
Gavin memacu kendaraannya dengan kecepatan yang cukup lambat. Pikirannya sedang kacau, mengingat apa yang dia dengar saat sedang bertandang ke perusahaan ayahnya siang tadi.
"Maksud Mas, Mbak Sarah itu… Sarah Angraini? Orang yang melahirkan Kalya 28 tahun yang lalu?"
"Dia tinggal di komplek yang sama dengan Kalya."
"Bu Sarah… Yang tinggal di komplek Kalya?"
Gavin yang sejak tadi tidak habis pikir dengan kalimat itu, lagi-lagi mendengus tidak percaya.
"Kalau pun Mas harus kasih tahu dia, Mas bingung harus mulai dari mana. Mas nggak mau bikin dia stress atau pun sedih. Mas nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kandungannya. Mas nggak tega…"
Kepala Gavin hampir terasa penuh dan pecah, saat tiba-tiba saja motor yang dia kendarai --yang baru belok ke dalam komplek perumahan tempat dia tinggal--, dicegat oleh seseorang.
Gavin yang terkejut, seketika saja menginjak rem kaki dan tangan di motornya, hingga tubuhnya sedikit terpental ke arah depan.
"Apaan, sih?! Lo--"
Gavin yang belum jelas melihat orang yang menghalanginya, kembali kaget, saat orang itu tiba-tiba saja berputar naik ke atas motor Gavin dan duduk di belakang pria itu.
"Kai! Lo--"
"Jalan."
"Heh! Lo--"
"Jalan!"
Gavin yang sebenarnya merasa heran dengan tingkah laku Kaisar yang tiba-tiba memerintah ya seenak jidat, mau tidak mau menuruti keinginan cowok tersebut. Dia memutarkan kendaraannya dan memaju lambat motornya kembali keluar komplek hendak membawa anak itu tanpa tujuan.
"Taman aja," perintah Kaisar seenaknya, pada Gavin yang hanya mendengus mendengarnya.
Malas berdebat, Gavin pun segera mengarahkan kendaraannya ke taman yang tidak jauh dari komplek perumahan tempat mereka tinggal. Kebetulan, dia juga sedang tidak enak hati saat ini. Jadi, ya menenangkan diri sejenak di taman, sepertinya bagus.
Lagipula, dia sedang bersama Kaisar sekarang. Anak dari Bu Sarah, yang kemungkinan besar diduga Gavin sebagai Mbak Sarah yang tadi dibicarakan oleh ayah dan pamannya.
Setelah memarkirkan motornya, Gavin pun langsung duduk di salah satu kursi besi yang ada di sana. Dia bersandar, dan menarik napas panjang, seraya melirik Kaisar yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara di antara mereka. Keduanya saling diam, sibuk memikirkan perasaan masing-masing.
Gavin sibuk menata perasaannya karena ragu dengan apa yang didengarnya siang tadi, sedangkan Kaisar, tampak sibuk mengatakan apa yang hendak disampaikan kepada Gavin.
"Kai,"
"Bang,"
Kaisar dan Gavin pun sama-sama menoleh. Keduanya saling menatap bingung satu sama lain, ketika panggilan itu mereka lontarkan.
"Gue duluan."
"Saya besok pulang." Kata Kaisar, menyerobot ucapan Gavin, yang katanya ingin berbicara lebih dulu.
"Terus?"
"Saya mau, Bang Gavin jaga Kak Kalya baik-baik." Ucap Kaisar mantap, tidak peduli, andai kata Gavin marah saat mendengar ucapannya.
"Saya mau meninggalkan negara ini dengan tenang. Saya mau, saat saya pergi,--"
"Lo ada hubungan apa sama Kalya?" serang Gavin langsung, pada Kaisar yang tampak kaget mendengarnya.
"Hah?"
"Lo… ada hubungan apa sama istri gue? Apa lo--"
"Saya nggak punya hubungan apa pun sama Kak Kalya! Tolong jangan salah paham! Saya--"
"Bukan itu maksud gue." Timpal Gavin segera, kali ini membuat Kaisar terdiam mendengarnya.
"Lo…" Gavin yang sepertinya mulai yakin ingin membahas soal ini dengan Kaisar, sedikit mendekat dan menyentuh pundak cowok itu sekali.
"Paham soal hubungan yang gue maksud barusan." Tekan Gavin pada Kaisar, yang kali ini membuat cowok itu gugup dengan gerakan bola matanya yang resah.
Beberapa saat, Kaisar tampak membuang pandangannya ke arah lain, berusaha untuk tidak terlihat gugup di depan Gavin. Meski kenyataannya, apa yang dia perbuat barusan malah menambah kecurigaan Gavin yang terus menatapnya lekat, tanpa berpaling sedikit pun.
"Bang, kok Bang Gavin terus--"
"Lo belum jawab pertanyaan gue." Sela Gavin tegas, membuat Kaisar tampak semakin gelisah di tempatnya. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Gue nggak suka."
Seketika, Kaisar pun terdiam. Diremasnya tangannya satu sama lain, dengan pandangan yang menyasar entah kemana. Dia tampak tengah memikirkan sesuatu yang serius, dari kerutan serta tarikan napasnya di sebelah Gavin.
"Saya nggak tahu harus ngomong dari mana. Rasanya, saya nggak punya hak sama sekali, untuk menceritakan masalah ini. Terlebih soal--"
"Kalya yang ternyata benar adalah Kakak lo sendiri?" potong Gavin, menatap tajam Kaisar, yang benar-benar terkejut mendengarnya.
"Bang Gavin!"
Kaisar yang tidak percaya kalau Gavin bisa berbicara demikian, menegakkan tubuhnya yang tadi terlihat lesu, dan menatap ngeri pada laki-laki yang merupakan saudara iparnya tersebut.
Sementara itu, Gavin yang tidak menyangka kalau tembakannya pada Kaisar itu adalah benar --dari reaksi yang diberikan oleh cowok remaja tersebut-- hanya bisa mendengus beberapa kali.
Tangannya yang gemetar, dia tautkan untuk menyembunyikan keterkejutan ya atas apa yang dia ketahui saat ini.
"Kalya adalah anak kandung Ibu Sarah."
Gavin yang sebenarnya masih tidak percaya, termenung sesaat dengan pikiran yang melayang entah kemana.
"Lo… Satu ibu, atau--"
"Kami satu ibu dan satu ayah dengan Kak Kalya." Jawab Kaisar cepat, pada pertanyaan Gavin yang terkesan menggantung.
Sementara itu, Gavin yang mendapat jawaban demikian, terlihat semakin kaget dan terdiam di tempatnya.
"Gimana bisa?" gumam pria itu gampang, semakin mengeratkan tautan jemarinya, melihat tanah yang ada di depannya datar.
"Gimana bisa… Lo itu satu ibu dan satu ayah sama Kalya? Sementara--"
"Kak Kalya nggak pernah dibuang sama sekali. Sejak dulu, Mama meninggalkan Kak Kalya karena ingin menjamin kehidupan Kak Kalya untuk lebih baik lagi. Dia--"
"Dia ditinggal oleh orang tuanya…" Sela Gavin lagi, lebih tajam dari yang tadi, menatap sengit Kaisar yang terdiam mendengarnya.
"Perlu lo catat, kalau nggak ada yang baik-baik aja, saat seorang bayi yang baru aja dilahirkan, langsung ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Demi apapun itu… Dia berhak tahu, kalau--"
"Bang Gavin nggak tahu cerita apa pun. Jadi, berhenti menyelak dan dengarkan penjelasan saya." Potong Kaisar, yang kali ini punya giliran untuk menyela ucapan Gavin.
Sambil menatap pria itu serius, Kaisar pun mulai membuka mulutnya kembali.
"Saya nggak punya hak sama sekali untuk melangkahi kedua orang tua saya untuk menjelaskan semua masalah ini. Dan kalau pun Bang Gavin ingin penjelasan yang lebih rinci, saya bisa kok, mengantarkan Bang Kalya untuk ketemu sama orang tua kami. Itupun, kalau--"
"Kenapa gue harus mendengar penjelasan dari mereka? Apa mereka bisa dipercaya? Setelah bertahun-tahun meninggalkan Kalya begitu aja sama keluarga lain, apa mereka masih punya hak untuk menjelaskan masalah ini dan bertemu dengan Kalya? Apa lo pikir itu nggak keterlaluan namanya? Apa lo anggap itu bukan sesuatu yang egois? Hm?" tantang Gavin tajam, kali ini membuat wajah Kaisar memerah dengan bibir yang terkatup rapat.
Sungguh, Kaisar baru sadar, kalau ada sisi dimana Gavin bisa benar-benar menyebalkan seperti ini.
"Itu--"
"Saya tahu itu egois dan juga bodoh. Tapi, sebagai seorang yang nggak mengetahui ceritanya lebih detail, kamu cukup terbilang sok pintar."
Kaisar yang tadinya seperti kebingungan ingin menghajar Gavin seperti apa, sontak mengalihkan perhatiannya dari Gavin, kala suara berat yang sudah sangat didengarnya tiba-tiba saja datang menghampiri.
Tidak hanya dirinya, Gavin pun yang sejak tadi menatap Kaisar lekat dengan tatapan tajamnya juga mengalihkan pandangan, menuju seseorang di sebelah kirinya.
"Papa," ucap Kaisar setengah kaget, pada pria paruh baya tersebut, memancing perhatian GVin untuk lebih lekat lagi menatap orang yang ada di depannya.
"Papa?" ulang Gavin serius, menatap Malik yang kini tengah terenyum kepadanya.
Sambil meletakkan sebelah tangannya di bahu Gavin, orang yang merupakan ayah Kaisar dan kemungkinan besar juga ayah Kalya itu pun berkata. "Ayo, kita bicara di rumah."
***
"Jadi… Apa yang mau Bapak dan Ibu bilang sama saya?" tanya Gavin mantap, menatap lekat wajah dua orang yang saat ini duduk di hadapannya.
Sambil memasang tampang datar, guna menutupi isi hatinya, Gavin melihat satu per satu perubahan mimik wajah yang terjadi antara Bu Sarah dan suaminya. Pak Malik.
"Saya rasa… Sebelumnya, kamu pasti udah tahu, dari Kendra tentang siapa saya ini. Mengingat kemarin…" Bu Sarah menghentikan ucapannya sejenak, untuk menarik napasnya cukup panjang.
"Kalya… Dia anak saya." Ucap Bu Sarah pelan, namun dengan suara yang cukup bergetar.
"Dia anak yang telah saya lahirkan dua puluh delapan tahun yang lalu. Anak yang lahir pada pukul 8 malam dan suasana hujan yang begitu deras di luar. Saya masih begitu ingat suasana rumah sakit waktu itu. Betapa merdu suara tangisan Kalya yang saat itu harus saya tinggal pada Kakek dan Nenek kamu."
Setetes air mata Bu Sarah meluncur bebas. Membuatnya sedikit geragapan, dan mengusap pipinya yang basah.
"Waktu itu, saya nggak berani melihatnya. Begitu lahir, Pak Kenan sudah mengambil Kalya dari saya. Itu bukan salah beliau, karena memang saya yang meminta. Saya nggak sanggup dan takut berubah pikiran, andai saya menyentuh tubuh kecil Kalya saat itu. Saya takut goyah, dan tidak ingin menyerahkan dia kepada siapapun. Saya nggak mau bodoh, dengan…"
Tiba-tiba, Bu Sarah tersedak dengan tangisannya. Membuat Malik yang sejak tadi duduk di sebelah wanita itu langsung merapat dan memeluk tubuh istrinya yang bergetar.
Sementara itu, melihat ibunya yang seperti menahan sakit, membuat Kaisar langsung bergerak menuju dapur dan mengambil segelas air.
"Ini, Ma… Minum dulu," ujar Kaisar, memberikan air yang ia bawa kepada Bu Sarah.
Dan dengan napas yang sedikit tersengal, Bu Sarah menegak air mineral tersebut hingga setengahnya.
Sedangkan, di sisi lain, Gavin yang mendengar cerita tersebut pun hanya mampu terdiam di tempatnya. Bohong, jika dia bilang dia tidak merasa aneh dengan cerita yang didengarnya tersebut. Entah kenapa, dia merasa ada kesungguhan dalam nada suara Bu Sarah saat menceritakan hal tersebut.
"Nak Gavin…"
Gavin yang tadinya terpaku dengan pikirannya sendiri, menoleh dan menatap Bu Sarah yang tengah tersenyum miris kepadanya.
"Maaf, karena Ibu udah lancang dengan datang dan mencoba untuk mendekati Kalya lagi." Ucap Bu Sarah serak, lalu menyentuh tangan Pak Malik yang tengah berada di atas bahunya.
"Kami tahu, kalau mungkin kamu dan keluarga kamu pasti marah karena kedatangan kami ke sini. Tapi, kami ini adalah keluarga kandung Kalya. Kami ingin melihat dia, meski dia tidak mengenali kami. Kami--"
"Keluarga Kalya? Maksudnya?"
Sebuah suara yang sedikit asing, masuk ke dalam rumah dan menginterupsi pembicaraan Gavin dengan keluarga Bu Sarah.
Saat semuanya menoleh, raut wajah kaget terlihat jelas di wajah setiap orang yang saat ini tengah menatap ngeri ke arah pintu rumah Bu Sarah yang memang sedang terbuka lebar sejak tadi.
Di sana, di depan pintu masuk tersebut, ada Kalya dan juga Ricka tengah memandang ke arah mereka.
Sambil mengerutkan alisnya dalam khas orang kebingungan, Ricka menyenggol lengan Kalya sedikit.
"Tante tahu maksudnya?"
Bersambung