Be My Brides

Be My Brides
Episode 20



Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk menangis, Kalya akhirnya terlelap dalam dekapan Gavin. Rasa lelah telah membuat dia tidak sadar, menjatuhkan kepala serta tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu. Dinginnya lantai kamar sudah tidak dia rasakan lagi, ketika belaian lembut tangan Gavin mengusap lengan serta kepalanya hingga terbuai.


Mendengar suara deru napas Kalya yang teratur, membuat Gavin yakin kalau keputusannya untuk mendatangi wanita itu malam ini adalah benar. 


Dengan sabar, Gavin menahan tubuh Kalya agar tetap merasa nyaman dalam pelukannya. Sesekali, Gavin mengecup puncak kepala Kalya yang melekat di dadanya. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata Kalya yang masih terasa basah di pipi wanita tersebut.


Dalam hati, Gavin menyesali dirinya yang telah membuat hati Kalya terluka. Membuatnya menangis dan menderita hingga seperti ini. 


Tapi, dia tidak bisa memungkiri, kalau hanya dengan cara itulah dia bisa mendapatkan Kalya sebagai seorang pria. Meski dia tahu, kalau cara yang ditempuhnya adalah cara yang paling bodoh dan membuat banyak orang yang disayanginya terluka. Termasuk ayah dan ibunya. 


Sungguh, Gavin tidak tahu harus mengatakan apa untuk menyembuhkan perasaan kedua orangtuanya. Terlebih Kendra, orang yang sangat menyayangi Kalya sejak kecil itu, pasti merasa konyol karena tidak bisa melindungi adiknya dari ulah anak kandungnya sendiri. Kendra pasti menderita dengan luka batinnya sendiri. Dan Gavin, tidak berani untuk mengungkit masalah nurani ayahnya itu lebih jauh lagi. 


Gavin terus mengusap bahu Kalya dengan lembut. Lalu, saat sadar kalau Kalya mungkin akan merasa pegal jika terus berada di posisi tidur seperti itu, membuat Gavin berinisiatif untuk membopong wanita itu ke atas ranjang. 


Pelan-pelan, Gavin meletakkan Kalya di atas tempat tidur. Dibentangkannya selimut tebal milik Kalya menutupi tubuh wanita itu sampai ke batas leher. 


Sempat Kalya terlihat terganggu ketika Gavin hendak melepaskan tangannya dari cekalan wanita itu. Namun, setelah Gavin menyusup untuk tidur di sampingnya, barulah kerutan halus yang tadi terlihat di dahi Kalya, perlahan-lahan mulai menghilang. 


Gavin memiringkan tubuhnya menghadap wanita itu. Ditatapnya wajah Kalya yang sebab dengan senyum getir di wajahnya. Alangkah bahagianya Gavin, jika bisa hidup berdampingan dengan Kalya seperti ini. Mengakhiri malam dengan menatap wajah Kalya, dan mengawali pagi dengan melihat wajah Kalya. Sungguh, Gavin tidak akan mengharapkan hal lain, jika memang hal itu bisa terjadi. 


"Hm, Mama… Papa…" 


Gavin mengerutkan alisnya sedikit kaget, ketika mendengar suara Kalya yang mengigau. 


"Ma…, Pa…, Kalya kangen…" Lirih Kalya pelan, disusul isakan halus yang keluar dari sela bibir wanita itu. Air matanya yang kembali jatuh, lagi-lagi menohok perasaan Gavin dan membuatnya semakin merasa bersalah.


"Kal,"


Tanpa membangunkan Kalya, Gavin memeluk tubuh wanita itu. Diusapnya lagi kepala Kalya pelan, hingga isakan wanita itu terdengar begitu samar. 


"Maafin aku ya, Kal…. Udah buat kamu menderita kayak gini," bisik Gavin begitu halus, hingga mungkin Kalya sendiri pun tidak mampu untuk mendengarnya. 


"Aku tahu, kamu nggak mencintai aku. Aku tahu, ini terkesan memaksa. Tapi, aku rasa… Aku benar-benar nggak bisa kehilangan kamu." Ucap Gavin lirih, menjauhkan tubuhnya dari Kalya untuk memandang wajah perempuan itu.


"Kalau selama ini kamu lihat aku hidup dengan baik-baik aja, itu karena kamu selalu ada di samping aku, Kal. Sejak aku kecil, sampai aku tumbuh dewasa juga, kamu nggak pernah pergi dari aku. Itulah, alasan kenapa aku masih bisa bernapas sampai detik ini." 


Tangan Gavin terangkat menyentuh rambut Kalya pelan.


"Tapi, gimana kalau sampai kamu jadi milik orang lain, Kal? Apa yang harus aku lakukan? Gimana caranya aku bisa bernapas, kalau kamu udah nggak ada di sampingku lagi?" tiba-tiba saja, sudut mata Gavin mulai berair. "Gimana caranya, aku bisa tenang, kalau aku tahu orang yang ada di samping kamu itu bukan aku? Gimana cara aku untuk bisa…"


Rasanya Gavin sudah tidak bisa lagi melanjutkan setiap kalimatnya. Air matanya sudah lebih dulu meluncur mengenai bantal yang saat ini ia kenakan. Selain pecundang, ternyata Gavin adalah sosok pemuda yang sangat cengeng. 


"Ini gila…. Benar-benar gila…. Kalau kamu lihat aku sekarang, kamu pasti juga bakal bilang aku gila. Pecundang…, dan juga cengeng…" Kata Gavin tertawa bodoh, kemudian tersenyum lirih. 


Dipandangnya lagi wajah Kalya yang terlelap seolah dia tidak merasa terganggu oleh semua kata yang Gavin ucapkan. Setelah itu, Gavin kembali memeluk Kalya dan meletakkan kepala wanita itu tepat di bawah dagunya.


"Aku mencintai kamu, Kal…. Sangat mencintai kamu."


***


Saat ini, Keanu dan keluarganya sedang menyantap sarapan pagi bersama. Suasana sarapan yang biasanya dipenuhi dengan obrolan ringan seputar kegiatan yang akan mereka lakukan, kali ini terasa sedikit berbeda. Jangankan berbincang santai seperti hari biasanya, untuk membuka mulut selain untuk menyantap makanan saja, rasanya mereka tidak berminat. Mereka sudah terlihat sibuk dengan dunia mereka masing-masing. 


"Jadi, jam berapa Gavin pulang tadi malam?" tanya Keanu tiba-tiba, membuat Ricky, Ricko dan juga Ricka saling lempar tatapan satu sama lain. 


"Kayaknya… Kalo bukan jam dua, jam tiga pagi deh, Pa." Jawab Ricka setengah berpikir. 


"Kalian lihat dia keluar?" tanya Rara, kali ini dibalas anggukan kepala oleh Ricka. 


"Emang… Kalo dia datang lewat pintu depan dan bilang mau ketemu sama Tante Kal… Papa ngizinin?" tanya Ricka sudah berhati-hati, namun tetap membuat Ricky dan Ricko menoleh tajam kepadanya. 


Memang, setelah mendengar suara tangisan Kalya yang cukup keras tadi malam, semua anggota keluarga Keanu terbangun. Mereka yang mengira hal buruk telah terjadi pada Kalya, langsung berlari menuju kamar wanita itu. Tapi, saat hendak menerobos masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja Ricky --yang kamarnya berada paling dekat dengan kamar Kalya-- muncul dan menginformasikan keadaan yang terjadi di kamar Kalya. 


Seketika itu, baik Keanu, Rara, Ricko maupun Ricka, langsung bersikap seolah tidak terjadi apapun di kamar tersebut. 


Keanu yang tidak terima, awalnya hendak mendobrak pintu kamar Kalya dan mengusir keponakannya itu dari rumahnya. Karena jujur, meski dia mendukung niat Gavin untuk bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Kalya, bukan berarti dia setuju dengan cara Gavin mendatangi Kalya malam-malam seperti itu. Selain tidak sopan, suasana hati Kalya dan orang-orang, saat ini bukan dalam keadaan yang baik karena ulah Gavin yang demikian. 


"Kalo bukan gara-gara Ricko yang menahan Papa tadi malam, udah Papa pastiin Gavin masuk rumah sakit pagi ini." Ujar Keanu geram, lantas membuat istri dan anak-anaknya hanya bisa mendesah. 


"Bukannya Papa bilang setuju Gavin tanggung jawab sama Tante Kal? Terus kenapa Papa marah?" tanya Ricko pelan, kali ini dibalas Keanu dengan erangan frustrasi. 


"Papa nggak mau contohin ini. Tapi, gimana kalo kejadiannya menimpa adik kamu Ricka? Apa kamu bisa dengan mudah memaafkan orang itu?" 


"Papa!" 


"Papa! Apaan, sih!? Kok bawa-bawa Ricka segala…! Nyumpahin ya?! Jahat banget, sih…" protes Ricka langsung bersamaan dengan Rara dan juga Ricky. 


"Papa nggak nyumpahin, Sayang…! Papa cuma kasih contoh aja sama Kakak-Kakakmu ini." Ujar Keanu, lantas menarik napas panjang dan membuangnya.


"Memang apa yang kita ucapkan, nggak semudah dengan apa yang bisa kita lakukan! Dan perbuatan Gavin itu, bukan semudah kayak dia mencuri makanan di dapur kita. Ini nggak sesederhana itu! Dia mencuri kehormatan Tante kalian! Kehormatan adik Papa! Jadi, salah, kalau Papa masih sakit hati sama dia?" ujar Keanu panjang, hingga napasnya tersengal menatap satu per satu anak dan istrinya yang kembali terdiam. 


"Demi kebaikan Kalya, Papa berusaha membuka hati Papa untuk Gavin. Bahkan Papa juga berusaha supaya Om kalian bisa kasih kesempatan buat Gavin. Cuma, terkadang ada satu waktu, dimana hati Papa nggak ikhlas melihat adik yang Papa sayangi harus bersanding sama orang yang udah jelas-jelas merusak kebahagian dia." Keanu tampak menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja. 


"Papa merasa seperti orang yang bodoh…" ucap Keanu mengeluh. 


Sementara itu, Rara dan ketiga anak mereka kembali saling melihat sejenak, dan menunjukkan rasa prihatin mereka atas apa yang ayah mereka tengah rasakan. 


"Papa nggak salah. Kita ngerti kok perasaan Papa. Karena Ricky juga mungkin bakal kayak gitu, kalau ada laki-laki yang berani nyakitin Ricka." Ucap Ricky meletakkan sendok makannya. Sepertinya waktu sarapan yang tenang, sudah terganti menjadi suasana sarapan yang mendung bagi keluarga mereka. 


"Meski adik kita punya kekurangan, bukan berarti mereka boleh disakiti 'kan?" tambah Ricko melirik Ricka yang sudah ikut berkaca-kaca. "Dia jauh lebih berharga dari apapun. Jadi… kita paham gimana perasaan Papa sekarang." 


Ricko dan Ricky bangkit dari duduk mereka dan mendekati Keanu yang saat ini tengah bermuram durja di tempatnya. 


Bersamaan, mereka merangkul bahu ayah mereka dan mengusapnya secara perlahan. 


"Papa udah melakukan yang terbaik. Demi kebahagiaan adik Papa, Papa rela melawan ego, Papa." Ucap Ricko mengelus punggung Keanu yang bergetar. 


Memang, bukan hal mudah berada di posisi Keanu saat ini. Ingin hatinya mengajar Gavin untuk melampiaskan semua kemarahannya. Tapi satu sisi, ia juga harus sadar kalau Kalya yang sedang mengandung, membutuhkan Gavin sebagai orang yang harus bertanggung jawab. Merelakan Kalya, sama saja dia harus mengubur rasa sakit hatinya dalam-dalam. Apa itu mudah? Tentu saja tidak. Siapapun pun belum tentu bisa melakukan hal yang seperti Keanu lakukan saat ini. 


"Iya… Kita bangga, punya Papa seperti Bapak Keanu Sunjaya ini. Ya nggak, Mas Ricko?" timpal Ricky kali ini terdengar ramah, yang dibalas senyuman oleh Ricko. 


"Iya, dan aku juga bangga, punya Kakak kayak kalian." Tanpa diminta, Ricka pun ikut bergabung dengan dua saudaranya yang lain. 


"Juga bangga, punya ayah kayak Papa…" Imbuh gadis itu kemudian. 


Melihat ketiga anaknya yang kompak menghibur suaminya, membuat Rara tak kuasa menahan tangis. Diam-diam dia menyusut air matanya yang perlahan mulai mengalir. Suasana yang tiba-tiba berubah menjadi haru, membuat mereka tidak sadar dengan kehadiran Kalya yang tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan mereka. 


Di ujung tangga, Kalya sudah menangis menahan isakannya seorang diri. Kini dia tahu, seberapa besar pengorbanan Keanu dalam melawan perasaannya hanya untuk memperjuangkan kebahagian Kalya. 


Kalya yang sudah kehilangan nafsu makan, memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sambil menyusuri anak tangga satu per satu, Kalya pun bergumam dalam hati. 


"Apa yang sebenarnya harus aku lakukan?" 


Bersambung