Be My Brides

Be My Brides
Episode 63



Hampir tengah malam, di kamar tamu, Bu Sarah tampak berusaha membujuk suaminya yang bersikap dingin kepada Gavin. Meskipun sama kecewanya dengan Pak Malik atas sikap Gavin yang menurut mereka justru sudah menyakiti Kalya, Bu Sarah tetap berusaha untuk memaafkan karena perasaan yang kini dimiliki oleh putri mereka itu untuk Gavin. 


"Bang, Abang bisa tidak, jangan bersikap seperti tadi kepada Gavin? Kasihan dia, merasa tidak dianggap dan justru diabaikan seperti itu oleh ayah mertuanya," ucap Bu Sarah, menyentuh lengan Pak Malik dan mengusapnya dengan pelan. 


"Aku berterima kasih, sama Abang yang mau menggeser sedikit ego Abang untuk kita menginap di rumah ini. Tapi, apa Abang nggak bisa, sedikit saja memandang Gavin, seperti pertama kali Abang melihat dia?" tanya Bu Sarah, kali ini menatap wajah murung Pak Malik yang menunduk. 


"Aku tahu, Gavin itu memang salah. Sangat bersalah, malah. Tapi, kita juga nggak bisa mengabaikan kenyataan, kalau sekarang, dia itu udah menjadi menantu kita. Dia suami Kalya, dimana Kalya sangat mencinta sama, Bang…" Ucap Bu Sarah lagi, mengernyit melihat Pak Malik menghembuskan napasnya panjang. 


"Kamu tahu, apa yang aku rasakan sebenarnya. Bukan sama anak yang kamu sebut sebagai menantu itu. Tapi, aku lebih merasa kecewa terhadap diriku sendiri." Ucap Pak Malik gusar, lantas menopang kedua tangannya di atas lutut. 


"Aku belum pernah bertemu dengan anakku sebelum ini. Dan tibanya bertemu, aku justru dikejutkan dengan kabar dia disakiti oleh laki-laki lain. Terlebih, lelaki itu adalah anak, yang harusnya bisa menjaga Kalya sebagaimana janji mereka terhadap kita. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat mendengar hal itu?" cecar Pak Malik emosi, terlihat dari deru napasnya yang terdengar saling memburu. 


"Aku ingin menyalahkan mereka. Aku ingin membenci mereka dan memukul mereka dengan tanganku sendiri. Aku--"


"Bang…"


Bu Sarah yang melihat emosi suaminya yang tampaknya kian menjadi, memeluk tubuh pria itu dari samping. Menyandarkan kepalanya di bahu lebar Pak Malik, dan mengusap sebelah lengan suaminya itu dengan lembut. 


"Kalya pasti sedih, melihat sikap Abang kepada suaminya tadi. Dia pasti semakin merasa bersalah pada kita, dan juga merasa tidak enak dengan Gavin." Ucap Bu Sarah lirih, kemudian menutup matanya sejenak. 


"Jangan Abang pikir, aku nggak kecewa dengan apa yang dilakukan Gavin terhadap anak kita. Aku yang melahirkannya. Dan harusnya Abang tahu, separah apa luka yang aku rasakan waktu mendengar berita itu dari orang suruhan Abang." 


Bu Sarah membuka kedua matanya, kemudian menatap wajah mendung Pak Malik dengan kedua matanya yang merah. 


"Tapi, melihat Kalya yang begitu bahagia berada di samping Gavin dan memiliki anak dari lelaki itu, membuat aku sadar, kalau aku harus belajar untuk memaafkan masa lalu." 


Tangan Bu Sarah terangkat, kemudian mengusap bahu suaminya lagi dengan sayang. "Mungkin ini, udah jadi takdir mereka untuk bersatu." 


***


"Gavin, aku… mau minta maaf sama kamu." Ucap Kalya pelan, menyentuh tangan Gavin yang saat ini tengah berbaring di sampingnya, dan mengusap kepalanya berulang kali. 


Tadi, Kalya sudah sempat tertidur sebentar. Tapi, karena Gian mendengar Gian menangis, terpaksa Kalya bangun lagi, untuk memberi ASI kepada anaknya tersebut. Dan setelah Gian tertidur kembali, Gavin lalu memasukkannya ke dalam ranjang bayi yang ada di samping tempat tidur mereka. Barulah, dia ikut berbaring di sebelah Kalya. 


"Kamu ngomong apa, sih? Minta maaf untuk apa?" tanya Gavin serak, yang sepertinya sudah mulai mengantuk, dengan sorot matanya yang kian meredup.


"Minta maaf atas sikap Ayah sama kamu. Aku…"


Gavin yang mendengar ayah mertuanya disebut-sebut, melebarkan kedua matanya kembali dan mulai fokus. 


"Aku nggak enak sama kamu. Kamu… jangan tersinggung ya, sama sikap Ayah. Aku yakin, Ayah nggak bermaksud kayak gitu sama kamu." Ucap Kalya lagi, menundukkan pandangannya, menunjukkan kalau dia memang merasa bersalah. 


"Kal, apaan, sih?! Kok jadi kamu yang minta maaf? Ini kan bukan salah kamu! Gimana, sih?!" omel Gavin juga merasa tidak enak, sembari mencebik, kemudian mengalihkan pandangannya dari Sang Istri. 


"Aku maklum sama sikap Ayah ke aku, kok. Aku paham, kenapa beliau bisa bersikap dingin kayak gitu ke aku. Masih syukur, Ayah cuma anggap aku angin di sebelahnya. Nah, kalo aku jadi Ayah, mungkin aku udah nonjok orang yang nyakitin anak aku itu." Ungkap Gavin lesu, kemudian menghelakan napas panjang. 


"Aku paham, perasaan Ayah kamu sebenarnya itu, pasti lebih sakit daripada yang kita lihat. Tapi, Ayah berusaha untuk meredam, dengan cara mengabaikan aku. Dan aku… jadi lebih merasa bersalah lagi sama beliau." Lirih Gavin, masih berusaha mengalihkan perhatiannya dari Kalya. 


Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, konyol juga, ya, kelakuan Gavin dulu yang hanya ingin membuat Kalya menjadi miliknya? Keterlaluan sekali, nampaknya. Seperti tidak ada jalan lain saja...


"Coba aja, waktu itu aku mendekati kamu dengan cara yang benar. Nggak egois, kayak acara perkosa kamu segala… Mungkin, aku nggak akan menyesal kayak gini." Keluh Gavin, kembali menghelakan napas beratnya. 


"Jadi… Maksud kamu, sekarang kamu lagi nyesal?" tanya Kalya, yang dibalas Gavin dengan anggukan kepala. 


"Nyesal nikah sama aku?" tanya wanita itu lagi, kali ini membuat Gavin menoleh ke arahnya. 


"Kamu bilang, kamu sekarang nyesal… Maksud kamu--" 


Dugaan Kalya yang tampaknya seperti sedang salah paham itu, langsung diredam oleh Gavin menggunakan bibirnya. Dia membungkam mulut Kalya dengan mulutnya dan menyesapi bibir istrinya itu untuk sementara waktu. 


"Gavin…" Keluh Kalya merengut, kala Gavin melepaskan tautan bibir mereka, dan menatap mata wanita itu dalam. 


"Kamu itu bego. Tapi, kok aku bisa cinta sama kamu, ya?" tanya Gavin pelan, seolah pada dirinya sendiri, dimana Kalya yang mendengarnya langsung merasa jengkel. 


"Gavin!" 


"Ssst! Jangan ribut! Kamu mau bikin Gian bangun?" bisik Gavin, meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Kalya. 


"Kamu kalo kesel, kok nggak kira-kira, sih? Sengaja? Pengen aku cium lagi?" goda Gavin, menatap Kalya genit, hingga membuat wajah wanita itu bersemu merah. 


"Gavin, ih!" rungut Kalya sebal, memukul dada Gavin dengan gemas. 


"Kamu ini, ya… Nyebelin banget! Makin kesel aku sama kamu tahu, nggak!" ujar Kalya lagi cemberut, kali ini malah dibalas kekehan kecil dari Gavin. 


"Eh… Kok gitu, sih? Aku aja, makin cinta. Kok kamu enggak?" tanya Gavin, yang mereka berdua tahu, itu hanya ucapan konyol Gavin untuk menggombali istrinya. 


Nah, sepertinya, mereka sudah lupa dengan dilema yang tadi sempat mereka rasakan berdua. Semakin lama, masalah serius pun bisa terasa hilang, kalau keduanya sudah berbincang akrab di atas tempat tidur. 


"Duh… Istriku yang montok ini kok, ngomongnya gitu, sih… Jadi selera…" Ujar Gavin, menahan tawanya sekuat tenaga, saat Kalya memelototinya dengan garang. 


"Selera? Selera apa?! Jangan macam-macam ya, kamu!" peringatkan Kalya pada suaminya itu, ketika Gavin --dengan usilnya-- mendekat, memeluk tubuh besar Kalya, dan meraba bagian belakang tubuh istrinya. Tepatnya, ke area bawah pinggang wanita itu. 


"Gavin!" 


"Masa nifas kamu tiga bulan lagi, ya?" tanya Gavin serak, menyeringai sedikit, menatap wajah merah Kalya yang begitu dekat dengannya. 


"Gavin, kamu apaan sih? Tangan kamu, kok…" Kalya menggigit bibir bawahnya, merasakan remasan halus tangan Gavin di bagian bokongnya yang berisi. 


"Gavin…"


"Kenapa? Pengennya?" bisik Gavin sensual, dimana tawanya sudah akan meledak, melihat wajah cantik Kalya semakin memerah karena ulahnya. 


"Gavin,"


"Hm?"


"Kamu…"


"Iya, sayang? Kenapa?" 


"Kamu…"


"Iya?" 


"Mau aku balas?" 


Tiba-tiba saja, gerakan tangan Gavin yang tadinya asyik bermain di area belakang tubuh istrinya, berhenti seketika. Dilihatnya mata Kalya kini tengah terpaku menatapnya dengan sorot mata yang terkesan mengintimidasi. 


"Kamu…"


Tubuh Gavin langsung menegang, ketika --tanpa peringatan-- tangan nakal istrinya sudah turun, dan menyentuh pangkal paha Gavin dengan lembut. 


"Ka--Kal… Kamu--" 


"Kamu tadi pegang-pegang aku. Sekarang, gantian dong…" Ucap Kalya pelan, kemudian berbisik di telinga Gavin. "Aku yang pegang-pegang suami aku."


Gavin semakin bergidik mendengar bisikan tersebut. Gairahnya langsung naik, andai dia tidak ingat kalau istrinya sedang tidak boleh berhubungan saat ini. 


"Kal…!" pekik Gavin tertahan, dengan wajahnya yang merah, menyentuh kedua bahu Kalya dan menjauhkan wanita itu darinya. 


"A--aku haus. Aku mau ambil minum di belakang. Ka--kamu mau?" tawar Gavin gugup, yang jelas sekali melihat istrinya itu sedang tersenyum mengejek tingkahnya. 


"Boleh," kata Kalya, yang langsung melihat Gavin turun dari atas ranjang mereka, kabur meninggalkan Kalya yang tertawa puas melihatnya. 


Memang, siapa yang lebih dulu cari masalah? Ejek Kalya dalam hati.


Sementara itu, di luar kamar, Gavin yang sedang jantungan karena apa yang dialaminya tadi, berjalan menuju dapur dengan tangan yang masih menyentuh dadanya. 


Gila. Baru kali ini, dia melihat istrinya senakal itu. Pikirnya, Kalya akan terus menjadi wanita polos meski Gavin sering menggodanya seperti tadi.


"Bikin jantungan aja, sih…" Gumam Gavin mengusap dadanya pelan, kemudian tersenyum malu. 


Kalau dipikir-pikir, sepertinya Gavin lupa dengan kenyataan, dimana Kalya memanglah seorang wanita dewasa yang pernah merasakan yang namanya nikmat bercinta. Jadi, wajar saja kalau Kalya berani menggodanya seperti itu, terlebih mereka berdua memang saling mencintai dan sudah memiliki seorang anak.


Ah, memikirkannya saja sudah membuat Gavin merasa bahagia. 


"Gavin," 


Gavin yang tadinya sudah senyum-senyum sendiri menuju dapur, sontak berhenti dan menoleh ke arah belakang, dimana seseorang telah memanggilnya dengan suara berat. 


"A--Ayah?" 


Wajah Gavin yang tadinya berbinar, tampak sedikit tegang, kala Pak Malik --Ayah Mertuanya-- berjalan ke arah Gavin berdiri saat ini. 


"Ayah, apa--" 


"Saya mau bicara sama kamu."


Bersambung