Be My Brides

Be My Brides
Episode 62



Sejak Kalya lahir, belum pernah sekalipun dia bertemu dengan orang yang seharusnya dia panggil ayah. Sosok itu sudah lama terganti, oleh Kenan yang merupakan ayah kandung dari Kendra dan juga Keanu. Karena tidak tahu apa-apa, dan selalu diperlakukan selayaknya anak kandung, Kalya pun menyematkan nama Kenan di hatinya sebagai seorang ayah. 


Tapi, hari ini, sosok itu pun hadir. Setelah sekian lama tidak menampakkan diri, kini dia hadir, bersebelahan dengan nama Kenan di hati Kalya. Dengan perawakan yang tak jauh beda dengan ayah angkatnya itu, andai beliau masih hidup saat ini. 


"A--Ayah," 


Kalya yang belum pernah berinteraksi dengan Malik sebelum ini, merasa sedikit canggung. Dia menatap pria tinggi besar itu dengan seksama, seiring Malik yang mendekat dengan sorot mata lekat ke wajah Kalya.


"Putriku…"


Malik yang sudah berdiri tepat di sebelah ranjang Kalya, pun tersenyum tipis. Tangannya terlihat seperti hendak terangkat menyentuh anak perempuannya itu, ketika keragu-raguan tergambar di raut wajahnya yang lelah.


"K--Kalya," 


Alih-alih memberanikan diri untuk menyentuh kepala anaknya seperti yang sudah ia rencanakan dalam hati, tangan Pak Malik yang sudah terangkat pun, turun kembali. Dia tersenyum kecut menyembunyikan tangannya kembali di balik punggung.


Dan hal itu tak luput dari pandangan Kalya yang menatap Malik lekat sejak tadi. 


"Ayah… Nggak mau peluk Kalya?" tanya Kalya dengan mata berair, melihat Pak Malik yang salah tingkah mendengarnya. 


"Ayah… Nggak kangen sama Kalya?" tanya Kalya serak, sontak membuat Pak Malik tak kuasa menahan kerinduannya. 


"Tidak… Tentu saja ayah kangen," 


Pak Malik langsung memeluk Kalya dan mendekap anaknya itu erat. Isak tangis Kalya pun sontak terdengar, begitu sosok ayah yang dirindukannya kini sudah berada di depannya. Memeluknya, dan mengusap punggungnya dengan sayang. 


"Ayah…"


"Anakku…" Bisik Pak Malik lirih, tidak terasa ikut meneteskan air matanya. 


"Anakku yang cantik… yang Ayah rindukan," ucap Pak Malik pelan, membuat Kalya semakin mengeratkan pelukannya. 


"Aku selalu penasaran, dengan wajah anak pertamaku yang dilahirkan Sarah waktu itu. Berapa hari aku tidak bisa tidur, karena yang aku tahu, hanya anakku yang lahir adalah seorang bayi perempuan." Pak Malik mengedipkan kedua matanya beberapa kali, menghalau air mata yang terus saja memburamkan pandangannya. 


"Tapi, anakku ternyata sangat cantik. Benar-benar cantik, seperti nama yang diberikan oleh Papamu kepadamu." Ucap Pak Malik dengan suaranya yang bergetar, menyentuh dan melihat wajah Kalya dengan penuh kekaguman. 


Betapa takjub Pak Malik, dengan dirinya yang kini bisa memandang dan menyentuh wajah anaknya secara langsung. Bukan hanya mimpi, atau angan-angan semata, seperti yang ia bayangkan selama ini. 


"Ayah… hiks… Ayah terlalu gombal… Kalya jadi malu…" Balas Kalya terisak, menundukkan wajahnya, lantas menyandarkan kepalanya lagi di dada Pak Malik. 


"Kalya sayang sama Ayah…" Lirih Kalya berikutnya, meneteskan air matanya lagi, yang dibalas Pak Malik dengan anggukan kepala tanda mengerti. 


"Iya, anakku… Ayah lebih sayang ribuan kali kepadamu… Sangat sayang…" Kata Pak Malik lagi, kemudian larut dalam suasana haru yang ia ciptakan dengan anaknya. Dimana suasana itu, ternyata tidak hanya membuat mereka berdua menangis, melainkan pada wanita yang ada di sana juga, ikut meneteskan air mata mereka. 


"Jadi… Bapak ini Ayahnya Tante Kal, ya?"


Kalya dan Pak Malik sudah tampak lebih tenang, dan melepaskan pelukan mereka, ketika Ricky mendekat, dan berdiri tepat di sebelah Pak Malik berdiri saat ini. 


"Iya, beliau ini Ayah kandung Kalya yang sebenarnya." Jawab Kendra, membenarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ricky kepada Pak Malik. 


"Oh, pantesan…" Angguk Ricky setengah bergumam, membuat beberapa orang disana mengernyit mendengarnya. 


"Pantesan kenapa? Pantesan mirip?" tanya Ricka, melihat Kakaknya itu seolah berpikir sejenak. 


"Bukan… Malah, Tante Kal, kelihatan lebih mirip sama Ibu itu!" tunjuk Ricky menggeleng, ke arah Bu Sarah, yang hanya tersenyum tipis membalasnya. 


"Terus, pantesan apa?" tanya Kalya penasaran, menatap Ricky yang dengan santainya bersandar --setengah duduk-- di atas ranjang Kalya. 


"Bapak ini, yang waktu itu berdiri di depan rumah Papa saya, kan? Yang waktu itu, kalau nggak salah, pake mobil warna hitam?" tanya Ricky setengah menyelidik ke arah Pak Malik. 


"Ky! Lo ngomong apa, sih?! Ngapain juga Ayah Mertua gue--" 


"Iya, itu saya." Angguk Pak Malik, menyelak ucapan Gavin, yang hendak menyangkal pertanyaan Ricky yang menurutnya terkesan menuduh. 


"Apa?!" 


Dan jawaban Pak Malik barusan pun, seketika membuat anggota keluarga Gavin yang lain terpekik dengan ekspresi wajah kaget tidak menduga.


"Iya… Saya akui… Itu saya." Angguk Pak Malik lagi lebih tegas, tersenyum tipis ke arah anggota keluarga besannya saat ini. 


"Ayah… Kenapa Ayah--" 


"Ayah sudah lama memperhatikan kamu, Kalya. Meskipun orang-orang suruhan Ayah mengatakan kalau kamu baik-baik saja, Ayah tidak bisa tenang. Ayah harus memastikannya dengan mata kepala Ayah sendiri." Jelas Pak Malik, mengusap belakang kepala Kalya dengan sayang. 


"Tapi…"


"Ayah juga sudah tahu, apa yang terjadi pada kamu, sebenarnya. Alasan kenapa tiba-tiba saja kamu pindah dari rumah Kendra ke rumah Keanu… Ayah tahu." Ucap Pak Malik lagi, entah kenapa, kali ini melemparkan jenis tatapan sengit ke arah Gavin, yang mendadak membuat pria itu menjadi sedikit salah tingkah. 


"Emh, Ayah… Itu--" 


"Tapi, kamu tidak perlu khawatir lagi, Kalya. Mulai sekarang, ada Ayah, yang juga akan menjaga kamu dan anak kamu ke depannya. Jadi, kamu nggak perlu sedih."


Entah kenapa, dia jadi ingat dengan kata-kata Kaisar, waktu itu. 


"Saya pastikan, jalan kamu tidak akan mudah."


Oh, shit! Jangan bilang, kalau maksud ucapan Kaisar waktu itu adalah, sosok Pak Malik yang sudah tahu tentang hubungan Gavin dengan Kalya, yang membuat mereka bisa menjadi sepasang suami istri saat ini. 


Gawat! Ini benar-benar gawat, namanya. 


"Ayah, saya mau--" 


"Jadi, kapan Kalya bisa pulang? Bukankah, dia melahirkan secara normal?" 


Pret! 


Untuk kedua kalinya, Gavin diabaikan oleh pria paruh baya tersebut. Dan hal itu, ternyata tak luput dari pandangan para sepupu jahilnya, yang seketika mendekat ke arahnya, hanya untuk mengucapkan satu kata. 


"Kasihan…"


***


Karena kondisi fisik Kalya yang sudah membaik sore tadi, malamnya Gavin memutuskan untuk membawa perempuan itu beserta anak mereka untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. 


Dengan hati-hati, Gavin membopong istrinya tersebut untuk duduk di ranjang tidur mereka, dengan posisi punggung yang bersandar di kepala ranjang. 


"Kalau gitu, Ayah sama Ibu menginap di sini aja malam ini. Ntar, kamar tamunya Gavin suru--" 


"Baiklah, kalau begitu, Kalya. Ayah dan Ibu pulang dulu, ya? Besok, Ayah dan Ibu akan datang lagi ke mari untuk melihat keadaan kamu." Ucap Pak Malik kepada Kalya, yang hanya tersenyum masam, melirik Gavin yang kali ini kembali diabaikan oleh ayahnya. 


Memang, sejak tadi pagi, entah sudah berapa kali Gavin diperlakukan bak makhluk halus oleh Pak Malik. Mulai dari tak merespons ucapannya, hingga bersikap seolah-olah Gavin itu memang tidak ada di dekatnya, dilakukan Pak Malik, karena rasa kecewanya terhadap cara Gavin untuk bisa menikah dengan Kalya. 


Sedangkan keluarga Gavin, tampaknya tidak ada minat untuk membela pria itu dan malah cenderung memaklumi sikap Pak Malik yang seperti tengah memberikan hukuman kepada menantunya tersebut. 


"Ayah," 


Kalya yang melihat raut wajah masam suaminya yang tidak dianggap oleh orang tua Kalya, menangkap tangan Pak Malik yang hendak meninggalkan kamar tidurnya. 


"Apa… Ayah sama Ibu nggak nginep di sini aja malam ini? Di sini ada kamar tamu, kok. Kalya… Masih kangen Ayah sama Ibu…" Ucap Kalya setengah merengek, seperti anak kecil, sembari melirik ke arah Bu Sarah, yang baru saja meletakkan Gian ke dalam tempat tidur bayinya yang sudah dipersiapkan oleh Nia tadi pagi. 


"Eum… Ibu sih, nggak masalah, Kal… Soalnya, Ibu juga masih kangen sama kamu. Cuma…" Bu Sarah yang sepertinya setuju dengan ide Kalya, sengaja melemparkan lirikannya kepada Sang Suami yang saat ini sudah kembali mengusap puncak kepala Kalya dengan sayang. 


"Ayah kamu mau, nggak?" pancing Bu Sarah, menipiskan bibirnya, melihat Pak Malik menoleh, dan sedikit mengernyit ke arahnya. 


"Kita pulang ke rumah kita. Besok pagi, kita kemari lagi. Oke?" tegas Pak Malik pada Bu Sarah, yang entah kenapa lagi, terasa sangat berbeda dengan apa yang ada di hatinya. 


Maksudnya, ucapan Pak Malik memang mempunyai arti menolak ajakan Kalya serta tawaran Gavin kepada mereka untuk menginap. Tapi, reaksi tubuhnya yang terus saja mengusap kepala putrinya itu dengan lembut, menandakan kalau apa yang diinginkannya saat ini adalah terus berada di samping buah hatinya tersebut. 


"Ayah… Ayah beneran mau ninggalin Kalya lagi? Kalya masih kangen loh, sama Ayah dan Ibu. Apalagi, Kalya udah kehilangan waktu Kalya selama dua puluh sembilan tahun, nggak ketemu sama Ayah dan Ibu… Masa...Nginap satu malam ini aja, Ayah nggak mau…" Kata Kalya lagi lirih, seperti hendak menangis, menggenggam tangan Pak Malik erat, dan membuat pria itu berada di dalam dilema saat ini. 


Jujur, dia sangat ingin berada di sisi Kalya saat ini. Menemani serta menjaga anaknya itu malam ini. Menemaninya bercerita, dan membicarakan tentang diri masing-masing selama ini, adalah hal yang paling Pak Malik harapkan sekarang. Tapi, mengingat sosok Gavin yang pasti juga akan berada di sana, membuat semangat Pak Malik yang tadi cukup tinggi, tiba-tiba saja meredup. 


Dia masih kesal, marah dan kecewa dengan orang yang menjadi menantunya tersebut. Selama beberapa tahun belakangan ini Pak Malik memantau kehidupan Kalya, dia baru tahu belakangan kalau alasan Gavin menikah dengan Kalya adalah karena Gavin yang tega memperkosa Kalya. 


Masa bodo, kalau misalnya sekarang mereka saling mencintai. Yang menjadi masalah bagi Pak Malik adalah, kenapa Gavin harus merusak Kalya dulu, sebelum akhirnya mempersuntingnya? Padahal, Pak Malik sudah mempercayakan kehidupan Kalya pada keluarga Kendra selama ini. Dia tidak menyangka, kalau tempat dimana seharusnya Kalya bisa merasa nyaman, justru menghancurkan kehidupan Kalya hingga jatuh seperti beberapa bulan yang lalu. 


"Bang… Kita beneran, bakal ke rumah kita malam ini?" 


Lamunan Pak Malik tentang kekecewaannya terhadap Gavin, buyar, sudah, kala tangan lembut Bu Sarah, mendarat di bahunya. 


Sambil menghelakan napas panjang, Bu Sarah menatap Pak Malik dengan sendu. 


"Aku masih kangen sama Kalya…" Katanya, seperti memohon, kali ini membuat Pak Malik semakin berada di ambang keraguan. 


Dilihatnya kembali Kalya yang masih menatapnya dengan sorot mata memohon. Menggenggam tangannya sedih, dengan lengkungan bibir yang seperti hendak menangis. 


"Ayah…" 


"Bang Malik dan Mbak Sarah menginap  di sini malam ini."


Pak Malik yang tadinya terlihat ingin mencari alasan, membungkam mulutnya, ketika melihat Kendra dan juga Nia masuk ke dalam kamar Kalya. 


"Saya udah menyiapkan satu kamar tamu untuk Bang Malik dan juga Mbak Sarah." Ujar Kendra sembari tersenyum ramah, mendekat ke arah Pak Malik dan Bu Sarah saat ini berdiri. 


Lalu, dengan tatapannya ia lemparkan sejenak kepada Kalya yang tengah memandangnya saat ini. 


"Menginaplah… Demi menantu saya."


Bersambung