Be My Brides

Be My Brides
Episode 21



Hari ini adalah hari pertama Gavin kembali menjadi seorang mahasiswa. Waktu magangnya yang selama tiga bulan sudah berakhir, dan membuat ia harus kembali menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir.


Rencananya, setelah dari kampus nanti, Gavin akan mulai mencari pekerjaan. Apapun asalkan halal, untuk mengumpulkan uang sebagai modalnya menikahi Kalya.


Meskipun dia sendiri juga kurang yakin apakah usahanya ini akan dipandang baik oleh keluarganya, setidaknya, kali ini Gavin  ingin meraih kesempatannya dengan cara yang benar. Agar tidak ada penyesalan yang akan diratapinya di suatu saat nanti.


Gavin yang sudah bersiap akan pergi ke kampus, keluar dari kamarnya. Saat melewati ruang makan, tanpa sengaja dia melihat Kendra ada di sana sedang menunggu untuk sarapan.


Melihat wajah ayahnya yang masih terlihat murung itu, membuat Gavin mengurungkan niatnya yang tadi ingin sarapan di sana. Dia berencana untuk pergi mengendap-endap agar tidak perlu berhadapan dengan ayahnya tersebut.


"Kamu nggak sarapan dulu, Gavin?"


Gavin yang sudah melesat beberapa langkah dari dapur, menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Nia yang bertanya.


Pelan-pelan, dia berbalik dan melihat ibunya itu tengah menatap ke arahnya.


"Kamu mau ke kampus, kan? Sarapan dulu." Suruh Nia pada Gavin dengan nada suara yang datar.


Memang, sejak kejadian Gavin mengakui perbuatannya terhadap Kalya, hampir tidak ada kata ataupun sikap manis yang bisa Gavin dapatkan lagi dari keluarganya. Semua bersikap datar, seolah mereka enggan untuk sekadar berbicara dengan anak itu.


Sementara itu, Gavin yang sudah mendapat lirikan acuh tak acuh dari Kendra, mengusap tengkuknya halus.


"Engh... Nggak deh, Ma... Gavin sarapan di kampus aja. Soalnya ada urusan penting..." Elak Gavin halus.


Tapi, bukannya menerima alasan itu, Nia malah langsung membuatkan seporsi sarapan untuk Gavin di atas piring.


Kemudian, tanpa menoleh pada anak itu lagi, dia pun berkata, "Makan," sambil meletakkan piring tersebut di atas meja.


Merasa tidak punya pilihan lain, akhirnya Gavin pun menuruti perintah ibunya. Dia duduk di kursi makan yang posisinya berada tepat di sisi kiri Kendra, dengan Nia yang juga tepat berada di hadapannya.


Suasana sarapan langsung berubah menjadi canggung dan juga dingin. Hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang terdengar. Membuat Gavin teringat kalau sejak kejadian yang terjadi di rumah Keanu kemarin, baru inilah Gavin makan bersama dengan kedua orangtuanya lagi.


Atau, mungkin juga, ini adalah hari pertama Kendra muncul, setelah beberapa hari ini berusaha  untuk menghindari Gavin dan juga Nia.


Kini, keluarga mereka tampak seperti sekumpulan orang asing yang hanya makan di satu tempat yang sama. Padahal, sebelumnya, keluarga mereka terbilang keluarga yang cukup hangat. Ya, tentu saja sebelum  Gavin sadar kalau dia sudah jatuh cinta pada Kalya, dan membuat keadaan kacau karena keegoisannya.


"Rencananya, Gavin bakal cari kerja hari ini." Kata Gavin membuka omongan, mencari perhatian di sela kegiatannya menyantap makanan.


"Gavin mau ngumpulin uang buat melamar Kalya." Ucap lelaki itu, melirik Kendra yang tidak mengeluarkan reaksi apapun.


Tampak pria paruh baya itu seperti tidak mendengar ucapan anaknya dan malah melanjutkan sarapannya seolah tidak terganggu sedikit pun.


"Gavin mau kumpulin uang, biar bisa menghidupi Kalya dan--"


"Uang Papa lebih banyak dari kamu. Jadi, kamu nggak perlu repot-repot buat ngurusin dia." Sela Kendra tiba-tiba terdengar datar, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Gavin.


"Tapi, Gavin yang harus bertanggung jawab. Gavin--"


Plang!


Gavin menghentikan ucapannya, ketika Kendra meletakkan sendok makannya dengan kasar ke atas piring.


Terlihat pria itu menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan.


"Pernah nggak, sebelum bertindak itu, kamu mikir dulu?" tanya Kendra terdengar sedikit sinis, menatap Gavin dengan tajam.


"Pernah, nggak, kamu benar-benar berpikir sebelum melakukan sesuatu yang kamu inginkan? Atau… Pernah nggak, sekali aja kamu mikirin efek dari langkah yang kamu ambil? Hm? Pernah nggak?"


Tatapan Kendra semakin tajam, ketika melihat Gavin yang seperti kesulitan menjawab pertanyaannya.


"Kamu pikir, cari kerja itu gampang? Kamu pikir, cari kerja itu sama kayak cari masalah yang bisa kamu dapatin dengan mudah?" sengit Kendra menuding wajah Gavin yang terus menatapnya dalam diam.


"Kamu mau bertanggung jawab, kamu bilang?" dengus Kendra yang disertai kekehan penuh ejekan.


"Tahu apa kamu soal tanggung jawab, hah?! Kamu masih anak-anak.


"Gavin udah dewasa."


Brak!


"Kamu masih anak-anak!"


Kendra memukul meja makan yang ada di depannya dengan keras, hingga membuat Nia yang sejak tadi hanya mendengar perdebatan mereka, tersentak kaget.


"Kamu pikir, cuma karena kamu bisa menghasilkan seorang anak, kamu bisa dianggap dewasa?" sindir Kendra lagi-lagi tertawa penuh cemooh. "Jangan konyol kamu!"


Gavin sudah terlihat seperti hendak melawan ucapan Kendra, ketika Nia, lebih dulu menahan tangan Gavin yang berada di atas meja.


"Urus aja dulu kuliah kamu yang bener. Belum tentu juga kamu tamat kuliah jadi orang berguna untuk diri kamu sendiri. Konon lagi kamu mau menanggung Kalya?" Kendra berdecih sekali lagi, kemudian menatap Gavin dengan tajam.


"Kamu pikir, saya bakal izinin adik kesayangan saya itu menderita hidup sama kamu?" desis Kendra kemudian tersenyum sinis. "Jangan harap."


"Tapi, Gavin bakal tetap berusaha."


"Gavin!"


Gavin melirik sepintas pada Nia yang menggelengkan kepalanya mengisyaratkan Gavin untuk tidak melawan ucapan Kendra.


"Udah…" Bisik wanita itu dengan gerakan mulutnya nyaris tidak bersuara.


Tapi, memang dasar Gavin itu anak yang keras kepala, dia mengabaikan peringatan ibunya tersebut.


"Gavin bakal terus berusaha dan buktikan sama Papa kalau Gavin memang bisa jadi orang yang berguna. Gavin bukan anak kecil lagi. Gavin ini calon ayah. Gavin--"


"Cukup!"


Kendra yang perasaannya masih belum bisa menerima kenyataan kalau Gavin adalah ayah dari anak yang dikandung Kalya, menghempaskan serbet makannya ke atas meja.


Napasnya memburu dengan pandangan yang ialayangkan kepada Nia.


"Nia." Ujar pria itu tajam, hingga membuat istrinya, Nia menatap ketakutan.


"Kamu urus anak kamu yang satu ini. Kayaknya dia kebanyakan mengkhayal akhir-akhir ini." Kata Kendra lantas melirik Gavin yang terus menatapnya tanpa berkedip. "Atau… jangan-jangan dia udah mulai pakai obat-obatan makanya pikirannya mulai kacau."


"Mas…"


Kendra kembali mengalihkan perhatiannya kembali pada Nia yang kini memandangnya lemas. Dia tahu, sebagai orangtua tidak sepantasnya dia berbicara seperti itu mengenai anaknya. Tapi, yang menjadi masalah sekarang, semua kalimat yang keluar dari mulut Gavin selalu membuat Kendra merasa marah. Terlalu percaya diri, hingga membuat Kendra merasa sakit hati jika mengingatnya.


"Ah, udahlah! Aku muak lihatnya."


Kendra yang sudah bosan pun berdiri dari tempatnya,  hendak meninggalkan ruang makan, ketika Gavin kembali menghentikan gerak langkah kaki Kendra dengan kalimatnya.


"Pokoknya Gavin bakal buktikan sama Papa, kalau Gavin memang bisa diandalkan. Gavin bakal tunjukin kalau Gavin memang bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk Kalya dan anak kami. Sampai itu terjadi, Gavin pastiin juga Papa sendiri yang bakal nyerahin Kalya untuk Gavin nikahi." Ujar Gavin tegas, menyadari tangan Kendra yang sudah terkepal di sisi tubuh pria itu.


Beberapa detik tidak  bisa berbalik, Kendra pun akhirnya menoleh dengan gurat wajah tegang menahan amarah.


"Kamu…!"


"Gavin, bersumpah." Imbuh Gavin terakhir menekan kalimatnya, hingga membuat Kendra hanya bisa mendesahkan napasnya panjang.


Sambil menahan geram, Kendra menatap sinis pada anak simatawayangnya tersebut.


"Terserah."


 


***


 


Hari sudah larut malam, ketika Kalya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bahagia?"


Sebentar, sepertinya ada yang salah dengan kata yang terucap dari mulut Kalya barusan. Untuk orang seperti Kalya, dan atas apa yang sudah wanita itu alami hingga di titik ini, masihkah ada kata bahagia yang tersisa untuknya?


Pelan, Kalya pun menyentuh perutnya yang masih datar. Meski berawal dari kesalahan, Kalya tidak bisa menampik bahwa rasa bahagia telah menyelip di bagian sudut hatinya yang terdalam. Tentang janin yang akan menjadikannya seorang ibu, yang akan dibimbingnya serta dilindunginya untuk menjalani kehidupan. Walau Kalya sendiri pun tidak yakin, apakah dia bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk anaknya kelak atau tidak, tapi Kalya bersumpah akan melakukan semua hal terbaik yang bisa dia lakukan untuk anaknya. Termasuk menjadi seorang ayah sekalipun.


Tunggu! Tiba-tiba saja, sesuatu yang aneh melintas dalam pikiran Kalya.


"Seandainya… Seandainya aku--"


"Kalya!"


Gumaman Kalya yang seorang diri itu pun tiba-tiba terputus, ketika dia mendengar ada suara yang memanggil namanya dengan cukup keras.


"Gavin?"


Kening Kalya mengernyit kaget melihat Gavin yang ternyata sudah berada di depan jendela kamarnya. Buru-buru perempuan itu bangkit dari atas ranjang dan membuka jendela kaca tersebut.


"Gavin, kamu mau ngapain lagi ke sini, sih?" tanya Kalya sedikit kesal pada Gavin yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


Ternyata anak itu naik ke kamar Kalya dengan menggunakan tangga seperti halnya yang dia lakukan kemarin malam.


"Aku kemari mau lihat kamu." Jawab Gavin tersenyum senang.


"Iya, kamu nggak usah--"


"Dan juga dia," sambung Gavin menundukkan tubuhnya sedikit, lalu mencium perut Kalya hingga membuat wanita itu membeku.


"Hai," sapanya melambaikan tangan sekilas pada perut Kalya yang datar.


Setelah itu, dia menegakkan tubuhnya kembali, melihat Kalya yang memandangnya dengan sorot mata tidak terbaca.


"Kamu kok belum tidur? Nggak bisa tidur lagi, ya?" tanya Gavin mulai melepas jaket bahannya dan melemparkannya asal ke atas kursi rias di kamar Kalya.


"Emang kenapa kalo--eh! Kamu mau apa?!" Kalya langsung terpekik memukul tangan Gavin yang menariknya menuju ranjang tidur wanita itu.


"Kamu jangan macam-macam, ya! Atau aku bakal teriak!" ancam Kalya galak, melotot pada Gavin yang justru tersenyum melihatnya.


"Yang mau macam-macam siapa sih, Kal… Aku cuma mau nidurin kamu doang, kok. Aku--"


"Apa?!"


Lagi-lagi Kalya terpekik mendengar ucapan Gavin barusan yang menurutnya sangat frontal dan juga kurang ajar.


"Kamu--!"


"Ah, maksud aku bukan gitu! Bukan nidurin kamu yang kayak gitu… Bukan!"


Gavin yang mengerti arah tuduhan Kalya, langsung mengangkat kedua tangannya dan menggeleng keras.


"Maksud aku, nidu--ehm, maksudnya, mau bantu tidurkan kamu. Kayak kemaren… Kayaknya kamu lelap banget deh, waktu aku peluk." Jelas Gavin setengah terbata, melihat Kalya yang masih memandang sangar kepadanya.


"Nggak usah!"


"Yakin? Ini udah malam loh, Kal…" Ucap Gavin mencoba membujuk wanita itu.


"Yakin!" balas Kalya tegas. "Lagian, kemarin itu aku kebetulan lagi capek aja, makanya ketiduran pas kamu peluk. Bukan karena aku butuh kamu peluk biar bisa tidur. Jadi, nggak usah kegeeran, dan pulang sana ke rumah kamu!" usir Kalya kasar pada Gavin yang hanya diam memandangnya.


"Kal…"


Gavin mendekat. Sepertinya hendak memeluk Kalya lagi, ketika wanita itu sudah bersiap, dengan mundur beberapa langkah.


"Kamu jangan macam-macam! Orang di rumah ini udah tahu, kalo kemarin itu kamu datang ke kamar ini." Peringatkan Kalya pada Gavin yang tampak terkejut mendengarnya.


"Hah? Maksudnya…"


"Mas Keanu, Ricky, Ricko, Ricka sama Mbak Rara tahu kalo tadi malam kamu kemari. Jadi, mending kamu cepat keluar dari sini sekarang!"


"Tapi,"


"Please… Aku mohon sama kamu jangan keras kepala…" Pinta Kalya kali ini memelas pada Gavin, hingga membuat lelaki itu terdiam di tempatnya.


"Mau sampai kapan kamu sadar kalo perbuatan kamu itu udah membuat luka yang dalam bagi keluarga ini? Aku mohon pengertian kamu, untuk kasih sedikit aja ruang bagi mereka buat bernapas, Gavin… Jangan paksakan kehendak kamu untuk--"


"Aku ngelakuin ini bukan untuk keegoisan aku, Kal… Tapi untuk anak aku." Jawab Gavin menyela, terdengar lebih serius dari biasanya.


"Aku udah berpikir semalaman. Dan menyesali apa yang udah aku perbuat sama kamu." Sambung Gavin, menatap kedua mata Kalya lekat.


"Andai aku tahu kalo perbuatan aku ini bisa buat kamu dan semua keluarga kita terluka, aku nggak bakal ngelakuin hal bodoh itu sama kamu, Kal…" Ucap Gavin, dengan raut wajah yang lelah.


"Mungkin aku lebih biarin diri aku masuk ke rumah sakit jiwa karena kehilangan kamu, ketimbang ngelihat kalian semua menderita. Aku mungkin bakal menjamin diriku buat nggak akan bunuh diri, biar terus bisa ngelihat kamu. Tapi…"


Mata Gavin tiba-tiba saja terlihat merah, dan ada genangan airnya di sana.


"Gimana sama anak itu? Anak aku… Gimana dengan nasib dia?" tanya Gavin sedih, menatap kedua mata Kalya secara bergantian.


"Aku mungkin bisa aja biarin kamu menikah sama laki-laki lain dan biarkan anak kita menganggap orang yang menikahi kamu sebagai ayahnya. Tapi, aku…" Gavin menelan ludahnya susah payah, ketika setetes air matanya jatuh di hadapan Kalya.


"Aku nggak mungkin bisa melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, Kal... Terlebih itu sama anak aku sendiri. Darah dagingku sendiri. Aku mau merawat dia dengan tanganku. Aku mau buat dia ngerasain gimana rasanya digendong sama ayahnya. Dan aku juga pengen nafkahi dia sama uang yang aku cari. Aku…" Untuk sejenak, Gavin menahan napasnya sebelum ia memegang kedua bahu Kalya sedikit erat.


"Kamu tahu gimana rasanya hidup sama orang yang kita anggap sebagai keluarga? Nggak usah aku jelasin pun kamu pasti lebih tahu gimana perasaan anak kita nanti, waktu tahu ayahnya saat itu bukanlah ayah kandungnya. Melainkan orang lain, atau lebih buruknya lagi adalah pamannya sendiri." Ujar Gavin menatap wajah Kalya yang ini ikut memerah.


"Kamu bisa bayangin gimana perasaannya?" tekan Gavin pada Kalya, yang kini membuat tubuh wanita itu bergetar.


"Aku mau dia dirawat oleh kedua orangtunya sendiri, Kal… Aku pengen dia ngerasain itu…" Pinta Gavin pada Kalya dengan memelas, hingga wania itu terlihat sesak napas.


Benar kata Gavin. Sebaik-baiknya orang lain yang merawat, pastilah orangtua sendiri yang paling bisa diharapkan. Meski Kalya tidak bisa merasakan bagaimana rasanya hidup dengan keluarga kandung, tapi Kalya ingin anaknya kelak bergantung kepadanya dan juga Gavin.


"T-tapi…" Bibir Kalya tampak kesulitan saat hendak mengeluarkan kata-katanya.


"Ta-tapi… Mbak Nia… Dia…" Kalya mengigit bibir bawahnya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia malah menangis, menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan. Dia takut dikira egois. Tapi, akan lebih egois jika dia mengabaikan hak kelahiran anaknya kelak.


"Kal…"


Gavin yang tahu perasaan Kalya, pelan-pelan memeluk tubuh wanita itu kembali. Sungguh, ini bukanlah hal menyenangkan yang bisa Gavin lihat dari air mata seorang Kalya. Melihat wanita yang dicintainya terus menagis karena ulahnya, sama halnya membiarkan hatinya digerus oleh tanah yang kasar.


"Kal… Kalo kamu kayak gini terus, aku juga nggak punya jalan lain selain menghormati keputusan kamu, Kal… Aku--"


"Kamu mau mundur?" tanya Kalya tiba-tiba, menjauhkan wajahnya dari dada Gavin, dan menatap pria itu dengan tajam.


"Aku nggak mau kamu--"


"Kamu mau mundur?" tanya Kalya lagi, kali ini terdengar menekan Gavin untuk menjawab.


Gavin yang merasa kehabisan kata-kata pelan-pelan, menganggukkan kepalanya lemah.


"Kamu mundur, meskipun aku bilang mau menikah sama kamu?" tanya Kalya lirih, membuat Gavin mengerjapkan kedua matanya tidak mengerti.


"Apa?" tanya pria itu memastikan, menyentuh kedua bahu Kalya sedikit kuat.


"Kalya, kamu bilang--"


"Mungkin aku belum, dan akan sulit untuk mencintai kamu, Gavin. Tapi, demi anak kita…" Kalya menundukkan kepalanya sejenak, dan menarik napasnya dalam-dalam.


"Ayo, kita lakuin."


 


Bersambung