
Butuh waktu beberapa bulan bagi Gavin untuk menyelesaikan kuliahnya hingga wisuda. Meskipun terbilang cukup lambat bagi dirinya, tapi beberapa orang serta beberapa dosen yang melihat perjuangan Gavin, ini adalah hal yang cukup menakjubkan, mengingat pria itu bukanlah tipe anak rajin sebelumnya.
"Selamat ya, Gavin. Lo udah jadi sarjana sekarang," ucap Ricky pagi itu, saat Gavin datang menjemput Kalya untuk ikut menyaksikan acara wisuda Gavin di sebuah gedung perhotelan.
"Iya, thanks, Ky. Ehm--maksud gue Mas Ricky…" Sahut Gavin tersenyum tipis, pada Ricky yang merasa bangga dihormati.
"Nggak cuma wisuda. Bentar lagi juga, gue bakal dapat kerja dan bawa istri gue tinggal bareng gue. Tunggu aja," ujar Gavin lagi, seperti ingin memprovokasi, dimana Ricky hanya terlihat santai, dengan gerakan bahu acuh tak acuhnya.
Setelah itu, Gavin yang hari ini sudah membeli undangan lebih agar bisa mengajak kedua orang tuanya bersama Kalya melihat acara wisudanya, langsung membawa istrinya itu ke tempat tujuan.
Di sana, banyak orang yang terkejut melihat kehadiran Gavin beserta keluarganya. Mereka kaget, bukan karena Gavin membawa tiga orang untuk masuk ke dalam gedung. Melainkan kaget, karena melihat Gavin yang menggandeng tangan seorang wanita hamil di lengannya dan mengatakan kalau perempuan itu adalah istrinya.
"Eh, eh! Itu bener istrinya? Kok udah hamil, sih?"
"Iya, kok udah bunting gede, aja? Emang kapan nikahnya?"
"Tahu, tuh! Kok serem amat, ya?"
"Iya, nggak tahu malu banget, sih…"
"Eh, tapi, gue kok nggak yakin ya, itu istrinya? Bisa jadi, masih pacar, kan?"
"Ah, gila… Itu anak diam-diam makan dalam juga, ya…"
"Iya, gue kira, tuh anak hidupnya normal. Eh, nggak tahunya…"
"Hah, padahal gue udah ngincer dia buat jadi gebetan, loh!"
"Gue malah mikir dia gay,"
Berbagai bisik-bisikan samar Kalya dengar dari beberapa sisi, membuat wanita itu merasa risi dan bergerak resah di tempatnya. Dia mengeratkan pegangannya di lengan Gavin dan membuat pria itu menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Gavin heran, melihat gelagat tidak nyaman Kalya di sisinya.
"Ehm, itu…"
Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya, Gavin hanya melirik sekilas pada orang-orang yang tengah menatap mereka.
Bukan Gavin tidak tahu, kalau sejak tadi dia dan keluarganya sudah menjadi bahan pergunjingan orang-orang di sana.
"Kamu nggak usah dengerin omongan mereka. Hidup mereka juga nggak benar-benar amat, kok. Jadi, nggak usah dipikirin." Nasihat Gavin pada Kalya, setengah tersenyum, mengusap tangan wanita itu lembut.
"Tapi, aku--"
"Udah, nggak papa… Mending, sekarang kamu sama Mama dan Papa ke gedung acara sekarang. Biar aku di sini, oke?" ujar Gavin mendorong sedikit tubuh Kalya ke arah kedua orang tuanya berdiri saat ini.
"Tapi, Gavin…"
"Udah, ssst!"
Kalya yang tadinya hendak protes, menutup mulutnya kembali, saat Gavin meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya dan berdesis pelan.
"Ya udah deh, Gavin. Kalo gitu, Mama dan Papa ke depan sekarang, ya…" Pamit Nia pada Gavin, yang dibalas anggukan kepala oleh pria tersebut.
Sambil menghembuskan napas panjang, Kalya pun akhirnya mengikuti kedua orang tua Gavin yang kini sudah menjadi mertuanya ke loby gedung acara.
Sementara itu, Gavin yang sudah melihat kedua orang tuanya menjauh, langsung mendekat ke arah para peserta wisudawan yang sudah berkumpul di dekat pintu masuk bagian samping.
"Eh, Vin! Itu perempuan hamil, siapa? Beneran istri lo?" tanya Sandy, orang yang beberapa waktu ini menjadi cukup dekat dengan Gavin karena membantu pria itu mencari-cari pekerjaan.
"Iya, kenapa?" jawab Gavin santai, tak ubah, membuat orang yang ada di sekitar mereka, semakin ternganga mendengarnya.
"Ah, sumpah lo?! Masa--"
Sandy yang hendak mencecar Gavin dengan pertanyaannya, terbungkam ketika Gavin menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Lo serius udah nikah? Gue kira waktu itu, lo becanda…" Bisik Sandy lagi setengah mengeluh, pada Gavin yang hanya tersenyum tipis membalasnya.
Baginya, keberadaan Kalya dan perasaannya pada wanita itu bukanlah suatu bahan candaan.
Selama ini, tidak ada yang mengetahui hal penting ini dari Gavin. Karena, Gavin sendiri adalah tipe orang yang tidak begitu banyak bergaul dengan teman kuliahnya karena sikapnya yang terkenal datar dan juga dingin. Tapi, bersama Sandy, orang yang mau membantunya dengan tulus dalam mencari pekerjaan, Gavin bisa mengungkapkan sedikit ceritanya pada pria itu. Maka, tidak heran, kalau Sandy tahu dengan status Gavin yang sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Meskipun respons Sandy saat itu terkesan tidak percaya, Gavin juga tidak begitu mempedulikannya.
"Istri lo ternyata cantik juga, ya? Pantes lo suka…" Puji Sandy tiba-tiba, pada Gavin yang sontak membuat pria itu menoleh tajam ke arahnya.
"Lo mau, acara ini jadi perayaan terakhir dalam hidup lo?" ancam Gavin sengit, yang bukannya membuat Sandy takut, justru malah membuatnya tertawa.
"Duh, yang udah jadi suami posesif…" Goda Sandy menyenggol lengan Gavin sedikit, kemudian terkekeh.
"Dulu, gue sempat takut loh, buat deketin lo. Karena gue kira lo itu, gay… tapi, ternyata…" Ujar Sandy gamblang, yang lagi-lagi, membuat Gavin menoleh dengan kedua alisnya yang mengerut.
"Eh, sory, man… Jangan salahin gue… Gue cuma denger gosip-gosip murahan itu dari anak-anak lain. Mereka bilang, lo nggak tertarik sama cewek, karena doyannya emang sama cowok. Jadi, ya…"
Sandy mengulum bibirnya sedikit, dan mengedikkan bahunya sekilas.
"Tapi, lo tenang aja. Dengan lo mengakui dan membawa istri lo ke acara ini, gue percaya kok, kalo lo itu bukan gay. Ya nggak?" pancing Sandy lagi, elok meletakkan tangannya di bahu Gavin, seketika membuat pria itu merasa kesal.
"Diam lo, kampret!" maki Gavin, menyikut perut Sandy sejenak, hingga cowok itu kembali tertawa.
Kemudian, Sandy yang merasa orang-orang di sekitar mereka masih berbisik-bisik tidak enak mengenai Gavin, kembali menyikut lengan pria itu pelan.
"Kayaknya, mereka masih gosipin yang aneh-aneh soal lo, deh. Lo--"
"Gue nggak peduli." Sela Gavin kuat, membuat orang-orang di sekitar mereka sedikit terdiam.
Lalu, mereka yang tidak menyangka Gavin akan merespons tindakan mereka pun, tampak terkejut kala melihat pria itu menoleh dan menatap mereka satu per satu.
"Lo nggak perlu tahu semuanya tentang gue. Karena, gue juga nggak mau tahu soal hidup lo semua. Jadi, apa yang gue nilai adalah apa yang sekarang gue lihat dari lo. Jadi, ya…"
Gavin hanya menaikkan sebelah bahunya, kemudian memamerkan seringai sinis.
"Lo udah lebih baik daripada gue?"
***
Makan malam untuk merayakan kelulusan Gavin, dilakukan Kendra di rumahnya yang terbilang cukup mewah. Acara malam keluarga, adalah pilihan tepat bagi mereka, dimana saat ini hanya keluarganya dan Keanu saja yang hadir dan makan bersama di sana.
"Vin, sebenarnya, gue nggak nyangka loh, lo bisa lulus dalam waktu secepat ini! Gue pikir, lo bakal molor dari jadwal sidang. Tapi ternyata, lebih cepat dari waktu yang ditargetkan. Hebat lo!" puji Ricky di sela-sela makan malam bersama mereka, sambil mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Gavin.
Sedangkan Gavin sendiri, hanya tersenyum bangga pada dirinya yang mendapatkan pujian seperti itu. Nikmati saja, pikirnya. Karena, jarang-jarang mulut rewel Ricky bisa dengan lugas memuji seseorang. Biasanya, dia hanya mahir dalam hal mengomentari hidup orang lain.
"Ya, kan gue udah janji, bakal selesaikan kuliah gue lebih cepat. Ya, harus gue tepati, dong…" Katanya seolah merasa biasa, menutupi perasaannya yang sebenarnya ingin dipuji oleh Kendra.
Jauh daripada semua pujian yang ia dapat, dia sangat ingin mendengar kata hebat, keluar dari mulut ayahnya itu. Berharap kalau Kendra mengakui kemampuannya untuk lulus, setengah tahun lebih cepat dari jadwal yang sudah ia targetkan sebelumnya.
"Iya, deh… Yang ngelakuinnya itu dengan kekuatan cinta…" Timpal Ricka mencibir, yang langsung dibalas tawa oleh orang-orang tua di sana.
"Iya, dong. Makanya, cepat cari pacar, biar ada motivasi buat lulus." Balas Gavin menjulurkan lidahnya pada Ricka yang melotot.
"Apaan sih lo, bahas-bahas pacar? Emang penting, gitu?" ketus Ricka tidak suka, kalau status singlenya mulai diperoleh kembali.
"Ya, jelas pentinglah! Soalnya, dengan adanya orang yang dicintai, bisa jadi motivasi kita buat maju. Jadi, itu perlu…" Balas Gavin, lantas kembali berujar. "Makanya cari pacar!"
"Halah, pacar! Kayak lo sama Tante Kal pacaran aja!" sungut Ricka, terlihat semakin sebal.
"Lagian, pacaran itu 'kan belum tentu saling cinta! Lo--"
Ricka yang tampak hendak mengoceh --menggerutu--, menutup mulutnya kembali, ketika dirasanya Ricko yang duduk di sebelahnya, menginjak kakinya sedikit.
Sadar dengan apa yang menjadi pembahasan mereka kemarin malam, membuat gadis itu menggigit lidahnya pelan, melirik tidak enak ke arah Gavin.
Tidak menyangka pembahasan mereka akan merembet ke sana, sejenak, Gavin pun menoleh ke arah Kalya. Tampak wanita itu hanya tersenyum tipis seperti tidak tertarik oleh pembahasan dirinya dan juga Ricka.
"Cinta itu tumbuh karena terbiasa. Kayak kata pepatah. Ya nggak, Tante?" tegur Ricko tiba-tiba pada Kalya, yang tampak sedikit kaget, dengan tergagap beberapa saat.
"E-eh, iya… Hm…" Responsnya tersenyum kaku, kemudian menundukkan kepalanya lagi.
Melihat hal tersebut, seketika membuat Gavin jadi ingat dengan apa yang ibunya katakan tempo hari.
Sepertinya, usaha Gavin untuk mendapatkan cinta Kalya akan terasa sangat berat. Luka yang ditanggung oleh hati Kalya pastilah bukan sebuah luka yang sederhana. Merenggut kehormatan dan membuatnya kehilangan cinta yang diharapkan, pasti membuat Kalya begitu membenci Gavin saat ini. Adapun Kalya menerima dan memperlakukan Gavin dengan baik, itu pasti hanya karena kebutuhan anak mereka semata. Dan hal itu, seharusnya sudah cukup membuat Gavin sadar, atas perlakuannya terhadap wanita tersebut.
"Jadi, apa rencana kamu setelah ini, Gavin? Apa kamu mau melanjutkan S2 kamu atau--"
"Enggak, Pa." Sahut Gavin tegas, menyela pertanyaan Kendra terhadapnya, yang tiba-tiba saja mengalihkan pembicaraan.
"Gavin masih berada di rencana Gavin yang pertama."
"Cari kerja?"
"Iya," angguk Gavin, lantas melihat Kendra menarik napasnya panjang.
"Dimana?"
Dan pertanyaan itu, sempat membuat Gavin merasa bingung sementara.
"Belum tahu, Pa. Tapi, teman Gavin udah ada yang nawarin buat kerja di perusahaan tempat dia magang dulu. Kebetulan perusahaan itu lagi buka lowongan. Jadi, Gavin mau coba melamar di sana besok." Beritahu Gavin pada keluarganya, seketika membuat semua orang di sana menganggukkan kepalanya.
"Gue harap, lo diterima ya, Vin." Ucap Ricka tulus, menatap Gavin yang tersenyum lembut kepadanya.
"Aamiin… Gue doain juga, lo cepat lulus ya, Ka. Biar bisa cepat jadi dokter," balas Gavin, yang kali ini juga mendapat anggukan semangat dari Ricka.
"Aamiin."
"Gue sih, berharap lo benar-benar diterima, Vin. Cuma…" Ricko tampak berpikir, saat dia menggantungkan kalimatnya.
"Kalau emang lo nggak tahu lagi pengen cari kerja dimana, lo bisa kok, --"
"Enggak, Ko. Makasih," balas Gavin, lagi-lagi menyela ucapan Ricko yang tampak hendak menawarkan diri padanya.
"Gue kan udah pernah bilang sebelumnya. Kali ini, gue mau berusaha dengan tenaga gue sendiri. Gue nggak mau yang instan aja, Ko. Gue pengen, mengandalkan kemampuan gue sendiri untuk mendapatkan apapun yang gue mau. Menikmati setiap perjalanannya, dan mendapatkan apa yang sepantas gue dapatkan."
Entah kenapa, saat Gavin mengatakan kalimat itu pada Ricko, pandangannya justru teralihkan pada Kalya yang terus menyantap makan malamnya dalam diam.
Terlihat, wanita itu seperti tahu arah pembicaraan Gavin saat ini. Dari sudut matanya, Gavin bisa melihat kalau Kalya mulai terpancing dengan ucapannya.
Dalam hati, saat Gavin melihat gelagat tidak nyaman Kalya di sebelahnya, Gavin pun bergumam. "Apapun itu, untuk mendapatkan cinta kamu pun, demikian."
Bersambung