaan Bu Sarah waktu, dia menolak untuk ketemu sama beliau." 


"Kalya pasti merasa bersalah, udah bersikap kasar sama Bu Sarah. Makanya, dia nangis dan minta ketemu sama beliau." Kata Nia lagi, menoleh dan tersenyum pada suami dan anaknya. 


"Sepertinya, kita nggak usah khawatir soal itu."


***


Sementara itu, di dalam ruangan, Kalya masih memeluk pinggang Bu Sarah dan sesegukan. Dia tidak menghapus air matanya sama sekali, hingga membasahi baju bagian perut, yang dikenakan Bu Sarah pagi ini. 


"Shuuu… Anak Ibu… Jangan nangis… shu… Shu… Shu…"


Terdengar Bu Sarah mendesis halus, membujuk Kalya untuk menghentikan tangisannya. Diusapnya wajah serta kepala putrinya dengan sayang, dengan sesekali meneteskan air mata penuh sesal. 


"Maafin Ibu, telah meninggalkan kamu selama ini. Kamu pasti merasa sedih dan sendirian. Ibu… Benar-benar menyesal," lirih Bu Sarah, menutupi isak tangisnya, dimana pelukan Kalya justru semakin erat melilitnya. 


Kalya pun menggeleng. "Kalya udah nggak nyalain Ibu lagi soal itu. Papa udah menceritakan semuanya sama Kalya. Papa bilang, ini semua bukan kehendak Ibu dan Ayah. Kalian cuma mau yang terbaik untuk Kalya. Kalian nggak mau Kalya terlantar dan merasa kekurangan. Kalya mengerti kok, Bu…"


"Tapi, Kal… Ibu--" 


"Papa bilang, kita nggak boleh menyesali apa yang udah terjadi." Sela Kalya, mengangkat wajahnya menatap Bu Sarah, kemudian tersenyum tipis. 


"Kata Papa, kita harus mensyukuri takdir yang udah Tuhan kasih untuk kita. Coba aja, waktu itu Ibu dan Ayah nggak ngasih Kalya sama Bu Citra dan Pak Kenan, mungkin masa kecil Kalya nggak akan pernah merasa bahagia. Mungkin… Kalya nggak akan merasakan indahnya punya dua kakak cowok yang begitu sayang sama Kalya. Atau, mungkin Kalya nggak akan merasakan punya keponakan-keponakan iseng kayak anak-anaknya Mas Nunu. Dan lebih penting lagi, mungkin… Kalya nggak akan menikah sama Gavin dan punya anak lucu seperti Gian." 


Senyuman Kalya semakin lebar, meski napasnya terkadang tersendat karena sisa tangisan yang masih keluar dari bibirnya. 


"Kalya udah belajar menerima semuanya. Kalya… udah memaafkan semuanya. Dan apa salahnya, kalau Ibu pun bersikap seperti itu?" ucap Kalya sayu, pada Bu Sarah yang kian terharu mendengarnya. 


Dua puluh sembilan tahun, bukan waktu yang sebentar untuk hidup seseorang. Dan Kalya, bisa dengan mudahnya memaafkan semua kekecewaan yang dia rasakan untuk Bu Sarah dan Pak Malik, yang sudah meninggalkan Kalya begitu saja? 


"Terima kasih, sudah menitipkan Kalya pada keluarga yang baik hati. Kalya sayang sama Ibu…" 


Di tengah kebungkaman Bu Sarah mendengar kata-kata Kalya, wanita itu langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Menunjukkan kasih sayang dan rasa syukurnya lewat pelukan, sebagai isyarat kalau Kalya sudah bisa menerima keadaan mereka apa adanya. 


"Makasih, Sayang… Terima kasih, udah jadi anak berhati besar seperti ini. Ibu juga sayang sama kamu…" Balas Bu Sarah, menyandarkan kepalanya di atas kepala anaknya. 


Beberapa saat, keduanya kembali larut dalam suasana yang mengharu biru. Sampai pada akhirnya Kalya tersadar, dan mendongak menatap wajah Bu Sarah yang terlihat merah. 


"Ayah… mana, Bu?" tanya Kalya hati-hati, merasa kosong, karena belum pernah bertemu dengan ayahnya secara langsung. 


"Mungkin sebentar lagi, dia akan sampai. Ayah kamu naik pesawat paling pagi hari ini." Jawab Bu Sarah, mengusap rambut Kalya pelan, dan tersenyum. Sesekali, Bu Sarah akan mengecup kening Kalya tanda sayang. 


"Oh, ya… Mana cucu Ibu? Ibu belum lihat…" Pinta Bu Sarah ceria, berjalan ke arah keranjang bayi yang ada di sisi ranjang Kalya berbaring saat ini. 


"Ya ampun… Gantengnya cucu Oma…" Ujar Bu Sarah senang, mengangkat Gian yang lagi-lagi masih tertidur, seolah tidak terganggu sama sekali dengan keadaan di sekitarnya. 


Melihat tubuh Gian yang terbilang cukup besar, karena terlahir dengan berat 4,4 kg, Bu Sarah pun lantas berkata. "Ibu kira, dulu kamu beneran hamil anak kembar, saking besarnya. Ternyata enggak, toh…" 


"Iya, enggak. Emang dasar, Giannya aja yang segitu," jawab Kalya tersenyum, melihat Bu Sarah menimang Gian dengan sayang. 


"Siapa namanya tadi? Gian?" ulang Bu Sarah, kembali tersenyum, mengayun-ayunkan Gian di atas kedua tangannya. 


"Gian akan jadi cucu kesayangan Oma. Oma bakal lebih manjain Gian daripada Om Kaisar…" Ujar Bu Sarah dengan nada seperti anak kecil, yang sontak mengingatkan Kalya akan satu hal. 


"Kaisar…"


Seperti tahu, Bu Sarah menoleh sekilas dan melemparkan senyum pada anaknya tersebut. 


"Dia itu heboh banget, pas dengar kamu melahirkan. Dia bahkan pengen terbang lagi kemari, padahal sebelumnya baru balik ke K.L. Bener-bener deh, anak itu… Kayak bukan anak sekolah aja…"


Bu Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika mengingat bagaimana perangai putra bungsunya, yang tak lain adalah adik Kalya sendiri. 


Sementara itu, Kalya yang begitu mendengar nama Kaisar disebut, tiba-tiba merasa kangen dengan anak itu. Walaupun sebentar, dia menganggap Kaisar sudah seperti sahabat maupun saudara. Ya, meski kenyataannya mereka memanglah bersaudara. 


"Tante Kal…!"


Brak! 


"Tante Kal...ya…"


Kalya dan Bu Sarah yang tadinya sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing, sontak terkejut, ketika pintu ruang perawatan Kalya didobrak dengan kasar, hingga menimbulkan suara senyuman yang keras. Bahkan, saking kerasnya, Gian yang tadinya tertidur ikut terbangun dan menangis. 


"Gian…" Bu Sarah yang kaget melihat Gian tiba-tiba menangis kencang, seketika menggoyangkan tangannya mencoba menenangkan Gian. 


Sedangkan Kalya, yang melihat biang kerok dari keterkejutan mereka, langsung merasa jengkel dan menatap tajam orang tersebut. 


"Ricky…!" geram Kalya, terlihat emosi, pada Ricky, yang malah menatap Bu Sarah dan Kalya heran, secara bergantian. 


"Eh! Lo tuh, ya! Dibilang jangan masuk dulu, kok keras kepala banget sih!" 


Gavin yang juga ikut masuk ke dalam ruang perawatan juga terlihat kesal, karena ulah bar-bar Ricky telah membuat bayinya menangis keras seperti itu. 


"Ky! Lo tuh, ya! Bisa--" 


"Ssstt!" 


Ricko juga hendak berkomentar pada saudara kembarnya, yang asal masuk ke dalam ruangan, ketika Ricky mengangkat sebelah tangannya dan langsung membungkam mulut Ricko dengan desisannya. 


"Maaf, Ibu ini--"


"Mbak Sarah?!" 


Ricky yang tampaknya penasaran dengan sosok wanita yang tengah menggendong bayi di ruang perawatan Kalya, menoleh melihat ayahnya masuk ke dalam ruangan, dan terlihat kaget menyebut nama wanita tersebut. 


"Hai, Nu…? Apa kabar?" tanya Bu Sarah tersenyum, memberikan Gian yang masih menangis, kepada Gavin yang segera mengambilnya. 


Pria itu tampak berjalan ke sisi ranjang Kalya yang satunya, dan menimbang Gian di sana. 


"Ba--baik. Kok… Mbak Sarah…" 


Keanu yang dasarnya memang tidak tahu menahu, kalau Bu Sarah ada di ruangan tersebut sebelumnya --karena begitu sampai, Ricky sudah langsung mendobrak pintu ruangan Kalya--, menoleh ke arah Kendra yang berdiri di sampingnya. 


"Mas Nu," panggil Kalya pada Keanu, yang seketika menoleh, mengernyitkan alisnya ke arah Kalya. 


"Ibu datang untuk jenguk Kalya. Kan Kalya baru aja melahirkan." Kata Kalya, seolah tahu arti tatapan heran Keanu, yang kali ini tampak kaget saat mendengar penjelasannya. 


"Ibu?" beo Keanu bingung, lantas kembali menolehkan kepalanya lagi kepada Kendra. 


"Kalya pengen ketemu sama Ibunya. Dia… udah menerima kehadiran Mbak Sarah." Jelas Kendra pelan, menambahi ucapan Kalya, yang mungkin masih terasa aneh bagi Keanu sendiri. 


"Menerima Mbak Sarah? Maksudnya--"


"Permisi…" 


Keanu belum selesai dengan rasa bingung dan juga gamang di hatinya, ketika seseorang dan seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan Kalya. 


"Ini ruangan rawat Bu Kalya, Pak." Ujar perawat itu pada sosok pria setengah baya, yang mungkin agak lebih tua dari usia Kendra saat ini. 


"Maaf, Anda--" 


"Bang Malik?!" 


Bersambung