Be My Brides

Be My Brides
Episode 40



Kegiatan seorang ibu rumah tangga memang tidak pernah lepas dari sesuatu yang namanya bersih-bersih. Semua harus dilakukan sendiri, mengingat Kalya dan Gavin tidak memiliki satu asisten rumah tangga pun yang bisa membantu mereka membereskan rumah. Meski sebelumnya Gavin sudah pernah menawarkan untuk mempekerjakan satu orang untuk membantu dan menemani Kalya, tapi tampaknya wanita itu berusaha menolak.


Bukan dia tidak perlu. Tapi, dia hanya berusaha memahami kondisi mereka saat ini. Gavin yang sekarang ini bukanlah anak manja yang bergelimang harta seperti dulu. Dia harus bergantung pada gaji dan tabungannya saja. Bekerja siang malam untuk mengumpulkan uang untuk Kalya dan calon buah hati mereka.


Pagi-pagi sekali, Gavin sudah berangkat bekerja. Menggunakan motor, bukan mobil mewah seperti yang selama ini dilakukannya. Atas izin Kendra, Gavin menjual mobilnya dan menabung uang hasil penjualan tersebut ke dalam tabungannya. Dia bilang, hitung-hitung menambah uang untuk membeli rumah buat mereka nanti.


Jujur, Kalya kasihan pada Gavin yang sekarang. Dia berusaha sekali untuk menunjukkan bahwa dirinya memang mampu untuk menghidupi Kalya dan juga anak mereka, dari hasil jerih payahnya sendiri. Tidak ingin dipandang sebelah mata, kata Gavin saat Kalya bertanya tentang alasannya melakukan itu semua. Jadi, dia harus melakukan apapun yang menurutnya benar dan bisa dia lakukan, untuk mendapatkan uang yang lebih.


Tapi, kendati menekan semuanya untuk berhemat dan menambah isi tabungan, Gavin tampaknya sangat royal terhadap Kalya. Tidak peduli dengan istilah menabung, jika dilihatnya perempuan itu memang sedang membutuhkan atau kira-kira Gavin ingin memberikan sesuatu kepadanya. 


Terkadang, Kalya sendiri yang pusing memikirkan ulah pria itu yang menurutnya terlalu memanjakannya. Memangnya, dia pikir, yang membuat Kalya bisa bertahan dengannya sampai sejauh ini, apa?


Meski terlihat sangat banyak dan melelahkan, Kalya berusaha untuk membereskan kediaman mereka pelan-pelan. Tidak begitu berat, karena menyapu rumah dan mengepel, sudah Gavin lakukan setiap pagi-pagi sekali, sebelum berangkat bekerja. Jadi, Kalya yang memang kondisi perutnya sudah tidak bisa melakukan hal tersebut, lebih memilih untuk melakukan kegiatan kebersihan lainnya yang mampu dia kerjakan.


"Oke, ini yang terakhir…" Desah Kalya sedikit lelah, setelah mengumpulkan semua sampah hasil bersih-bersihnya ke dalam satu plastik yang lebih besar. 


Rencananya, dia akan membuang sampah itu ke dalam tong pembuangan besar yang ada di depan komplek perumahan. Karena biasanya, setiap dua hari sekali, truk pengangkut sampah akan datang dan mengambil tumpukan sampah yang berasal dari setiap rumah di daerah tersebut.


Setelah semuanya beres, Kalya pun keluar membawa kantung plastik tersebut dengan langkah kaki yang sedikit terseok. 


Akhir-akhir ini, perutnya memang mudah sekali terasa sakit. Lelah sedikit bisa terasa kram, dan tidak melakukan apapun, bisa membuat tubuhnya yang terasa kaku. 


"Eh, Kalya, kamu ngapain? Aduh…"


Kalya yang baru saja keluar dari pagar rumahnya berhenti sejenak, saat seorang ibu-ibu datang menghampirinya dan mengambil kantung sampah yang ada di tangan Kalya.


"Ini 'kan berat… Kenapa kamu bawa yang kayak gini, sih?" gerutu ibu-ibu  tersebut yang merupakan salah satu tetangga Kalya yang baru. Mereka pindah ke komplek perumahan tersebut di hari dan waktu yang sama.


"Eh, Bu, nggak usah…! Biar saya aja," Kalya berusaha mencegah, saat ibu-ibu tersebut ingin mengambil sampah di tangan Kalya.


Tapi, seolah tidak mendengar, ibu itu hanya mendecak sekali, dan merampas plastik di tangan Kalya secara cepat.


"Biar Ibu yang buang." Katanya, lantas meninggalkan Kalya yang hanya mampu bersorak mencegah wanita tersebut.


"Bu, nggak usah! Biar saya aja! Saya bisa sendiri!"


Namun, Kalya mendesah panjang, saat wanita itu menjauh bahkan tidak menoleh sekali pun ke arahnya. Dia hanya bisa menunggu wanita itu kembali, dengan perasaan yang tidak enak di hatinya.


"Nah, sekarang beres…" Ucap ibu-ibu tadi, sudah berada di depan Kalya kembali.


"Makasih ya, Bu… Saya jadi nggak enak," ucap Kalya lirih, tersenyum sungkan terhadap wanita berparas senja tersebut.


Tapi, bukannya marah, wanita itu justru tersenyum dan mengusap sebelah rambut Kalya pelan.


"Iya, nggak papa. Lain kali, kamu letakin aja sampahnya di depan sini. Biar nanti Ibu yang bantuin kamu buang ke sana." Kata wanita itu pada Kalya, yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Kalya sendiri.


Mana mungkin dia bisa meninggalkan sampah rumah mereka begitu saja untuk dibuangkan oleh orang lain. Ada-ada saja ibu ini… Batin Kalya.


"Oh, ya, Gavin mana? Udah pergi kerja?" tanya wanita itu lembut, dibalas Kalya dengan anggukan kepala.


"Udah, Bu." Sahutnya.


"Oh… berarti, kamu sendirian dong, di rumah?" 


"Iya,"


"Kalau kamu kesepian, kamu bisa kok, main ke rumah Ibu. Di sana ada adek--hm, maksud Ibu, ada anak Ibu juga. Jadi, kalian bisa ngobrol-ngobrol bareng. Kebetulan, dia juga lagi liburan sekolah." Ujar wanita tersebut, pada Kalya yang lagi-lagi hanya tersenyum menyanggupinya.


Entah kenapa, dia merasa sedikit dekat dengan wania asing ini. Meski dengan tetangga lain pun demikian, tapi terhadap Bu Sarah --wanita setengah baya yang tengah berdiri di depannya tersebut--, dia merasakan ada yang lain di antara mereka. Seperti rasa hangat, meski sesekali jantungnya berdetak tidak enak, jika wanita itu melakukan sesuatu yang menurut Kalya --sebenarnya-- tidak menjadi suatu masalah.


"Iya deh, Bu. Nanti saya bakal main." Angguk Kalya sembari tersenyum.


"Yaudah, kalau gitu kamu masuk, gih! Ibu juga mau balik. Ibu mau masak dulu." Kata Bu Sarah, menyentuh bahu Kalya sejenak dan berpaling meninggalkan wanita hamil itu.


Nah, nah, nah… Inilah maksud perkataan Kalya tadi mengenai ibu-ibu tersebut. Tentang sesuatu yang aneh di dalam hatinya, mengenai Sarah yang melakukan sesuatu dimana seharusnya itu adalah suatu tindakan yang sangat wajar.


Entah kenapa, melihat Sarah yang berjalan menjauhinya seperti ini, membuat hati Kalya terasa begitu sedih. Dia tidak tahu apa yang mendasari perasaannya bisa berlaku demikian. Hanya saja, saat ini dia merasa kalau pandangannya mulai mengabur dan siap akan meneteskan air mata, jika dia tidak memalingkan wajahnya sekarang juga. 


"Apaan, sih?" gerutu Kalya pelan, pada dirinya sendiri sembari menarik napas dalam-dalam.


Kalya hendak masuk kembali dalam rumahnya, ketika tiba-tiba saja seseorang datang dan memanggilnya, tepat saat dia akan membuka pintu pagar rumah mereka. 


"Kal,"


"Ya?" jawab Kalya refleks, memutar tubuhnya kembali, melihat siapa yang saat ini ada di belakangnya.


Dan saat pandangan matanya berserobok dengan orang yang memanggilnya, detik itu juga kedua mata Kalya jadi ikut melebar.


"Mas Rio?"


***


"Silakan duduk, Mas." Pinta Kalya pada Mario, menunjuk sebuah kursi rotan yang ada di teras rumahnya. 


"Kita di teras aja, ya? Soalnya, Gavin nggak ada di rumah." Ucap wanita itu lagi, pada Mario yang sudah duduk di kursi yang ditunjuknya.


Kalya tidak tahu, apakah Mario tahu dia sudah menikah dengan Gavin atau tidak. Yang jelas, dia sedang tidak memikirkan apapun juga, saat dia mengatakan hal tersebut pada Mario.


"Ehm, iya. Nggak papa." Sahut pria itu mengangguk kaku.


"Oh, ya, Mas mau minum apa? Biar aku buatin." Tawar Kalya ramah, membuat Mario seperti berpikir sejenak.


"Air putih aja." Jawabnya, melirik perut Kalya yang sudah tampak lebih besar dari yang dia lihat terakhir kali.


"Oke, tunggu sebentar, ya…"


Kemudian, Kalya masuk ke dalam rumah. Mengambilkan satu gelas air mineral untuk Mario, dan membawanya kembali ke teras rumah, menggunakan sebuah nampan.


"Ini, silakan diminum, Mas." Ucap Kalya, meletakkan minuman tersebut di atas meja kecil yang ada di depan Mario saat ini. Lalu, dia pun duduk di kursi satunya lagi, yang berada tepat beberapa jarak di samping Mario.


"Iya, makasih." Balas Mario, lantas terdiam sejenak.


Bingung ingin berkata apa, keduanya hanya berdiam diri, seperti sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Mas… bukannya udah pindah ke luar kota? Kok bisa ada di sini?" tanya Kalya membuka pembicaraan, sambil menatap Mario lewat lirikan matanya.


"O-oh, aku… Aku udah pindah ke sini lagi. Udah satu bulanan, sih. Soalnya, Om aku yang minta aku untuk kerja di cabangnya yang ada di sini." Jawab Mario sedikit tergagap, dibalas anggukan kepala dari Kalya.


"Oh, ya. Gimana keadaan kamu? Baik-baik aja 'kan?" tanya Mario, menatap Kalya yang menundukkan kepalanya.


"Baik." Sahut wanita itu sekenanya.


"Kandungan kamu, gimana? Sehat 'kan?"


"Iya, sehat." Jawab Kalya lagi, membuat keduanya kembali terdiam.


Mario membuang pandangannya ke arah lain. Tampaknya, dia sudah bingung ingin membahas apalagi dengan wanita itu. Beberapa bulan tidak bertemu, membuat keduanya menjadi canggung dan terasa asing seperti ini.


"Aku tahu rumah kamu dari Pak Ricky." Kata Mario akhirnya, kembali mencoba membuka percakapan dengan Kalya.


"Oh,"


"Aku sebenarnya bingung mau ngomong apa. Tapi, aku pengen banget ketemu sama kamu." Beritahu Mario, dengan suaranya yang rendah.


"Nggak papa, kan?" tanya Mario sedikit segan, memperhatikan Kalya yang hanya terdiam, masih menundukkan kepalanya dalam.


"Kalo menurut Mas kangen sama istri orang lain itu boleh, ya aku bisa apa?" balas Kalya terdengar seperti menyindir, seketika membuat Mario mengulum bibirnya sedikit.


"Aku senang, kamu udah bisa ketus lagi. Dengan begitu, aku udah bisa merasa santai sekarang." Kata Mario, meregangkan tubuhnya sedikit dan menarik napas panjang.


"Hai, Kalya… Lama nggak ketemu." Sapa Mario ulang, sontak membuat Kalya mengangkat wajahnya, menatap Mario dengan heran.


Tapi, alih-alih merasa kaku, Mario terlihat mencoba untuk tersenyum.


"Kemarin aku sempat ribut sama Gavin. Dia pikir, aku mau merebut kamu dari dia. Jadi, dia--"


"Mas ketemu sama Gavin? Dimana?" tanya Kalya tidak percaya, malah membuat Mario menatapnya dengan lebih tidak percaya lagi.


"Di kantor. Emang, dia nggak bilang kalau kami satu kantor?" tanya Mario aneh, menatap Kalya dengan alisnya yang mengerut samar.


Sambil memasang tampang cengo, Kalya pun menggeleng. "Enggak…" Katanya, sontak membuat Mario mendesah tidak percaya.


"Woah… Dia berhasil bikin aku ngerasa jadi orang paling nggak penting, karena masalah ini." Ujar Mario kagum --tidak percaya sih, maksudnya--, sambil menggelengkan kepalanya.


"Emang, kalian ributin apa? Gavin cari masalah lagi ya, sama Mas Rio?" tanya Kalya berpikir, setelah terdiam beberapa saat.


"Enggak. Kenapa kamu mikirnya gitu?" tanya Mario menggeleng, agak tersenyum melihat Kalya yang mencebik.


"Iya, karena dia emang kayak gitu. Suka cari gara-gara." rungut Kalya menggerutu di ujung kalimatnya.


"Tapi, dia nggak gitu kok. Dia 'kan udah berubah." Kata Mario tersenyum, melihat Kalya yang melirik ke arahnya.


"Ya, biarpun sama aku kelakuannya tetap sama, tapi dia udah cukup banyak berubah, kok. Dia udah jadi orang yang lebih tenang dan nggak sinis kayak dulu lagi." Cerita Mario pada Kalya, membuat wanita itu terdiam sesaat.


"Banyak yang suka sama di kantor. Meski nggak banyak omong, dia itu orang yang nunjukin kepeduliannya lewat tindakan. Dia udah jauh lebih dewasa sekarang." Lanjut Mario lagi, melihat Kalya yang sepertinya tidak begjtu percaya terhadap ucapannya.


"Masa sih, Mas?" tanya Kalya curiga, yang entah kenapa sangat menggemaskan di mata Mario.


Hampir saja laki-laki itu lupa diri dan mencubit pipi Kalya menggunakan kedua tangannya, saat dia ingat kalau Kalya itu sudah menjadi milik pria lain. 


Dalam hati, dia pun bergumam. "Meskipun di dunia ini ada milyaran wanita, tapi yang sepertinya, mungkin tidak ada." 


"Mulai sekarang, kamu nggak boleh lagi bicara kayak gitu soal Gavin. Gimana pun juga, dia itu kan udah jadi suami kamu. Jadi, ya kamu harus percaya." Nasihat Mario pada Kalya, membuat wanita itu terpaku untuk sesaaat.


"Kenapa Mas ngomong gitu?" tanya Kalya sangat pelan, menyerupai gumaman.


Sembari tersenyum, Mario memajukan tubuhnya, dengan kedua siku yang bertumpu di atas lututnya.


"Mas ngomong gitu, sebagai orang yang bisa kamu panggil Kakak." Ucap Mario, kemudian membuat Kalya menelan ludahnya susah payah.


"Tapi, aku kan udah punya Mas Kendra dan Mas Keanu…" Balas Kalya tetap pelan, memainkan jemarinya dengan resah di atas pangkuan.


Sementara Mario, alih-alih tersinggung, dia justru kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya sekilas.


"Pak Kendra kan udah jadi Ayah Mertua kamu. Jadi, gimana bisa kamu panggil beliau dengan sebutan Kakak? Sedangkan Pak Keanu, secara otomatis, beliau juga pasti udah jadi Paman untuk kamu. Apa kamu masih manggil beliau sebagai Kakak?" tanya Mario lekat, entah kenapa membuat Kalya merasa sedih mendengarnya.


Apa yang Mario katakan itu benar. Meski sulit, Kalya tetap harus bisa belajar memanggil dua kakaknya dengan sebutan Papa dan juga Om. 


"Tapi…"


"Kamu nggak mau anggap aku sebagai Kakak?" terka Mario tersenyum pahit, melihat gelagat Kalya yang seolah hendak menolaknya.


"Bukan gitu… Cuma--"


"Aku rasa, kamu nggak perlu khawatir lagi soal perasaan aku ke kamu sekarang, Kal. Nggak papa, kok." Angguk Mario, seolah tahu apa yang tengah Kalya pikirkan saat ini.


"Aku sayang sama kamu, sebatas orang yang pernah dekat, dan tahu tentang kehidupan kamu selama ini. Kalau urusan cinta…" Tiba-tiba, Mario menyipitkan kedua matanya dan mencebik dengan sombong. "Pede banget sih, kamu?"


"Heh?"


Dan setelah itu, Mario pun tertawa. Tawa yang lebar dan juga lepas, seperti yang pernah Kalya lihat, jauh sebelum ini.


"Mas…"


"Udah, kamu tenang aja, aku nggak akan merusak rumah tangga kamu dengan Gavin, kok. Percaya sama aku," ujar Mario lega, menunjukkan raut wajah keyakinan di depan Kalya.


"Tapi,"


"Mungkin, tiga atau empat bulan lagi, aku bakal menikah." Beritahu Mario pada Kalya, sontak membuat kedua mata wanita itu membola.


"Hah? Yang benar, Mas?!" tanya Kalya terkejut, kemudian mengerutkan dahinya samar. "Sama siapa?"


"Sama ceweklah! Masa sama kamu." Jawab Mario segera, mengulum bibirnya usil melihat reaksi Kalya.


"Aku juga udah menikah kali, Mas. Mana mau aku nikah dua kali." Sengit wanita itu mendengus, menatap wajah Mario dengan kesal.


"Iya, deh, iya… yang pengen seterusnya jadi istri Gavin…" Goda Mario, lantas mengedipkan sebelah matanya jahil. 


"Kamu suka berondong, kan? Oke, oke, aku ngerti." Bisiknya usil, sontak membuat wajah Kalya memerah.


"Mas!"


Dan lagi-lagi, tawa Mario pun terdengar begitu keras. Dia memegang perutnya geli, melihat wajah Kalya yang cemberut karena habis mendengar kalimat ejekannya.


"Mas ngatain aku lagi, aku sumpahin batal nikah! Mau?" ancam Kalya mendelik, melihat Mario yang seketika menegakkan tubuhnya lagi.


"Eh, jangan, atuh!" sergah Mario cepat, dengan wajah yang serius. "Mas udah susah payah yakinin dia buat nikah sama Mas, kamu malah nyumpahin Mas gitu aja… Emang kamu mau, lihat Masmu ini jadi perjaka tua?"


"Emang Mas masih perjaka?" ejek Kalya kemudian, menjulurkan lidahnya kepadanya pada Mario.


"Ya, masihlah… Biar istri Mas aja nanti yang tahu…" Balas Mario, lantas membuat Kalya kembali mencibir.


"Emang beneran ada calonnya? Ntar cuma halu, lagi…" olok wanita itu, lagi-lagi membuat Mario mendesah sebal.


Akhirnya, tabiat lama Kalya kembali keluar juga.


"Ya, adalah! Tanya aja sama Gavin. Dia udah pernah ketemu, kok." Kata Mario, dibalas anggukan kepala dari Kalya.


Sejenak, mereka kembali terdiam. Lalu, tidak berapa lama, Mario pun memajukan tubuhnya kembali, berbicara serius kepada Kalya.


"Mulai sekarang, kamu bisa panggil aku Mas, dan cerita apapun sama aku, seperti aku ini Kakak kamu. Kamu bisa anggap aku ini sebagai saudara dari pihak mempelai wanita. Atau, lebih enaknya anggap aku sebagai kakak kamu. Kakak yang artinya saudara kamu sendiri. Gimana?" tawar Mario kembali, pada Kalya yang sepertinya mulai terbuka soal tersebut.


"Iya, aku--"


"Memangnya kamu siapa?"


Belum juga Kalya berhasil menjawab tawaran dari Mario, seorang laki-laki bertubuh tinggi, sudah datang dan berdiri di dekat mereka dengan sorot mata yang menajam.


Sambil melirik satu sama lain, Kalya dan Mario pun mulai bergumam.


"Sejak kapan dia di situ?"


Bersambung