Be My Brides

Be My Brides
Episode 22



Gavin tahu, ini tidak akan mudah. Menikahi Kalya, pasti tidak akan semudah dia mengawininya. Meminta restu kepada orang tua juga, bukan hal yang mudah seperti meminta izin untuk pergi kemping ke atas gunung. 


Semua butuh kematangan, semua butuh usaha dan keyakinan. Terlebih, bagi keluarga mereka, terutama bagi ayah dan juga pamannya --Keanu--, Kalya adalah sosok wanita yang sangat berharga. Menyenggol Kalya, sama saja artinya dengan menyenggol harga diri mereka.


"Jadi… Maksud kalian… Kalian akan menikah?" tanya Kendra pada Kalya dan juga Gavin yang saat ini duduk di hadapannya.


"Iya… Itu pun, kalau Mas Kend dan yang lainnya setuju." Jawab Kalya, menyentuh tangan Gavin yang seperti hendak menjawab pertanyaan pria itu barusan.


"Hm, gitu, ya…"


Kendra tampak merenung. Dia melipat kedua tangannya yang bertumpu di atas lutut dan mengusap dagunya sambil berpikir.


Sejenak, tidak ada yang berani angkat bicara. Semua tampak tegang, menanti apa yang akan dikatakan oleh Kendra. Terutama Nia, yang terus saja menatap suaminya itu was-was dengan dada yang bergemuruh hebat.


Satu menit, dua menit, semua semakin bertambah resah karena Kendra tak juga kunjung buka suara.


"Kalya, kamu yakin mau menikah sama Gavin? Bukannya kamu udah setuju, buat nikah sama Ricko?"


Setelah melihat kakaknya tidak juga membuka mulut, Keanu maju dan pindah duduk di samping Kalya. Disentuhnya lengan adiknya itu pelan, seolah memberitahu kalau Kalya bisa membatalkan ucapannya sekarang juga.


"Om,"


Gavin yang tampak tidak senang dengan ucapan Keanu, mencoba menegur pria itu. Tapi, seolah tidak peduli, Keanu hanya meliriknya sekilas, sebelum akhirnya kembali terfokus kepada Kalya.


"Mas… Sebelum ini, apa pernah aku bilang setuju untuk menikah sama Ricko?" tanya Kalya pada Keanu, yang sontak membuat semua orang yang ada di sana saling memandang satu sama lain.


"Tapi, kamu--"


"Aku belum ambil keputusan apa pun untuk hal itu." Jawab Kalya cepat, melepas genggaman tangan Keanu darinya, dan berbalik mengusap tangan pria paruh baya tersebut. 


"Kemarin, aku masih syok banget atas apa yang terjadi sama diri aku. Dan sekarang, aku udah mulai bisa berpikir jernih, kalo Ricko nggak ada sangkut pautnya di sini." Kata Kalya menyesal, yang kemudian menundukkan kepalanya  sedikit. "Aku nggak mungkin merepotkan Ricko yang nggak bersalah untuk menyelesaikan masalah aku. Aku--"


"Aku nggak keberatan kok, Tan… Demi Tuhan, aku nggak keberatan sama sekali." Sela Ricko tegas, di mana ucapannya itu membuat Gavin langsung menatap tajam kepadanya.


"Diam lo! Ini bukan urusan lo!" tuding Gavin kesal, pada Ricko yang terlihat mengabaikan peringatannya. 


"Tante harus percaya. Ini sama sekali nggak merepotkan aku. Aku malah senang dan bersyukur andai bisa menolong Tante yang lagi ditimpa musibah kayak gini." 


Entah kenapa, Gavin merasa geram dengan Ricko yang meliriknya setelah menekan kata musibah dalam kalimatnya.


"Tapi, kamu juga punya kehidupan yang bisa kamu raih sendiri, Ko… Kamu nggak boleh mengorbankan kebahagiaan yang bisa aja kamu dapat, cuma karena masalah ini." Kalya menarik napas panjang dan menatap Ricko. 


"Ini memang bukan urusan Tante. Tapi, Tante tahu, kamu ngelakuin ini cuma karena kamu mau mengalihkan pikiran kamu aja 'kan? Kamu cuma mau jadiin pernikahan ini sebagai pelarian kamu aja' kan?" 


"Tan…!"


Lagi-lagi, Kalya menarik napas panjang dan menatap wajah Ricko yang pias. 


"Ricko, kamu juga harus percaya, kalo nggak semua perempuan di dunia ini tuh, kayak mantan tunangan kamu. Semua punya sifat yang berbeda-beda. Sialnya aja, kamu jatuh cinta sama dia."  Kata Kalya, melihat Ricko yang sudah *** kedua tangannya di atas lutut. 


"Jangan pukul ratakan semua perempuan kayak Thalita. Jangan cuma karena mau melupakan sakit hati kamu tentang dia, kamu jadi buang semua perasaan kamu, Ko. Itu bodoh namanya…" Tambah Kalya lagi, sukses membuat Ricko mendecih tersingunggung. 


"Tante, ini bukan masalah aku. Kita lagi bahas soal--" 


"Karena ini bukan masalah lo, makanya gue dan Kalya nggak mau lo ikut campur dalam masalah ini." Sela Gavin tegas, membuat Ricko mendesah menatap sinis ke arahnya. 


"Gue berterima kasih karena lo bersedia nawarin diri buat bantu Kalya. Tapi, ini masalah gue sama dia. Jadi, biar gue yang bertanggung jawab." Kata Gavin, kali ini membuat tidak hanya Ricko saja yang mencebik, melainkan Ricky pun ikut tertawa sinis mendengarnya. 


"Songong banget lo! Kayak lo bisa diandalin aja… Udah salah, belagu lagi. Nggak tahu malu lo, ya?" cecar Ricky tajam, dibalas desisan masa bodo oleh Gavin. 


"Justru gue lebih malu lagi, kalo kesalahan gue harus ditanggung sama orang lain. Gue cuma nggak mau jadi pengecut aja, yang nggak mau mengakui kesalahannya sendiri."


"Alasan! Banyak banget bacot lo! Lo pikir gue percaya?! Lo pikir--" 


"Ricky!" 


Ocehan Ricky yang terdengar begitu menggebu-gebu terhenti begitu Rara, ibunya Ricky, yang duduk di sebelah pria itu menyentuh tangannya dan menatap kesal ke arahnya. 


"Udah… Jangan bikin suasana bertambah runyam!" delik Rara jengkel, lantas membuat Ricky yang tadi emosi, jadi menutup mulutnya rapat-rapat. 


"Jadi… Apa alasan kamu setuju menikah sama Gavin, Kal? Apa dia maksa kamu untuk menerima lamaran dia?" tanya Kendra setelah beberapa saat berdiam diri, menatap Kalya tajam dan mengabaikan pelototan mata Gavin yang tidak terima. 


"Pa, Kalya nerima lamaran bukan karena terpaksa! Tapi, kar--" 


"Sejak kapan nama kamu berubah jadi Kalya? Kamu udah ganti jenis kelamin?" sindir Kendra sengit, menyela Gavin yang protes. 


"Papa nanya Kalya. Bukan kamu. Memang nama kamu Kalya?" tekan pria itu lagi dingin, membuat Gavin menghelakan napas berat. 


"Aku nggak terpaksa kok, Mas… Aku cuma merasa kalo mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus aku lakukan. Demi anak aku kelak, aku harus menikah sama Gavin."


"Tapi, Gavin itu masih terlalu muda untuk kamu. Dia masih terlalu anak-anak untuk menjalani urusan rumah tangga. Apa kamu yakin, akan biarin orang kayak dia ini memimpin keluarga kamu nanti? Kamu siap untuk segala hal buruk yang mungkin aja bisa dilakukannya di kemudian hari?"


"Papa!"


"Pa… Mau sampai kapan Papa menganggap Gavin ini anak kecil, Pa? Gavin udah gede! Gavin udah dewasa. Jadi, kasih Gavin satu kesempatan untuk menunjukkan sama Papa dan yang lainnya kalo Gavin memang bisa diandalkan." Gavin menarik napasnya panjang sejenak, kemudian melirik ke arah Ricko yang menatapnya sama sengit seperti keluarganya yang lain. 


"Biar pun usia Gavin lebih muda dari Ricko yang udah mapan ini, tapi Gavin bakal tunjukin kalo Gavin juga bisa jadi sandaran buat Kalya dan anak kami nanti." Ujar Gavin yakin, membenarkan posisi duduknya menjadi sedikit lebih tegap. 


"Gavin nggak butuh banyak. Gavin cuma perlu satu. Satu kesempatan, untuk buktikan kalo Gavin memang bisa." Kata lelaki itu meyakinkan Kendra, yang kemudian membuat ayahnya itu kembali termenung. 


Tampak Kendra seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi, gelagat bibirnya terasa kaku, dan membuat pria itu resah di tempatnya. 


"Mas,"


"Gimana menurut kamu, Nia?" tanya Kendra jadinya pada Nia, yang juga tampak kalut dengan keputusan yang akan diberikan. 


Nia tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Kalya dan Gavin secara bergantian dengan lekat. 


"Kalya…. Bukan Mbak nggak setuju kalau kamu harus menjadi menantu Mbak. Tapi…" 


Nia menundukkan wajahnya sekilas, sebelum akhirnya kembali berkata. "Bagi Mbak, Gavin itu masih begitu muda. Dia masih anak-anak. Meskipun dia memaksakan diri, tetap aja pikiran dia masih belum sedewasa apa yang kita harapkan." Kata Nia, lalu tersenyum lirih pada Kalya. 


"Kamu tahu sendiri gimana sifat Gavin dari kecil 'kan? Apa kamu bisa, menghadapi dia yang seperti itu?" tanya Nia, menatap Kalya yang kini menolehkan kepalanya ke arah Gavin. 


"Aku…" Kalya yang terlihat ragu, menggigit bibirnya sedikit. 


Kalau boleh jujur, Kalya sendiri pun sepertinya tidak tahu apakah kelak dia bisa mengimbangi sifat Gavin yang memang dia kenal sejak kecil itu atau tidak. Dia tidak berani mengatakan kalau dia sanggup menghadapi sikap Gavin yang terkadang sungguh kekanak-kanakan tersebut. Atau, kalau ingin lebih Egois nya lagi, dia juga takut Gavin tidak akan bisa mengubah semua sifat buruk yang dia punya selama ini. 


"Kal," 


Sentuhan tangan Gavin di punggung tangan Kalya menyadarkan wanita itu sejenak. Dia mengerjap, dan melihat pandar mata penuh harap yang Gavin berikan kepadanya. 


Sambil membaca doa dalam hati, Kalya pun memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.


"Aku yakin Gavin bisa." Ucapnya menguatkan hatinya diam-diam. 


"Lambat laun, satu atau dua tahun lagi, dia pasti akan bisa membuang sedikit demi sedikit sikap buruk dan kekanak-kanakan yang dia punya. Aku yakin, kalo dikasih kesempatan, dia pasti nggak kalah hebat dari Ricko ataupun Ricky. Aku cuma harus sadar kalo Gavin itu juga manusia biasa yang masih banyak kekurangan." Kalya melirik tangannya yang masih disentuh oleh Gavin, dimana secara tidak sadar dia merasakan sebuah kehangatan yang mengalir memenuhi rongga hatinya. 


"Jadi, intinya… Kamu bersedia menerima dia untuk jadi suami kamu?" tanya Keanu memastikan kalau jawaban Kalya mengarah pada satu keputusan yang bulat. 


Sambil kembali berpikir, Kalya membuang napasnya perlahan-lahan.


"Iya. Aku bersedia." Jawabnya, kali ini membuat semua orang yang ada di sana menarik napas panjang dan membuangnya secara bersamaan. 


"Baiklah, kalo gitu… Kalau Kalya yang memang menginginkan hal ini, kita nggak punya hak apa pun lagi untuk menentangnya." Desah Kendra menyandarkan tubuhnya di sofa yang dia duduk saat ini. 


Entah kenapa, Kendra merasa saat ini beban di pundaknya seperti sedikit berkurang.


"Kita nikahan mereka secepatnya." Putus Kendra, melihat rona bahagia yang mulai terpancar di raut wajah Gavin. 


"Tapi…" Gantung pria itu kemudian, menatap Gavin yang juga menatapnya dengan sorot mata kebingungan.  


"Kamu dan Kalya baru bisa satu rumah kalo kamu udah tamat kuliah."


"Apa?!"


Gavin yang terkejut mendengar ucapan Kendra, tidak sengaja terpekik. 


"Maksud Papa, apa? Kenapa Gavin nggak boleh satu rumah sama Kalya? Kan Gavin suaminya Kalya," protes Gavin yang langsung disahut malas oleh Keanu yang mendengarnya. 


"Calon. Bukan suami, Gavin." Ujar pria itu, lantas mendesah kan napas panjang melihat ke arah Kendra. 


"Aku setuju, Mas. Gavin boleh menikahi Kalya secepatnya, semata-mata perut Kalya yang semakin hari semakin besar." Kata Keanu, lalu melayangkan lagi pandangannya ke arahnya Gavin. "Tapi, urusan tinggal bareng, tunggu kamu dapat kerja dulu."


"Tapi, Om…!" 


"Papa sama Om kamu benar, Gavin. Kamu harus selesaikan kuliahmu dan cari kerja dulu sebelum bisa menanggung Kalya sepenuhnya. Memangnya, mau kamu kasih makan apa istri sama anak kamu nanti ? Cinta? Nggak bisa, Gavin…" Dukung Nia tegas, sontak membuat Gavin terpaku. 


Kenapa masalahnya jadi seperti ini?


"Jadi… Sama aja kayak nggak nikah, dong?" bengong Gavin bergumam, kali ini justru membuat tiga sepupunya menahan tawa. 


"Katanya mau bertanggung jawab. Jadi, cuma sampai nikah doang, maksudnya?" sindir Ricko kemudian, membuat Gavin mencebik tidak suka. 


Melihat tampang Gavin yang mulai berubah murung, membuat Kendra tidak tega juga melihatnya. Bagaimana pun, dia tahu kalau anaknya itu sudah sangat jatuh cinta kepada Kalya. Meski berat untuk mengakui, bahkan harus melawan logika terbesarnya, perlahan Kendra juga harus belajar mengenai perasaan anaknya sendiri. Apa dan kenapa masalah ini bisa sampai terjadi. 


Tapi, Kendra melakukan ini juga bukan tanpa alasan. Dia hanya mau, Gavin menunjukkan keseriusannya dengan total. Tidak setengah-setengah, hingga dia bisa benar-benar yakin bisa memberikan Kalya sepenuhnya kepada anaknya tersebut.


"Kalo kamu memang mau tinggal bareng sama Kalya, cepat selesaikan kuliah kamu dan cari pekerjaan. Setelah itu…"


Kendra pun bangkit dari tempat duduknya dan menepuk bahu Gavin sebentar. 


"Kalya bisa jadi milik kamu sepenuhnya."


Bersambung…