Be My Brides

Be My Brides
Episode 37



Dua minggu sudah berlalu sejak Gavin diterima bekerja di perusahaan tempat Mario juga bekerja. Selama dua minggu ini, belum ada masalah berarti yang Gavin temui seputar pekerjaannya di kantor. Semuanya normal, kecuali satu orang wanita yang ada di divisinya.


"Eh, Vin, dengar-dengar, katanya lo udah nikah, ya? Sama siapa?" tanya Aulia -- salah satu karyawan wanita yang juga diterima bekerja di perusahaan tersebut selain Gavin--, saat mereka sedang sibuk menyiapkan sketsa pekerjaan yang akan mereka lakukan siang ini.


Rencananya, nanti dia, Aulia dan beberapa orang dari tim pelaksana akan pergi ke beberapa pasar untuk melakukan riset pasar. Dia dan Aulia --sebagai orang baru-- akan dibimbing oleh seorang senior lainnya juga akan turun untuk mempelajari beberapa prosesnya.


"Ya sama cewek lah. Masa sama cowok." Sahut Gavin datar, terdengar begitu serius, memperhatikan pekerjaannya, tanpa sadar dengan raut wajah malas yang Aulia tunjukkan kepadanya.


"Emang istri lo namanya cewek, ya?" sinis Aulia, mendengus jengkel pada Gavin.


"Maksud gue itu namanya… Gue tahu lo nikah itu sama cewek! Sama perempuan! Tapi, ya pasti punya nama dong! Masa--"


"Emang kalo gue sebut namanya, lo bakal kenal gitu?" sambar Gavin datar, melirik sekilas ke arah Aulia yang terdiam di tempatnya.


Mata bulat gadis berkacamata itu tampak berputar ke atas, seolah berpikir.


"Enggak, sih…"


"Yaudah," timpal Gavin, menghentikan semua ocehan Aulia.


Tampak gadis itu seperti hendak memukul kepala Gavin saking jengkelnya. Dua minggu saling mengenal dan menjadi teman kerja, membuat Aulia terus menerus makan hati bila berbicara dengan pria itu. Sedikit ketus dan tidak mengenal basa-basi. Yah… meski ada beberapa hal dalam diri Gavin yang bisa membuat orang lain suka berteman dengannya, sih...


"Namanya Kalya. Kalya Kalani." Ucap Gavin tiba-tiba, persis saat Aulia hendak melanjutkan aktivitasnya.


"Kalya artinya kecantikan, dan Kalani artinya surga. Lahir di bulan April, tanggal 25. Kulitnya putih, senyumnya manis, dan mata yang melengkung seperti bulan sabit. Kalau lo ketemu sama dia, lo pasti langsung mengenalinya sebagai Kalya." Jelas Gavin tersenyum, kemudian menoleh ke arah Aulia yang terbengong.


"Wah…" respons Aulia tidak percaya, melihat Gavin sambil menggelengkan kepalanya.


Seketika, Aulia merasa kalau Gavin itu sedikit aneh. Ya, meskipun setengah mengagumkan juga... Karena, biasanya seorang pria hanya menyebutkan nama dan daerah asal istrinya saja. Tidak seperti Gavin, yang justru menjelaskan apa yang tidak perlu dijelaskan kepada Aulia. 


"Lo pasti cinta banget sama dia, ya?" simpul Aulia, lantas melihat Gavin melebarkan senyumnya.


"Iyalah… Kalo nggak, mana mungkin gue nikahi." Jawab pria itu, kembali melanjutkan kegiatannya.


Dalam hati, Aulia pun menyetujui.


"Eh, tapi kan, Vin, umur lo kan masih muda banget, tuh… Dua puluh dua tahun… Apa lo nggak merasa sayang, udah menikah di usia segitu?" tanya Aulia lagi, terdengar penasaran.


"Sayang? Sayang kenapa?"


"Ya… Sayang aja… Karena umur segitu sih, biasanya cowok masih pengen puas-puasin main dulu. Kayak cari kerja, terus senang-senang, deh!"


"Maksud lo, buang-buang waktu?" timpal Gavin acuh tak acuh, lagi-lagi membuat Aulia terpekur.


"Kalo gue sih, nggak peduli ya, orang mau ngomong apa dan nyimpulin hidup gue gimana. Tapi, menurut gue, kalo memang udah nggak bisa berpaling lagi, ya udah, nikahin aja. Beres…"


"Oh, berarti, secara nggak langsung lo mau bilang, kalo lo udah nggak bakal bisa pindah ke lain hati lagi? Gitu?" tanya Aulia menyipit, dengan seringai usil di bibirnya.


"Kayaknya sih, gitu…" Tandas Gavin, lantas menyelami kehidupannya kembali selama beberapa tahun ini.


Memang benar, apa yang dia ceritakan pada Aulia. Setelah mencoba untuk berpaling beberapa kali, tetap saja hatinya akan kembali kepada Kalya. Dan membuatnya bertanya-tanya, tentang sihir apa yang digunakan oleh wanita itu, hingga membuat Gavin tidak bisa melepaskannya.


"Wah, kalau gitu, lo nggak bakal tergoda dong, sama pesona gue?"


Gavin dan Aulia, sudah tampak sibuk dengan pekerjaan mereka, saat tiba-tiba saja wanita tidak normal -- garis miring-- seniornya, yang tadi sempat Gavin katakan, muncul di depan meja mereka berdua.


Terlihat, wanita semok bernama Anggi itu mencoba untuk menyelinap di antara Aulia dan juga Gavin. Tidak peduli, kalau dua orang di sampingnya itu merasa risih karena terdorong oleh badannya atau tidak.


"Mbak Anggi, apaan sih? Mesti banget gitu duduk di sini?" protes Aulia kesal, pada Anggi yang seenak jidatnya saja mendorong tubuh Aulia yang kecil, menggunakan bokongnya yang besar.


"Ah, berisik lo, tali rafia!" semprot Anggi sekilas, pada Aulia yang mendengus mendengarnya.


"Mentang-mentang badan kayak kingkong, seenaknya aja ngatain orang tali rafia…" sungut Aulia pelan, hanya mendapat lirikan tajam dari Anggi.


Yah, meskipun mereka itu adalah senior dan junior, hubungan mereka sudah terbilang cukup dekat. Walaupun Gavin dan Aulia itu karyawan baru, tampak keduanya sangat pandai membawa diri dan membuat istilah senioritas di antara mereka itu tidak terlihat. Seperti sekarang, saat mereka berbicara dan bertingkah seolah mereka semua itu adalah seumuran.


Dan satu alasan Gavin merubah sedikit sikapnya saat kuliah dulu dengan bekerja adalah, karena dia ingin menjaga hubungan baik antara teman kerjanya yang mungkin akan membantunya selama bekerja di perusahaan tersebut.


"Jadi, Vin… menyangkut omongan lo tadi… yakin, lo nggak bakal berpaling sama yang lain? Serius, nggak bakal tergoda sama yang kayak gini?" tanya Anggi pada Gavin, sengaja memasang gaya yang menurutnya paling seksi, dengan menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang biasa mampu memancing hasrat seorang pria normal pada umumnya.


"Yakin." Jawab Gavin datar, sekilas membuat Anggi merasa berpikir atas sikapnya.


"Kalo lo mau sih, gue bisa kok diajak kompromi… Ya, main diam-diam juga, kayaknya menarik deh," tawar Anggi terselubung, dengan nadanya yang menggoda, hingga membuat Gavin dan Aulia mendengus bersamaan.


"Gue nggak ngerti maksud Mbak Anggi itu, apa. Dan gue juga nggak mau ngerti, sih. Jadi sebaiknya, sekarang Mbak minggir, karena gue lagi banyak kerjaan." Usir Gavin halus, melepaskan kedua tangan Anggi yang bertengger di bahunya, dan menjaga jarak sedikit dari wanita menyeramkan tersebut.


Takut omongan Anggi akan kemana-mana, dan membuat Gavin semakin kesal.


"Halaaah… nggak usah muna' deh, Vin…! Gue tahu, kok, tipe-tipe muka cool kayak lo gini…" Ujar Anggi lagi, menatap genit Gavin yang malas meladeninya.


"Sebenarnya, lo suka kan naik ke tempat tidur bareng cewek? Lo pasti lebih garang kalo udah urusan ranjang. Pasti lo sering deh, modusin bini lo buat dilayani. Iya 'kan? Ngaku aja, deh… Nggak usah malu…" Kata Anggi, sambil menyenggol lengan Gavin semangat dan menggoda pria tersebut.


"Kalo lo mau, gue juga mau kok, jadi salah satu temen lo yang bisa--"


"Nggak mau, makasih…!" timpal Gavin tegas, menyela ucapan Anggi dengan senyumannya yang malas.


"Ih, Gavin! Gue 'kan--"


"Mbak Anggi ini apa-apaan, sih?! Kok ngomongnya gitu? Mbak mau jadi pelakor, ya?! Gavin itu udah punya istri, tahu…" Tegur Aulia mengernyit, yang sejak tadi merasa geli dengan obrolan yang dilakukan Anggi terhadap Gavin. 


"Lah, emang kenapa kalo dia udah punya istri? Masalah gitu, sama gue?" Gue kan cuma nanya  doang! Kali aja, dia tertarik pengen main sama body gue yang seksi ini…" Kata Anggi sengit, meliuk-liukkan tubuhnya sedikit, dimana bukannya membuat orang bernafsu, malah bergidik ngeri melihatnya.


"Mbak Anggi, ih!"


"Halah, Nggi… Nggi… goyangan masih kayak pacet kebakar aja, udah sok mau godain suami orang. Mana ada yang mau…!"


Anggi yang sudah kembali mengedip-ngedipkan mata genitnya ke arah Gavin, mendelik jengkel ke arah teman satu timnya, yang baru saja datang bersamaan dengan Dita. 


Sambil memberengutkan wajahnya, dia pun segera bangkit dan bertolak pinggang di hadapan Andi.


"Heh! Kalo ngomong itu dijaga, ya! Udah tahu badan gue seksi begini, malah dibilang kayak pacet kebakar. Kurang ajar banget sih, lo!" hardik Anggi tidak terima, pada Andi yang justru tertawa mendengarnya.


"Hah? Seksi? Seksi apa? Seksi konsumsi? Badan bongsor begitu aja, lo bangga-banggain… Anggi… Anggi…" olok Andi kemudian, membuat wajah Anggi memerah.


"Bongsor gini juga, lo pernah mau! Dasar cowok brengsek!"


"Mau, cuma karena pengen aja…" Balas Andi santai, seketika membuat wajah Anggi berubah muram.


Lalu, tanpa bicara, dia pun berlalu meninggalkan meja tempat kerja Gavin, berserta empat orang di sana yang sudah saling melihat satu sama lain.


"Ndi! Marah, tuh…" Tunjuk Dita ke arah Anggi yang sudah menjauh, pada Andi yang terdiam dengan mimik wajah yang tidak bisa terbaca.


"Biarin ajalah… Bukan urusan gue," sahut Andi datar, lalu duduk di kursi berseberangan dengan Gavin dan meraih buku kecil yang sejak tadi ditulisi oleh Gavin.


"Lo udah buat sket perencanaannya, Vin? Lo nanti perginya bareng tim gue, kan?" tanya Andi pada Gavin, menyela ucapan Dita dengan mengalihkan pembicaraan mereka mengenai pekerjaan yang sebentar lagi akan mereka kerjakan.


"Hm… Kata Pak Mario, kali ini Mbak Dita juga bakal turun. Mbak udah dengar?" tanya Gavin pada Dita, yang sudah duduk di samping Andi.


"Oh, iya. Udah…" Angguk Dita, lantas menarik napas panjang, mengalihkan perhatiannya pada kegiatan lain.


***


Waktu sudah menunjukkan angka setengah sembilan malam, ketika Gavin memarkirkan motornya di teras sebuah rumah sederhana yang satu minggu ini sudah ditempatinya. Meskipun tidak terlalu besar, setidaknya rumah itu terasa sangat nyaman untuk mereka tempati saat ini.


Gavin sudah mengunci pagar rumah. Setelah itu, dia masuk ke dalam sembari mengucap salam.


Begitu sampai di ruang utama, hal yang pertama dilihat Gavin adalah Kalya yang tampak sibuk di dapur. Entah apa yang dilakukan wanita itu di sana, sampai tidak mendengar dan menyadari kepulangan Gavin ke rumah mereka.


Dalam diam, Gavin memperhatikan Kalya dari arah belakang. Setelah satu minggu tinggal bersama, membuat Gavin mulai menyadari apa yang tidak diketahuinya selama ini.


Kondisi Kalya yang dia kira baik-baik saja, ternyata tidak seindah kelihatannya. Setiap malam, wanita itu selalu mengerang tidak nyaman dalam tidurnya. Perutnya yang kian membesar, semakin membuat Kalya harus membatasi aktivitasnya sehari-hari. Membuat Gabin cemas, dan terkadang memikirkan kembali keputusannya untuk pisah rumah dari kedua orangtuanya. 


Gavin takut, saat dia meninggalkan Kalya sendirian di rumah, sesuatu yang buruk akan terjadi pada wanita tersebut.


"Aku nggak papa, Gavin… kamu nggak perlu khawatir. Aku bisa sendiri, kok…" Ucap Kalya setiap kali Gavin ingin membantunya. 


Entahlah… entah kenapa, Gavin merasa penolakan Kalya terhadap bantuan Gavin itu terkesan seperti sebuah pembatasan. Seolah Kalya tidak benar-benar ingin Gavin ada di sampingnya dan menolongnya.


"Ingat, Gavin. Sekarang adalah waktu kamu untuk mendapatkan cinta dari Kalya. Mama yakin, dengan cara yang benar, kamu pasti bisa mendapatkannya." Pesan Nia pada Gavin, saat dirinya dan juga Kalya akan pindah ke rumah mereka yang sekarang.


"Mendapatkan cinta Kalya…" Desah Gavin panjang, memandang punggung Kalya dengan lekat. "Kapan?"


"Gavin?!"


Gavin yang tengah melamun, tersentak kaget, melihat tubuh Kalya yang oleng. Refleks, dia berlari ke arah Kalya dan menahan tubuh wanita itu yang hampir terjatuh.


"Kal!" panggil Gavin cemas, menatap wajah Kalya yang terlihat pucat.


"Gavin, kamu…"


"Ya?"


"Kamu ngapain berdiri di situ? Bikin orang kaget aja!" sembur Kalya tiba-tiba, pada Gavin yang terkejut mendengar omelannya.


"Kal,"


"Kamu masuk, kok nggak ada suaranya?! Aku kaget, tahu! Aku pikir, kamu hantu…" omel Kalya bergetar, menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang.


"Eh? Masa sih nggak ada suaranya? Perasaan, aku tadi mengucap salam, loh…" Jelas Gavin, menuntun Kalya duduk di salah satu kursi makan, dan memberikan segelas air untuk wanita tersebut.


"Masa? Kok aku nggak dengar?" tanya Kalya masih terlihat cukup syok, karena mengira sosok Gavin tadi adalah orang jahat.


"Terus, kamu kok bisa masuk? Pintunya 'kan tadi aku kunci?" tanya Kalya heran, dibalas Gavin gelengan kepala oleh Gavin.


"Pintunya nggak kamu kunci. Makanya aku bisa masuk."


"Hah? Yang bener? Biasanya aku kunci, kok…"


"Iya, biasanya. Tapi, hari ini, kamu kan lagi luar biasa. Jadi, ya nggak dikunci." Jawab Gavin, membuat Kalya berpikir.


"Iya, ya? Apa mungkin aku lupa?" tanya Kalya lagi, pada dirinya sendiri.


"Udah tua." Kata Gavin tertawa, menepuk sedikit jidat Kalya dengan telunjuknya, hingga membuat wanita itu terdiam.


Entah kenapa, tiba-tiba saja, Kalya merasa tersinggung dengan ucapan Gavin.


"Iya, memang aku udah tua! Terus, kenapa kamu mau sama aku, hah?!" bentak Kalya emosi, lantas bangkit dari duduknya, berjalan tertatih meninggalkan Gavin yang terbengong.


"Apa?"


Gavin yang merasa kaget dengan reaksi Kalya, buru-buru mengejar wanita itu dan mencegatnya.


"Kal…! Kalya!"


Kalya, dengan langkah tertatihnya tampak tidak peduli dan terus berjalan meninggalkan Gavin. 


Entah kenapa, dia merasa ucapan Gavin itu seperti mengejeknya. Maksudnya apa, mengatakan Kalya sudah tua? Dia ingin mengatakan kalau dia itu jauh lebih muda daripada Kalya?


"Kal! Kal! Kal! Sebentar! Tunggu dulu…"


Gavin yang berusaha untuk tidak menyenggol Kalya, berhenti di depan wanita itu dan merentangkan tangannya. Gavin tidak berani dekat, karena dia tahu, kelakuan Kalya kalau sedang marah seperti apa. Dia bisa saja menghempaskan tangan Gavin dengan kasar, yang mungkin akan berakibat buruk pada diri wanita itu sendiri nantinya.


"Apa?! Ngapain menghalangi jalan orang?! Minggir!" usir Kalya galak, pada Gavin yang menciut mendengarnya.


Sungguh, Kalya yang sekarang terlihat sangat berbeda dengan Kalya yang dulu dikenalnya. Apa mungkin ini semua faktor hormon Kalya yang sedang hamil? Membuat wanita itu semakin mudah marah dan meluap-luap?


Tanpa sadar, Gavin pun melihat ke arah perut Kalya yang semakin hari semakin membesar. Tidak sampai dua bulan lagi, anaknya yang ada di perut wanita itu akan lahir. Dan menjadikan dia seorang ayah yang sesungguhnya.


Ah, Gavin jadi tidak sabar menunggu kehadiran buah hatinya tersebut.


"Apa?! Ngapain lihat-lihat?! Mau ngatain aku gendut lagi, ya?" sembur Kalya lagi tiba-tiba, pada Gavin yang terus saja melihat ke arah perutnya.


"Eh? Bukan gitu…! Aku--"


"Aku tahu, aku ini udah tua… Aku juga tahu, aku ini udah gendut. Dan aku juga sadar, kalau aku ini memang jelek dari dulu. Jadi, kamu nggak usah menyadarkan aku lagi dengan perkataan dan tatapan mata kamu itu, Gavin. Aku nggak perlu dengar!" seru Kalya terisak, dengan nada suara yang begitu memilukan. Hingga Gavin--yang belum sepenuhnya sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi-- menjadi semakin salah tingkah dibuatnya.


"K-Kal… Ka-kamu kok nangis? A-aku kan--"


"Bodo amat!" omel Kalya dongkol, mengusap air matanya yang menetes.


Tadi, dia tersinggung. Dan setelah mengungkapkan kemarahannya pada Gavin, entah kenapa, hatinya malah semakin tersinggung. Dia sendiri juga bingung dengan akal pikirannya saat ini. Yang dia tahu hanya satu hal, dia sakit hati.


"Kal… kamu kok gitu sih? Jangan nangis dong… aku kan nggak ngatain kamu gendut. Aku nggak--"


"Bodo amat!"


Blam!


Dan begitulah kisah rumah tangga Gavin, yang menutup malamnya panjangnya yang sangat melelahkan hari ini.


"Bodo...amat…"


Bersambung.