Be My Brides

Be My Brides
Episode 28



Sehabis pulang dari kampus, siang ini rencananya Gavin akan pergi ke rumah Keanu. Setelah dua hari ini dia sibuk mengurus seminar proposal, dia ingin memanfaatkan waktu luangnya untuk bertemu dengan istri dan calon anaknya. Maklum, Gavin sudah sangat merindukan istrinya, Kalya sejak terakhir kali mereka bertemu. 


Gavin baru memarkirkan mobilnya di halaman rumah Keanu, saat sebuah mobil asing yang belum pernah Gavin lihat sebelumnya juga ikut masuk dan parkir tepat di belakang mobil Gavin berhenti. 


Seorang wanita yang keluar dari dalam mobil tersebut terlihat senang, kala matanya mendapati sosok Gavin yang sudah memasang wajah kusut menahan emosinya. 


"Ngapain lo ke mari?" tanya Gavin ketus, melihat Thalita berjalan anggun ke arahnya. 


"Gavin," rona wajah bahagia langsung terpancar di muka Thalita, ketika dia sudah berdiri di depan Gavin. 


"Hai," sapanya manis pada Gavin, yang justru dibalas dengusan muak oleh pria tersebut. 


"Pulang lo." 


"Gavin!" 


Gavin yang tadinya mengibaskan tangan mengusir Thalita dengan acuh tak acuh, tersentak ketika Thalita menahan tangannya yang hendak berbalik. 


"Tunggu…" Kata Thalita, melihat kedua bola mata Gavin membeliak. 


"Apaan sih, lo megang-megang gue!?" sentak Gavin marah, menghentakkan tangannya secara kasar. 


Lalu, seolah baru saja disentuh oleh kotoran, Gavin pun menepuk tangannya pelan dan menatap sinis pada Thalita. 


"Mending lo pulang sana! Nggak bakal ada juga orang yang mau nyambut kedatangan lo di rumah ini." Ujar Gavin skeptis, membuat Thalita mengatupkan rahangnya kesal. 


"Lo nggak usah buang-buang waktu lo di sini." 


"Gavin!" 


Gavin yang lagi-lagi hendak berpaling, berhenti, mendengar teriakan Thalita memanggil namanya. 


"Gavin, kamu itu benar-benar keterlaluan, ya! Nggak punya hati tahu, nggak!" hardik Thalita berang pada Gavin, yang justru menaikkan sebelah alisnya. 


"Lo lagi menghina diri sendiri?" balas Gavin, membuat napas Thalita kian memburu. 


"Nggak usah ngomongin perasaan, kalo lo sendiri emang nggak punya. Itu sama aja dengan mengumbar aib lo sendiri. Jadi, mending lo diam, putar badan, terus balik sana ke rumah lo! Gue muak lihat muka lo yang sok manis itu di depan gue. Dengar?" 


"Gavin…!" 


Gavin yang untuk kesekian kalinya ditahan oleh Thalita, mendesahkan napas panjang. Dia menoleh, dengan rahangnya yang keras, melihat Thalita yang tiba-tiba saja berhambur ke dalam pelukannya. 


"Gavin," 


"Eh! Apaan sih, lo!? Lepas gue! Heh!!!" 


Gavin yang panik dipeluk erat oleh Thalita, berusaha untuk mendorong wanita tersebut. Tapi, kekuatan Thalita tidak bisa dianggap remeh, ketika dia menautkan jari jemarinya satu sama lain di balik punggung lebar Gavin. 


"Heh!" 


"Gavin, aku tahu sebenarnya kamu tertarik sama aku 'kan? Iya 'kan? Kamu sebenarnya juga suka sama aku 'kan? Cuma karena Ricko aja, kamu nggak berani nunjukin perasaan kamu ke aku. Kamu takut, dia dan keluarga kalian sakit hati karena perasaan kita 'kan? Kamu sebenarnya cinta sama aku 'kan?"


"Ya enggak lah, goblok! Apaan sih, lo?! Lepas!" 


"Nggak usah bohong! Aku tahu kok, kamu sebenarnya suka sama aku! Cuma kamu nggak tahu aja cara bilanginnya gimana. Iya 'kan?" 


"Ih, lo ngomong apa sih?! Sinting lo, ya? Otak lo geser?" 


"Gavin…" 


"Lepas!" 


"Soal pernikahan itu, kamu bohong 'kan? Itu nggak bener 'kan?! Kamu nggak benar-benar menikah 'kan?! Iya 'kan, Gavin?!" 


"Lo ngomong apa, sih? Nggak ngerti gue!" desah Gavin pusing, masih berusaha melepaskan tangan Thalita dari tubuhnya. 


"Iya, kamu bohong soal pernikahan itu! Kamu bilang gitu, cuma mau buat aku cemburu aja 'kan? Ya 'kan? Kamu bilang gitu, biar aku marah. Padahal, kenyataannya pernikahan itu nggak ada sama sekali!" seru Thalia semakin membuat keributan di halaman rumah Keanu, dimana satpam rumah tersebut sudah memandang resah ke arah Gavin dan juga Thalita. 


"Eh, cewek bego! Gue nggak paham lo ngomong apa. Tapi, lo nggak tahu malu, ya, meluk-meluk cowok kayak gini? Lo udah nggak punya harga diri, hah?!" 


"Gavin!" 


"Lepas!" 


"Enggak!" 


"Lepasin, nggak?!" 


"Nggak mau!" 


"Lo--" 


"Gavin!" 


Gavin yang tadinya sudah siap ingin berbuat kasar pada Thalita dengan memukul wanita itu, berhenti ketika mendengar suara Kalya yang memanggilnya dengan suara keras. 


Pelukan Thalita yang tadi sangat membelit seperti seekor induk gurita pun terlepas, seiring dengan tatapan tajam Kalya yang berjalan ke arah mereka. 


"Kalian ngapain?!" tuding wanita itu melihat Gavin serta Thalia secara bergantian. 


"Engh, itu… Aku--" 


"Aku tadi hampir jatuh, Tante…" Sela Thalita cepat, melirik Gavin sambil menggigit bibirnya pelan. 


"Tadi, aku hampir jatuh. Tapi, untung ada Gavin yang nolongin aku. Jadi, aku selamat, deh. Iya kan, Gavin?" tanya Thalita pada Gavin, menatap pria itu sebagai isyarat kalau Gavin harus melakukan hal yang sama. 


Tapi, alih-alih menutupi kebenarannya dari Kalya, Gavin justru memutuskan untuk berkata jujur pada perempuan itu. 


"Nggak, deh. Dia bohong." Sahutnya, sontak membuat kedua mata Kalya dan juga Thalita membola. 


"Boro-boro mau bantuin dia. Walaupun aku lihat dia mau tersungkur ke atas tanah, aku juga nggak bakal peduli. Emang dia siapa? Penting gitu, ditolongin?" 


"Gavin!" 


"Dia sengaja meluk-meluk aku, Sayang. Dia gila!" adu Gavin segera, pada Kalya yang sontak membuat kedua mata Kalya semakin membola. 


"Sayang?" gumam Thalita begitu pelan. 


Berbeda dengan Kalya yang sudah menatapnya sangat tajam, Thalita justru menatap Gavin serta Kalya secara bergantian dengan sorot mata keheranan. 


"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Gavin sinis, membuat kerutan di dahi Thalia semakin dalam. 


"Ya enggak lah… Kayak yang aku bilang tadi, kalau dia--" 


"Istri gue." Serobot Gavin langsung, membuat Thalita terdiam. 


"Gavin," 


Tangan Kalya yang menyentuh dada Gavin untuk menghentikan ucapan pria itu, malah digenggam oleh Gavin, sebagai tanda kalau Kalya tidak boleh melarangnya. 


"Soal pernikahan itu… Gue nggak bohong. Gue emang menikah kemarin. Dan itu, sama Kalya. Orang yang lo pikir Tante gue selama ini." 


"Apa?" 


Thalita hampir saja tertawa, saat mengira kalau ucapan yang baru saja Gavin katakan itu adalah sebuah lelucon. Tapi, melihat bagaimana lembutnya perlakuan Gavin yang mengecup punggung tangan Kalya yang dia genggam, membuat hati Thalita merasa ragu kalau itu hanyalah sebuah omong kosong semata. 


"Nggak… Nggak mungkin! Kamu pasti bohong, kan? Kamu nggak mungkin nikah sama Tante Kalya, kan?! Nggak kan?! Itu bohong kan?" pekik Thalita tidak terima, dengan deru napasnya yang kembali memburu. 


"Ya nggak lah… Ngapain juga gue bohong? Gue--" 


"Kamu cuma mau bikin aku cemburu kan?! Iya kan, Gavin!? Kamu--" 


"Ckckckckck…" Decakan lidah Gavin serta sorot mata pria itu yang memandangnya malas, membuat ucapan Thalita terpotong. 


Dia menelan ludahnya susah payah, ketika dia merasa kalau darahnya seperti berhenti untuk mengalir. 


"Gue heran deh, sama lo… Kenapa sih, dari tadi lo bilang kalo gue ini mau bikin lo cemburu? Emangnya lo siapa?" tanya Gavin bosan, melihat Thalita yang menatap dirinya nelangsa. 


"Gavin," 


"Gue udah bilang dari kemarin. Mau elo mantan Ricko ataupun bukan, gue nggak tertarik! Apapun itu! Jangankan elo! Cewek lain juga, gue nggak bakal mau! Karena di hati gue cuma ada satu perempuan. Dan itu istri gue yang sekarang. Jadi, berhenti bersikap konyol, dan mulai jalani hidup lo yang baru. Paham?" ujar Gavin tegas, membuat Thalita semakin marah dan menggigit bibirnya kesal. 


"Paham, nggak?!" bentak Gavin kemudian, sempat mengagetkan Kalya yang ada di sampingnya. 


"Enggak! Aku nggak paham sama pikiran kamu!" balas Thalita kemudian, seperti hendak menangis, menatap Kalya dengan sinis dan penuh kebencian. 


"Aku nggak tahu apa yang buat Tante mau-maunya menuruti permainan Gavin untuk pura-pura jadi istrinya. Tapi, satu hal yang harus Tante tahu soal itu!" tuding Thalita sejenak, melirik Gavin yang kembali mengerutkan dahinya pusing. 


"Tante benar-benar keterlaluan!"


"Loh, kok--" 


"Harusnya Tante itu sadar diri! Gavin itu keponakan Tante! Bisa-bisanya, Tante yang notabenenya adalah adik dari Om Kendra, diam aja waktu diakui Gavin sebagai istrinya! Pikiran Tante dimana?! Harusnya Tante bisa bersikap lebih dewasa dan nggak kekanak-kanakan kayak gini!"


"Thalita, kamu ini--" 


"Aku benar-benar kecewa sama Tante! Terlebih kamu Gavin!" tunjuk Thalita emosi, pada Gavin yang justru mencibir ke arahnya. 


"Aku nggak akan diam aja sama hal ini. Kamu boleh mengaku apa aja untuk berusaha membohongi aku. Tapi, enggak dengan mengakui Tante kamu sendiri sebagai istri!" 


"Lah, emang dia istri gue! Masalah lo apa??" 


"Gavin!" 


Thalita yang tampaknya sudah tidak tahan, hanya menatap Kalya dan Gavin secara bergantian. 


"Tante benar-benar nggak tahu malu!" 


***


Hari masih siang dan restoran Ricko masih dalam keadaan yang sangat ramai, ketika pria itu memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya. 


Tadi, Rara--ibunya-- menelepon dan mengatakan kalau Gavin tengah bertengkar dengan Kalya di rumah mereka. Alasannya bukan main menjengkelkan. Karena Thalita, mantan tunangan Ricko yang gila itu datang dan berbicara aneh-aneh terhadap Kalya. 


"Ma, Mama…!" 


Ricko yang baru saja tiba di rumahnya langsung berteriak masuk ke dalam rumah. Saat mendengar suara sahutan dari arah lantai dua, tidak membuang waktu lagi, Ricko pun langsung berlari menuju tangga rumah.


"Ma…!" 


Ricko yang sudah tiba di depan kamar Kalya, langsung mendapati Gavin beserta Rara di sana. Terdengar sebelum ini, Gavin seperti membujuk Kalya untuk membuka pintu kamarnya. 


"Ricko," 


Dengan napas yang tersengal, Ricko pun mendekati Rara. 


"Ada apa? Apa masalah sebenarnya?" tanya Ricko sedikit lelah, melihat Gavin yang sudah menarik napas panjang dan membuangnya. 


"Heh! Gue mau lo bicara jujur. Kemarin, waktu si cewek gila itu bilang mau balikan lagi sama lo, lo jawab apa?" tanya Gavin mengintimidasi Ricko dengan cara bertolak pinggang di hadapannya. 


"Nggak ada. Gue cuma diam dan nyuruh dia buat pulang. Kenapa?" tanya Ricko polos, sontak membuat Gavin ingin menjambak rambutnya dengan frustrasi. 


"Goblok emang lo!" maki Gavin keras, sontak mendapat teguran dari Rara. 


"Gavin!" ujar wanita itu pusing, melihat Gavin yang menangkupkan kedua tangannya di dada. 


"Sory, Tante…" Gumamnya setengah menyesal, membuat Rara hanya bisa mendesah panjang. 


"Yaudah, masalah ini tolong kalian selesaikan secepatnya. Tante nggak mau, kalau sampai terjadi sesuatu sama Kalya. Dia itu sedang hamil! Kondisi perasaan dan pikirannya harus kita jaga! Jangan sampai hal buruk terjadi sama dia dan juga anak kamu, Gavin! Paham!?" ultimatum Rara pada Gavin, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh anak itu. 


"Dan kamu, Ricko!" tunjuk Rara pada Ricko, yang kini menautkan kedua alisnya bingung. 


"Kasih kejelasan atas hubungan kamu dan juga Thalita. Jangan hanya karena satu perempuan, hubungan kalian sebagai saudara hancur berantakan." Nasihat Rara lagi, memandang Ricko tak kalah tajam. 


"Paham?" tekan Rara, kali ini membuat Ricko menganggukkan kepalanya lesu. 


"Paham, Ma…" Sahutnya, lantas melirik Rara yang meninggalkan dia dan juga Gavin di lantai dua. 


Jujur, sebenarnya tadi Rara sudah cukup kaget mendengar pertengkaran Gavin dan juga Kalya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, dirinya yang sedang bersantai di ruang TV malah harus mendengar ribut-ribut dari arah depan rumahnya yang menjurus masuk ke dalam rumah. 


Sedikit penasaran, Rara yang mengintip ternyata mendapati Gavin dan juga Kalya tengah bertengkar di ruang tamu. Membuat wanita itu cemas, kala melihat Kalya langsung berlari menuju kamarnya di lantai dua dan meninggalkan Gavin di belakangnya.


Sekarang, dia tidak ingin anak serta keponakannya berkelahi hanya karena seorang perempuan tidak berperasaan seperti Thalita. Cukup! Wanita itu sudah seperti racun dalam keluarga mereka sejak dua tahun yang lalu. Dan kini, dia tidak ingin hal buruk itu kembali terjadi lagi dan merusak kebahagiaan yang baru saja akan tercipta di antara mereka. 


"Jadi… Apa yang dilakuin perempuan itu sama Tante Kal?" 


Bersambung