
Restoran milik Ricko belum buka, ketika Gavin tiba di sana. Namun, meski begitu, terlihat para karyawan sudah pada berdatangan, dan sibuk membereskan setiap sisi restoran. Begitu Gavin masuk, salah satu pekerja Ricko yang wanita, langsung mendatanginya.
"Maaf, Pak, restorannya belum buka." Katanya berusaha sopan.
"Saya kemari bukan buat makan. Saya mau ketemu Ricko." Balas Gavin, melihat sekitarnya. "Dia ada kan?"
Tampak pegawai wanita itu sedikit kebingungan. Mungkin, dia karyawan baru di restorannya Ricko. Karena, selain Gavin belum pernah melihat wajah itu sebelumnya, perempuan itu juga sepertinya tidak mengenal Gavin.
"Mau apa lo nyariin gue?"
Belum mendengar jawaban apapun dari karyawannya Ricko tersebut, Gavin justru mendengar langsung suara si pemilik restoran yang ketus. Saat dia berbalik, ternyata bukan hanya Ricko saja yang ada di belakangnya. Melainkan Ricky, saudara sepupunya yang lain juga tengah berada di sana. Memandang sinis Gavin, tentunya.
"Hiiish--!!"
Tiba-tiba, terlihat Ricky hendak menyerang Gavin, kalau saja Ricko tidak langsung menahannya dan menarik lelaki itu buat mundur.
"Ko, lepasin gue! Gue mau ngehajar si brengsek ini!" teriak Ricky nyaring, mengundang perhatian semua karyawan Ricko yang mendengarnya.
"Lo mau bikin rusuh di tempat gue? Pulang lo!" usir Ricko sengit, menatap Ricky tajam.
Ini nih, yang membuat Ricky terkadang malas berdebat jika Ricko sudah mulai terlihat jengkel. Dia pasti akan langsung mengusirnya. Dan kalau Ricky tetap berkeras, bisa jadi sebentar lagi, Ricko langsung menyuruh petugas keamanannya untuk menyeret Ricky untuk keluar.
"Gue suntuk di rumah. Gue di sini aja… dengerin lo…" desah Ricky akhirnya setengah bergumam, melirik Gavin dengan penuh kebencian.
Setelah itu, Ricko yang merasa kalau untuk beberapa saat kedepan Ricky tidak akan berbuat masalah, melayangkan pandangannya ke arah Gavin.
"Mau ngapain lo nyariin gue?" tanya pria itu kemudian.
"Gue mau ngomongin sesuatu hal sama lo. Dan ini penting!"
"Ngomong apa? Bilang aja di sini." Kata Ricko santai, namun terkesan cukup dingin.
Sejenak, Gavin tidak menjawab. Dia malah melihat ke arah sekitarnya, dimana orang-orang masih memperhatikan mereka dengan seksama.
Menyadari hal itu, Ricko pun akhirnya mendesah dan mengajak Gavin serta Ricky untuk masuk ke ruangannya yang berada di lantai tiga.
"Jadi… Apa yang mau lo omongin sama gue?" tanya Ricko tanpa basa basi, begitu mereka tiba di ruang kerjanya.
"Ini soal Kalya. Gue mau, lo batalin rencana pernikahan lo sama dia."
"Apa?"
"What?!"
Ricko dan Ricky terlihat sama kagetnya mendengar ucapan Gavin barusan. Meski secara kasar mereka telah menebak maksud kedatangan Gavin mencari Ricko, tapi mendengarnya langsung seperti ini, entah kenapa terasa sedikit mengagetkan.
"Lo bilang gue harus ngomong langsung. Tapi, kenapa lo berdua kelihatan kaget?" Gavin terlihat menyeringai sinis ke arah keduanya, dimana keduanya saling berdiam diri untuk beberapa saat.
"Lo tahu, ini bukan rencana gue. Jadi, gue nggak bisa sembarangan ambil keputusan."
"Tapi rencana ini bakal batal, kalo lo keberatan!"
"Tapi, gue nggak keberatan." Sahut Ricko langsung, kemudian tersenyum tipis melipat kedua tangannya di dada. "Gimana, dong?"
Seketika itu pula, Gavin merasa geram dan hendak memukul Ricko. Terlebih, saat melihat tatapan dua saudara kembar itu tersenyum remeh kepadanya, saat itu pula Gavin ingin membunuh mereka berdua.
"Gue nggak bercanda! Apa yang lo kejar dari Kalya, sampai nggak keberatan buat nikahin dia?" selidik Gavin tajam, memandang Ricko yang kini duduk di kursi kerjanya dengan angkuh.
"Apa yang buat lo ngejar Kalya, itu juga alasan gue mau nikahin dia." Balasnya santai, kali ini berhasil membuat wajah Gavin memerah.
"*** lo!"
"Heh! Mau apa lo?!"
Gavin yang berniat memukul Ricko, disentak kasar oleh Ricky yang berdiri di sebelahnya. Pandangannya berserobok dengan pria itu, dimana dia menatap Gavin dengan gigi yang saling bergemeletuk.
"Dasar nggak tahu diri! Lo harusnya senang, tingkah bejat lo nggak diminta pertanggung jawaban. Kenapa lo masih mau cari gara-gara, sih?" desis Ricky tajam penuh ejekan pada Gavin yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik.
Gavin yang mulai marah, langsung menghempaskan tangan Ricky darinya.
"Lo yang bego! Percuma umur lo lebih tua dari gue! Tapi, otak lo kosong! Dimana-mana, kalo orang yang bersalah mau bertanggung jawab, itu ya diterima, tolol! Bukannya diasingkan kayak gini! Goblok lo pada!" hardik Gavin keras memaki kakak beradik itu hingga kesal mendengarnya.
"Itu kalo orangnya bukan lo." Geram Ricko menatap sebal ke arah Gavin.
"Lo tahu alasan kenapa kita nggak ngizinin lo buat nikahin Kalya? Itu semua karena sikap lo! Karena pikiran lo yang masih cetek itu, buat Papa dan Om Kendra nggak berani ambil resiko! Lo pikir, dengan apa Om Kend berani nikahin adiknya sama lo, hm? Meskipun lo anak kandungnya Om Kendra sekalipun, belum tentu lo bisa bahagiain Kalya dengan sikap lo yang kayak gitu!"
"Terus, lo pikir, lo bisa bahagiain dia, gitu?" sengit Gavin tidak terima.
"Gue?" dan Ricko pun terlihat mendengus. Dia bangkit dari kursinya dan berdiri menyedekapkan kedua tangannya lagi di dada.
"Delapan puluh persen, iya." Jawabnya yakin, lantas merentangkan kedua tangannya bebas.
"Gue mapan. Gue nggak emosian kayak lo. Gue nggak berpikir pendek, nyakitin orang yang gue sayang, cuma karena kata cinta. Gue nggak sebodoh itu. Dan gue yakin, gue bisa membahagiakan Kalya dan calon anaknya nanti." Ujar Ricko bangga, lalu tersenyum miring. "Puas lo?" tantangnya pada Gavin, yang entah kenapa membuat Gavin membalasnya dengan seutas senyum sepele
"Oh, ya? Kok gue nggak yakin, ya? Bukannya sikap lo itu malah buat lo ditinggal sama tunangan lo yang dulu? Siapa tuh namanya? Tabita? Talitha?" Gavin tertawa sumbang, melihat perubahan wajah Ricko yang mengetat.
"Orang kaku dan ngebosenin kayak lo, nggak usah banyak bacot! Itu anak gue, dan biar gue yang bertanggung jawab. Jadi lo, sebagai Om nya, nggak usah ikut campur! Paham lo?" ultimatum Gavin segera, merasa menang telah membungkam mulut Ricko hingga tak bisa berkata apa-apa. Jangankan Ricko, Ricky saja yang memang tahu tentang hal itu pun memutuskan untuk tidak bersuara. Dia takut salah memilih kata, dan membuat suasana di antara mereka semakin terasa aneh.
Tidak menghiraukan apa-apa lagi, Gavin langsung memutar tubuhnya hendak meninggalkan ruangan Ricko. Tapi, belum sampai ia di pintu ruangan pria tersebut, Ricko kembali bersuara memanggil namanya.
"Gimana kalo kita taruhan." Kata Ricko memaksakan senyum, ketika Gavin menoleh ke arahnya.
"Gue bakal mundur, kalo emang Kalya yang minta gue buat mundur." Ricko melirik Gavin dengan sudut matanya.
"Tapi, kalo sampai dua bulan ini lo nggak bisa yakini Kalya buat nyuruh gue mundur, mau nggak mau, lo yang harus mundur." Ujar Ricko, kemudian berdiri dari kursinya dan menatap serius pada Gavin di depannya.
"Gimana?" tanyanya pada pria itu, yang kini sudah memasang wajah datar, dengan rahang yang mengeras.
"Oke… gue setuju."
***
Kalya tidak bisa menggambarkan kenapa perasaannya sangat gelisah malam ini. Berulang kali dia mencoba untuk mencari posisi nyaman untuk tidur. Tapi, entah kenapa, sampai sekarang dia masih belum bisa terlelap juga.
Jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam, saat Kalya bangkit dari ranjangnya menuju jendela. Disingkapnya gorden kamarnya yang tadi sudah tertutup dan membuka jendela kamarnya, hingga angin malam mulai berhembus membelai wajahnya.
Sejuk. Ingin rasanya hati Kalya seperti itu. Merasa damai, setenang malam yang kian larut seperti ini. Melupakan sejenak semua masalah yang kini sedang bertumpu di pundaknya.
"Kal!"
Samar, Kalya seperti mendengar seseorang memanggilnya.
"Kalya!"
Suara itu seperti berbisik, namun terdengar cukup keras.
"Kal!"
Cepat Kalya menoleh ke arah bawah, di mana suara itu berasal. Dan alangkah terkejutnya ia, ketika melihat siapa yang saat ini tengah berdiri di sana dengan sebuah tangga di tangannya.
"Gavin?"
Kalya terpekik kaget, kala tangga berbahan aluminium di tangan Gavin langsung jatuh bersandar di dinding luar kamarnya.
"Gavin, kamu mau ngapain?!"
Kalya yang merasa takut, langsung melihat ke sekeliling rumah. Khawatir kalau aksi Gavin yang tengah memanjat tangga menuju kamar Kalya itu dilihat oleh orang lain yang ada di rumah tersebut. Terlebih, jika yang melihatnya langsung adalah Keanu sendiri.
"Gavin, kamu--"
Ucapan Kalya terputus, ketika Gavin sampai, dan langsung mendorong Kalya mundur untuk memberi jalan kepadanya.
"Gavin,"
"Kal!"
Dan Kalya pun merasa lebih terkejut lagi, ketika pria itu, tanpa izin sama sekali langsung mendekap tubuh Kalya erat. Dia bahkan menyusupkan wajahnya di lekukan leher Kalya dan membuat wanita itu merasa merinding karena hembusan napas hangat Gavin di sana.
"Gavin, kamu apa-apaan, sih?! Nggak sopan!"
Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Kalya mendorong tubuh Gavin sekuat tenaga, hingga pelukan itu terlepas.
"Kamu--!"
Lagi-lagi, ucapan Kalya terputus. Kali ini, karena alasan yang sama. Gavin langsung memeluknya, setelah beberapa saat menjauh.
"Aku kangen kamu." Bisik laki-laki itu jelas, membuat Kalya merasa marah.
"Gavin, kamu jangan macam-macam! Mending kamu pulang sekarang!" usir Kalya berusaha melepaskan pelukan Gavin kembali. Namun, tampaknya usaha Kalya nihil karena Gavin terlihat bersikeras untuk tidak melepaskan pelukan itu lagi.
"Gavin!"
"Sssst! Jangan teriak-teriak, Kal… nanti ada yang dengar." Himbau Gavin enteng, seolah dirinya dan Kalya itu adalah sepasang kekasih yang tengah memadu kasih secara sembunyi-sembunyi.
"Gavin, lepas, nggak?! Kamu kok ya, nggak sopan banget, sih?!" ronta Kalya kesal terhadap ulah Gavin yang sejak dulu memang selalu semena-mena terhadapnya.
"Gavin…!"
"Kal, maafin aku, ya… udah nyakitin kamu…" bisik Gavin lirih di telinga Kalya. "Aku nggak pernah punya maksud buat kamu sedih, ataupun buat kamu nangis. Aku cuma nggak tahu, gimana cara buat kamu bisa melihat ke arah aku. Memandang aku sebagai laki-laki, dan bukannya keponakan kayak selama ini kamu lakuin. Aku… benar-benar nggak tahu caranya."
Gavin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kalya yang tiba-tiba terasa lemas.
"Aku sayang sama kamu, Kal. Aku… cinta sama kamu."
"Tapi, itu bukan alasan yang bisa aku terima atas perbuatan kamu sama aku, Gavin. Kamu tahu apa yang aku rasain hanya karena ulah kamu?" ucap Kalya terbatas, tanpa berpikir panjang.
Gavin bisa merasakan Kalya menangis dalam pelukannya.
"Kamu tahu kalo aku ini anak angkat di keluarga kalian? Keluarga kandungku nggak menginginkan aku. Kamu tahu gimana rasanya?"
Sekarang, Kalya menangis lirih, menundukkan kepalanya, hingga dahinya bersandar di bahu Gavin.
"Aku nggak sanggup mikirin nasib anak yang ada di dalam perutku nanti. Aku takut, dia ditolak. Kamu nggak tahu rasanya, karena kamu adalah anak yang diidamkan oleh Mas Kendra setelah beberapa tahun menikah sama Mbak Nia. Kamu mana tahu! Kamu nggak akan tahu gimana rasanya mikirin apa dan gimana caranya biar orang yang kita sayang nggak bosan dan lebih memilih buat membuang kita. Kamu nggak tahu gimana!!!"
"Sekarang, jangankan buat mikirin nasib anak ini. Aku bahkan nggak tahu apa yang lagi dipikirin Mas Kendra sama Mas Keanu. Aku nggak bisa tidur, mikirin hal itu. Mungkin aja, sekarang mereka merasa kalau aku ini anak yang nggak berguna. Bisanya cuma bikin malu! Hamil di luar nikah, yang sebentar lagi bakal jadi perusak masa depan anak dan juga keponakan mereka."
Tubuh Kalya terasa lemas. Dia jatuh terduduk di atas lantai, bersama Gavin yang tidak siap dengan reaksi wanita itu.
"Kalya,"
"Sekarang Mas Kendra dan Mas Keanu benci sama aku. Mereka pasti marah dan kecewa. Terlebih, mereka tahu kalo anak yang aku kandung ini anak kamu. Mereka pasti bakal nyingkirin aku setelah ini… Aku harus gimana? Aku nggak bisa hidup tanpa bantuan Mas Kendra dan Mas Keanu… Selama ini, mereka yang selalu ada buat menopang aku. Aku nggak punya apa-apa! Aku ini bodoh! Aku manja dan nggak berguna! Aku--"
Tiba-tiba saja, Kalya terlihat histeris dengan meracau dalam tangisannya. Dia sepertinya mulai mengeluarkan segala beban di hatinya, setelah beberapa waktu ini dia pendam sendiri. Di depan Gavin, dia mengungkapkan semua yang menjadi ketakutannya.
"Kalya…! Kalya…! Kamu tenang, Kal… Kamu tenang…! Kamu jangan nangis,"
Gavin mencoba membawa Kalya ke dalam pelukannya. Tapi, wanita itu langsung menolak dengan menampar pipi Gavin kasar.
Plak!
"Diam, kamu! Dasar laki-laki brengsek!" maki Kalya dengan mata merah, serta wajah yang bersimbah air mata.
"Aku sakit karena kamu. Aku nangis karena kamu! Kamu yang udah nyakitin aku… kamu yang udah buat aku kayak gini… kamu sadar nggak, sih???" Kalya yang sudah serak memukul dadanya berulang kali.
"Gimana bisa kamu minta aku tenang, hah? Gimana bisa kamu bilang aku jangan nangis? Kamu emang benar-benar nggak bisa mengerti aku. Kamu emang nggak bisa mengerti perasaan aku…" Ujar Kalya yang menangis pilu, dan membuat hati Gavin terenyuh.
"Aku… benci sama kamu."
"Kalya,"
"Pergi."
"Kal,"
"Pergi!"
"Kalya, aku--"
"Aku bilang pergi! Kamu dengar nggak sih?!"
Kalya berteriak kencang pada Gavin, karena sikap keras kepala pria itu. Sudah jelas Kalya mengatakan kalau dia membenci Gavin dan memintanya untuk pergi. Tapi, kenapa pria itu malah terus bertahan?
"Kal, aku emang nggak ngerti perasaan kamu. Tapi, bukan berarti aku bakal mengabaikannya begitu aja. Asal kamu tahu, aku ini orang yang bertanggung jawab. Aku bakal buktiin itu ke kamu. Aku yang udah bikin kamu nangis, maka aku juga yang bakal hapus air mata kamu. Begitu juga sama perasaan kamu. Aku yang udah melukai kamu. Dan mau nggak mau, aku juga yang bakal ngobatinnya."
"Pergiii!" teriak Kalya semakin marah.
"Aku benci sama kamu! Aku muak sama kamu!" seru wanita itu memandang sengit ke arah Gavin.
Sejenak, Gavin merasa sedih mendengar kalimat itu. Namun, detik kemudian, dia mencoba kuat, dengan menatap mata Kalya tajam.
"Maaf Kal, tapi kayaknya aku bakal buat kamu lebih benci lagi sama aku." Ucap Gavin pelan, menipiskan sedikit bibirnya.
"Aku bakal buat kamu lebih benci sama aku. Semakin benci, bertambah benci, sampai kamu capek." Gavin menarik napas panjang, seraya mengusap rambut Kalya pelan.
"Dan setelah itu, kamu bakal bosan, dan memilih untuk nggak benci sama aku lagi."
Kalya sudah tidak bergerak lagi, ketika Gavin dengan mudahnya mendaratkan sebuah kecupan di dahinya.
"Itu janji aku."
Bersambung