
Pagi harinya, Kalya yang ingin berbelanja kebutuhan dapurnya, tidak sengaja bertemu dengan Bu Sarah di tempat dagangan tukang sayur. Jika biasanya mereka berdua sudah kelihatan begitu akrab dengan saling menegur, berbeda dengan hari ini yang terlihat sedikit canggung saat melempar tatapan satu sama lain.
"Pagi, Bu Sarah…" Sapa Kalya tersenyum kikuk, pada Bu Sarah yang terlihat sedikit kaget mendengarnya.
"A--ah, ya… Selamat pagi, Kalya," balas wanita itu canggung, lantas mulai memilih sayur serta ikan yang hendak dia masak untuk dia dan keluarganya hari ini.
Kalya yang melihat perubahan sikap Bu Sarah yang menurutnya sedikit dingin --karena tidak seramah biasanya terhadap Kalya-- mulai berpikir kalau dia sudah melakukan sesuatu yang salah. Di hatinya, terselip rasa sakit, karena sejak tadi, pandangan serta perhatian Bu Sarah tidak lagi tertuju padanya. Melainkan pada sayur mayur yang ada di atas gerobak si tukang sayur.
Jujur, Kalya merasa kalau dirinya ini memang aneh. Maksudnya, Bu Sarah itu bukanlah siapa-siapa baginya. Tapi, kenapa rasanya dia tidak suka, jika Bu Sarah mengabaikannya? Kenapa dia merasa benci, saat Bu Sarah lebih memperhatikan hal lain ketimbang dirinya? Memangnya, Kalya itu siapa?
Berbagai pikiran aneh kini berkecamuk di dalam benak Kalya. Dia pusing, melihat tingkah lakunya yang rasanya sudah tidak wajar. Minta diperhatikan oleh ibunya orang lain?
Hah! Come on… Jangan tunjukkan kalau Kalya itu memang tidak punya ibu sejak lahir. Ya, kecuali Ibu Citra, yang kenyataannya adalah bukan ibu kandung Kalya sendiri.
"Eh, Bu Sarah… Tadi malam, saya lihat ada yang datang ke rumah Bu Sarah. Itu Papanya Kaisar, ya?"
Pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Bu Sari, sontak mengalihkan perhatian Kalya yang tadi sedang melamun, ke arah Bu Sarah yang kini terlihat mulai tersenyum.
"Hm, iya… Dia suami saya," aku Bu Sarah sembari tersenyum, dimana hal itu langsung membuat beberapa ibu lain di sana, seperti bersorak kagum.
Membuat Kalya yang tadinya berpikir ulang soal alasan Bu Sarah pergi begitu saja dari rumahnya kemarin malam, menjadi menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Oh, mungkin, karena itu Bu Sarah buru-buru pergi," batin Kalya seolah mendapatkan jawaban yang sesungguhnya.
"Wah, berarti beneran datang dong, ya…" Ujar Bu Indah, entah kenapa melirik sekilas pada Bu Tuti yang berada di sebelahnya.
Bisa dilihat, kalau lirikan Bu Indah itu menyiratkan sebuah sindiran untuk Bu Tuti. Ya, mungkin ibu yang rumahnya ada di sebelah Bu Tuti itu ingin membuktikan kalau gosip yang disebar oleh Bu Tuti tentang Bu Sarah yang berbohong soal suaminya akan datang, tidak benar adanya.
"Iya," angguk Bu Sarah santai, tanpa melihat raut wajah Bu Tuti yang sudah berubah menjadi tidak enak.
"Ya, Ibu-Ibu ini nggak usah terlalu percaya dulu kenapa, sih?! Bisa aja 'kan kalau orang yang datang ke rumah Bu Sarah tadi malam itu memang bukan suaminya. Adik atau Kakaknya, barangkali?" serang Bu Tuti tanpa segan, melirik jengkel pada Bu Sarah yang hanya menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.
"Saya nggak punya kakak atau adik. Saya ini, anak tunggal dari kedua orangtua saya." Jawab Bu Sarah kalem, semakin membuat Bu Tuti merasa tidak terima.
Hell, ya! Tolong beritahu mereka, kalau urusan rumah tangga Bu Sarah itu bukanlah urusan Bu Tuti.
"Ya, mungkin aja--"
"Eh, Bu Tuti… Ibu ini kenapa, sih? Usil banget mulutnya? Ibu nggak takut Bu Sarah tersinggung sama omongan Ibu, apa? Kalau Bu Sarah bilang itu suaminya, ya berarti suaminya. Gimana, sih?" tegur Bu Rina panjang, pada Bu Tuti yang tampaknya semakin kesal dengan ucapan para tetangganya.
Tampaknya dia benci pada Bu Sarah karena ucapan kasar Kaisar tempo hari terhadapnya.
"Iya, Bu Tuti… Ibu jangan suka ngomong gitu, ah! Nggak enak sama Bu Sarah… Apalagi, kemarin saya juga lihat Kaisarnya sendiri pun menyebut suaminya Bu Sarah dengan panggilan Papa. Jadi, jangan su'udzon deh, Bu…" Timpal Bu Sari lagi, mengerutkan alis, menambah kadar muak di hati Bu Tuti terhadap mereka.
"Iya, deh… Iya… Saya ngerti…" Sahut Bu Tuti bersungut-sungut, dengan bibir yang mencibir. "Saya paham soal itu. Tapi, yang saya nggak ngerti itu, sama ibu-ibu semua! Ngapain sih, belain Bu Sarah? Jelas-jelas dia dan keluarganya itu baru di komplek ini. Bukan kayak saya, yang udah bertahun-tahun tinggal di sini… Gimana, sih?!"
"Ya justru itu, kita harusnya bikin Bu Sarah itu nyaman tinggal di sini. Bukannya malah mengusik kehidupan keluarganya. Bu Tuti, yang ngakunya udah orang lama di sini, harusnya tahu dong, soal adab bertetangga… Ya 'kan, Ibu-Ibu?" kata Bu Rina membalas, meminta persetujuan ibu-ibu di sekitarnya, yang segera mendapat dukungan serentak dari mereka semua.
Srmentara itu, Bu Sarah yang merasa bersyukur telah dibela oleh ibu-ibu lain tetangganya, hanya diam melihat wajah merah Bu Tuti yang menahan marah. Memang begitu kelakuan orang yang sudah tua satu itu. Bukannya banyak-banyak berdoa, malah banyak menyebar dosa. Benar-benar keterlaluan.
"Bu Sarah, maaf ya, omongan Bu Tuti tadi, nggak usah didengerin. Dia emang gitu… Bikin pusing…" Ucap Bu Rina, menyentuh bahu Bu Sarah, meminta rasa maklum dari wanita tersebut, sembari tersenyum.
Sedangkan Kalya sendiri, yang juga merasa kesal dengan Bu Tuti, hanya bisa menahan napas, karena rasa jengkel yang mendera perasaannya.
Kalya tidak akan lupa, dengan ulah Bu Tuti yang hampir saja membuat rumah tangganya bersama Gavin menjadi retak. Untung dia dan Gavin cepat sadar dan saling terbuka satu sama lain, hingga perpisahan itu tidak terjadi.
Di antara kemelut yang tengah Kalya rasakan perihal kelakuan Bu Tuti yang baru saja menyerang Bu Sarah, tiba-tiba, pandangan Kalya dan Bu Sarah sudah berada dalam satu garis lurus yang sama. Saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya tangan Bu Sarah terangkat menyentuh sebelah bahu Kalya, sembari tersenyum lembut.
"Ibu nggak papa, kok…"
***
Suasana di ruang kerja Keanu saat ini, terasa cukup panas. Di luar, matahari sedang bersinar dengan cahaya yang begitu terik. Seolah bisa menembus ruangan ruangan kaca milik pria paruh baya itu, meski pendingin ruangan sedang bekerja maksimal saat ini.
"Jadi… Maksud Mas, Mbak Sarah itu… Sarah Angraini? Orang yang melahirkan Kalya 28 tahun yang lalu?" tanya Keanu setengah mendelik, pada Kendra yang saat ini tengah duduk di salah satu sofa yang ada di ruang kerja Keanu.
Tadi, setelah memendam semuanya seorang diri, akhirnya Kendra pun datang ke ruang kerja adiknya untuk mengatakan apa yang dilihatnya kemarin malam di rumah anaknya, Gavin. Niat yang tadinya hanya ingin melihat keadaan anak dan menantunya, malah berakhir mengejutkan karena melihat dan mengetahui Sarah yang juga tinggal di daerah tersebut.
"Hm… Dan kamu tahu apa yang lebih parah, Nu?" sengit Kendra mendengus sedikit, menatap Keanu yang menggelengkan kepalanya menanti.
"Dia tinggal di komplek yang sama dengan Kalya."
"Apa?!"
Kendra yang sudah menduga adiknya itu akan terkejut seperti ini, hanya bisa mendengus membenarkan.
"Gila… Ini benar-benar gila namanya, Mas!" ujar Keanu, lalu beranjak dari kursi kebesarannya, untuk duduk di sofa gang bersisian dengan Sang Kakak.
"Terus gimana? Kalya udah tahu, kalau Mbak Sarah itu ibunya? Orang yang udah ngelahirin dia?" tanya Keanu pemasaran, menatap Kendra yang menghelakan napasnya panjang dan menggeleng.
"Emangnya, Mas nggak kasih tahu?"
"Enggak,"
"Kenapa?"
"Mas nggak tega, Nu…"
Sambil menarik napasnya lagi dan membuangnya, Kendra menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar lelah di bahu sofa yang diduduki.
"Kalau pun Mas harus kasih tahu dia, Mas bingung harus mulai dari mana. Mas nggak mau bikin dia stress atau pun sedih. Mas nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kandungannya. Mas nggak tega…" Ungkap Kendra memang terlihat sedikit frustrasi, dimana dia langsung mengusap rambutnya.
"Mas,"
Keanu yang tidak tega melihat kakaknya seperti itu pun, juga merasakan hal yang sama. Tidak mungkin mereka mengatakan pada Kalya tentang siapa jati diri keluarganya yang sebenarnya. Terlebih, mereka tahu, kalau selama ini Kalya selalu menanamkan jati diri sebagai anak yang dibuang di dalam tanya. Membuat Keanu dan Kendra jadi bingung harus mengatakan apa pada perempuan itu. Apalagi, dengan kondisi Kalya yang saat ini tengah mengandung.
"Mas udah bicara sama Mbak Sarah? Maksudnya, setelah kejadian Mas lihat dia dan tahu dimana dia tinggal, Mas udah berusaha nemuin dia?" tanya Keanu, lambat melihat kepala Kendra uang menggeleng.
"Belum," desah Kendra, juga membuat Keanu memejamkan matanya sejenak.
"Kayaknya, kita harus nemuin Mbak Sarah cepat atau lambat. Karena ini menyangkut Kalya, kita nggak boleh main-main dengan hal ini." Ujar Keanu tegas pada Kendra yang masih terlihat pusing, meski samar-samar, dia menganggukkan kepalanya.
"Iya, kamu benar, Nu… Bagaimanapun juga, kita harus tahu, apa yang membuat ibunya Kalya itu dayang di saat seperti ini." Kata Kemdra setengah bergumam, lantas membuat keduanya langsung terdiam.
Sambil berpaling, pemuda itu tampak begitu kaku, meninggalkan ruangan Keanu yang belum sempat ia masuki sesuai rencananya semula.
Otaknya terasa penug, dengan apa yang dia dengar tentang Kalya dan orang yang disebut sebagai ibu yang melahirkan wanita tersebut.
"Ibu kandung Kalya?" gumamnya bodoh, lantas mengernyit begitu dalam. "Bu Sarah?"
***
Kalya baru saja selesai mandi sore, ketika pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari arah luar, dan membuatnya harus membukakan pintu untuk seseorang yang dianggapnya tamu tersebut.
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Iya, sebentar! Sia--"
Daun pintu mengayun. Menampilkan sosok pria tampan yang sudah lama tidak Kalya lihat wajahnya sejak pindah bersama Gavin ke rumah kontrakan. Seseorang yang sudah cukup lama Kalya rindukan, namun belum sempat ia temui karena beberapa hal
"Ricky?"
"Hai, Tante Kal…!"
"Ricka?!"
Kedua mata Kalya langsung membola, melihat Ricka yang tiba-tiba saja muncul dari belakang punggung Ricky.
"Ricka!"
"Tante Kal…!"
Tanpa membuang-buang waktu, Kalya dan Ricka pun langsung berpelukan erat, meskipun mereka tetap harus ingat dan menjaga kondisi Kalya yang saat ini tengah mengandung.
"Tante Kal…!
"Ricka sayang…"
Setelah cukup puas dengan saling memeluk, Ricka dan Kalya pun kemudian melepaskan pelukan mereka.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Ka? Sehat kan? Tante kangen banget sama kamu tahu, nggak…" Ujar Kalya gregetan, pada Ricka yang tertawa mendengarnya.
"Aku baik, Tante. Aku juga kangen banget sama Tante… Semenjak pindah, Tante nggak pernah main lagi ke rumah… Sombong…!" Keluh Ricka memberengut, melihat Kalya yang hanya tersenyum tipis kepadanya.
Ya, memang bukan kali ini saja sih, dia dikatakan sombong. Kemarin juga, waktu kedua mertuanya datang, dia juga dikatain sombong oleh mereka.
"Heh, tuyul! Ngomong apa lo! Yang sombong itu bukan Tante Kalya, tahu! Tapi, suaminya." Tegur Ricky dari belakang, dengan mendorong bahu Ricka sejenak.
"Loh, kok?"
"Iya… Soalnya, kalau emang Gavin itu punya otak, dia pasti bakal ngajakin Tante Kalya buat mengunjungi kita. Ya kali, lo pikir Tante Kal bisa pergi kemana-mana sendirian dengan perut yang kayak gitu…" Tunjuk Ricky pada perut Kalya yang memang terlihat sudah sangat besar.
Sambil ikut memperhatikan perut Sang Tante yang memang terlihat besar, Ricka pun nyengir.
"Ho, iya… Lupa," ucap gadis itu, mengedikkan bahunya sekali.
"Oh ya, Ky, hari ini kamu nggak kerja? Kok bisa datang kemari? Kamu izin?" tanya Kalya pada Ricky, saat dirinya sudah mempersilakan kedua keponakannya itu masuk ke dalam rumah.
Kali ini, Kalya tidak perlu takut untuk mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah. Karena selain mereka itu adalah keponakannya, ada Ricka juga di antara mereka, yang bisa menetralisir omongan tetangga yang mungkin mengatakan kalau Kalya mengundang seorang laki-laki ke dalam rumah.
"Iya, Tante… Aku izin. Soalnya, hri ini aku pengen ngeliat Tante. Kangen, soalnya." Jawab Ricky, tertawa kecil, saat mereka sudah duduk berjajar di atas sofa panjang di ruang televisi rumah Gavin.
"Iya, Tante juga kangen sama kalian. Apalagi sama Mbak Rara dan Mas Nunu, Tante udah kangen banget. Tapi, belum bisa datang…" Balas Kalya setengah sedih, yang hanya dibalas senyuman oleh dua orang di depannya.
"Tante nggak usah khawatir. Mungkin, beberapa hari ini juga Papa dan Mama bakal datang lihatin Tante ke sini, kok. Jadi, nggak usah khawatir." Hibur Ricka, menyentuh tangan Kalya yang merasa tenang mendengarnya.
"Iya, Tante. Tadinya juga Ricka mau datang bareng Papa dan Mama. Cuma, karena tadi kata Gavin aku nggak boleh datang kalo nggak bawa Ricka, terpaksa deh ia ikut ya hari ini." Kata Ricky, dimana ucapannya langsung mendapat tanggapan semangat dari Ricka.
"Nggak terpaksa kok, Tante… Besok juga, kalau Mama dan Papa mau kemari, aku juga bakal ikut. Jadi, nggak perlu khawatir…" Ujar cewek itu cepat, yang entah kenapa malah membuat Kalya mengerutkan sedikit alisnya berpikir.
"Gavin larang kamu datang kali Ricka nggak ikut?" ulang Kalya heran, dibalas anggukan kepala serius oleh Ricky.
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Cuma, dia bilang, sih… Biar nyaman aja…" Jawab Ricky bergidik, lagi-lagi membuat Kalya berpikir. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan ucapan Bu Tuti tempo hari?
"Emang, kenapa dia harus ngomong gitu sih, Tante? Emang, aku pernah buat Tante Kal nggak nyaman?" tanya Ricky penasaran, yang anehnya langsung membuat Kalya sedikit geragapan.
"A--ah, enggak, kok… Enggak!" bantah Kalya cepat, menggerakkan tangannya di udara. "Cuma, mungkin biar agak rame aja maksudnya dia… Hehe…" Cengir Kalya kemudian.
Lalu, seolah melihat raut wajah curiga dari dua keponakannya, Kalya pun segera memutar otaknya untuk mencari sebuah pembahasan yang lain. Bagaimana pun, dia tidak ingin ada orang lain lagi yang tahu perihal rumah tangga dan Gavin yang nyaris bermasalah karena ulah Kalya tempo hari. Jujur, dia malu, jika harus memberitahukannya saat ini.
"Oh, ya, gimana keadaan Ricko? Dia baik-baik aja, kan? Sehat-sehat aja kan? Tante nggak dengar kabar apapun dari dia," tanya Kalya pada Ricka dan Ricky, yang entah kenapa langsung saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang tidak enak. Terlebih Ricky. Dia seperti enggan membicarakan soal kembaran ya yang satu itu.
"Au ah, gelap! Mati kali,"
"Hus! Nggak boleh ngomong gitu, tahu! Jahat banget, sih…" Tegur Ricka jengke, ada Ricky yang sontak. Membuang pandangannya ke arah lain.
Sementara itu, Kalya yang tidak menyertai dengan apa yang dimaksud oleh kakak adik di depannya itu, anya menatap Ricka sejenak, seolah meminta penjelasan darinya.
Sambil berbisik, Ricka menjawab. "Cewek itu Hana. Dan Tante tahulah, maksudnya…"
Dengan tatapan tidak mengerti, Kalya menatap Ricka sekali lagi.
"Maksud kamu…"
"Bentar lagi, Ricko mau nikah."
"Ha?"
Bersambung