Be My Brides

Be My Brides
Episode 36



Setelah pertemuan mereka yang tidak terduga, Mario berniat mengajak Gavin untuk makan siang bersama di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempat mereka bekerja.


Sambil berjalan, Mario mencoba untuk membuka sedikit pembicaraan, guna mengisi keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.


"Gimana nilai magang kamu waktu itu? Apa hasilnya bagus? Saya belum sempat kasih kalian nilai waktu saya pergi." Tanya Mario memulai pembicaraan, sembari melirik Gavin sekilas yang tengah berjalan di sebelahnya.


"Bagus, kok... Bu Indah nggak pelit ngasih nilai." Jawab Gavin acuh tak acuh, sambil terus membuang pandangannya ke arah lain.


"Oh, bagus deh kalau gitu. Saya turut senang dengarnya," balas Mario sekenanya.


Untuk beberapa saat, keheningan pun kembali tercipta. Gavin yang merasa telah salah mengambil keputusan untuk makan siang bersama Mario pun, langsung merutuki dirinya sendiri. 


Andai saja tadi dia tidak menyuruh Sandy untuk pulang terlebih dahulu, suasana seperti ini pasti tidak akan dialaminya.


"Terus, wisuda kamu gimana? Kamu udah sidang?" tanya Mario lagi, tiba-tiba membuat Gavin merasa bosan bukan kepalang.


"Udah. Baru kemarin wisudanya." Jawab pemuda itu, sontak membuat Mario --yang tadi terus menatap lurus ke depan-- menoleh ke arahnya.


"Oh, ya? Selamat, kalau gitu," ucap pria itu, mengulurkan tangannya kepada Gavin.


"Eh-oh…"


Sebenarnya, Gavin merasa enggan untuk menyambut uluran tangan Mario. Hatinya masih sangat dongkol, mengingat pria yang ada di depannya ini adalah orang yang dicintai Kalya sejak dulu. Entah sampai sekarang juga, Gavin tidak tahu.


"Hm, makasih, Pak…" Ucap Gavin akhirnya setengah hati, kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.


Perasaan, rumah makan tempat tujuan mereka saat ini terbilang cukup dekat. Tapi, kenapa sekarang terasa begitu jauh, ya?


"Oh, ya… gimana kabar Kalya? Apa dia baik-baik aja?" tanya Mario kembali, pada Gavin yang sedang sibuk merutuki jalan yang mereka lalui dalam hati.


"Hah? Siapa? Kalya?" ulang Gavin santai, setengah tidak fokus, membuat Mario mengerutkan dahinya heran.


"Istri saya baik-baik aja. Dia sehat dan mungkin lagi santai di rumah." Jawab Gavin, seketika membuat langkah kaki Mario terhenti.


"Istri?"


Sadar kalau orang yang ada di sampingnya tertinggal, membuat Gavin ikut berhenti dan menoleh.


"Iya, kenapa?" tanyanya bingung, pura-pura tidak mengerti sih maksudnya, melihat Mario yang membeku di tempatnya.


Lalu, seolah ingat akan sesuatu, Mario pun kemudian tersenyum. Meski senyumannya terasa berat untuk dia perlihatkan, sih.


"Oh, iya… saya lupa. Padahal, waktu itu Pak Kendra udah ngundang saya buat datang." Kata Mario lirih, entah kenapa membuat kedua mata Gavin, seketika membola.


"Papa ngundang Anda?" beo Gavin mengernyit tajam, melihat Mario menganggukkan kepalanya.


"Ke acara pernikahan saya?!" pekik Gavin lagi, mendapat anggukan kepala lagi dari Mario.


"Iya… Waktu itu saya masih ada di luar kota. Jadi, saya nggak bisa datang. Maaf, ya," ucap Mario tersenyum, namun terkesan tidak tulus, kemudian ingin melanjutkan langkah kakinya kembali.


"Kalau aja waktu itu Anda nggak lagi ada di luar kota, apa Anda bakal datang?" tanya Gavin pada Mario, lagi-lagi membuat pria itu menghentikan langkah kakinya.


"Seandainya aja waktu itu, Anda nggak lagi ada di luar kota… Apa Anda akan benar-benar datang?" tanya Gavin lagi menekan, memperhatikan wajah Mario lebih seksama.


"Mengucapkan kata selamat secara langsung, mungkin?" pancing Gavin, menatap Mario yang kini seperti melamun di tempatnya.


"Mungkin… enggak," jawab Mario menatap sayu ke arah depan, sebelum akhirnya tersenyum begitu lirih.


"Maaf, ya," ucapnya lagi sendu, hendak melanjutkan langkah kakinya yang kesekian kali.


"Kenapa?" tanya Gavin, sudah seperti orang kurang kerjaan yang ingin sekali mencari masalah.


"Kenapa Anda nggak datang? Apa--"


"Sebaiknya kamu nggak perlu menanyakan alasan saya." Potong Mario, kemudian menipiskan biburny sejenak. 


"Biar saya aja yang tahu." Katanya, entah kenapa malah membuat Gavin mendengus.


"Anda cuma cari alasan. Bilang aja Anda nggak berminat. Dengan begitu, saya tahu, kalau undangan Papa terhadap Anda, sebenarnya nggak begitu penting buat didengar. Iya kan?" cecar Gavin secara asal, memang sengaja ingin mencari pasal dengan Mario. 


Sudah dibilang, kalau dia itu sangat membenci Mario, karena pria itu adalah orang yang berhasil menguasai perasaan Kalya sepenuhnya.


Kekanak-kanakan? Biar saja! Memangnya Gavin peduli?


"Hmph! Kamu memang benar-benar mau tahu alasan saya?" tanya Mario menekan, mendekati Gavin dengan senyum tipis yang masih melekat.


Dengan suara seperti berbisik, Mario pun menjawab. "Saya nggak tahu kamu juga merasa seperti saya atau enggak. Tapi yang jelas, sulit untuk saya datang dan mengucapkan selamat pada perempuan yang saya cintai di hari pernikahannya. Jadi, berhenti buat memprovokasi saya, karena kamu yang bakal kalah untuk hal ini."


Setelah mengucapkan kalimat penuh letupan emosi itu pada Gavin, Mario pun kembali menjaga jaraknya.


Terlihat Gavin mendengus tidak bisa berkata apa-apa membalasnya.


Benar, kata Mario. Tidak seharusnya Gavin bertanya soal alasan pria itu tidak datang ke acara pernikahannya. Toh, tidak berakibat baik juga bagi Gavin, kalau sampai Mario datang waktu itu.


"Sialan," maki Gavin pelan, masih didengar oleh Mario, dan membuat pria itu tersenyum tipis.


Dia maklum dengan sifat Gavin yang mungkin masih terkesan meletup-letup seperti ini. Meskipun sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, belum tentu bisa merubah tabiat orang lain seratus persen.


"Oh, ya… Gimana kabar Pak Kendra? Apa beliau baik-baik aja? Kita udah bicara kesana kemari dari tadi, tapi saya lupa buat nanya kabar beliau." Ujar Mario pada Gavin --yang sudah memasang wajahnya masam-- dimana mereka sudah keluar dari gedung perkantoran saat ini.


"Baik. Mama juga baik. Om Keanu juga. Keluarganya juga baik. Semua sehat dan nggak ada kekurangan sama sekali." Sahut Gavin ketus, persis anak-anak yang sedang sebal kepada kakaknya.


Sementara itu, bukannya tersinggung, Mario justru menahan tawanya dan menangguk.


"Kabar Pak Ricky gimana? Sehat juga, dong? Kemarin dia nge-chat saya. Cuma, karena sibuk pindahan, saya belum balas sama sekali." Kata Mario lagi, kali ini membuat Gavin berhenti dan menatap heran kepadanya.


"Pak Ricky? Sejak kapan Anda dekat sama dia?" tanya Gavin bingung, dengan kerutan alis yang sedikit dalam.


"Oh, itu… Saya dan dia emang udah dekat dari lama. Kita berdua itu satu SMA, dulunya. Dia junior saya. Tapi, kita sering main-main bareng. Makanya bisa kenal." Cerita Mario, semakin membuat Gavin mendelik tidak percaya.


"Wow! Dunia ini sempit, ya… Saya baru tahu," geram Gavin jengkel, melirik Mario yang hanya mengedikkan bahunya sekilas.


"Itulah takdir. Kita bisa menyebutnya sebagai takdir yang tidak menyenangkan." Balas Mario tersenyum tipis, lantas melanjutkan perjalanannya santai, meninggalkan Gavin yang terpekur menahan sebal.


"Mungkin saya bakal main-main ke rumahnya dalam waktu dekat. Kira-kira… apa yang bisa saya temui di sana, ya?"


Rasanya, hari ini Gavin sudah sangat lelah menghadapi hidup. Masih satu hari, tapi hati dan pikirannya sudah diperas oleh berbagai hal penuh emosi yang dilaluinya hari ini. Bertengkar dengan Rino di kampus, kemudian bertemu dengan Mario di tempat kerjanya yang baru, sungguh menambah daftar ironi di kehidupan Gavin yang tidak sempurna ini.


"Eh, Vin! Gue dengar hari ini lo udah dapat kerjaan, ya? Dimana?" tanya Ricky tiba-tiba dengan semangatnya pada Gavin, sambil menaik turunkan alisnya menanti.


Ini, lagi. Sudah tahu muka Gavin saat ini terbilang tidak enak dipandang. Malah, diajak bicara dengan logat yang berbahagia. Memang, dia tidak ya, kalau Gavin itu sedang sedikit sebal padanya?


"Saya dan dia itu teman waktu SMA. Dia junior saya. Tapi, kita sering main-main bareng. Makanya, kenal."


Tiba-tiba saja, kata-kata Mario siang tadi, terngiang di telinga Gavin. Membuatnya semakin kesal, dan hendak melayangkan sebuah pukulan kecil di wajah Ricky andai dia tidak ingat mereka sedang makan malam bersama keluarga malam ini.


"Mungkin dalam waktu dekat, saya akan datang ke rumahnya. Kira-kira, apa yang bisa saya temui di sana, ya?"


"Hah!"


"Gavin?"


Gavin yang tanpa sadar mendengus kasar, memancing perhatian semua anggota keluarga mereka.


Ada ayah, ibu, paman, bibi dan dua sepupunya --Ricky dan Ricka-- yang menatap kaget ke arahnya. Sementara Kalya sendiri, justru menatap heran pada laki-laki tersebut.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Kalya lembut, menyentuh dahi Gavin sekilas dengan menggunakan punggung tangannya.


"Hm, iya, aku sakit." Aku Gavin lesu, meraih tangan Kalya menuju dadanya.


"Di sini. Sakit banget…" Katanya, membuat semua orang yang tadi menatap resah ke arahnya, sontak menggeleng dan menghelakan napas mereka.


"Heleh, modus! Kayak ababil aja lo!" ejek Ricky kesal, yang rasanya hendak melemparkan sesuatu ke arah saudara itu. Sebal juga, mendengar bahasanya barusan.


"Gavin, kamu ini apa-apaan, sih? Manja banget…" Keluh Kalya, hendak menarik tangannya lagi dari Gavin, yang entah kenapa malah ditahan oleh laki-laki itu.


"Kamu nggak peduli. Dan itu membuat aku semakin sakit." Kata Gavin lagi, kali ini membuat Ricky dan Ricka serentak berseru menahan jijik.


"Gavin, apaan sih, lo?! Norak banget tahu, nggak!" hardik Ricka jengkel, merasa merinding tidak senang dengan kelakuan Gavin yang memamerkan kemesraan di meja makan.


Apa pria itu tidak sadar, kalau dua sepupunya yang ada di sana belum punya pasangan?


Tapi, seolah tidak peduli, Gavin justru terus menatap Kalya lekat, dan membuat wanita itu terlihat salah tingkah.


"Gavin, udah! Jangan aneh-aneh! Malu, tahu…" Bisik Kalya memperingatkan, dengan gerakan bibirnya yang rapat.


Namun, alih-alih menghentikan ulah menjijikkannya tersebut, Gavun justru terus menatap sendu ke arah Kalya, dengan sorot mata yang menyiratkan sebuah luka. Membuat siapa pun yang tengah memandangnya saat ini, merasa ada yang lain dengan tingkah laku Gavin malam ini.


"Gavin," tegur Kendra akhirnya, membuat Gavin menoleh dan melepaskan tangan Kalya dari genggamannya.


Tampak pria itu sangat lesu menatap makan malamnya, seakan enggan untuk menyantapnya malam ini.


"Jadi… kamu 'kan sekarang udah kerja. Apa rencana kamu berikutnya? Mengajak Kalya untuk tinggal di rumah kita, atau gimana?" tanya Kendra datar, namun sedikit cemas pada sikap anaknya kali ini. Tidak biasa memang, melihat Gavin yang selalu berapi-api, kini berubah menjadi Gavin dengan tatapan mata yang sendu.


"Gavin nggak ngajak Kalya tinggal di rumah kita, Pa." Jawab Gavin lemas, tak ayal langsung membuat semua mata yang ada di sana membola.


"Hah?! Maksud kamu?!" tanya Nia kaget, melirik ke arah Kalya yang saat ini menatap Gavin panjang, dan tidak berkedip.


Sepertinya wanita itu lebih terkejut lagi, dibandingkan yang lainnya rasakan saat ini.


Apa mungkin anaknya itu telah berubah pikiran?


"Iya, Gavin nggak mau ngajak Kalya pindah ke rumah kita." Ucap Gavin lagi, menghembuskan napas panjang, dan menatap Kendra dengan serius.


"Kebetulan, Gavin punya sedikit tabungan di rekening Gavin. Dan rencananya, Gavin mau ngontrak rumah dulu buat kami tempati." Kata Gavin, melirik takut pada kedua orang tuanya yang hanya terdiam di tempat.


"Mungkin, buat Mama dan Papa, Gavin terlalu banyak tingkah. Tapi, Gavin minta, kali ini aja, izinkan Gavin buat mengatur rumah tangga Gavin sendiri. Bisa?" ucap Gavin lagi pada kedua orangtuanya, dimana Kendra dan Nia sudah saling lempar tatapan mereka satu sama lain.


"Papa dan Mama sih, nggak masalah kalau soal itu. Tapi… kamu udah ngomongin masalah ini sama istri kamu sendiri?" tanya Kendra balik, sambil melirik cemas ke arah Kalya yang masih terpaku di tempatnya menatap Gavin dengan tajam.


"Engh, itu…" Gavin yang sejak tadi tidak menyadari tatapan Kalya kepadanya, pun menoleh.


"Kal," panggilnya pelan, menatap Kalya lekat dan meraih tangan wanita itu sejenak.


"Kamu… nggak keberatan kan, kalau sekarang kita tinggal di kontrakan dulu? Aku bakal usahain cari uang banyak, biar bisa beli rumah. Tapi, untuk sementara--"


"Kenapa nggak ngomong dari tadi?!" bentak Kalya tiba-tiba, dengan napas  yang memburu.


"Kal,"


Kalya yang tadi hampir menangis karena mengira Gavin benar-benar tidak ingin tinggal satu rumah dengannya, menghembuskan napas panjang.


"Aku nggak keberatan kalau harus tinggal di rumah kontrakan. Tapi, kamu itu ngomongnya yang jelas, dong! Jangan setengah-setengah kayak tadi! Aku kan jadi mikirin yang enggak-enggak! Gimana, sih!" omel Kalya geram, dengan napas yang masih belum beraturan.


"Mikir yang enggak-enggak? Maksudnya?" tanya Gavin tidak mengerti.


Sementara itu, Kalya yang sudah kesal bukan main, bukannya menjawab, malah diam menyantap makan malamnya dengan kesal.


"Kal,"


"Bodo amat!" sungut Kalya jengkel, seperti tidak sadar dengan orang-orang di sekitar mereka.


"Jawab dulu, maksud kamu tadi, apa? Mikir yang enggak-enggak gimana, sih? Aku kok nggak ngerti, ya?" ujar Gavin membujuk Kalya, yang terus menggoyangkan lengan, menghindari Gavin yang meletakkan tangannya di sana.


"Kal,"


"Eh, udahlah, Vin! Nggak usah dibahas lagi. Kalo lo nggak ngerti mah, yaudah, itu derita lo! Gue aja kesel dengar omongan lo tadi!" ujar Ricka melerai Gavin yang terus berusaha mengganggu Kalya dengan pertanyaannya. 


"Lah, emang gue ngomong apa, sih? Perasaan, gue cuma bilang mau ngontrak rumah buat tempat tinggal kami. Masa--"


"Cuma ngomong itu, lo bilang? Setelah bikin jantung kita semua hampir copot, lo dengan mudahnya bilang, cuma ngomong itu?!" delik Ricka jengkel, seketika membuat Gavin terdiam.


"Hampir bikin jantung semua orang copot? Maksudnya?"


"Au-ah! Ngomong aja sama lalat! Gue nggak peduli!" rutuk Ricka akhirnya mendesis, membuat Gavin menoleh, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.


"Emang… Gavin tadi ngomong apa?"


Bersambung.