
Gavin tengah duduk dengan lesu di salah satu kursi yang ada di restoran milik Ricko. Rasanya, sudah cukup lama dia tidak datang ke sana. Tapi, bukan karena alasan itu, Gavin ada tempat itu saat ini. Hatinya yang sedang kacaulah, yang membuatnya memilih untuk berkunjung ke tempat saudaranya tersebut.
"Kok lo bisa kemari? Emang hari ini, lo nggak kerja?" tanya Ricko, mendatangi Gavin yang terlihat murung dengan segelas minuman dingin di kedua tangannya.
"Nggak. Gue izin," jawab Gavin, seketika membuat Ricko mengerutkan alisnya bingung.
"Izin? Kenapa? Ada urusan penting?" tanyanya penasaran, melihat Gavin yang hanya menundukkan kepalanya sedikit.
"Tadi sih, iya. Tapi…" Dia menggantung kalimatnya, dengan menenggak minuman yang diberikan oleh Ricko, tanpa menggunakan sedotan.
"Lo ribut sama Tante Kal?" tebak Ricko cermat, melihat wajah Gavin yang begitu uring-uringan.
Ho, come on… Di keluarga mereka, siapa yang tidak tahu alasan yang bisa membuat Gavin terlihat seperti ini?
"Ya...Begitulah,"
Nah, kan benar? Apa Ricko bilang...
"Jadi, apa lagi masalahnya sekarang?"
Sambil menumpukkan kedua sikunya di atas meja, Ricko mulai menatap Gavin dengan intens.
"Apa lagi yang buat kalian berdua itu ribut? Apa soal Tante Kal yang belum bisa mencintai lo?" terka Ricko kemudian, terdengar sedikit menyakitkan hingga membuat Gavin terdiam.
"Itu…"
"Cuma sebatas itu kesabaran lo buat Tante Kal? Bukannya lo bilang, lo siap menunggu, sampai dia benar-benar jatuh cinta sama lo? Terus, apa lagi yang lo permasalahkan sekarang?" tuntut Ricko tajam, lagi-lagi menohok perasaan Gavin, dan menamparnya pada suatu kenyataan yang pahit.
Kalya belum mencintainya, dan dia sudah membuat ulah dengan membuat wanita itu terluka.
"Yah, emang gue manusia yang paling bermasalah di sini…" Gidik bahu Gavin masam, lantas minum es pemberian Ricko hingga tandas.
"Nggak heran, kalau sekarang Kalya bakal makin benci sama gue." Keluh Gavin lirih, lantas mengusap wajahnya dengan gusar.
Untuk beberapa saat, Gavin teringat pembicaraannya dengan Kaisar beberapa saat yang lalu. Meski sudah jelas Gavin menyakitinya dengan cara memukul, Kaisar tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kalau dia benar akan merebut Kalya dari tangan Gavin.
Cowok itu malah terlihat cenderung memperingati Gavin agar terus melindungi Kalya dan tidak menyakitinya. Jika ditelaah lebih dalam lagi, sorot mata hingga tingkah laku yang Kiasar tunjukkan, sepertinya benar, kalau Kaisar hanya menganggap Kalya sebagai kakaknya saja.
"Biarpun masih kenal sebentar, tapi menurut cerita yang beredar, Bu Tuti itu paling suka ngeliat rumah tangga orang berantakan. Entah untuk tujuan apa, yang jelas, saya merasa dia punya niat buruk sama rumah tangga Bang Gavin dan juga Kak Kalya."
"Dia itu tukang fitnah. Dia suka menambahkan cerita yang nggak benar, cuma untuk kesenangannya aja. Kurang kerjaan, emang tuh nenek-nenek satu. Jadi, hati-hati aja,"
Gavin mengerjapkan matanya beberapa kali mengingat kalimat tersebut. Apa benar, Kaisar berkata yang sebenarnya tentang Bu Tuti? Bukan karena ingin mencari alibi saja kan?
"Pas saya datang ke rumah kalian tadi, saya lihat mata Kak Kalya yang merah dan juga sembab. Suaranya juga terdengar serak. Menurut Bang Gavin, Kak Kalya kenapa?" tanya Kaisar tadi, terdengar bukan seperti sebuah pertanyaan. Melainkan sindiran, yang mengingatkan Gavin atas kelakuannya kemarin malam.
Astaga… Bahkan orang lain saja bisa melihat kalau Kalya habis menangis. Lalu, bagaimana dengannya yang mengabaikan Kalya sejak kemarin?
"Hoy!"
Gavin yang tangannya sedang terkepal emosi dengan dirinya sendiri, tersentak, kala tangan Ricko yang besar menggebrak meja di depan mereka, hingga menimbulkan dentuman suara yang keras.
"Gue tanyain malah diam aja, lo! Pulang sono, kalo cuma mau numpang ngelamun!" tegur Ricko kesal, sambil mengusir sepupunya itu dengan kasar.
Tapi, kendati merasa marah atau tersinggung, Gavin justru merampas minuman yang ada di depan Ricko --yang tadinya memang diperuntukkan untuk Ricko sendiri-- dan meneguknya hingga tandas.
"Gue di sini dulu. Mau nenangin diri." Sahut Gavin menghelakan napas berat, dimana Ricko hanya menggelengkan kepala mendengarnya.
"Lo mencoba untuk menenangkan diri, dan membiarkan perasaan Tante Kal di rumah nggak tenang?" timpal Ricko mendengus.
"Lo udah dewasa. Mau sampai kapan lo bersikap egois kayak gini? Tante Kal itu--"
"Kayak yang lo bilang, kalau dia belum, atau nggak akan pernah cinta sama gue…" Sela Gavin panjang, menatap sengit ke arah Ricko. "Nggak mungkin dia lagi mikirin gue sekarang."
"Kenapa dia nggak lagi mikirin lo? Lo suaminya. Dan kalian lagi ada masalah. Pasti dia--"
"Dia nggak sudi." Sela Gavin lagi, kemudian mengusap wajahnya geram.
"Lo ngerti nggak, sih?! Dia itu nggak sudi mikirin laki-laki kayak gue! Gue ini bisanya cuma bikin masalah dan suka nyakitin dia! Jadi, udahlah… Nggak usah dipikirin lagi soal itu. Dia paling juga lagi santai di rumah. Dan kalaupun dia lagi nangis…" Gavin kembali meremas tangannya satu sama lain merunduk.
"Itu paling karena dia kesal sama gue." Ucap Gavin pelan, lantas membuang pandangannya ke arah lain.
Sementara itu, Ricko, yang merasa kalau Gavin ini tengah membicarakan sesuatu yang tidak menyangkut di hatinya, hanya diam dan menatap pria itu lekat.
"Gue kasih lo batas di sini sampai jam 5. Setelah itu…" Ricko bangkit dati tempat duduknya dan berpaling santai meninggalkan Gavin.
"Lo cabut."
***
Kalya masih saja mengusap kedua sudut matanya yang berair. Ini sudah hampir jam 7 malam. Tapi, Gavin masih saja belum juga kembali ke rumah mereka.
Kalya terus mencoba menarik napasnya berulang-ulang. Dia ingat, tadi sore Bu Sarah datang ke rumahnya dan membicarakan sesuatu yang menohok perasaan Kalya sebagai seorang wanita.
"Ibu minta maaf sama kamu, Kalya. Harusnya Ibu sadar, dan lebih tegas lagi sama Kaisar untuk nggak keseringan datang ke rumah kamu, waktu Gavin nggak ada." Ucap Bu Sarah sore tadi, yang Kalya sendiri tidak mengerti maksudnya apa.
"Kenapa Bu Sarah bicara gitu? Memangnya, kenapa kok misalnya Kaisar datang di saat Gavin nggak ada? Maksud saya, kita kan cuma ngobrol di terasa. Dan lagipula, Gavin juga tahu kok, kalau Kaisar datang ke rumah."
"Tahu? Kamu yakin, kalau dia tahu?" kernyit Bu Sarah tidak percaya, membuat Kalya pun jadi ragu untuk mengangguk.
"Ibu mendapat kabar nggak enak dari Kaisar. Katanya, tadi Gavin datang nemuin dia dan melarang dia untuk ketemu sama kamu lagi. Dia--"
"Gavin nemuin Kaisar?" sela Kalya kaget, langas tertawa dengan suara gamang. "Nggak mungkin, Bu. Gavin itu lagi kerja. Jadi--"
"Nggak, Kalya… Gavin nggak pergi kerja hari ini. Emang…" Sedikit sadar, Bu Sarah memundurkan sedikit kepalanya heran.
"Dia nggak di rumah?"
Lagi-lagi, hati Kalya terasa remuk mendengar kalimat seperti itu. Apa maksudnya coba? Gavin tidak pergi bekerja, tapi juga tidak ada di rumah. Jadi, dimana sebenarnya laki-laki itu berada? Kenapa dia menyiksa Kalya sampai jadi seperti ini?
"Kaisar minta maaf. Dia merasa segan untuk datang ke tempat kamu lagi, karena takut Gavin bakal salah paham lagi ngeliat dia dan buat kalian semakin ribut." Ucap Bu Sarah, membuat Kalya lgi-lagi terdiam di tempatnya.
"Gavin salah paham?" ulang Kalya, persis orang bodoh.
Oh, tidak! Atau, jangan-jangan dia sudah melakukan hal bodoh selama ini?
"Kalya, sepertinya…"
Kalya menatap tangannya yang tadi disentuh dengan lembut oleh Bu Sarah.
Ya, Tuhan… Kenapa Kalya baru menyadari semuanya sekarang? Kemana saja otaknya selama ini? Apa mungkin, Gavun itu benar-benar marah pada Kalya karena kedatangan Kaisar?
Tiba-tiba, Kalya jadi ingat dengan keberadaan Bu Tuti selama beberapa hari ini. Bohong, jika Kalya bilang dia tidak curiga pada perempuan tua satu itu. Dia yakin, kalau Bu Tuti sudah menyampaikan sesuatu yang aneh pada Gavin kemarin, dan menyebabkan pria itu marah kepadanya. Apakah itu soal Kaisar yang sering datang ke rumah Kalya?
Bukankah Gavin sudah mengetahuinya?
Secara mendadak, perasaan Kalya menjadi tidak enak. Setengah hatinya dia merasa sangat bersalah. Namun, setengah lagi, dia merasa kalau mungkin Gavin memang sengaja menunjukkan kemarahannya pada Kalya. Entah untuk apa, Kalya juga tidak mengerti. Mungkin, untuk wanita bernama Anggi itu? Siapa yang tahu?
"Astaga,"
Kalya mengusap wajahnya dengan gusar. Nama itu masih melekat erat dalam ingatan Kalya dan membuatnya hampir tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Dulu, Gavin selalu mengatakan apapun pada Kalya. Baik itu hal yang mengganjal di hati Gavin, ataupun yang tidak. Tapi, kenapa sekarang semuanya terasa begitu berbeda? Gavin marah, tapi enggan untuk membahas apapun dengan Kalya.
Kalya sadar, kalau dia ini bodoh. Tapi, apakah berat, bagi mulut Gavin untuk mengatakan kesalahan Kalya? Dengan cara kasar pun, Kalya izinkan, asal Gavin mau menyelesaikan masalah yang ada di antara mereka berdua.
"Entahlah, mungkin dia emang udah bosan dan nggak niat buat menyelesaikan masalah yang ada." Bisik salah satu setan yang ada di otak Kalya, hingga air mata wanita itu kembali mengalir.
Kalya merasa dia ingin menyerah. Dia ingin memasrahkan semua kehidupannya. Tidak peduli, seandainya Gavin memang tidak ingin lagi menjadikan Kalya sebagai istri dalam pernikahan mereka. Terserah! Terserah Gavin maunya apa. Toh, sejak awal, semua ini sudah berjalan seperti apa yang Gavin inginkan dari Kalya. Jadi, untuk apa lagi Kalya menuntut?
Dengan langkah berat, Kalya berjalan ke teras rumah. Dia menghapus sisa air matanya terlebih dulu, sebelum membuka pintu. Dia ingin mencari udara segar, dan membuang rasa sesak yang ada di dadanya saat ini.
Setelah di teras, Kalya pun duduk di kursi kayu yang ada di sana. Matanya memindai ke atas langit, menghitung benda-benda angkasa yang ada di sana.
Seperti cintanya pada Gavin saat ini, Kalya tidak bisa menghitung semua jumlah bintang yang ada di atas sana. Terlihat kecil, tapi jumlahnya ribuan.
"Kamu ngapain di sini?"
Kalya mencoba memejamkan matanya, kala mendengar suara Gavin begitu dekat dengan telinganya. Berpikir ini hanya halusinasi, karena dirinya yang memang sangat menginginkan Gavin ada di sampingnya.
"Kalya,"
Kalya tersenyum. Hatinya tercabik, mendengar suara lembut Gavin di indra pendengarannya.
Ah, sudah dua hari dia tidak mendengar suara indah itu untuknya. Lihatlah, betapa merindukannya Kalya saat ini terhadap suara berat tersebut.
"Kalya…"
Kalya terkejut, saat tiba-tiba saja, sepasang tangan yang cukup besar, menyentuh kedua pundak Kalya dengan lembut.
"Gavin?!"
Kalya yang secepat kilat menoleh ke belakang, kaget mendapati Gavin berada di sana, dengan tampang yang sedikit terlihat kuyu.
"Kamu… Ngapain di sini?" tanya Kalya penasaran, dengan Gavin yang tiba-tiba saja muncul dari arah samping rumah. Bukannya dari pagar, dimana itu adalah satu-satunya akses masuk menuju pekarangan rumah mereka. Ya, selain melompat pagar, maksudnya
"Aku udah pulang. Dari tadi, aku di sini." Jawab Gavin terdengar lesu, menundukkan sedikit kepalanya dalam.
"Kenapa nggak ke dalam? Di sini kan dingin. Kamu bisa masuk angin…" Ucap Kalya sayu, menatap Gavin yang hanya menipiskan bibirnya saja.
"Kamu nggak masuk, karena nggak mau lihat aku, ya?" tanya Kalya halus, seperti bisikan yang terdengar begitu pelan, namun sarat akan kesedihan.
"Kalau memang kamu nggak mau aku ada di sini, kamu boleh kok, pulangin aku ke rumahnya Mas Nunu. Aku ikhlas, asal kamu berhenti bersikap konyol kayak gini." Ucap Kalya sedih, membuat Gavin diam memandangnya.
Tanpa bicara, Gavin meraih tangan wanita itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Duduk sini," pinta Gavin mendudukkan Kalya di atas sofa, dimana pria itu sudah duduk di atasnya.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Karena aku, kamu jadi mikirin hal-hal kayak gitu. Kamu pasti merasa sakit hati, karena aku karena aku nyuekin kamu dari kemarin. Aku ngelakuin itu karena aku marah. Aku…" Gavin meremas tangannya resah, dan mendesahkan napas panjang.
"Aku cuma nggak suka, kamu bertemu sama laki-laki lain waktu aku nggak ada. Aku cemburu. Biarpun aku ada di samping kamu waktu kamu ketemu dia, belum tentu aku suka."
Gavin mengalihkan pandangannya pada Kalya, yang sudah mengulum bibirnya merasa bersalah.
"Maafin aku, Gavin. Aku yang bodoh ini, nggak tahu soal itu. Aku pikir, kamu nggak masalah, waktu tahu kalau setiap hari Kaisar datang ke sini. Maafin aku," ucap Kalya begitu bergetar.
"Dari mana aku tahu, kalau Kai--maksud aku anak itu, datang ke sini setiap hari tanpa kamu kasih tahu, Kal? Kamu pikir aku dukun?" tuntut Gavin lembut, namun tegas, hingga Kalya mendongakkan kepalanya yang sempat menunduk.
"Aku kasih tahu kamu, kok. Tiap hari. Masa kamu nggak tahu?" tanya Kalya bingung, kali ini membuat Gavin mengernyit mendengarnya.
"Kamu kasih tahu aku?" dengusnya heran. "Kapan?!"
"Tiap makan malam. Kamu lupa?"
Seketika, Gavin menaikkan pandangannya. Dia mencoba ingat apa yang dikatakan Kalya setiap makan malam padanya.
"Hari ini Bu Sarah nitip tumis buncis untuk kita."
"Tadi, anaknya Bu Sarah nganterin sop ayam untuk kita."
"Katanya, Bu Sarah masak dendeng sapi hari ini. Jadi, dia suruh si Kai buat anterin ini untuk kita."
"Oh, ya, si Kai pinter banget bikin kue loh, hampir tiap hari aku dianterin."
"Ah… Maksudnya yang itu?" angguk Gavin paham atas ingatannya sendiri, yang sontak membuat pria itu merasa dongkol saat istri tercintanya itu mengangguk.
"Udah aku bilang, kan?"
Astaga…!
Ingin rasanya Gavin mencium pipi Kalya dan menenggelamkan wajah wanita itu di dada, hingga nyaris pingsan. Dia gemas, melihat tampang luwes istrinya itu yang bercerita kepadanya.
Ingin berkata Kalya bodoh, tapi dia sangat sayang pada perempuan itu.
"Oke, Kalya sayang, dengarkan suami kamu ini, ya…" Pinta Gavin menyentuh kedua pundak Kalya, dan menarik napasnya panjang.
"Kamu ini wanita yang sudah bersuami. Entah kamu mencintai aku atau enggak, kamu tetap nggak boleh berhubungan sama laki-laki lain di luar sana, dalam konteks yang berbeda. Maksud aku, seperti menerimanya di rumah kita, meskipun itu hanya di teras semata."
"Tapi, aku menganggap Kaisar itu--"
"Orang kan nggak tahu, apa yang ada di dalam hati dan pikiran kamu, Sayang." Sela Gavin, membuat Kalya terdiam. "Jangankan mereka! Aku aja, yang suami kamu, orang yang tinggal bareng kamu, satu rumah, satu kamar, bahkan satu tempat tidur bareng kamu aja, nggak tahu apa yang kamu pikirin. Jadi--"
"Berarti kamu juga nggak tahu dong, gimana perasaan aku ke kamu yang sebenarnya?" sela Kalya balik, membuat Gavin kali ini terdiam.
"Aku… mencintai kamu, Gavin." Ucap Kalya malu, menundukkan wajahnya sedikit menatap Gavin. "Kamu… nggak tahu?"
Bersambung