Be My Brides

Be My Brides
Episode 50



Malam itu, hujan sangat deras. Perut Sarah yang saat itu terlihat begitu besar, mulai terasa sedikit kram. Langkah kakinya yang terseret karena tubuhnya yang kedinginan, hingga Sarah hampir terjungkal beberapa kali.


Kepala Sarah mulai terasa sakit, serta arah pandangnya yang kian mengabur, membuat Sarah bingung akan melangkahkan kakinya ke mana. Sementara, rumah ataupun tempat tinggal, dia tidak punya. 


Tadi siang, dia diusir oleh paman dan bibinya dari tempat yang selama ini dia tempati. Berdalih kalau kini Sarah yang sudah tidak berguna lagi buat mereka, maka, dengar terpaksa --katanya-- mereka mengusir wanita hamil itu dari rumah.


Sarah tidak hamil di luar nikah. Sarah itu adalah istri sah dari seorang laki-laki yang dia temui saat masih bekerja di Malaysia. Seorang pria baik, kaya, dan juga tampan menurut Sarah sebagai seorang wanita biasa.


Paman dan bibi Sarah, awalnya setuju dan senang mendengar kabar berita yang Sarah kirimkan pada mereka. Karena Sarah yang memang sudah tidak memiliki orang tua lagi sering mengirimkan uang untuk membantu perekonomian paman dan bibinya di kampung. Membuat saudara dari ibu Sarah itu menjadi ketergantungan kepada Sarah dan selalu berharap diberi uang olehnya.


Tapi, meski begitu, Sarah tidak keberatan. Baginya, paman dan bibinya adalah orang yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri, karena sudah mau menampung dan merawat Sarah saat kedua orang tuanya meninggal. 


Sarah sayang pada dua orang itu, walau pada akhirnya, mereka menyadarkan Sarah kalau tidak ada yang gratis di dunia ini.


Beberapa bulan menikah, pernikahan Sarah pun mengalami beberapa masalah. Kedua orang tua suaminya, ternyata tidak menyetujui anak mereka menikahi wanita biasa seperti Sarah. Kenapa lagi, kalau bukan karena harta dan kasta? 


Sarah yang saat itu bukanlah dari keluarga kaya, terpaksa diasingkan dari keluarga suaminya sendiri, dan tidak dianggap sama sekali oleh mereka.


Tapi, kendati demikian, hidup Sarah tidak tersiksa seperti yang biasa terjadi di kehidupan pelik harta kebanyakan. Suami Sarah justru sangat menyayanginya, dan berusaha untuk melindungi Sarah dan anak yang tengah dikandung oleh wanita itu dengan sekuat tenaga. Tidak ada satu orang pun yang dia izinkan untuk mendekati Sarah tanpa ada suatu alasan yang jelas. Sampai pada akhirnya, orang-orang jahat itu pun menemukan titik yang bisa menekan suami Sarah untuk pergi meninggalkan Sarah.


"Kembalilah ke Indonesia. Bersembunyilah di sana. Aku akan cari cara untuk bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada yang terluka." Ucap Malik, suami Sarah, waktu itu.


Dengan memberikan segepok uang dan beberapa perlengkapan untuk Sarah, pria itu pun mengecup kening Sarah untuk terakhir kalinya.


"Jaga anak kita baik-baik. Aku pasti, akan menemui kalian kembali."


Kemudian, Sarah yang memang dalam masa pelarian karena keluarga Malik yang ingin melukainya, langsung pulang ke Indonesia. Tepatnya, ke rumah paman dan bibinya, untuk berlindung di sana.


Berbekal uang yang diberikan oleh Malik kepadanya, Sarah berhasil membuat paman dan bibinya mau menerima Sarah di rumah mereka.


Sarah yang saat itu sedang mengandung empat bulan, berusaha untuk merawat anaknya sebaik mungkin. Meski setiap hari dia selalu merasa was-was karena suaminya yang tengah memperjuangkan haknya yang ada di sana untuk mereka, Sarah tetap berusaha menjaga pikirannya untuk tetap dalam keadaan baik.


Namun, tiga bulan seolah tidak dapat kabar, paman dan bibi Sarah pun mulai mengusik kehidupan persembunyian Sarah yang memang sedang rawan. Mereka mempertanyakan apa yang membuat suami Sarah tak kunjung datang dan menemui mereka sampai saat itu. Apakah Sarah telah dibuang? Atau memang Sarah telah membuat sesuatu kesalahan hingga tidak bisa lagi kembali ke sana? Mereka tidak tahu.


Merasa Sarah sudah tidak berguna lagi untuk mereka, paman dan bibi Sarah pun akhirnya bertindak kejam. Mereka mengusir Sarah, dan membiarkan wanita itu menjadi gelandangan tanpa sepeser uang pun di tangannya. Sementara mereka tahu, kalau sebentar lagi, anak yang ada di dalam kandungan Sarah akan lahir.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa perutku sakit sekali?" rintih Sarah memegang perutnya yang terasa sakit saat itu, hingga terduduk di tepi jalan.


Suasana malam yang kian larut serta hujan yang kian deras, membuat perasaan Sarah kian bercampur aduk. Dia berdoa dalam hati, untuk keselamatan dirinya dan juga anaknya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada bayi yang diakandung. Tidak apa, jika dia menderita. Asal anaknya, tidak kena imbas seperti yang saat ini Sarah rasakan.


Di tengah rasa pasrah yang kian menutupi hatinya, seberkas cahaya dari ujung jalan, mendekat ke arah Sarah. Sepasang lampu mobil yang terlihat begitu menyilaukan, berhenti, tidak begitu jauh dari kondisi Sarah duduk saat itu.


"Astaga, Pa…! Perempuan hamil!" seru sebuah suara lembut bernada panik, yang keluar dari salah satu pintu kendaraan tersebut.


Disusul oleh suara lain, yang langsung berjalan mendekat ke arahnya.


"Ya ampun… Ma…!" pekik suara itu, lantas meminta seseorang lainya untuk mendekat ke arah mereka.


"Tolong angkat dia, kita bawa ke rumah sakit."


Sarah sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi padanya saat itu. Yang jelas, kesadarannya kian menipis, ketika dirasanya tangan kokoh orang yang menemukannya itu sudah mengangkatnya dan membawanya entah kemana.


Beberapa hari tidak sadarkan diri, akhirnya Sarah tahu, kalau dirinya sudah diselamatkan oleh sepasang suami istri yang tidak dikenalnya. Mereka baik, karena telah merawat Sarah dan menampung wanita itu untuk tinggal di rumah mereka, tanpa balasan apa pun. 


Berkat bantuan mereka juga, Sarah pun bisa mengetahui kabar suaminya yang saat itu tengah berada di Malaysia.


Keadaan yang kian terasa kacau, karena posisi suaminya yang harus hidup terlunta-lunta karena dibuang oleh keluarganya, membuat hati Sarah menjadi tidak tega. Dia ingin membantu kehidupan suaminya. Dia ingin mendampingi pria itu dengan berada di sisinya. 


Namun, dia bingung. Tidak mungkin, dia membawa anak yang ada di kandungannya itu untuk pergi. Dia tidak tega, jika harus menyeret anak yang tidak berdosa itu ke dalam lembah derita yang sedang dialaminya. Bagaimana jika kehidupan mereka di sana semakin memburuk,  sedangkan saat itu Sarah sendiri pun tidak bisa menjamin kalau kehidupannya bersama Sang Suami akan baik-baik saja? 


"Pergilah, kalau kamu memang mau menemani suamimu. Soal anak yang ada di perutmu, biar kami yang merawatnya." Tawar Citra, orang yang menyelamatkan dan merawat Sarah selama hampir satu bulan ini di rumahnya.


"Tapi--"


"Kami akan merawatnya seperti anak kami sendiri. Kami sudah bertanya, pada Kendra dan juga Keanu. Dan sepertinya, mereka sangat setuju." Lanjut Citra, tersenyum dan mengusap rambut Sarah pelan.


"Sudah sangat lama, aku menginginkan seorang bayi perempuan. Jangan takut, karena dia akan menjadi seorang putri di keluarga ini." Ujar Citra lagi, dimana dia segera mendapat timpalan dukungan dari suaminya, Kenan.


"Pergilah. Suamimu pasti sangat membutuhkanmu di sana."


***


Kembali ke masa kini, mangkuk yang sejak tadi menggantung di kedua tangan Sarah, hampir saja terjatuh, andai Gavin tidak segera mengambilnya.


"Bu Sarah!" pekik Kalya kaget, melihat wanita itu yang terpaku tidak bergerak sama sekali, memandang dalam ke arah Kendra.


Sementara itu, Kendra yang mendengar Kalya menyebut nama Sarah, menoleh pada wanita itu sebentar, sebelum akhirnya kembali fokus kepada yang bersangkutan.


"Benar… Anda ini…"


Kendra belum selesai bicara, ketika Sarah sudah lebih dulu berpaling dan berjalan cepat menuruni tangga kediaman Gavin.


Dia berjalan seperti hendak berlari, menyisakan Kendra dan keluarganya yang saling menatap satu sama lain.


Sarah sudah tidak peduli, saat dia mendengar suara Kalya memanggilnya keras, beberapa kali dari arah belakang. Dia takut, kalau Kendra benar-benar sangat mengenalinya, dan mengatakan semuanya kepada Kalya.


"Mama? Mama kenapa?"


Sarah yang panik, langsung masuk ke dalam rumahnya, dan membanting pintu rumah tersebut dengan kertas. Mengagetkan Kaisar yang tadinya sedang menonton TV di ruang depan, hingga terlonjak di tempatnya.


"Ma…!"


Kaisar yang heran dengan Sarah yang tiba-tiba saja terlihat pucat, mendekati wanita itu dan mengusap wajah ibunya pelan.


"Mama…"


"Kai…" Panggil Sarah segera, dengan mimik wajah yang sarat akan kecemasan.


"Sepertinya… Sebentar lagi, Kalya bakal tahu, kalau Mama ini ibunya." Ucap Sarah bergetar.


"Maksud Mama apa? Mama--"


"Kendra." Sela Sarah dengan wajah memerah, menatap mata Kaisar dalam. "Ayahnya Gavin… Ada di rumah itu."


"Apa?!"


Sarah yang merasa kalut pun, memeluk Kaisar yang terpaku. Bagaimana ini? Bagaimana jika sampai Kalya tahu, kalau Kaisar dan Sarah adalah keluarga kandung Kalya? Apa yang akan dilakukan wanita itu pada mereka? Apa dia tidak akan mau bertemu dengan mereka lagi?


Tok! Tok! Tok!


Di tengah kegalauan yang saat ini tengah melanda hati ibu dan anak tersebut, tiba-tiba saja pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang.


Sambil melihat satu sama lain, Sarah dan Kaisar pun bergumam.


"Siapa?"


Tanpa menjawab pertanyaan bernada khawatir yang keluar dari mulut ibunya, Kaisar segera melepaskan pelukan Sarah dan berjalan ke arah pintu.


Sementara itu, Sarah yang mengira kalau mungkin saja orang yang datang itu adalah Kendra, berdiri tidak jauh di belakang Kaisar dan meremas tangannya satu sama lain dengan resah.


Dengan menarik napas panjang, Kaisar pun meraih kenop dan membuka pintu tersebut dengan perlahan.


"Sia…"


Melihat siapa yang ada di depannya saat ini, tak ubahnya membuat Kaisar mendelikkan mata.


"Pa--"


"Papa kira, akan susah mencari rumah ini. Tapi, rupanya… mudah juga, ya?"


Kaisar dan Sarah yang tidak menyangka dengan kehadiran Malik di rumah mereka, langsung melebarkan kedua mata mereka.


"Hai, Kai? Betah juga kamu di sini?"


Kaisar dan Sarah yang tampaknya begitu senang dengan kehadiran kepala keluarga mereka, segera mendekat dan mendekap pria paruh baya itu dengan erat.


"Papa," ujar keduanya serempak, membuat Malik tertawa.


"Hahaha, apa kabar kalian, anak dan istriku?"


***


Kalya duduk resah di atas ranjang tidurnya, dengan pikiran yang melalang buana entah ke mana. 


Sejak tadi, sejak Bu Sarah pergi begitu saja meninggalkan rumahnya dan juga Gavin, pikirannya menjadi tidak menentu. Dia kepikiran soal apa yang terjadi, hingga Bu Sarah pergi begitu saja dari rumahnya. 


Berdasarkan pengamatan Kalya yang menggunakan otak minimnya, wanita itu percaya, kalau ada sesuatu yang aneh, yang tengah terjadi antara Kendra dan juga Bu Sarah. Kalau tidak, kenapa juga wajah Bu Sarah bisa terlihat begitu tegang seperti tadi?


"Kal, kamu lagi ngapain?"


Gavin yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka --setelah mencuci piring bekas makan mereka di dapur tadi--, bertanya dengan alis berkerut melihat Kalya.


Pria itu mendekati dan duduk di sebelah Kalya yang tampak kaget melihat kehadirannya.


"Gavin,"


Gavin yang sudah duduk di samping Kalya, menyentuh pundak wanita itu dan merapatkan bahu mereka.


"Kamu kelihatan cemas. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Gavin lembut, pada Kalya yang terlihat masih cemas hingga saat ini.


"Hm, itu…"


Kalya yang tampak kebingungan, melemparkan pandangannya ke arah lain.


"Kenapa? Kalau ada masalah, cerita. Bukannya kita udah sepakat buat saling terbuka?" bujuk Gavin, pada Kalya yang tampaknya mulai berpikir.


"Itu…" Kalya terdiam sejenak. Pikirnya, apakah wajar jika dia sedang memikirkan soal Bu Sarah barusan?


"Apa?"


Akhirnya, setelah menarik napas panjang, Kalya pun membuka suaranya.


"Soal Bu Sarah tadi,"


"Oh… Itu... Aku udah duga…" Desah Gavin, melepaskan pegangannya di bahu Kalya dan menarik napas panjangnya juga.


"Tadi, aku juga cukup kaget, kenapa Bu Sarah bisa kelihatan panik gitu, pas ketemu sama Papa dan Mama. Cuma, karena Papa bilang Bu Sarah itu salah satu kenalan lama Papa, jadi, aku nggak kepikiran lagi, deh."


"Hah? Kenalan lama Papa?" beo Kalya, mengerutkan alisnya, menatap lekat wajah Gavin.


"Kenalan gimana? Kok, aku nggak pernah ketemu?" tanya Kalya heran, yang mengingat kembali, kalau sebelum ini, dia memang belum pernah bertemu dengan Bu Sarah di luar sana.


"Lah, emang, kalau setiap kenalan Papa, wajib pernah ketemu kamu, gitu?" tanya Gavin memandang Kalya miring, melihat wanitanya itu mengerjap.


"Ya… Enggak, sih… Cuma, aku kok, ngerasa aneh aja, ya, sama Bu Sarah? Kayak… pernah kenal gitu,"


"Ya, mungkin kamu emang pernah kenal kali. Maksudnya, ketemu sekilas, abis tuh, udah… Nggak ketemu lagi sampai sekarang." Ujar Gavin memberikan pendapat, yang entah kenapa, tidak sampai mengena di hati Kalya.


"Masa, sih?" gumam wanita itu setengah merasa gamang.


Meski tidak mengetahuinya secara pasti, Kalya merasa kalau apa yang dirasakannya ini sedikit berbeda. 


Jika memang apa yang dikatakan Gavin itu ada benarnya, tidak mungkin Kalya bisa merasakan hal seperti ini begitu lekat. Maksudnya, jika memang dia pernah bertemu sekali dengan Bu Sarah, kenapa dia merasa pernah bersama dengan wanita itu dalam waktu yang cukup lama? Bahkan Kalya juga terkadang bisa merasa sakit di hatinya jika melihat wajah Bu Sarah terlihat murung di dekatnya.


"Masa sih, aku nggak kenal?"


Bersambung