Be My Brides

Be My Brides
Episode 35



Gavin sudah duduk di salah satu kursi kantin yang ada di kampusnya. Siang ini, rencananya dia dan Sandy akan pergi ke perusahaan dimana Sandy magang beberapa bulan yang lalu. 


Dan berhubung saat ini Sandy tengah ada urusan sedikit dengan seorang dosen di kampus mereka --bersangkutan dengan urusan skripsi, katanya--, terpaksa Gavin harus menunggu anak itu menyelesaikan urusannya terlebih dulu, sebelum memutuskan untuk pergi.


"Gavin,"


Gavin yang tampak sedang menyeruput jus mangga yang dibelinya di meja kantin, menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.


Terlihat seorang cowok kurus, berkacamata, datang menghampiri Gavin dan duduk di seberang pria itu, tanpa dipersilakan terlebih dahulu.


"Lo," 


Gavin yang merasa mengenal cowok berkacamata itu sebagai teman satu tempat magangnya dulu, hanya mengerutkan dahinya sedikit. 


Siapa ya, namanya? Gavin sedikit lupa.


"Eh, Vin! Gue nggak nyangka loh, pas acara wisuda kemarin lo datang bareng Pak Kendra. Lo kenal sama beliau?" tanya cowok anonim itu pada Gavin, dengan nada semangat hingga membuat Gavin mendengus tidak suka.


"Kenal. Kenapa?" sahut Gavin malas, sebenarnya tidak berminat menjawab pertanyaan tersebut menggunakan pertanyaan lain.


Memang, selama acara magang waktu berlangsung, yang mengetahui status Gavin itu sebagai anak pemilik perusahaan, hanyalah segelintir orang penting saja. Seperti Mario yang menjadi supervisornya, dan beberapa orang dari bagian personalia yang mengurus masuknya Gavin di sana. Sisanya, mereka tidak tahu-menahu soal Gavin itu anak siapa.


"Kok lo nggak bilang, sih? Emang beliau siapa lo? Bokap lo? Terus, yang di samping lo kemarin itu Bu Kalya 'kan? Adiknya Pak Kendra?" tanya cowok anonim itu lagi, masih dengan nada super penasaran, yang entah kenapa membuat Gavin merasa gerah.


"Hm," sahutnya terdengar sedikit kesal.


"Tapi, kok emang benar Pak Kendra itu bokap lo… Kenapa lo bilang Bu Kalya itu istri lo? Bukannya seharusnya nggak boleh, ya? Itu kan artinya Bu Kalya itu Tante lo, Vin. Masa lo ngakuin Tante lo sendiri sebagai istri?" tanya cowok aneh itu lagi, kali ini membuat Gavin semakin merasa tidak nyaman.


Oke, sekarang, coba Gavin pikirkan kembali. Dari gelagatnya yang seperti orang sok tahu serta cara bicaranya yang seolah ingin ikut campur, sukses mengingatkan Gavin pada satu nama anak magang yang dulu sering disebut bawel oleh beberapa karyawan di perusahaannya. Nama yang seharusnya Gavin ingat, dengan wajah yang sangat menyebalkan seperti itu.


"Lo Rino, ya?" tanya Gavin pada cowok anonim tersebut, seketika membuat cowok berkacamata itu tersentak merasa bingung.


"Iya. Lo, baru ingat nama gue?" tanya cowok itu berdecih, menatap Gavin tidak percaya.


"Lo itu ya, benar-benar--"


"Nggak usah ngurusin masalah orang lain. Urus aja hidup lo sendiri. Tanpa dengar nasehat dari lo juga, gue masih bisa hidup dengan baik, kok." Ujar Gavin datar, menatap Rino lekat hingga membuat cowok itu dengus.


"Gue dulu sempat berpikir, lo itu anak siapa sih, kok bisa songong banget kayak gini. Tapi, pas gue tahu kalo ternyata lo itu ternyata anaknya Pak Kendra, gue baru tahu, alasan kenapa lo bersikap sombong kayak gini." Kata Rino tajam, melemparkan seringai sinisnya pada Gavin.


"Lo itu cuma orang yang udah merasa hebat, karena lo punya bokap seperti Pak Kendra. Dan lo, adalah orang yang merasa seluruh dunia itu ada di genggaman lo, cuma karena punya bokap yang kaya raya seperti Pak Kendra." Hardik Rino lagi tajam, melipat kedua tangannya di dada.


Perlahan, Gavin mencengkram gelas yang ada di depannya. Dia kesal bukan main mendengar ucapan orang yang ada di hadalanya saat ini. Seolah tahu segalanya tentang Gavin dan mendiktenya dengan hal-hal yang belum tentu diketahuinya secara jelas.


"Gue kemarin ngantar surat lamaran kerja gue ke perusahaan bokap lo. Dan rencananya, besok gue mau datang memenuhi undangan personalia buat interview." Beritahu Rino santai, sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Lo nggak melamar pekerjaan di sana juga, kan?" tanya cowok itu pada Gavin, seolah kata-kata yang dia ucapkan itu adalah sebuah kalimat sindiran yang ingin menjatuhkan Gavin.


Tidak ingin lepas kendali dengan menghajar cowok itu dan membuat mereka menjadi tontonan seperti anak TK, Gavin pun meraih tasnya dan bangkit dari tempat duduknya.


"Gue sempat dengar kabar seputar Bu Kalya waktu itu." Seru Rino masih dengan gaya santai, menghentikan langkah Gavin yang bersiap meninggalkan cowok itu di sana.


"Banyak kabar simpang siur yang gue dengar, soal Bu Kalya yang berhenti kerja bersamaan dengan Pak Mario buat pindah." Beritahu pria itu lagi, pada Gavin yang sudah menolehkan kepalanya dengan alis yang mengerut.


"Itu nggak ada sangkut pautnya sama masalah ini."


"Tapi, orang menganggapnya kayak gitu." Timpal Rino cepat, lalu menarik sudut bibirnya sedikit.


"Orang-orang di kantor tahu, kalau Bu Kalya dan Pak Mario itu dekat. Waktu mereka berdua keluar dari kantor, banyak kabar miring yang terdengar seputar mereka berdua. Mulai dari kawin lari, sampai Bu Kalya yang hamil di luar nikah, karena hubungannya sama Pak Mario." Kata Rino kemudian tersenyum sedikit, seolah mencemooh Gavin yang terdiam.


"Mereka kayaknya nggak takut ya, gosipin adik pemilik perusahaan kayak gitu. Tapi…" ******* bibir Rino yang terlihat begitu menyebalkan itu, semakin lebar seiring dengan tatapan Gavin yang kian membara.


"Lo ngakuin Bu Kalya sebagai istri… Jangan-jangan, karena emang gosip itu benar? Dia hamil di luar nikah, karena Pak--"


Bugh!


"Ugh!"


Rino belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika tangan Gavin sudah lebih dulu melayang, menghantam bagian pangkal hidung Rino dan membuatnya mengeluarkan beberapa tetesan darah.


Seketika, suasana kantin yang tadinya memang cukup terbilang ramai, berubah menjadi gaduh, saat Gavin meraih kerah baju Rino dan menariknya dengan kasar.


"Kalo lo emang mau menghina gue, cari kata-kata yang nggak menyinggung keluarga ataupun istri gue. Dengan begitu, hidung lo nggak akan patah kayak gini!" hardik Gavin menghempaskan tubuh Rino hingga membentur kursinya kembali, dengan teriakan cowok itu yang mengerang kesakitan.


"Mending, mulai sekarang,  lo berdoa aja gue dapat pekerjaan di tempat lain. Karena, kalau sampai gue kerja di perusahaan bokap gue, udah gue pastiin lo nggak akan pernah bisa injak kaki lo itu lagi di sana. Ngerti lo?" tuding Gavin lagi, lantas meninggalkan kerumunan orang yang mulai mengelilingi Rino yang kesakitan.


Gavin berjalan dengan penuh emosi, meninggalkan kantin yang kian terdengar ramai.


"Eh, Vin! ...eh? Apaan tuh ribut-ribut?"


Sandy yang tampaknya baru berjalan ke arah kantin dan merasa penasaran dengan apa yang membuat anak-anak berkumpul di sana, merasa tersentak ketika Gavin langsung menarik tali ransel cowok itu dan menyeretnya keluar dari sana.


"Eh! Eh! Apaan, tuh? Eh? Ngapain lo narik-narik gue, ******!"


***


Dulu, sewaktu Gavin masih kecil, dia selalu berpikir kalau kelak dia tidak akan perlu repot mencari pekerjaan seperti ini. Ayahnya yang merupakan seorang pemilik perusahaan besar dalam bidang industri kosmetik, pasti akan memberikannya sebuah posisi penting di perusahaan, saat dia lulus kuliah.


Tapi, apa yang ada di hadapannya sekarang, adalah sesuatu yang berada di luar ekspektasi Gavin selama ini. Berdiri dengan penuh harapan besar, menatap sebuah gedung pencakar langit yang bukan milik keluarganya, dan berharap bisa diterima bekerja di sana.


"Jadi, ini kantornya?" tanya Gavun pada Sandy, yang mengangguk dan tersenyum tipis di sebelahnya.


"Kemarin Mbak Vivi bilang, kalau perusahaan ini tuh, lagi butuh karyawan. Ya, bagian pemasaran sih, emang… Cuma, lo coba aja. Kali aja, masuk." 


"Mbak Vivi?" tanya Gavin bingung, yang seketika menyadarkan Sandy akan sesuatu.


"Ah… iya. Mbak Vivi itu, kepala personalia. Orangnya masih cukup muda. Gue kenal dia karena dia temannya kakak gue. Orangnya baik, kok… Jadi, lo tenang aja…" Cerita Sandy, menepuk bahu Gavin sekilas, yang entah kenapa membuat pria itu teringat atas kejadian yang pernah terjadi sebelumnya.


"Lo itu, udah gue anggap sebagai sahabat gue. Jadi, apapun yang gue pikirin, itu pasti niatnya baik buat lo. Jadi, lo nggak usah mikir yang macam-macam." Senggol Sandy pada bahu Gavin, yang membuat pria itu termenung untuk sesaat.


"Kenapa bukan lo aja yang melamar? Bukannya lo bilang personalianya nawarin ke elo, ya?" tanya Gavin heran, dengan alisnya yang masih mengerut samar.


"Gue sebenarnya sih, pengen buka usaha, Vin. Gue udah ngomong sama kakak gue mau buka usaha catering. Kan cewek gue selama kerja di restoran, udah cukup tau beberapa menu makanan, tuh. Jadi, ya… Kenapa enggak?" gidik Sandy santai, membuat Gavin mencebikkan bibirnya tidak suka.


"Cewek lo?" kernyit Gavin, dibalas anggukan kepala lagi oleh Sandy.


"Jangan suka manfaatin cewek. Sementang dia pinter masak, lo mau jadiin mesin pencetak uang, gitu? Nggak boleh…!" nasihat Gavin bijak, yang serta merta langsung membuat Sandy terkejut, kemudian tertawa.


"Apaan sih, lo! Ya enggaklah! Mana mungkin gue manfaatin cewek gue… Yang ada, ntar gue diputusin lagi sama dia. Enggak lah! Masih cinta, gue…" Balas Sandy, tetap membuat Gavin mengernyit curiga kepadanya.


"Ya tetap, aja… Siapa tahu niat lo emang gitu, kan? Pake kata cinta, cuma jadi alasan berbuat salah…" Gerutu Gavin, seolah tengah membicarakan dirinya sendiri.


"Iya, iya... Duh, yang tipikal pejantan tangguh… Pantang ngelihat ada cewek yang tertindas, langsung dibelain. Manis banget, sih…" Gurau Sandy tertawa girang, melihat Gavin yang cemberut ke arahnya.


"Udah, ah! Ayo, masuk! Gue rasa Mbak Vivi udah nungguin kita dari tadi."


***


"Oke, kalau gitu, wawancara kita selesai sampai disini. Selamat ya, Gavin, kamu diterima bekerja di perusahaan ini."


Gavin yang tadinya merasa gugup, langsung bisa menghembuskan napas lega, mendengar kalimat itu keluar dari mulut wanita bernama Vivi tersebut.


Darahnya yang tadi seolah membeku, kini mencair, menghangatkan seluruh tubuhnya dengan perasaan yang sangat gembira.


Alangkah senangnya Gavin, karena mulai besok dia akan menjadi salah satu karyawan di perusahaan tersebut.


"Makasih, Bu… Terima kasih," ucap Gavin cepat, menyambar tangan Vivi yang menjulur kepadanya.


Melihat rona kebahagiaan dan ucapan syukur yang keluar dari mulut Gavin, membuat wanita bagian personalia itu menjadi ikut tersenyum.


Sekali lagi, dilihatnya daftar riwayat hidup Gavin, dimana pria itu menuliskan menikah di bagian kolom statusnya.


"Dasar anak muda," batin Vivi menggeleng, kemudian ikut mengantarkan Gavin keluar ruangannya, bertemu kembali dengan Sandy yang sudah menunggunya di depan ruangan.


"Gimana, Mbak? Dia diterima, nggak?" tanya Sandy penasaran, pada Vivi meski rona wajah Gavin sendiri sudah jelas menggambarkan hasil yang terjadi.


"Diterima," jawab Vivi mengangguk, seketika ikut membuat Sandy mengucapkan syukur dari mulutnya.


"Wah, makasih ya, Mbak… Mbak emang baik banget, deh, pokoknya…" Ucap Sandy merasa senang, menjabat tangan Vivi yang kembali menganggukkan kepala.


"Mbak nerima dia juga bukan semata dia teman kamu loh, San. Kebetuluan, Mbak baca sertifikat dia yang memang pernah magang di bagian pemasaran sebelumnya. Jadi, selain pengalaman yang lumayan cukup, dia juga udah memenuhi kriteria calon karyawan yang perusahaan minta." Kata Vivi, melirik Gavin yang terus tersenyum di sebelah Sandy.


"Wah, man… selamat, ya! Akhirnya, usaha lo cari kerjaan itu nggak sia-sia. Gue, kalo jadi bokap lo, pasti udah bangga sama lo, Vin! Biar pun anak orang kaya, bukan berarti lo bisa manfaatin keadaan orang tua lo gitu aja. Salut gue sama lo…" Ucap Sandy tulus, menepuk sebelah bahu Gavin dan membuat pria itu tertawa.


"Nggak usah lebay deh, lo! Biasa aja…" Balas Gavin, kali ini hanya mendapat cibiran dari temannya tersebut.


"Hei, Vi!"


"Oh, hei, Mas!"


Vivi yang tampak sedang bertegur sapa dengan seseorang dari arah belakang Gavin dan Sandy, seketika membuat kedua anak muda itu terdiam.


Karena merasa sedikit mengenal suara berat yang ada di belakangnya, Gavin pun menoleh dan langsung bertemu muka dengan orang yang disapa Vivi barusan.


"Loh, Gavin?!"


"Pak Mario?"


Belum beberapa detik mata mereka bertemu, baik Mario ataupun Gavin, sama-sama terkejut dengan kehadiran mereka masing-masing. 


"Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia di luar kota?" batin Gavin bertanya-tanya.


"Eh? Mas Mario udah kenal Gavin?" tanya Vivi lembut, pada Mario yang masih terbegong, melihat Gavin yang berdiri di hadapannya.


"A-ah, i-iya… Dia ini salah satu mahasiswa yang pernah magang di perusahaan tempat aku kerja dulu. Sekaligus, anak dari pemilik perusahaan itu." Jelas Mario sedikit tergagap, pada Gavin yang masih termangap melihatnya.


"Oh, kalau begitu bagus dong! Ini namanya kebetulan yang sangat menyenangkan! Bener, nggak?" ujar Vivi pada Mario, yang menoleh tidak mengerti.


"Hah? Maksud kamu?"


"Ya, maksud aku, aku udah dapat karyawan yang cocok untuk mengisi posisi yang ada di devisi pemasaran. Dan mulai besok, Gavin ini udah bisa langsung bekerja. Dia bakal jadi anggota baru kamu, Mas Mario."


"Apa?"


"Hah?!"


Vivi dan Sandy yang tidak mengerti jalan cerita sebenarnya, merasa sedikit kaget, mendengar seruan Mario dan juga Gavin.


Di pikiran mereka, kenapa Mario dan Gavin terlihat sangat terkejut, seperti sepasang mantan kekasih yang harus dipersatukan kembali dalam sebuah angkutan umum?


"Wah, Vin… Selamat, ya… Ternyata atasan lo yang sekarang itu, bekas atasan lo yang dulu. Jadi, lo nggak perlu canggung lagi, deh…" Ucap Sandy, lagi-lagi memberikan selamat pada Gavin, dengan cara menepuk sebelah bahu pria itu tegas.


"Bagus, dong…"


Berusaha menahan gejolak perasaan yang tidak terungkap, Gavin melirik tangan Sandy yang tengah berada di atas bahunya.


Sambil menggemeletukkan giginya geram, Gavin pun bergumam. 


"Bagus, bagus... Otak lo tandus?"


Bersambung