Be My Brides

Be My Brides
Episode 65



Seperti apa yang sudah Gavin janjikan kepada Pak Malik sebelumnya, Gavin benar-benar menjadi seorang pria yang sangat bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya. Bukan hanya sekedar mendampingi, dia pun sudah menjadi sosok ayah siaga bagi Gian.


Setiap malam, selama empat bulan terakhir, Gavin selalu setia mengurus Gian yang terbangun. Dia mengganti popok anaknya jika sudah basah, dan menunggui Gian disusui oleh Kalya.


Bukan ada maksud lain, pria itu menunggui Gian yang menyusu. Hanya saja, dia takut saat sedang minum, Gian tersedak atau lubang hidungnya tertutup oleh dada Kalya. Terlebih, jika sedang memberikan ASI malam-malam seperti ini, Kalya sering ketiduran. Mungkin karena sudah lelah mengurus Gian dari pagi hingga sore yang membuat Kalya sering tidak tahan untuk tidak tidur saat memberikan minum pada anaknya tersebut.


Alih-alih merasa marah, Gavin yang melihat raut wajah lelah Kalya pun hanya bisa tersenyum tipis. Mengusap dahi wanita itu sejenak, dan kembali membaringkan perempuan itu, jika memang Gian sudah selesai minum dan ia kembalikan ke dalam box bayinya.


Pernah satu kali Kalya merasa tidak enak kepada Gavin. Dia bilang, Gavin sudah terlalu lelah mengurus perusahaan yang kini mulai dia pegang kendalinya. Ya, meskipun masih dibantu oleh Kendra, tetap saja, Gavin pasti lelah mengurus perusahaan besar seperti milik keluarganya tersebut.


Namun, bukannya mendengarkan keluh kesah Kalya yang terus memintanya untuk lebih banyak istirahat kalau sedang di rumah, Gavin justru tertawa dengan suaranya yang sangat lembut.


"Kamu minta aku istirahat, di saat istriku sendiri lagi susah payah mengurusi anakku?" tanya Gavin menaikkan sebelah alisnya dan menjentikkan jarinya di depan dahi mulus Kalya.


"Aku nggak bisa seegois itu." Katanya, yang kemudian, membuat Kalya ingin protes mendengarnya.


"Tapi kan, kamu--"


"Aku juga mau mengurus Gian dengan kedua tangan aku. Aku mau, dia merasakan kasih sayang dari aku juga. Aku pengen menikmati setiap momen dimana aku bisa menjadi orangtua yang baik untuk dia." Ucap Gavin pada Kalya, lalu mengusap rambut wanita yang cemberut itu dengan sayang.


"Aku mohon… Jangan larang aku untuk hal ini."


Dan tahu, apa yang dirasakan Kalya setelah itu? Tentu saja terharu. Dia tidak menyangka, keponakan yang sejak dulu dia rawat dan dia temani, kini balas merawat anaknya dengan sangat baik. Bahkan, dia yang menjadi ayah dari anaknya sendiri. Menjaga Kalya dan Gian dengan sepenuh hati, tanpa menunjukkan tanda-tanda keluhan sedikit pun di wajah tampannya yang kian terlihat gagah.


Takdir memang lucu. Meskipun Kalya pernah mendengar kalau jodoh itu bisa berasal dari orang sekitar kita, dia tidak menyangka, kalau orang yang sangat dekat dengan dia itulah yang menjadi jodohnya saat ini. Dan demi apapun, Kalya selalu berdoa, di setiap malam menjelang tidurnya, agar Tuhan sudi memberikan waktu jodoh yang panjang untuk mereka berdua.


"Kal, kamu udah siap?"


Kalya yang saat ini tengah memberikan ASI pada Gian, tersentak sedikit dari lamunannya, ketika pintu kamar tidurnya terbuka.


Di sana, terlihat Gavin melongokkan sedikit kepalanya, melihat Kalya yang saat ini tengah memangku Gian di atas tempat tidur.


"Ehm, udah." Jawab Kalya mengangguk  sedikit, melirik Gian yang sudah kembali tertidur di atas pangkuannya.


Gavin melangkah masuk ke dalam kamar dan mengambil Gian ke dalam gendongannya.


"Kalau gitu, aku titipin Gian dulu sama Mama, ya? Kamu siap-siap, gih! Tunggu aku di depan." Kata Gavin pada Kalya sembari tersenyum tipis menerima anggukan kepala dari wanita tersebut.


Rencananya malam ini, Gavin dan Kalya akan pergi ke acara pernikahan Mario dengan Vivi. Setelah beberapa bulan lalu mereka mendengar kabar kalau pernikahan mantan atasannya itu diundur, akhirnya tiba saatnya Mario benar-benar melepaskan masa lajangnya.


Kalya sudah melangkahkan kakinya menuju mobil Gavin yang sudah siap di depan pintu rumah. Malam ini, wanita itu mengenakan sebuah gaun hijau lumut yang senada dengan kemeja yang dikenakan Gavin. Meskipun kini tubuh Kalya tidak selangsing dulu, tapi dia tetap terlihat percaya diri menggunakan pakaian yang Gavin pilih untuk mereka.


Kalya jadi ingat, waktu itu Gavin bilang apa, saat Kalya mengeluh soal bentuk tubuhnya sendiri.


"Aku mencintai kamu. Bukan bentuk tubuh kamu. Jadi, jangan mengeluh, karena itu sama aja dengan mengeluhkan selera aku terhadap kamu."


Diam-diam, Kalya tersenyum. Dia bersyukur memiliki Gavin sebagai suaminya. Walaupun mereka menikah atas dasar keterpaksaan, Kalya bisa mengambil hikmah dari jalan yang sudah diambil selama ini.


Yah, Tuhan tahu segala yang terbaik untuk hamba-Nya.


"Hei, kok belum masuk?"


Gavin yang baru keluar dari dalam rumah, menepuk pundak Kalya pelan, yang saat ini tengah berdiri melamun di sisi mobil.


Sembari tersenyum, Kalya menjawab. "Nunggu kamu," kerlingnya, yang dibalas kekehan geli oleh Gavin.


"Manisnya…" Ucap Gavin, sedikit menyolek dagu Kalya, sebelum akhirnya membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut.


"Silakan masuk, Nyonya…"


 


***


 


Suasana di acara pernikahan Mario dan Vivi terlihat begitu meriah. Semakin malam, acara tersebut semakin terlihat ramai. Gavin masuk ke dalam gedung dengan Kalya yang menggamit sebelah lengannya.


Mereka berjalan menuju sebuah meja besar yang ada di pinggir bagunan, dimana teman-teman Gavin dari perusahaan tempat dia bekerja dulu sudah ada di sana.


"Selamat malam, semua…" Sapa Gavin dengan suara khasnya yang datar, pada sekumpulan orang tersebut, yang langsung disambut meriah oleh mereka semua.


"Eh, Vin! Malam… Lo udah datang?" ujar Dita, yang dulu menjadi seniornya di tempat kerja.


"Ehm, iya… Boleh gabung kan?" tanya Gavin pada teman-temannya itu, tanpa meminta izin terlebih dahulu, sudah menarik kursi untuk diduduki oleh Kalya dan juga dirinya.


Gavin mulai memperkenalkan Kalya kepada teman-temannya. Tampak beberapa teman Gavin yang laki-laki dan masih lajang, tidak menutupi rasa kagum mereka melihat Kalya. Meski nyatanya Gavin ada di sana dan memelototi mereka dengan tatapan sinisnya, mereka tetap memuji Kalya yang terlihat begitu anggun dengan balutan gaun yang dipakai.


"Ngapain lo liatin bini gue kayak gitu? Cewek lo kurang cakep?" sindir Gavin sinis, jelas tidak peduli dengan perasaan kekasih teman-temannya yang berani memandang Kalya dengan sorot mata buas seperti itu.


Benar-benar tipe pria mata keranjang. Batin Gavin.


"Hush! Sayang nggak boleh gitu…" Bisik Kalya segan, melirik para wanita dari teman-teman Gavin yang baru saja mendapat hinaan dari suaminya. Benar-benar keterlaluan.


"Dih! Tu mulut masih nggak berubah juga ya, Vin. Tajem bener… Diasah tiap hari, tuh?" celetuk Beni, salah satu teman Gavin dengan raut wajah jengkel yang dibuat-buat. Tampaknya, dia sudah imun terhadap segala jenis ucapan Gavin yang terlontar kepadanya.


"Iya. Emang kenapa? Masalah?" balas Gavin datar, menatap lekat kepada Beni yang hanya terkekeh melihatnya.


"Gavin…" Tegur Kalya risi, dengan ulah suaminya yang menurutnya sudah agak keterlaluan.


Bagaimana jika ada yang dendam dengan ucapan pria tersebut?


"Ahahaha, nggak papa kok, Mbak Kalya… Santai… Kita mah, udah biasa ngadepin mulut suaminya Mbak Kalya ini. Anggap aja, salah satu cobaan hidup. Kalo lulus, berarti level ketabahan kita udah naik…" Jawab seorang perempuan bernama Siska, teman satu kantor Gavin, yang juga tengah berpacaran dengan Randi, teman satu divisi dengan suami Kalya tersebut.


Gavin hanya menahan napasnya sebentar. Diliriknya satu per satu teman satu kantornya dulu dengan perasaan yang sedikit kesal. Di sana, sudah ada Beni, Randi, Iwan, Andi, dan Risky. Sementara temannya yang wanita, ada Dhita, Tia, Siska, dan Aulia. Beni, Iwan, Risky dan Tia datang bersama pasangannya. Sama seperti Randi dan Siska memang sepasang kekasih. Dhita juga membawa tunangannya. Paling hanya Aulia yang datang bersama teman wanitanya. Katanya sih, dia jomlo. Karena tidak punya teman gandengan, dia jadi membawa sepupunya untuk datang. Yah… setidaknya itu lebih baik, daripada Andi yang terlihat sebatang kara, karena tidak memiliki pasangan sama sekali.


"Eh, anak lo mana? Kok nggak ikut?" tanya Tia, juga teman satu divisi Gavin dulu, melihat Gavin dan juga Kalya secara bergantian.


"Di rumah. Gue nggak ajak karena takut kena angin malam." Jawab Gavin dengan nada datar seperti biasa, mengambil dua gelas minuman dari seorang pelayan yang lewat, dan memberikannya satu kepada Kalya.


"Halah… Angin malam… Atau angin malam…? Bilang aja, lo mau berduaan sama Mbak Kalya lo ini, kan? Iya, kan? Ngaku aja, deh…" Goda Iwan iseng, pada Gavin yang hanya berdecak mendengarnya.


"Ribet banget sih, mulut lo? Nggak bisa diam apa?!"


"Gavin…" Cubit Kalya pusing, dengan jawaban ketus Gavin terhadap temannya.


Tapi, bukannya sadar diri, Gavin justru bersikap masa bodo dengan teguran istrinya. Rasanya, percuma juga, apapun yang Gavin katakan, temannya juga tidak akan tersinggung. Malah pengin mendengar makiannya lagi.


"Eh, terus, gimana nih, sama anak kedua? Udah ada kabar belum?" tanya Beni semangat, di saat Gavin tengah menyesap minumannya.


"On the way," 


"Hah?!"


Dan pecahlah tawa teman-teman Gavin semua. Gaya polos Gavin menjawab pertanyaan serta wajah Kalya yang memerah saat mendengar jawabannya, sontak membuat mereka semua tertawa geli.


"Gavin…"


"Kamu itu--"


"Ih, jadi pengen nikah, deh! Aduuuuh…" Celetuk Aulia gusar, menatap Gavin dan Kalya penuh minat.


Gadis seusia Gavin itu pun tampak bertopang dagu menatap pasangan tersebut, seolah tengah menonton drama asia kesukaannya.


"Lo mau nikah?" tanya Gavin ulang, dibalas anggukan semangat dan bibir menipis dari Aulia.


"Nggak boleh."


"Loh, kok?"


"Lo baru boleh nikah, kalo lo udah ketemu calonnya. Oke?" kata Gavin, kali ini benar-benar mengocok isi perut teman-temannya menggunakan kalimat.


"Jomblo, kok mau nikah... Cita-cita macam apa itu?" sambungnya, benar-benar membuat Aulia merasa kesal.


Menyebalkan? Tentu! Kalau tidak, Aulia tidak akan cemberut mendengarnya.


"Sialan emang!" maki Aulia, yang hanya dibalas senyuman singkat oleh Gavin.


Beberapa saat, basa-basi lainnya pun dimulai. Pembicaraan ringan serta pembawaan sikap teman-teman Gavin yang menerima Kalya dengan tangan terbuka, membuat perbincangan mereka terasa semakin seru.


Tapi, tidak untuk Andi yang lebih banyak diam sembari melamun.


"Eh, Mas… Ngomong-ngomong, lo kok sendirian aja? Mbak Anggi mana?" tanya Gavin tiba-tiba, di sela obrolannya dengan Andi.


Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, menyadari sejak tadi, perempuan rusuh yang selalu mencari masalah dengan di kantor itu, tidak ada di sekitar mereka.


"Ngapain lo, nyariin dia? Kangen?" sindir Andi, tiba-tiba saja terdengar ketus, memasang wajahnya yang terlihat masam.


"Enggak, sih… Cuma…"


Gavin menaikkan sebelah alisnya. Ditatapnya wajah Andi yang terlihat kusut itu dengan seksama.


"Lo kenapa?" tanya Gavin curiga, kemudian menarik sudut bibirnya sedikit tipis. "Lo lagi nggak cemburu gue nanyain Mbak Anggi, kan? Lo--"


"Eh, itu bukannya Anggi, ya? Dia sama siapa, tuh?!"


Gavin baru saja akan berbisik mengganggu Andi, terdiam sejenak, saat tiba-tiba saja Randi berceletuk, menunjuk dua orang yang baru saja memasuki gedung resepsi pernikahan Mario dan Vivi.


Benar saja, apa yang baru saja dikatakan oleh Randi terlihat jelas di sana. Anggi, bersama seseorang yang tidak mereka kenal, tampak bercelingak-celinguk mencari sesuatu. Dan ketika pandangannya menemukan tempat duduk Gavin beserta teman-temannya, berilah mereka melangkah mendekat.


"Hai, semuanya…" Sapa Anggi riang, pada Gavin dan teman-temannya, sambil menggandeng lengan pria yang tadi datang bersamanya.


"Hai, Nggi…!" balas teman-teman mereka yang lainnya, lalu disusul pertanyaan dari Tia. "Kok baru datang sih, Mbak? Kami udah nyampe dari tadi loh…" Tanyanya, lantas membuat Anggi nyengir mendengarnya.


"Hehe, sory gue lama… Biasalah… Cowok gue tadi agak terpesona gitu sama gue… Jadi, lo tau lah ya, selanjutnya…" Ujar Anggi terkekeh, dimana dia menyandar genit di bahu pria yang diakui sebagai kekasihnya tersebut.


Semua terlihat menggeleng. Termasuk Gavin yang hanya bisa menghembuskan napas heran melihat kelakuan Anggi barusan. Dia tahu, meski terlihat meyakinkan, Anggi itu sedang berbohong. Terlihat dari gerakan tubuh pria yang ada di sebelahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kebenaran atas ucapan wanita itu, dan hanya diam sambil melemparkan tatapan sinisnya kepada Andi.


Jadi, apa tujuan Anggi berkata demikian?


"Eh, ini Kalya, ya?" seru Anggi tiba-tiba, menatap Kalya sedikit kaget, dimana wanita itu tengah menatap Anggi dengan heran.


"Engh… I--iya… Mbak--"


"Iya, ini Kalya. Istri gue." Sambar Gavin pada Anggi, membantu Kalya yang terlihat sedikit kaku.


"Oh, ya?"


"Hm,"


"Oh, ya ampun… Akhirnya gue ketemu juga sama lo, ya…" Seru Anggi menepuk tangannya sekilas, kemudian berkata. "Kalya ngeselin yang udah ngerebut Gavin dari gue…"


"Heh!"


"Oops! Sory… Gue bercanda… Heheh…" Cengir Anggi manja, lalu memeluk lengan pria di sampingnya jauh lebih erat.


"Lo ngomong sembarangan lagi, gue hajar lo!" peringatkan Gavin kesal, menuding Anggi yang tampak tidak takut sama sekali.


"Ih! Bini lo masih ada gini, udah mau menghajar gue aja… Dasar kejam! Nanti dong… Kalo kita cuma berdua, baru lo boleh hajar gue sepuasnya…" Goda Anggi lagi, kali ini membuat kedua mata Kalya melebar.


"Lo--"


"Ehem!" deham Kalya keras, menghentikan Gavin yang tampak akan mengomel kepada Anggi.


"Mbak nggak usah sok peduli sama saya, deh… Kalau nyatanya Mbak nggak peduli sama perasaan pasangan sendiri…" Sindir Kalya tersenyum, melirik teman undangan Anggi yang tampak memasang wajah datar.


Seketika, suasana di antara mereka terasa sedikit canggung. Teman-teman Gavin saling melirik satu sama lain, karena tidak enak dan mengira Kalya marah atas candaan Anggi kepada Gavin.


"Pfft!" 


Tanpa diduga, tiba-tiba saja Anggi tertawa keras, dengan suara yang hampir mengalahkan musik yang mengalun mengisi acara pesta.


"Aduh… Lo kok lucu banget sih, Kal… Kocak tahu, nggak! Lo jadi mirip sama laki lo! Jodoh!" ujar Anggi masih tertawa, melihat Kalya mengernyit, melirik ke arah Gavin sekilas.


"Lo juga kocak! Saking kocaknya, pengen gue lelepin lo di sumur."


"Eh!"


Gavin tersentak sedikit, ketika Andi menyenggol lengannya dan memasang tampang tidak suka dengan ucapan Gavin kepada Anggi.


"Biarin. Abis cewek lo ngeselin." Rungut Gavin judes, tidak peduli kalau ucapannya bisa menimbulkan masalah bagi Andi atau tidak.


"Ehm… Yaudah, kalo gitu, gue sama cowok gue ke sana dulu, ya…! Bye!" pamit Anggi buru-buru, sedikit gugup menarik lengan tangan pria di sebelahnya.


Sepertinya, dia sadar dengan ucapan Gavin kepada Andi barusan.


Tapi, sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk menyentuh lengan Kalya lembut.


"Gavin pasti udah wanti-wanti sama lo soal karakter gue. Gue cuma bercanda. Jadi, jangan masukin hati ya, Sayang…" Ucap Anggi menyentuh pipi Kalya sejenak, kemudian berpaling hendak meninggalkan Kalya dan teman-teman satu kantornya.


"Eh, Nggi! Kok mesti ke sana sih? Di sini ajalah… Biar rame," cegah Randi yang menghalangi langkah kaki Anggi dengan kalimatnya.


Sejenak, Anggi terlihat bingung. Dia melirik pria di sebelahnya, seolah hendak mengatakan sesuatu.


"Sory, gue nggak begitu suka keramaian." Ujar pria tersebut dingin, langsung menarik tangan Anggi menjauhi meja Gavin dan teman-temannya, bahkan sebelum mendapat balasan apapun dari mereka.


Untuk beberapa saat, Gavin dan yang lainnya hanya menatap satu sama lain.


"Brengsek."


 


Bersambung