
Gavin sudah duduk di hadapan Kendra dan juga Keanu. Tadi, ayahnya meminta Gavin untuk datang ke kantor Kendra untuk membicarakan masalah Kalya dan keluarganya. Namun, penolakan Gavin yang mengatakan kalau dia tidak bisa meninggalkan Kalya sendirian di rumah, membuat kedua orang tua tersebut mengalah dan datang ke rumah Gavin.
Kini, mereka bertiga tengah duduk di ruang TV Gavin yang terlihat tidak begitu luas. Kendra dan juga Keanu tampak saling melirik satu sama lain, seolah tengah mengkhawatirkan sesuatu.
"Kalya mana? Tidur?" tanya Keanu mengamati sekeliling rumah, dengan suara tanya yang terdengar cukup pelan.
"Hm… Dia kurang sehat. Jadi, dia di kamar sekarang." Angguk Gavin sekenannya. Padahal, tadi, saat Kendra dan Keanu datang, Kalya tidak sedang tidur. Melainkan melamun, dengan tatapan kosongnya, hingga tidak mendengarkan Gavin yang bilang kalau Kendra akan datang.
Seolah mengerti, Kendra dan Keanu pun mengangguk.
"Jadi…" Gavin menggantung ucapannya, melirik intens ayah dan juga pamannya.
Terlihat Kendra sudah menarik napas panjang, dan membuangnya secara perlahan.
"Kamu tahu, kalau orang tua Kalya masih hidup?" tanya Kendra di awal, dibalas Gavin dengan anggukan.
"Sekarang mereka mencari Kalya. Maksudnya, mungkin mereka ingin ketemu sama Kalya. Cuma, Papa takut, kalau Kalya nanti--"
"Bakal syok." Sela Gavin, menghentikan ucapan Kendra sejenak, dan membuat pria itu mengangguk.
"Itu sesuai dengan dugaan Papa. Dia udah syok sekarang." Beritahu Gavin, sontak membuat kedua mata Kendra dan juga Keanu membola.
"Maksud kamu?" tanya mereka serempak.
Gavin kembali menarik napas panjang. Lantas, menautkan kedua tangannya di atas lutut, sebelum akhirnya berkata. "Dia udah ketemu sama keluarganya."
Dan bagaikan suara petir di siang bolong, Kendra dan Keanu sampai terpaku di tempatnya.
"Maksudnya…"
"Kalya udah ketemu, sama Bu Sarah dan Pak Malik." Ulang Gavin, lantas menaikkan sebelah alisnya. "Mereka orang tua Kalya, kan?"
Kendra dan Keanu, kini terdiam di tempatnya. Sejenak, mereka mencerna kembali ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Gavin. Masuk akal, memang, kalau misalnya Kalya sudah bertemu dengan Sarah ataupun Malik. Tapi, masalahnya, bagaimana mereka bisa bertemu? Maksudnya, apa mereka sendiri yang mengaku kalau mereka itu adalah orang tua kandung Kalya?
"Kalya nggak sengaja dengar, waktu Gavin lagi bicara sama Bu Sarah dan Pak Malik." Kata Gavin, seolah tahu dengan apa yang tengah ada di pikiran dua orang di hadapannya.
"Terus, gimana? Dia…"
Gavin menggelengkan kepalanya membalas pertanyaan gantung dari Keanu. "Dia kaget. Dan minta pulang setelah itu."
"Berarti, Kalya…"
Kini, ketiganya berdiam diri. Mereka bingung harus membahas apa lagi. Jujur, ini bukanlah suatu permasalahan yang mudah. Bukan satu atau dua tahun Kalya ditinggal oleh orang tuanya. Meski bukan keinginan hati mereka, tapi tetap saja, Kalya pasti sangat kecewa melihatnya.
"Papa udah ketemu sama Bu Sarah?" tanya Gavin menatap Kendra, yang masih menunjukkan raut wajah yang lesu. Yah, mungkin pikiran Kendra sedang sangat buntu saat ini.
"Belum. Papa belum ketemu sama mereka. Papa bingung, apa yang harus ngomong apa sama mereka. Papa…" Kendra meremat tangannya satu sama lain dan menarik napas panjang.
"Papa takut emosi dan berkata yang tidak-tidak sama mereka. Papa--"
"Takut bersikap kekanak-kanakan?" potong Gavin langsung, dengan nada datar, membuat Kendra kembali terdiam.
Tidak punya alasan lain, Kendra pun mengangguk.
"Meskipun udah tua, seorang pria tetap bisa bersikap kekanak-kanakan jika sedang membahas orang-orang yang dia sayangi. Apalagi, kamu tahu, kalau Papa ini adalah tipe laki-laki yang egois. Dan Papa nggak akan minta pengertian kamu soal itu." Ujar Kendra tersenyum tipis, pada Gavin yang menundukkan pandangannya sejenak.
Yah, Gavin tidak akan mencoba membantah ucapan Kendra, karena dia pun juga memiliki sifat yang demikian.
"Jadi, sekarang, gimana keadaan Kalya? Apa dia baik-baik aja?" tanya Keanu cemas, memikirkan kabar adik perempuannya yang satu itu.
"Seperti yang Gavin bilang, Om… Dia kaget. Dan itu nggak kelihatan baik, untuk dia." Kata Gavin, melihat Keanu dan memejamkan matanya seraya mengangguk.
"Ini pasti berat banget untuk dia…" Keluh pria itu, menghelakan napas panjang, dan membuka matanya kembali.
"Aku nggak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku pikir, kita bisa menyimpan masalah ini sampai nanti Kalya melahirkan. Aku takut, masalah ini akan membawa pengaruh buruk buat kandungan Kalya. Aku nggak mau--"
"Pa…"
Keanu yang tadinya tengah mengoceh panjang, menuturkan kekhawatirannya soal Kalya, mendadak bungkam, seiring dengan suara lembut nan serak Kalya memanggil Kendra dari arah pintu kamarnya yang terbuka.
"Kal,"
Kendra berdiri dari tempat duduknya, menyambut Kalya yang langsung berjalan cepat ke arahnya dan menabrak tubuh Kendra dengan pelukannya.
"Pa…" Lirih Kalya pelan, melingkarkan tangannya ketat di pinggang Kendra, sebelum akhirnya kembali menangis.
"Kal… Kamu kenapa, hm? Apa yang--"
"Pa…!" sela Kalya sedikit keras, membuat tangan Kendra yang mengusap rambut Kalya, berhenti seketika.
"Bawa aku… tinggal di rumah Papa lagi."
***
Kalya tidak tahu apa yang sebenarnya tengah dia pikirkan saat ini. Pikirannya mengatakan kalau dia harus membenci Sarah dan keluarganya. Tapi, sudut hatinya malah berkata lain. Ada bisik-bisik halus yang mengganggu pikiran Kalya tentang rasa nyaman dan kasih sayang. Membuatnya cemas, akan berakhir gila, andai dia tidak cepat-cepat kabur meninggalkan itu semua.
Pengecut? Terserah! Kalya merasa hidupnya masih cukup berarti untuk calon anak yang tengah dikandung saat ini.
Gavin melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar yang terbuka.
Sudah hampir satu minggu ini, mereka tinggal di rumah Kendra. Pikir-pikir, saat Kalya berkata ingin meninggalkan Gavin di rumah mereka, pria itu dengan segera membereskan semua pakaiannya. Dia sadar, kalau Kalya sedang terguncang saat itu. Jadi, dia tidak mau ambil hati, dan memilih pergi, seolah Kalya juga memang mengajaknya untuk pindah.
Kalya melirik Gavin sejenak. Lalu, pandangannya ia buang kembali, ketika pria itu tersenyum dan duduk di sebelah Kalya di atas ranjang.
"Belum," jawab Kalya singkat, mengusap perutnya yang sangat besar.
"Kenapa belum? Memangnya, kamu nggak lapar?"
"Enggak,"
"Anak kita? Dia pasti lapar." Kata Gavin, menatap wajah Kalya dari samping dengan tatapan yang sendu.
Meski setiap malam Kalya memeluknya sebelum tidur, Gavin tetap merasa kalau wanita itu sedikit berubah terhadapnya. Apa mungkin karena kejadian Gavin yang menemui keluarga Kalya waktu itu?
"Kal," panggil Gavin pada Kalya, yang masih terdiam di tempatnya.
"Kamu… Marah sama aku?" tanya Gavin pelan, kali ini tidak mendapat jawaban apapun dari wanita tersebut.
"Soal orang tua kamu… Aku--"
"Nggak usah dibahas, bisa nggak?" ketus Kalya, melirik tajam pada Gavin yang kini menatap kilat marah di kedua bola mata wanita tersebut.
"Aku pindah kemari, karena aku nggak mau menyinggung sesuatu yang berhubungan sama mereka. Dan kalau kamu memang mau membahas soal orang-orang itu, mending sekarang kamu balik ke rumah kamu, dan jangan temui aku lagi! Paham?!" ujar Kalya marah, lantas berdiri meninggalkan Gavin yang terpaku di kamar mereka.
Seumur-umur, baru kali ini Gavin melihat Kalya yang seperti itu. Tatapan merah penuh amarah, yang membuat sorot mata kelembutan Kalya selama ini jadi menghilang. Membuat Gavin merasa bersalah, karena telah membuat wanita itu jadi seperti ini sekarang.
Sambil mengusap wajahnya gusar, Gavin bangkit dari tempat duduknya, mencoba mengejar Kalya.
"Kal!"
Gavin yang melihat Kalya tengah berjalan menuju samping rumah, lekas menghampiri wanita itu dan meraih tangannya.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Aku nggak suka sama kamu!" bentak Kalya, menghempaskan tangan Gavin secara kasar.
"Kal,"
"Minggir!"
Kalya yang sudah terlihat sangat kesal, lantas mendorong bahu Gavin, meski nyatanya pria itu tidak bergerak sama sekali.
Kesal karena Kalya menolak dan berkata kalau dia tidak menyukai Gavin, sontak membuat pria itu geram dan langsung menggendong tubuh besar Kalya yang hendak melewatinya.
"AAARGH! GAVIN! KAMU MAU NGAPAIN, HAH?!" teriak Kalya cukup kencang, hingga membuat Nia yang tadinya ada di dapur, sontak terkejut dan menatap mereka berdua.
"Gavin, kamu--"
"Nggak papa, Ma! Gavin cuma ada urusan sama dia." Ujar Gavin yang saat ini tengah menahan amarahnya, langsung menatap Kalya yang juga tengah menatapnya dengan sorot mata emosi.
"AKU NGGAK ADA URUSAN SAMA KAMU! KAMU--"
Gavin tidak menunggu ucapan Kalya lagi, segera membawa wanita itu masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai satu. Membuat dia yang melihat itu, hanya bisa terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
Ini urusan anaknya. Ini urusan rumah tangga anaknya. Jadi, dia tidak boleh ikut campur saat ini. Pikir Nia, mencoba tenang dan kembali dengan urusannya di dapur.
Sementara itu, Kalya yang sudah kesal pada Gavin, semakin marah dan memukuli tubuh pria itu dengan keras.
"Gavin! Lepasin aku! Aku nggak punya urusan sama kamu! Aku nggak mau bahas apa pun sama kamu! Aku benci sama kamu! Gaviiin!"
"Kalya, diam! Atau aku bakal perkosa kamu sekarang!" ancam Gavin dongkol, meletakkan Kalya di atas ranjang, dan mencengkram kedua tangan wanita itu yang terus saja memukulnya.
Seketika, Kalya menatap ngeri pada Gavin.
"Kamu gila!"
"Kamu bodoh!"
"Gavin…"
Mata Kalya sudah berair. Bibirnya juga sudah berkedut menahan tangis, saat Gavin melepaskan cengkramannya dan memeluk kepala Kalya di dadanya.
"Kal… Kamu jangan bego gitu, dong… Aku ini suami kamu… Kamu nggak boleh nolak aku di samping kamu, cuma karena kamu ada masalah kayak gini…" Ucap Gavin lembut, mengusap rambut Kalya dengan sayang.
"Aku ini teman kamu, Kal… Sahabat kamu… Dan jangan pernah perlakukan aku seperti musuh. Aku yang akan jadi teman kamu, melewati semua ini. Kalau kamu takut, kamu sembunyi di belakang aku. Jangan kabur, dan nolak aku kayak tadi. Paham?" nasihat Gavin pelan, namun cukup tegas, hingga membuat Kalya merasa sedikit takut, dan juga lega di saat bersamaan.
"Maaf, Gavin… Aku salah," ucap Kalya lirih, membalas pelukan Gavin erat, dan menumpahkan bebannya di dada pria tersebut.
"Untuk kali ini aku maafin. Tapi, lain kali enggak, ya?" ujar Gavin lagi, kali ini dibalas anggukan kepala dari Kalya.
"Aku sayang kamu, Gavin."
Bersambung.