Be My Brides

Be My Brides
Episode 13



Rara duduk di tepi ranjangnya dengan perasaan yang gelisah. Tangannya saling *** satu sama lain, mengingat apa yang baru saja putrinya katakan kepadanya.


"Ma, kayaknya ada sesuatu deh, sama Tante Kal. Sesuatu yang aneh…, di bagian perut."


Rara memejamkan matanya rapat dan menarik napas panjang. Demi Tuhan, dia tidak ingin sesuatu yang menjadi dugaannya selama ini benar terjadi kepada Kalya. 


"Aneh? Aneh gimana? Maksud kamu apa? Kalo ngomong yang jelas, Richa!"


"Itu… kalo nggak salah, waktu aku sempat periksa Tante Kal tadi, aku…"


"Kamu kenapa?" 


Rara yang merasa kaget bahunya ditepuk, langsung membuka mata dan melihat Keanu sedang menatap heran ke arahnya. 


"Mas…" Rara tersenyum kikuk, kemudian agak menggeser posisinya untuk Keanu duduk di sebelahnya. 


"Mario udah pulang?" tanyanya ketika suaminya itu sudah mendaratkan tubuh di sisinya. 


"Udah," 


"Kalya?" 


"Udah masuk kamarnya." 


"Oh…" 


Rara menganggukkan kepalanya kecil, sebagai tanda mengerti. 


"Muka kamu kenapa? Kok kelihatan pucat? Kamu sakit?" tanya Keanu cemas, sesaat setelah mengamati wajah Rara sejenak. 


Keanu meletakkan punggung tangannya di dahi wanita itu, yang membuat Rara terlihat gugup dan menggelengkan kepalanya pelan. 


"Eng-nggak kok, Mas… aku baik-baik aja," ucap Rara, lantas menurunkan tangan Keanu dari dahinya. 


"Terus, kalo baik-baik aja, kenapa muka kamu tegang? Kamu lagi mikirin sesuatu?" selidik Keanu, kini menatap Rara lebih intens lagi. 


"Engh, enggak! Ehm, maksud aku, iya! Aku lagi mikirin soal Kalya." Jawab Rara tergagap menutupi pikirannya yang mulai kacau. 


"Mikirin Kalya? Soal apa? Soal dia nolak Mario tadi?" terka Keanu langsung, yang entah kenapa malah dibalas anggukan ragu oleh Rara sendiri. 


"Ehm… mungkin…" sahut wanita itu setengah berpikir. 


"Mungkin?" 


Keanu menaikkan sebelah alisnya menatap Rara lekat. Pikirnya, mungkinkah istrinya itu sedang memikirkan hal lain, selain hal mengejutkan yang baru saja Kalya dan Mario sampaikan kepada mereka? 


"Kayaknya itu juga buat aku kepikiran. Tapi…" Rara kembali menganggantung kalimatnya dan balas menatap Keanu dengan ragu. 


"Aku lebih kepikiran sama sakitnya Kalya beberapa hari ini. Aku… agak khawatir sama dia." Ungkap Rara pelan, seolah menunggu jawaban dari Keanu. 


"Loh, tapi, bukannya kamu udah suruh Ricka buat periksa kondisi Kalya, ya? Terus, apa kata anak itu? Kok aku belum ketemu sama dia, ya?" tanya Keanu heran, lantas membuat Rara menelan ludahnya dengan susah payah. 


Gawat. Bagaimana ini? Rara sepertinya tidak berani untuk mengatakan apa yang baru saja Ricka sampaikan tentang kondisi Kalya kepadanya. Dia takut, kalau misalnya anaknya itu memang salah mendiagnosa kondisi Kalya. Bagaimana pun juga, dia kan belum sah menjadi seorang dokter. Bisa-bisa, hal itu membuat Keanu tersinggung dan malah marah kepada mereka berdua. 


"Sayang," panggil Keanu menyentuh pundak Rara yang terlihat seperti melamun. 


"Y-ya…?" 


Keanu memandang Rara heran. Lalu, dengan alis yang mengerut dalam, dia pun bertanya. "Dimana Ricka?" 


"R-Ricka? Di-dia tadi aku suruh buat periksa keadaan Kalya sekali lagi. Aku takut, diagnosa pertama dia salah. Jadi…"


"Emang diagnosa dia yang pertama, apa? Kok harus diperiksa ulang?" sela Keanu cepat, kali ini membuat Rara kembali tergagap. 


"Ehm, itu…"


Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! 


"Ma…! Mama…!" 


Suara ketukan pintu serta panggilan Ricka dari arah luar kamar Rara dan Keanu, menghentikan ucapan Rara. Sejenak, keduanya saling melihat satu sama lain, hingga akhirnya pasangan suami istri itu pun bangkit dan membuka pintu kamar mereka bersama-sama. 


"Ma…" 


Hal pertama yang Keanu lihat saat membuka pintu kamar mereka adalah wajah Ricka yang terlihat pucat dan juga kebingungan. 


"Ricka, kamu kenapa?" tanya Keanu yang merasa aneh dengan gelagat Ricka yang seperti gemetaran. 


Dan seolah tidak mendengar pertanyaan dari ayahnya, Ricka hanya menatap lurus pada ibunya, Rara. 


"Ma, aku udah periksa ulang kondisi Tante Kal seperti yang Mama bilang. Tapi, entah kenapa, hasilnya tetap sama aja, Ma! Aku bingung. Aku pikir, mungkin aja aku salah diagnosa ciri-ciri yang dialami sama Tante Kal. Tapi, sejauh apapun aku coba cari lagi, tetap aja, jawabannya juga sama. Dan itu semakin buat aku tambah bingung… aku pusing, Ma…aku nggak tahu apa itu diagnosaku salah atau gimana? Aku ragu… "


Ocehan Ricka yang panjang tentang Kalya membuat Keanu dan Rara saling menatap. Raut ketegangan juga langsung terpancar di wajah Rara, saat Keanu menatap keras ke arah keduanya. 


"Ricka, sekarang jawab Papa!" 


Keanu yang merasa ada yang mengganjal dari tingkah laku anaknya, langsung menahan kedua bahu Ricka dan mengultimatum anak perempuan itu. 


"Tante Kalya… dia sakit apa?" 


***


Seharusnya, hal seperti ini tidak dianggap sebagai sebuah penyakit. Malah, sebuah berkah dimana seseorang telah dipercaya oleh Tuhan sebagai tempat Ia menitipkan malaikat kecilnya. Merasa bersyukur dan berbahagia adalah cara yang tepat untuk menggambarkan kondisi semacam ini pada umumnya. 


"Gimana… ini bisa terjadi?" 


Keanu yang sepertinya begitu terkejut dengan berita kehamilan Kalya, langsung terduduk di sofa yang ada di kamar perempuan itu. Sementara anggota keluarganya yang lain, terutama Rara, hanya bisa tercengang dengan tampang syok yang tidak bisa ditutupi lagi. Bahkan istri dari Keanu itu sempat pingsan beberapa saat lalu, begitu ia memastikan kalau Kalya itu benar-benar positif tengah mengandung. 


"Kalya…, siapa… yang lakuin hal ini sama kamu?" 


Dengan napas yang sesak dan terputus-putus, Rara memaksakan diri untuk bertanya pada Kalya.


"Siapa… laki-laki yang bertanggung jawab atas kehamilan kamu? Siapa!" 


Kedua mata Rara berair hendak menangis, ketika dilihatnya wajah Kalya yang datar tanpa ekspresi sama sekali. 


Sementara Kalya sendiri, saat mengetahui dirinya tengah mengandung, dia hanya terduduk dan diam seperti saat ini. 


"Kalya… Mbak tanya sama kamu… siapa…" 


Rasanya Rara tidak bisa lagi berbicara, langsung bersandar di dada Ricko yang saat ini juga tengah berada di sana. Air matanya langsung menetes deras dengan tubuh yang bergetar hebat melihat adik iparnya itu hanya bisa diam menatap sayu pada apa yang ada di hadapannya. 


"Tante… Tante Kal kenapa? Kenapa Tante nggak jawab pertanyaan Mama? Tante harus jawab pertanyaan Mama! Kita…"


Plak! 


Suara tamparan yang terdengar begitu nyaring memenuhi kamar Kalya yang pagi ini terasa begitu mencekam, sontak membuat semua orang yang ada di sana tersentak kaget. Keanu yang tampaknya begitu kecewa dan tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata langsung bangkit dan melayangkan sebuah pukulan pada wajah Kalya yang tak kunjung membuka suara. 


"Papa! Papa apa-apaan, sih?! Papa--" 


"Keluar…"


"Papa,"


"PAPA BILANG, KELUAR!" 


Teriakan Keanu yang begitu keras kepada Ricka, membuat ketiga anaknya yang ada di sana langsung sadar diri. Mereka terdiam, saling melihat satu sama lain, sampai akhirnya Ricko bergerak seolah ingin menentang pengusiran yang dilakukan oleh ayah mereka. 


"Pa! Papa nggak--" 


Kalimat yang hendak Ricko lontarkan terputus, saat dirasakannya tangan kokoh Ricky menahan dirinya dari arah samping. 


"Kita keluar."


"Enggak! Papa--"


Ricky yang sepertinya tidak ingin dibantah, langsung menarik kuat lengan saudara kembarnya itu dari kamar. Disusul oleh Ricka yang sepertinya juga tidak terima atas perlakuan Ricky yang terlihat enggan membela Kalya sejak mereka tiba di kamar perempuan itu tadi. 


"Lo apa-apaan sih, Ky?! Kenapa lo narik tangan gue keluar?!" protes Ricko, ketika Ricky terus menarik tangan lelaki itu menurun tangga menuju lantai satu rumah mereka. 


"Mas Ricky! Mas udah nggak waras, ya! Lepasin tangan Mas Ricko! Tante Kal butuh kita di sana!" 


Ricka yang mencoba membantu dengan melerai tangan Ricky yang mencengkram erat lengan Ricko, justru dibalas bentakan kasar oleh kakaknya tersebut. 


"Kita nggak usah pedulikan dia! Ikuti aja perintah Papa! Itu bukan urusan kita!" ujar Ricky terlihat sangat marah, bercampur depresi dengan tangan yang mengusap wajahnya gusar. 


"Apa? Lo bilang apa? Kita nggak usah pedulikan dia? Maksud lo, apa?!" bentak Ricko tidak terima, kemudian mendorong dada Ricky kuat, hingga mundur beberapa langkah. 


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu soal Tante Kal?! Kenapa kita nggak usah peduli sama dia? Hah?! Kenapa? Lo udah gila?" dorong Ricko lagi, tersenyum sinis, dan meletakkan kedua tangannya di dada. 


"Iya! Mas Ricky sebenarnya ini ngomong apa, sih? Kok tiba-tiba nyuruh kita buat nggak usah pedulikan Tante Kal? Memangnya kenapa? Apa masalahnya? Urusan Tante Kal itu juga urusan kita, tahu!" tuntut Ricka juga, ikut berdiri mendesak Ricky yang sepertinya mulai pusing dan bingung harus menjawabnya dengan apa.


Suasana di antara tiga bersaudara itu terasa begitu aneh. Gelagat Ricky menunjukkan keresahan yang tidak bisa ia bohongi. Ditambah kabar buruk yang terjadi menimpa Kalya pagi ini rasanya semakin menambah beban bagi pria itu sendiri. 


"Ya… nggak usah aja! Nggak usah pedulikan dia!" 


"Ya kenapa?! Apa alasannya?!" 


"Karena dia hamil di luar nikah!" 


"Apa?" 


Lagi-lagi, Ricky mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat bingung dengan tingkah lakunya sendiri. Keringat dingin yang mulai mengucur dari dahi serta pelipisnya, kala tatapan mengancam ia peroleh dari dua saudaranya yang lain.


"Eh, ***!" 


Ricky yang terlihat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri tampak kaget, ketika Ricko langsung mengangkat kedua tangannya dan mencengkram bagian leher kaos yang Ricky kenakan dengan erat. 


"Gue udah coba buat maklumin perubahan sikap lo beberapa waktu ini sama keluarga kita. Tapi, gue rasa kali ini lo udah mulai keterlaluan," Ricko mendekatkan wajahnya pada Ricky dan mulai mengancam kembarannya itu.


"Persetan sama masalah yang sekarang ini lagi lo hadapin dan udah buat lo jadi nggak waras kayak gini. Tapi, satu hal yang perlu lo tahu…" Ricko semakin mencengkram leher baju Ricky dan mendesis. 


"Apapun itu… masalah Tante Kalya, bukan sesuatu yang bisa lo abaikan gitu aja." Sentak Ricko tajam, kemudian menghempaskan tubuh Ricky sama kasar seperti sebelumnya. 


"Oh, ya? Menurut lo gitu?" 


Tapi, alih-alih paham dan berdiam diri mendengar ucapannya, Ricky malah terlihat tertawa kering, sambil mengusap bagian kaosnya dengan santai.


"Gimana kalo gue bilang, kalo dia itu emang bukan orang yang penting? Apa lo juga bakal ngomong kayak gitu?" tantang Ricky dengan wajah memerah, menatap Ricka dan Ricko bergantian. 


"Mas Ricky! Lo tuh apa-apaan, sih?! Lo nggak usah bicara omong kosong, selagi gue dan Mas Ricko masih bicara baik-baik!" ancam Ricka maju ke hadapan Ricky dan memasang badan seolah tidak akan segan memukul Ricky andai lelaki itu tetap berkeras pada ucapannya. 


"Lah, terus kenapa? Lo pikir, gue takut?!" ejek Ricky balik, dengan ikut mendekat pada Ricka dan menatap tajam mata adik perempuannya itu. 


"Lo yang harus diam, Ka…. Lo nggak tahu apa-apa! Lo cuma kutu buku yang bisanya cuma protes kalo apa yang menurut teori lo itu dipersalahkan, tanpa lo tahu keadaan sebenarnya itu gimana…" desis Ricky pada Ricka yang terdiam memandang wajahnya. 


"Emang lo tahu apa tentang Tante Kal, hm? Tahu apa lo, sampe sanggup ngomong kayak gini soal dia?! Tahu apa?!" bentak Ricko lagi, kembali meraih leher baju Ricky dan mencengkramnya kuat. 


"Iya! Emang lo tahu apa soal Tante Kal, hah?! Sementang lo udah nggak peduli lagi sama dia, bukan berarti lo bisa nge-judge dia itu nggak penting ya, bagi keluarga ini! Gue nggak suka!" timpal Ricka juga terlihat semakin marah. 


"Apa pun yang terjadi, gue bakal tetap dukung Tante Kal, meskipun masalah kayak gini datang menimpa dia! Dengar lo!?" 


"Terus, gimana kalo kenyataannya dia itu bukan Tante lo yang sebenarnya? Apa lo juga bakal ngomong kayak gitu?" sinis Ricky tiba-tiba, membuat Ricko dan Ricka terdiam sejenak. 


"Gue tanya, kalo misalnya dia itu ternyata bukan anak dari Oma dan Opa alias adik kandungnya Papa, lo berdua juga bakal ngomong kayak tadi sama gue?" 


"Ky…, lo itu… ngomong apa, sih? Lo--" 


"Gue bicara serius, ***!" 


Ricky yang marah dan tidak tahan lagi langsung menghempaskan tangan Ricko dari bajunya. Kemudian, dengan tatapan mata merah menanggung beban, dia melihat Ricka dan Ricko secara bergantian. 


"Dia! Perempuan yang selama ini kita anggap sebagai tante kita…" Ujar Ricky menunjuk ke arah kamar Kalya yang ada di lantai dua. 


"...bukan adik Papa!"


Bersambung