Be My Brides

Be My Brides
Episode 45



Suasana makan malam di antara Kalya dan juga Gavin terasa begitu dingin. Meskipun sejauh ini Gavin sudah berusaha bersikap biasa, tak urung membuat Kalya merasa curiga kalau ada yang tengah disembunyikan laki-laki itu darinya.


Jika biasanya Gavin selalu terlihat ceria, kali ini, pria itu malah terlihat menjadi sosok pria yang pendiam. Sikapnya kaku, saat beberapa kali Kalya mencoba membuka pembicaraan dengannya yang hanya dibalas dengan gumaman dan sahutan kikuk ala orang asing.


Senyum menawan yang  biasanya diberikan oleh Gavin untuk Kalya, kini terlihat canggung dan terkesan dipaksakan. Kalya menyadari itu semua, saat dia menemui Gavin di teras rumah tadi pagi.


"Kamu kenapa? Kok muka kamu aneh gitu? Kamu sakit?" tanya Kalya yang menghampiri Gavin kala itu, dimana Gavin sudah menatapnya dengan sorot mata yang berbeda.


"Enggak. Nggak papa, kok. Aku baik-baik aja," sahut Gavin, sontak menandakan kalau tidak ada yang baik saat ini.


"Baik-baik aja, tapi muka kamu kok, gitu? Kamu--"


Kalya yang tadinya hendak menyentuh sebelah pipi Gavin, mendadak terpaku, kala pria itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tangan Kalya yang masih berada di udara, terasa begitu kaku, seiring dengan langkah pria itu yang langsung meninggalkannya ke dalam rumah.


Ada apa dengan Gavin? Apa yang tadi dibicarakannya dengan Bu Tuti? Kenapa reaksinya jadi seperti itu? Terka Kalya dalam hati, mengingat sebelum ini dia melihat Gavin tengah berbicara dengan salah satu tetangga mereka.


Menutupi rasa perih, Kalya pun menyusul Gavin masuk ke dalam rumah, di mana pria itu tampaknya berkeras mengabaikan Kalya hingga malam menjelang.


"Kamu mau tambah nasinya, Gavin? Aku masak cukup banyak hari ini." Tawar Kalya bangkit dari tempat duduknya, mengambil tempat nasi untuk dia tuangkan ke atas piring suaminya.


"Nggak usah." Jawab Gavin segera, membuat tubuh Kalya terdiam di tempatnya.


Lama wanita itu menatap wajah Gavin yang terlihat dingin. Kalau sudah seperti ini, dia jadi ingat dengan sosok Gavin yang sempat dia lupakan beberapa waktu belakangan ini. Dingin dan juga tidak tersentuh.


"Gavin, kamu itu sebenarnya kenapa, sih? Kamu marah sama aku?" tanya Kalya, yang sebenarnya sudah masuk hitungan kesekian kalinya pada Gavin, yang pasti akan mendapatkan jawaban yang sama lagi kali ini.


"Enggak."


"Enggak, tapi kamu kok kayak gitu, sama aku? Aku ada salah apa?" tanya Kalya cepat, kali ini tidak mendapatkan jawaban apa pun lagi dari Gavin.


"Gavin!"


"Apa, sih?"


"Jawab!"


Mendengar Kalya yang memaksanya bicara, tak urung membuat Gavin menarik napasnya panjang dan menghela.


"Ngapain aku marah sama kamu? Emang bisa? Kamu kan nggak pernah salah," sahut Gavin dingin, dengan kalimat yang penuh dengan kata sindiran.


"Kamu kan nggak pernah salah…"


Fix! Kalimat itu sudah menunjukkan kalau Kalya pasti sudah berbuat salah kali ini.


"Apa yang udah aku buat sama kamu, Gavin? Kenapa kamu bicara kayak gitu? Kesalahan apa yang udah aku perbuat? Kamu bilang, supaya aku tahu," pinta Kalya lemas, menatap sosok Gavin yang masih enggan menatapnya.


Entah kenapa, hati Kalya tiba-tiba dirundung rasa cemas seperti ini. Gavin yang sudah lama tidak pernah bersikap seperti ini kepadanya, kembali memunculkan sikap yang demikian. Membuatnya merasa takut, karena Gavin sudah memiliki perasaannya saat ini.


"Aku udah kenyang. Kamu lanjutin aja makannya. Aku ke kamar dulu," ucap Gavin, yang alih-alih menjawab, malah pergi meninggalkan Kalya begitu saja.


Sakit hati? Tentu! Memangnya, perempuan mana yang tidak sakit hatinya, melihat orang yang dia sayangi mengabaikannya begitu saja?


"Gavin," tanpa terasa, dan tanpa Gavin ketahui, diam-diam Kalya sudah kembali menangis di meja makan. Sendirian, tanpa teman, dan ketakutan.


Suara yang lirih serta isakan yang halus, membuat wanita itu terlihat begitu rapuh. Inilah yang Kalya khawatirkan selama beberapa hari ini. Saat dia sudah menerima Gavin sepenuhnya dan membuka hati --bahkan dia rela memperbaiki sikapnya agar pria itu tidak berpaling-- untuk Gavin, pria itu malah dengan mudahnya menyakiti Kalya seperti ini. Lantas, setelah itu, apa? Gavin akan pergi meninggalkannya? Bersama perempuan bernama Anggi itu? Apa Gavin benar-benar akan setega itu padanya?


Dengan linangan air mata serta tumpukan kata yang tidak terungkap, Kalya menatap pintu kamar mereka yang tertutup rapat.


"Kamu kenapa?"


 


***


 


Permasalahan yang saat ini tengah Gavin hadapi tampaknya membuat pria itu tidak bisa semangat bekerja. Jika bisanya dia terlihat sangat gesit menyelesaikan setiap pekerjaannya --meskipun baru datang ke kantor sekalipun-- kali ini Gavin justru terlihat seperti orang yang tidak mempunyai semangat hidup. Wajahnya murung, dengan sorot mata tajam yang entah menjurus ke arah mana.


"Dih, muka lo kenapa? Kusut banget, kayak kain yang kelamaan dijemur aja..." Celetuk Andi yang tampaknya baru saja datang, sambil menyenggol sebelah lengan Gavin yang terlipat di dada.


"Kenapa lo? Nggak dapat jatah dari istri, ya? Asam banget muka lo " goda pria itu tertawa, kemudian duduk di kursinya yang berada tepat di sebelah meja Gavin.


Gavin yang memang masih merasa sangat kesal dan tidak enak hati, lebih memilih untuk tidak merespons ucapan Andi. Dia diam, sambil membuang pandangannya ke arah lain.


"Eh, lo ada masalah? Cerita sama gue. Mungkin, gue bisa bantu," tawar Andi pada Gavin, menatap serius laki-laki itu yang tampaknya memang sedang tidak ingin bercanda.


"Nggak usah. Makasih," jawab Gavin yang kentara sekali sedang badmood, hingga membuat Andi tersenyum mendengarnya.


"Pasti soal istri lo, deh. Soalnya, lo kan bukan tipe orang yang mudah badmood kalau bukan karena soal istri lo. Siapa tuh, namanya? Cantik?"


"Kalya," ralat Gavin sedikit ketus, kembali membuat Andi mengangguk.


"Lo ribut sama bini lo? Atau, lo emang lagi ngambek aja, sama dia?" terka Andi, seketika mendapat lirikan mata sekilas dari Gavin


"Lo kata gue anak-anak, pake ngambek segala? Aneh,..." Gumam Gavin menggerutu, pada Andi yang lagi-lagi tertawa kecil mendengarnya.


Sambil meletakkan sebelah tangannya di bahu Gavin, Andi berkata, "Eh, bro… Lo bilang, istri lo lagi hamil, kan? Bentar lagi ya, lahirannya? Lo nggak takut, ribut-ribut gini sama istri lo?" tanya Andi santai, pada Gavin yang malah mengerutkan alis bingung kepadanya.


"Siapa yang ribut, sih? Sok tahu, lo!" sungut Gavin, mendorong lengan Andi untuk menjauh darinya.


"Terus, kalo nggak ribut, berarti ngambek, dong!" cetus Andi semangat, sontak membuat wajah Gavin cemberut.


"Jangan banyak tingkah, deh… Lo nggak kasihan sama bini lo? Udah capek-capek hamil, eh lo-nya malah ngambek-ngambek gini sama dia? Lo mau bikin pikiran dia kusut?" tuduh Andi, sekilas membuat Gavin mendengus.


"Nggak usah sok tahu, deh! Gue nggak ngambek! Jelas?" tekan Gavin kesal, lantas bergumam dalam hati. "Ya, kali dia mikirin perasaan gue sekarang. Selama ini aja enggak…"


Melihat wajah Gavin yang sangat ketat itu, tak ayal membuat Andi hanya bisa menatapnya. Usia Gavin yang berada sedikit jauh di bawahnya, membuat dia pelan-pelan bisa memahami sikap dan gengsi yang mungkin dimiliki oleh Gavin saat ini.


"Sebenarnya, lo bisa kok, cerita sama gue… Gue bisa jaga rahasia lo. Atau, kalo lo malu, lo bisa kok, pake perumpamaan kalau ini semua itu ceritanya temen lo. Jadi, gue--"


"Lo pikir gue bego? Pake cara gitu cuma untuk ceritain masalah rumah tangga gue sama orang lain?" sela Gavin tajam, pada Andi yang cuma tersenyum kecil kendenharnya.


Sejenak, Andi tidak berkilah. Dia hanya diam, melihat Gavin yang sudah kembali memasang tampang murung di wajahnya.


"Vin, lo tahu… Gue pernah kehilangan orang yang gue cintai?" cerita Andi pelan, dibalas Gavin dengan lirikan singkat ke arahnya..


"Lebih dari setengah penduduk bumi juga pernah kehilangan orang yang mereka cintai. Jadi, lo nggak perlu tanya soal itu ke gue." Kata Gavin dingin, hanya mendapat mengukir senyum kecut di bibir Andi.


"Parahnya, dia istri gue. Lebih tepatnya… Mantan istri." Sambung Andi, kali ini sontak membuat Gavin merasa terkejut mendengarnya.


Sambil melihat panik ke kiri dan kanan, Gavin pun bertanya. "Lo udah nikah? Ehm, maksud gue… Lo udah cerai, Mas?" katanya, dengan nada kaget yang begitu kentara.


Dengan sebuah gerakan kecil, Andi mengangguk. "Karena keegoisan dan kebodohan yang saling bertetangga akrab, gue akhirnya menceraikan istri gue yang saat itu masih sangat gue cintai." Lirih Andi, kemudian, mendesahkan napasnya panjang.


"Ah… Bahkan sampai sekarang pun, perasaan gue sama dia itu masih sama. Nggak berubah, biarpun sikapnya udah nggak sama lagi, seperti dulu." Cerita Andi menerawang, dengan sorot pandangnya yang terlihat sedikit redup


"Setiap ngelihat gue… Dia pasti marah dan jijik seolah gue ini hewan melata yang nggak pantas ada di sekitarnya." Lirih Andi lagi, terdengar begitu lesu.


Entah kenapa, Gavin merasa perasaannya saat ini mungkin tidak lebih buruk dibandingkan Andi yang bercerita.


"Lo tahu, apa yang buat gue bisa menceraikan istri gue?" tanya Andi pada Gavin, yang sudah menolehkan kepalanya melihat ruangan mereka yang masih terbilang sepi.


Hanya ada mereka berdua, dan dua anggota pemasaran lain yang kebetulan duduk sedikit jauh dari mereka.


"Karena keegoisan dan kebodohan lo yang saling bertetangga akrab?" terka Gavin aneh, mengulang kalimat tidak jelas Andi yang tadi dia katakan.


Memberikan seutas senyum pahit, Andi kembali mengangguk.


"Keegoisan, karena gue nggak mau dengar penjelasan dia saat itu. Dan kebodohan karena gue lebih milih dengar perkataan orang lain daripada kata-kata istri gue sendiri." Perjelas Andi, mengedip sekali, lantas mencoba tersenyum kepada Gavin.


"Gue tahu, kalo lo mungkin lagi mau mempertahankan ego lo sebagai seorang laki-laki. Tapi, gue saranin sama lo, untuk membicara semua masalah lo sama dia. Apapun itu. Karena, mempertahankan rumah tangga itu bukan cuma sekedar pake cinta, Vin. Tapi juga komunikasi." Nasihat Andi bijak, lantas menepuk bahu Gavin sekali.


"Di mana pun, akan selalu ada pihak yang bakal berusaha ngerusak hubungan rumah tangga yang lo bina. Dan dari sanalah lo bisa tahu kualitas hubungan lo yang sebenarnya itu gimana. Udah cukup kuat, atau belum? Lo mau buat mereka senang atas kegagalan lo, atau lo mau buat mereka diam, dengan semua keberhasilan lo, itu semua ada di tangan lo sendiri." Lanjut Andi lagi, kemudian memamerkan senyum tipisnya.


"Jangan kayak gue… Gagal, dan jadi bahan tertawaan bagi orang-orang di sana." Keluh Andi menunduk, menunjukkan penyesalan yang begitu mendalam.


Gavin tebak, kalau saat ini pasti Andi sedang membayangkan kembali kenangannya bersama dengan Mantan Istri yang tadi Andi ceritakan. Mungkin, dia sedang menyesali semua perbuatannya yang lebih mendengarkan orang lain ketimbang istrinya sendiri.


Eh, tunggu! Seperti dejavu, Gavin merasa tengah berada dalam cerita yang sama. Lebih mendengar perkataan orang lain, dan mengabaikan Kalya yang tampaknya siap menjelaskan segala sesuatunya pada Gavin.


"Pokoknya, jangan sampai lo menyesal, Vin. Sebagai teman, gue cuma bisa saranin itu buat lo." Ucap Andi, sekali lagi menepuk sebelah bahu Gavun sekilas.


Terbesit dalam hati Gavin soal dirinya yang tidak menghiraukan Kalya sampai pagi tadi. Meski tadi pagi perempuan itu tampak berusaha untuk mendekatinya lagi dan melayani Gavin dengan baik, dia tetap berkeras dan tidak mau mempedulikan Kalya karena egonya. Menuding Kalya telah menyia-nyiakan kasih sayang serta cintanya, dan membiarkan wanita itu jatuh dalam lubang kesendirian.


Bukan Gavin tidak tahu kalau Kalya menangis satu malaman di ruang makan. Isakan wanita itu terdengar cukup jelas, karena ukuran rumah mereka yang memang tidak terlalu besar, membuat suara apapun bisa kelas terdengar sampai ke telinga Gavin.


Tapi, apa? Apa yang Gavin lakukan pada Kalya yang menangis tadi malam? Apa Gavin membujuknya? Tidak! Gavin tidak membujuknya. Dia malah naik ke atas tempat tidur, dan menutupi kepalanya dengan selimut, berharap tidak mendengar suara kesedihan istrinya agi malam itu.


"Bukan saya mau menghasut Mas Gavin, ya… Tapi, saya kasihan aja, lihat Mas Gavin yang udah capek-capek kerja siang malam cuma untuk Istri dan anak yang mau lahir, eh, Mbak Kalya malah…"


Gavin memejamkan kedua matanya mengingat setiap kata yang Bu Tuti ucapkan kepadanya. Begitu meyakinkan, hingga Gavin gelap mata dan tidak tahu harus mengambil jalan apa.


"Kalau nggak percaya, tanya aja sama Mbak Kalya sendiri. Itu pun, kalau dia mau ngomong…"


"Kalau aku ada salah, bilang, biar aku tahu…."


“Mas,” sambil menarik napas panjang, Gavin menyentuh sebelah pundak Andi. "Tolong bilangin, kalau gue nggak masuk hari ini."


 


Bersambung