
Kedua mata Kalya tidak lepas menatap benda bersegi yang ada di depannya saat ini. Dengan pandar mata yang berkilau, Kalya menatap kagum tas pemberian Gavin yang --katanya-- dari luar negeri itu dengan tatapan begitu terpesona.
"Yang sama persis kayak punya Ricka itu nggak ada, Sayang. Katanya, tas itu memang nggak akan ada yang sama, karena dibuat satu untuk tiap model. Aku sih, nggak ngerti. Jadi, ya aku minta aja model terbarunya sama mereka…"
Kalya menaikkan pandangannya kembali melihat ke arah Gavin. Mulutnya masih terbuka lebar, menatap kagum pada suaminya yang kini menatap bersalah ke arahnya.
"Sory… Aku harap sih, kamu suka…" Ucap Gavin tulus, yang sepertinya benar-benar menyesal tidak bisa memenuhi keinginan istrinya mengenai tas yang sama dengan milik Ricka.
"Nggak papa kok, Mas… Ini udah bagus banget, kok! Aku suka," kata Kalya, kembali menatap tas pemberian suaminya itu penuh kagum. Berarti, secara tidak langsung, tas mewah yang ada di hadapannya ini adalah satu-satunya di dunia ini, dong? Tidak ada model serupa?
"Hebat…" Gumam Kalya tersenyum, kemudian menatap Gavin penuh harap.
"Harganya berapa Mas?" tanyanya semangat, yang entah kenapa, malah membuat Gavin menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa nanya harga? Kamu mau bayar?" tanya suaminya itu, seketika melihat Kalya nyengir, menampakkan deretan giginya yang rapi.
"Enggak… Kan ada kamu… Masa aku yang bayar, sih…" Sahut wanita itu cengengesan, menutup mulutnya geli hingga membuat Gavin menggeleng melihatnya.
Lihatlah… Kelakuan Kalya yang biasanya terlihat dewasa, bisa berubah seperti anak-anak begini.
"Udah… Pokoknya Tante tenang aja… Sama kayak penampilannya, tas ini bukan tas yang murahan, kok… Aku berani jamin. Soalnya, aku yang minta tolong langsung sama adiknya Mas Bayu yang tinggal di Paris." Ujar Ricka, yang sejak tadi memang duduk berseberangan dengan Gavin dan Kalya.
Benar saja, mendengar kalimat itu, mata Kalya terlihat semakin berbinar. Lalu, dia mengambil tas yang Gavin letakkan di atas meja kayu di depan mereka, kemudian mengusapnya begitu pelan. Dia seperti baru menemukan harta karun yang sangat bernilai harganya.
"Waaah… Pasti mahal banget, deh… Punya kamu juga kayak gitu?" tanya Kalya penasaran, terhadap Ricka yang menganggukkan kepalanya.
"Wah… Enak dong, kamu bisa jual tas itu, kalau-kalau kamu mau kabur dari suami kamu. Ya kan?" cetus Kalya tiba-tiba, tidak sadar sepenuhnya dengan apa yang barusan dia katakan.
"Hus! Kamu ngomong apa sih, Kal? Nggak baik, loh! Baru juga menikah, udah kamu sumpahin aja si Ricka kabur. Gimana, sih!" tegur Gavin gusar, mendengar perkataan istrinya yang demikian.
"Ya, siapa tau aja, Mas… Rumah tangga itu 'kan nggak ada yang bisa nebak gimana kedepannya. Mana tau, Ricka berantem sama suaminya, terus berniat buat kabur. Kan, mungkin aja…" Alasan Kalya polos, mencebikkan bibirnya sedikit melihat wajah Gavin yang sedikit murung.
"Ya nggak dua minggu pernikahan juga kali, Kal… Emang, kamu kalo nanti ribut sama aku, kamu punya niat buat kabur? Minta tas itu cuma buat ancang-ancang, kalau kamu nggak punya uang buat lari? Gitu?" tuntut Gavin sebal, menatap tajam Kalya yang melotot dan memajukan bibirnya tidak senang.
"Aku ingatkan sama kamu ya, Kalya… Pernikahan itu, bukan permainan. Tapi, sebuah perjanjian dengan Tuhan. Dan saat seseorang memutuskan untuk menikah dengan pasangannya, itu artinya dia harus siap menerima segala kekurangan serta kelebihan orang yang dinikahinya. Paham kamu?" omel Gavin tegas menuding wajah Kalya dengan serius.
"Ya paham sih, Mas… Maksud aku juga, nggak gitu. Aku 'kan--" Kalya yang tiba-tiba saja sadar dengan semua ucapan Gavin terhadapnya terkesan seperti memarahi, langsung menegakkan tubuhnya menatap Gavin cukup ngeri.
"Kamu kok jadi marahin aku gini, sih?! Aku kan cuma ngomong! Nggak ada maksud lain! Kok kamu udah melototin aku kayak gitu?!" tuding Kalya mulai berkaca-kaca, langsung melemparkan tas pemberian Gavin tadi tepat ke wajah pria tersebut.
"Kal!"
"Jahat banget sih, kamu Mas! Aku kan nggak bermaksud ngomong aneh-aneh tentang Ricka… Aku kan cuma asal ngomong! Kok tiba-tiba, aku dimarahin sih?! Aku kan nggak ada niat jelek! Aku…"
Dan Kalya pun mulai terisak, sambil menundukkan kepalanya sedih.
Lihatlah, lihatlah… Baru juga sebentar wanita itu terlihat senang dengan barang pemberian Gavin untuknya, di sudah menangis seperti orang yang paling teraniaya sedunia. Hanya karena nasihat Gavin yang sebenarnya masih termasuk dalam kategori cukup wajar, Kalya menangis seolah suaminya itu sudah menjatuhkan talak tiga kepadanya.
"Ya abis, kamu ngomong yang aneh-aneh sih, soal pernikahan Ricka! Itu nggak baik, tau! Bagaimanapun juga, dia kan sodara aku, Kal! Jangan nyumpahin dia kayak gitulah…" Bela Gavin mencoba lunak, terhadap Kalya yang sudah menangis menatapnya.
"Yang nyumpahin dia siapa, sih?! Aku kan cuma ngomong, Mas! Cuma ngomong!? Kan nggak tentu juga Ricka punya pikiran pendek kayak gitu soal pernikahannya! Nggak mungkin dia kabur dari suaminya, cuma karena mereka ada masalah! Iya kan, Ka? Kamu nggak mungkin lari kan?"
Ricka yang tadinya terdiam mendengar ucapan Kalya yang pertama, mengerjap bingung melihat Kalya dan Gavin yang sudah menatap lekat ke arahnya.
Tidak mungkin kabur, jika sedang ada masalah dengan suaminya? Hah! Kenapa tiba-tiba mereka jadi membahas hal ini?
"I--iya, Tante… Nggak, kok… Aku nggak mungkin kabur. Aku kan bukan anak kecil lagi yang suka kabur-kaburan…" Jawab Ricka tergagap, mencoba tersenyum, meski terlihat begitu dipaksakan.
"Tuh, kan! Apa aku bilang! Ricka itu keponakan aku, tau! Aku paham karakter dia yang nggak bakal kabur kalau lagi ada masalah! Dia bukan pengecut tau, Mas! Jadi kenapa Mas malah marahin aku, sih!?" rajuk Kalya, menghentakkan kakinya ke atas lantai berulang kali, dan membuat Gavin langsung merasa bersalah melihatnya.
Yah, memang menghadapi wanita hamil itu perlu sebuah kesabaran yang tinggi. Kedewasaan yang sangat matang, dan tata bahasa yang baik, agar tidak menyinggung sedikitpun perasaan berharga wanita yang sensitif itu. Yap! Gavin memang harus bisa memiliki sifat itu dalam dirinya, jika ia ingin memiliki seorang anak lagi dari Kalya.
"Iya, iya, Sayang… Maaf ya, aku nggak sengaja… Aku 'kan juga cuma bicara aja sama kamu. Aku mana mungkin sih, marah sama kamu kecuali kamu selingkuh… Tenang…" Bujuk Gavin meraih lengan Kalya, yang langsung saja ditepis kesal oleh perempuan itu.
"Kal…"
"Tas aku jatuh gara-gara kamu! Lecet deh, tu!" tunjuk Kalya marah, pada tas mahalnya yang sudah teronggok tidak berdaya di atas lantai.
Sejenak, Gavin menatap wanita itu. What? Apa katanya tadi? Tasnya jatuh gara-gara Gavin? Bukannya tadi yang melempar itu ke muka Gavin adalah Kalya sendiri, ya? Amnesia atau bagaimana?
Ah… Andai saja sekarang Kalya sedang tidak mengandung anaknya sekarang, sudah Gavin gigit mulut perempuan itu yang suka sekali menuduhnya sembarangan.
"Iya, maaf… Tasnya jatuh gara-gara aku. Ini aku ambilin lagi…" Kata Gavin pasrah, mengambil tas berwarna putih tersebut di dekat kakinya dan mengusapnya sedikit sebelum akhirnya memberikan kembali kepada Kalya.
"Udah. Sekarang, kamu nggak marah lagi, kan?" tanya Gavin lembut, mengusap pipi tembem Kalya sejenak, melihat wanita itu yang masih merajuk.
"Nggak, kalau kamu beliin aku sepatu yang kayak Papa beli buat Mama." Kata Kalya sombong, melipat kedua tangannya di dada, dan membuang pandangannya ke arah lain.
Oh, God! Apa lagi? Sepatu? Sepatu yang mana? Memang kapan Kendra membelikan sepatu buat Nia? Kok Gavin tidak tahu?
"Emang Papa ada beliin Mama sepatu? Kok--"
"Ada… Tadi malam. Aku lihat, kok! Sepatunya bagus! Kayak kulit gitu, deh. Simple, tapi berkesan gitu. Aku kok jadi mau…"
Kepala Gavin hanya bisa menggeleng melihat istrinya. Tadi marah, dan sekarang sudah berubah menjadi sedikit manja kepadanya. Memang satu yang perlu Gavin garis bawahi dari semua sikap Kalya. Wanita itu akan berubah menjadi sangat lembut dan manja, jika sudah ingin meminta sesuatu kepadanya.
"Emang Papa belinya dimana?" tanya Gavin pelan, melihat Kalya menarik kedua sudut bibirnya lebar dengan semangat.
"Kalau itu, aku nggak tau… Mas tanya aja sama Papa sendiri belinya dimana. Pokoknya, aku mau sepatu yang kayak punya Mama. Ya?" pinta Kalya persis anak kecil yang manis mengerjapkan kedua matanya kepada Gavin.
Merasa gemas dengan ulah istrinya yang terkadang membuat kepalanya merasa pusing, Gavin hanya tersenyum dan mengangguk sembari mengusap rambut Kalya dengan lembut.
"Iya," sahut Gavin akhirnya membuat Kalya bersorak girang dan langsung memeluk Gavin dengan erat tanpa segan, kalau di depan mereka masih ada Ricka yang terpaku menyaksikan interaksi antar mereka berdua.
Entah kenapa, Ricka merasa ada yang lain di hatinya melihat sikap Gavin terhadap Kalya. Ada rasa iri di benaknya melihat betapa Gavin sangat mencintai perempuan yang dulunya pernah dipanggil Tante oleh pria itu. Dia juga ingin mendapat perlakuan yang seperti itu dari pasangannya. Dia juga ingin disayang, sebagaimana Gavin menyayangi istrinya. Dia juga ingin diperlakukan dengan lembut dan bukan seperti makhluk tak kasat mata yang saat ini Ricka rasakan di rumah tangganya.
Tapi, dengan Bayu… Ricka tidak tahu, apakah dia berhak mendapatkan hal seperti itu darinya, sementara dia telah membuat Bayu terjebak pernikahan sulit bersamanya.
"Selamat siang, semuanya…"
Ricka yang tadinya sibuk melamun, serta Gavin dan Kalya yang tadinya sibuk bermesraan, menoleh ke arah sumber suara yang tiba-tiba muncul dari arah dalam rumah Gavin.
Tampak Kaisar menghampiri tiga orang yang sejak tadi sedang duduk bersantai di kursi kayu samping rumah Gavin dekat kolam renang itu, dengan wajah yang sumringah.
"Eh, Kai…" Sapa Kalya langsung menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar pada Gavin, begitu melihat adik satu-satunya datang dengan membawa Gian di dalam gendongannya.
"Kamu?"
"Kamu kenapa bisa ada di sini? Kamu cuti sekolah lagi?" todong Gavin tidak senang, dengan kehadiran Kaisar kali ini. Entah kenapa, dia merasa sangat jengkel, jika harus mendengar adik iparnya itu selalu saja cuti sekolah, cuma untuk bermain-main ke rumah mereka.
Semakin bodoh, baru tahu rasa! Dumel Gavin dalam hati.
"Eh? Enggak kok! Saya tidak bolos sekolah. Ini juga, saya baru pulang dari sekolah, dan langsung datang kemari." Sahut Kaisar enteng, lantas duduk di salah satu kursi yang tersisa di sisi Kalya.
"Hah? Pulang sekolah? Maksudnya?"
Gavin berniat menanyakan hal itu pada Kaisar. Tapi, tampaknya bocah ABG itu sedang tidak ingin menjawabnya dan malah sibuk bermain dengan Gian di atas pangkuannya.
"Emh, Mas… Jadi gini, aku tuh lupa bilangnya sama kamu, kalau Kaisar udah pindah sekolah ke mari."
"Hah?!"
Kedua mata Gavin sontak melebar, mendengar penjelasan singkat yang diberikan oleh istrinya, Kalya.
"Iya, udah sekitar tiga hari, Kaisar masuk di sekolahnya yang baru. Dia tinggal di rumah Mama yang dulu di dekat rumah kontrakan kita." Cerita Kalya jelas, pada Gavin yang setengah tercengang mendengarnya.
Mama yang dimaksud Kalya di sini adalah ibu kandungnya bersama Kaisar. Mereka sudah sepakat, untuk menyamakan panggilan Kaisar terhadap kedua orang tua mereka.
"Kok kamu nggak kasih tau aku?" protes Gavin, mengernyit sebal pada Kalya yang hanya bisa menyengir tidak enak melihatnya.
"Namanya juga lupa… Sory…"
Setelah itu, Gavin menatap malas ke arah Kaisar yang kini sudah memandang Ricka dengan sorot mata yang aneh.
"Eh? Ini bukannya kakak yang waktu itu, ya? Kakak yang datang ke rumah Mama sama Kak Kalya?" tanya Kaisar pada Ricka yang malah mengernyit melihatnya.
"Engh… Ini…"
Ricka yang merasa sedikit aneh, atau lebih tepatnya tidak begitu ingat akan sosok Kaisar, menoleh ke arah Kalya dan juga Gavin.
"Adiknya Tante Kal, ya?" tanya Ricka kaku, kali ini dibalas semangat oleh Kaisar, bahkan sebelum kakaknya sendiri --Kalya-- menjawab pertanyaan tersebut.
"Iya! Kenalkan, nama saya… Kaisar. Kaisar Arjani. Panggil aja sayang."
"Hah?"
"Heh!"
Kaisar terlihat cukup masa bodoh, saat mendengar Gavin yang berteriak kepadanya, malah tersenyum lebar pada Ricka. Pikirnya, Gavin hanya sirik melihat Kaisar yang berani menggoda sepupu iparnya itu terang-terangan. Dasar, kakak ipar tukang iri. Batin Kaisar.
"Engh… Saya--"
Ricka yang ragu menyambut uluran tangan Kaisar, kembali menoleh ke arah Kalya, seolah meminta suatu penjelasan pada perempuan itu lewat pandangannya. Apa benar, Kaisar ini adiknya Kalya? Kok rasanya agak aneh, ya?
"Kenapa Kakak manis? Nggak mau salaman sama saya, ya? Tangan saya bersih, kok…" Kata Kaisar bingung, melihat Ricka yang tampaknya enggan menyambut uluran tangan Kaisar.
Dan seperti mendengar sindiran, Ricka langsung tersentak dan langsung mengulurkan tangannya pada cowok tersebut.
"Oh, ya… Nama saya--"
Plak!
Belum juga sampai Ricka menyentuh telapak tangan Kaisar, lengan cowok remaja itu sudah langsung ditepuk oleh Gavin, hingga menjauh.
"Dia udah nikah." Kata Gavin tajam, sontak membuat Kaisar tampak terkejut mendengarnya.
"Hah? Kok--"
"Iya…, kamu jangan godain dia gitulah, Kai. Ricka ini udah menikah, tau. Baru dua minggu." Beritahu Kalya lagi, dengan santainya, melihat raut tengil adiknya tadi menggoda Ricka.
"Tapi… Kok aku nggak tau, Kak? Aku pikir, yang menikah itu sodara kembarnya Bang Ricko. Kok jadi…"
Tatapan Kaisar bergeser kepada Ricka yang sudah duduk salah tingkah melihatnya. Tunggu! Jangan bilang kalau cowok itu suka kepada Ricka? Perempuan dekil, yang bahkan selalu dimanfaatkan para lelaki hanya untuk mendekati teman-teman Ricka yang jauh lebih cantik.
"Ya namanya juga jodoh, mau gimana dong?" sahut Kalya lagi, melihat adiknya yang kini hanya diam sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Mungkin, dia sedang berpikir. Batin Kalya.
"Yaudah deh, nggak papa! Kita kenalan aja. Siapa tau, Kakak manis cerai sama suaminya."
"Apa?"
"Heh! Mulut kamu!" bentak Gavin kesal, menatap sengit pada Kaisar yang justru mencibir ke arahnya.
"Kenapa? Saya kan cuma bicara. Kenapa Bang Gavin emosi, sih? Payah…" Gerutu Kaisar, tanpa peduli kalau ucapannya barusan sukses membuat Ricka terdiam dengan hati yang seperti tercubit begitu keras.
Siapa tahu, dia akan bercerai dengan suaminya? Hah! Ricka kok jadi sedih ya, mendengarnya?
Memang, tampang Ricka punya potongan untuk jadi janda muda, apa? Baru juga setengah hari dia ada di rumah pamannya Kendra, sudah dua orang saja yang menyumpahi pernikahannya. Jadi kesal…
"Kaisar, bercandaan kamu nggak lucu! Minta maaf sana sama Ricka! Dia pasti tersinggung sama ucapan kamu." Ujar Kalya serius, menyuruh adiknya untuk segera memperbaiki sikapnya terhadap Ricka.
Heran, ada-ada saja memang ulah adiknya yang satu ini. Suka sih, suka. Tapi jangan jahat juga, dong menyumpahi pernikahan orang. Itu namanya egois.
"Tapi, Kak! Aku--"
"Kai…"
Kaisar yang tampaknya tidak terima dengan omelan Kalya, mendadak tutup mulut, saat kakak kesayangannya itu mendelik gusar padanya dan sarat akan ancaman.
Jadi, mau tidak mau, Kaisar harus mengalah, dengan mengulurkan tangannya lagi kepada Ricka yang disambut cukup kikuk oleh perempuan itu.
"Maaf ya, Kakak manis… Saya… "
Sebelum melanjutkan kalimatnya hingga selesai, Kaisar menyempatkan diri untuk melirik sekilas ke arah Gavin dan juga Kalya.
Begitu dia merasa aman dari tatapan kakaknya, dia pun kembali berkata. "... Saya tunggu janda Kakak."
"HEH!"
***