
Semalaman, Gavin tidak bisa tidur. Di bawah matanya, terdapat lingkaran hitam samar yang menandakan kalau mata itu sedang lelah. Namun, sang pemilik mata tidak bisa terpejam, karena sibuk memikirkan setiap kejadian yang dialaminya kemarin malam. Seperti mimpi, tapi ini sangat nyata.
"Kalya bakal menikah sama Ricko?" decih Gavin masih tidak percaya, kemudian bangkit dari tempat tidurnya.
Kepalanya seketika terasa berdenyut, karena sejak semalam, hanya kalimat itu saja yang terngiang di kepalanya. Pernyataan kedua orangtuanya yang menolak ide Gavin untuk menikahi Kalya, kini menjadi beban di setiap sel otak lelaki itu.
Lalu, apa? Apa yang harus Gavin lakukan sekarang? Melanjutkan aksi galaunya dengan terus berbaring di tempat tidur seperti ini, atau mulai melakukan sesuatu untuk mendapatkan Kalya kembali? Pikirnya mulai merenung.
Tapi, tunggu! Dengan apa dia bisa meraih simpati Kalya untuk mau menerima lamarannya? Bukankah wanita itu sekarang sudah sangat membencinya? Terlihat dari raut wajah Kalya menatapnya kemarin, Gavin yakin, kalau untuk mendapatkan perasaan wanita itu, tidak semudah bagaimana dia mendapatkan tubuh Kalya dulu.
"Oke… mari pikirkan ini baik-baik. Kalau dia nggak mau sama gue karena ada laki-laki lain, gimana kalo gue usir laki-laki itu?" bisik Gavin mulai menimbang rencananya.
Pikirnya, kalau Kalya ataupun Kendra tidak memiliki kandidat lain untuk menjadi calon suami Kalya, bukankah ada kemungkinan bagi Gavin untuk masuk menjadi pilihan terakhir? Maksudnya, mau tidak mau, mereka pasti akan meminta Gavin yang bertanggung jawab. Bagaimana pun juga, tidak mungkin anak yang dikandung Kalya lahir tanpa seorang ayah.
"Benar…. Ini satu-satunya jalan buat gue sekarang. Kalo Papa nggak mau dengerin gue, terpaksa Ricko yang harus dengerin gue."
Dan tanpa berpikiran panjang lagi, Gavin pun langsung lompat dari tempat tidurnya. Dia bergegas mempersiapkan diri untuk menemui Ricko yang katanya akan menjadi suami Kalya dalam beberapa bulan lagi.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian seadanya, dia langsung turun ke lantai dasar rumahnya. Dia hendak keluar menuju garasi rumah, ketika tanpa sengaja, dia berpapasan dengan Nia yang sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka.
"Kamu mau kemana?" tanya Nia terkesan dingin, melihat Gavin sudah memegang kunci mobilnya.
"Mau pergi. Gavin ada urusan sebentar." Jawab Gavin, lalu melihat sekitaran meja makan.
Di sana, hanya ada Nia seorang. Tidak terlihat adanya tanda-tanda Kendra akan hadir di sana. Dan itu, sudah menimbulkan sebuah spekulasi baru dalam benak Gavin tentang apa yang sudah terjadi di keluarganya semalam.
"Kenapa Mama harus nolak ide Gavin nikahin Kalya, sih?" tanya Gavin pelan, yang cukup didengar oleh Nia yang sibuk menata meja. "Kalo Mama nerima, mungkin--"
"Mama nerima ataupun enggak, nggak akan ada pengaruhnya sama keputusan Papa kamu." Sela Nia cepat, lantas menatap Gavin tajam. Tampak mata wanita berusia awal lima puluh itu kembali memerah.
"Papa kamu kecewa sama kamu. Jadi, walaupun Mama setuju dan menerima keinginan kamu untuk menikahi Kalya, belum tentu Papa kamu juga setuju."
Nia memutar sedikit tubuhnya membelakangi anak tersebut.
"Papa kamu itu jauh lebih keras kepala. Seharusnya kamu sadar, semua ini terjadi karena keegoisan kamu yang memperkosa Kalya." Suara Nia terdengar berat dan serak.
"Andai kamu nggak egois kayak gitu… mungkin semua bisa dibicarakan baik-baik." Imbuh wanita itu lagi, kali ini terisak.
"Karena ulah kamu, semua jadi kacau!" Nia menggeram, lalu menghempaskan sendok yang tadi ia pegang ke atas meja, hingga Gavin mengerjap.
Terlihat lelaki itu sedikit kaget dan merasa bersalah, ketika melihat ibunya berbalik menatap dirinya dengan wajah yang bersimbah air mata.
"Seharusnya kamu diam aja di kamar. Setidaknya, dengan begitu, kami tahu kalau kamu lagi menyesali perbuatan kamu."
Nia yang sepertinya sudah tidak berselera lagi untuk makan, melepas apron yang sejak tadi melingkari tubuhnya. Dia berbalik dan meninggalkan Gavin yang terpaku memandang kepergiannya.
"Kenapa semua jadi kacau gini, sih?"
***
Sementara itu, di tempat lain rumah Kendra, Keanu yang sedang mengunjungi kakaknya itu hanya diam memandang Kendra dengan seksama.
Sejak tadi, sejak ia tiba di rumah itu dan masuk ke ruang kerja Kendra sekitar setengah jam yang lalu, si pemilik rumah tampak tak acuh terhadap dirinya. Bahkan, Kendra terlihat seperti menganggap Keanu itu hanya angin lalu yang tidak perlu dihiraukan keberadaannya.
"Mas… soal yang kemarin… Mas yakin akan ngelakuin hal itu?" tanya Keanu mencoba memecahkan keheningan yang terjadi antara dirinya dan juga Kendra.
"Soal Mas mau menikahkan Kalya sama Ricko… Mas yakin nggak mau mikirin ulang?" tanya pria itu lagi pada Kendra yang sepertinya sedang sibuk membaca berita di koran.
Terlihat, Kendra hanya meliriknya sekilas, sebelum menjawab. "Yakin. Emang kenapa?" tanya pria itu lagi.
Sejenak, Keanu tidak menjawab. Dia hanya menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Baiklah, ini bukan sesuatu hal yang mudah untuk mereka bicarakan berdua. Terlebih, ini adalah hal paling sensitif yang menyangkut soal perasaan Kendra terhadap permasalahan yang saat ini tengah mereka hadapi. Salah-salah, Kendra tidak hanya marah kepada istri dan anaknya saja, melainkan Keanu dan keluarga pun bisa jadi kena amukan pria tersebut.
"Mas… coba deh, aku minta sama Mas buat mikirin hal ini lagi. Kayaknya, itu bukan keputusan yang tepat, deh. Soalnya, aku lihat, banyak yang nggak setuju sama keputusan Mas yang minta Ricko menikahi Kalya."
"Nggak setuju? Siapa?" tanya Kendra langsung melirik Keanu cepat. "Siapa yang nggak setuju Ricko menikahi Kalya?" tekan Kendra, meletakkan korannya kasar, dan menatap Keanu tajam.
"Apa?!"
"Bukan cuma aku! Tapi, semua orang, termasuk Ricko dan Kalya sendiri!" jawab Keanu tegas, lalu menegakkan tubuhnya menatap Kendra. "Mas nggak tahu perasaan mereka."
"Loh, memangnya kenapa sama perasaan mereka? Ricko? Bukannya dia udah setuju untuk menikah sama Kalya? Bahkan sejak awal dia yang nawarin diri buat bertanggung jawab, kan? Rara juga udah merestui keputusan dia. Terus, sekarang masalahnya apa?" tanya Kendra tidak mengerti dengan mengedikkan bahunya sekali.
"Dan Kalya juga, kenapa dia harus keberatan? Harusnya 'kan dia senang, waktu lahir nanti anaknya punya seorang ayah. Jadi, kenapa dia jadi mempermasalahkan ini?"
"Itu karena pikiran mereka lagi buntu!" ujar Keanu segera, lantas memijit kepalanya sebentar.
"Mas, dengerin, deh… Ricko ngelakuin hal itu, karena waktu kita belum tahu siapa ayah dari anaknya Kalya. Dan Kalya juga memutuskan untuk tetap diam, karena dia nggak mau melihat kita kecewa. Apa Mas masih nggak paham juga?" tanya Kendra, melihat Kendra hanya diam memandang ke arahnya.
"Sekarang, kita udah tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Kalya. Apa sekarang Mas juga bakal tetap kokoh sama pendirian Mas yang meminta Ricko menikahi Kalya? Hm? Apa Mas bakal keras kepala?" tuntut Keanu pada Kendra yang kali ini menundukkan kepalanya sejenak.
"Nu, sekarang jujur, deh… ini bukan soal perasaan Ricko ataupun Kalya aja 'kan? Jangan-jangan, kamu nggak setuju kalau anak kamu itu menikahi Kalya, karena Kalya itu--"
"Mas!" Keanu langsung menegur Kendra keras, seolah tahu dengan apa yang hendak lelaki itu sampaikan.
"Mas! Mas harus sadar kalo keputusan yang Mas buat kemarin itu bisa melukai Kalya!" seru Keanu tegas, membuat Kendra terdiam dengan tatapan mata hampa.
"Aku ngerti sama niat Mas yang nggak mau Kalya sakit karena harus merawat anaknya seolah diri. Tapi, melepaskan Gavin dari tanggung jawabnya, bukan jalan keluar yang bagus. Mas harus mikirin hal itu!" ujar Keanu menarik napas panjang berulang kali.
"Lagi pula, Kalya juga belum tentu mau membebani Ricko atas apa yang nggak dia perbuat."
"Kenapa nggak mau? Dia harus mau! Bagaimana pun juga, anaknya itu butuh ayah, Nu! Dia pasti mau!"
"Emang Mas udah tanya sama dia?" timpal Keanu langsung, membuat Kendra kembali terdiam.
"Memangnya, soal ini udah Mas bahas lebih dulu sama Kalya? Kenapa dia harus menjalankan apa yang sama sekali nggak dibicarakan sama dia lebih dulu? Memangnya dia boneka? Dia juga korban, Mas! Dia korban dari keegoisan anak kamu!" tuding Keanu menatap wajah Kendra yang lambat laun, memucat.
"Karena kebodohan Gavin, Kalya menderita." Tambah Keanu tajam, membuat Kendra serasa tidak bisa berkutik.
Saat ini, Kendra hanya terdiam menundukkan kepalanya dalam. Apa yang katakan Keanu, semuanya benar. Dia bahkan sulit untuk menentangnya. Pikirannya yang kacau, tidak bisa diajak kompromi untuk mencari alasan-alasan yang bisa memberatkan ucapan Keanu.
"Tapi aku bingung harus ngelakuin apa lagi, Nu…" ucap Kendra lirih, seperti orang yang terbengong.
"Aku takut membahas hal ini sama Kalya. Aku takut, dia lebih milih nggak menikah daripada harus memilih antara Ricko ataupun Gavin. Dan jauh lebih takut lagi, kalau aku maksa dia untuk menikah sama Gavin."
Kendra memejamkan kedua matanya rapat, dan *** rambutnya gusar.
"Gavin itu masih terlalu muda. Aku takut, dia nggak bisa membahagiakan Kalya, Nu… aku cemas, kalo nanti Kalya semakin menderita menikah sama orang kayak Gavin."
"Tapi, Gavin bilang dia mencintai Kalya, Mas. Kita--"
"Dia menyakiti Kalya dengan cara memperkosanya! Dan kamu tahu alasan dia melakukan itu?" sengit Kendra tiba-tiba mengangkat wajahnya. "Cinta, Nu… Cinta!"
"Gavin melakukan hal paling brengsek cuma karena kata cinta! Dan kamu suruh aku percaya sama alasan bodohnya itu?!" bentak Kendra marah, memukul mejanya keras.
"Sekeras apapun aku berpikir untuk menerima alasan itu… tetap aja… dia nggak pantas melakukan hal itu." Kendra menatap tepat ke mata Keanu yang juga ikut memerah.
Sesungguhnya, Keanu paham betul dengan apa yang Kendra rasakan saat ini. Bukan hal mudah, memaafkan tingkah laku Gavin terhadap Kalya. Meskipun dia mau bertanggung jawab, tetap saja rasa kecewa itu masih sangat membekas di hati Kendra. Dan kalaupun dia menerima keinginan Gavin menikahi Kalya, Keanu yakin, hatinya tidak akan berkata demikian.
"Mas…"
Keanu bangkit dari kursinya dan mendekati kakaknya tersebut. Dirangkulnya bahu yang masih terlihat kokoh itu, dan menepuknya pelan.
"Gimana kalo kita lihat dulu usaha Gavin meraih simpati Kalya. Dan kalau memang dia bisa menyentuh perasaan Kalya untuk mau menikah dengannya…" Keanu melihat Kendra yang perlahan-lahan melihat ke arahnya.
"Maka Mas pun harus terima keputusan mereka."
Bersambung…