
Gavin dan Kalya sudah pulang dari tempat acara. Saat ini, keduanya sudah duduk berdampingan di atas ranjang, dengan sebelah tangan Gavin yang memeluk bahu Kalya mesra.
Sekarang, mereka hanya berdua. Tadi, Gian sudah Gavin jemput dari kamar Nia dan Kendra. Tapi, hanya sebentar. Karena, setelah diberikan ASI oleh Kalya, Nia kembali datang dan meminta Gian untuk tidur di kamarnya.
Yah, begitulah kelakuan Nia pasca dia memiliki cucu pertamanya. Pantang dititipkan sekali, Nia akan meminta Gian untuk tidur bersamanya juga Kendra sebagai bayarannya.
Keberatan? Tentu saja Gavin tidak keberatan. Malah dia merasa sedikit bersyukur, karena dengan begitu, dia bisa menikmati malam yang indah ini hanya berdua dengan Kalya.
Rasanya… Dia butuh satu waktu hanya untuk berduaan dengan istrinya tersebut.
"Aku masih nggak nyangka deh, Mas Mario dapat istri yang cantik banget kayak Mbak Vivi. Bener-bener hebat, dia…" Ucap Kalya, setengah bergumam, dimana matanya lekat menerawang jauh ke atas langit-langit kamarnya. Membuat Gavin yang tadinya memejamkan mata menikmati aroma tubuh istri yang didekapnya, menjadi membuka mata.
"Emang kenapa kalau Pak Mario dapetin Bu Vivi? Masalah?" tanya Gavin sedikit ketus, menatap sengit pada Kalya hanya tidak membalasnya sama sekali.
Perempuan itu hanya menoleh sedikit. Menatap Gavin sekilas, kemudian menghembuskan napas panjang.
"Aku tebak, kamu pasti lagi mikirin yang aneh-aneh soal aku. Terus, kamu cemburu deh, dengan alasan yang nggak jelas. Iya kan?" terka Kalya yang kali ini dibalas dengusan kesal dari Gavin.
"Nada bicara kamu itu seolah kamu nggak terima Pak Mario menikah sama perempuan lain. Sebagai suami, aku patut curiga. Jangan-jangan, kamu masih ada rasa lagi, sama dia?"
"Terus, kamu pikir perasaan aku sama kamu itu gimana? Nggak sepenuhnya, gitu? Kamu nggak percaya sama aku?" timpal Kalya tenang, menatap Gavin lekat, dan membuat pria itu sedikit resah.
"Aku pikir, kamu udah dewasa. Tapi tahunya, masih kayak anak-anak juga… Sebel aku!" rutuk Kalya cemberut, mencoba melepaskan tangan Gavin yang melingkar di tubuhnya.
"Eh… Mau ngapain?!" pekik Gavin bertahan, ketika dilihatnya Kalya semakin gencar melepaskan tubuhnya dari Gavin.
"Mau jauh-jauh dari kamu! Ngapain aku mesra-mesraan sama kamu, kalo pada akhirnya kamu nggak percaya sama sikap aku ke kamu? Nyebelin!" ujar Kalya, jelas terlihat lebih sebal dari yang tadi.
Baiklah, sepertinya Gavin harus ingat kalau Kalya sudah menjadi sosok yang lebih mudah tersinggung dan marah pasca melahirkan anak pertamanya. Apa ya, sebutannya?
"Ah… Baby blues…" Gumam Gavin tanpa sadar, membuat Kalya menoleh dan menatap tajam ke arahnya.
"Kamu bilang apa? Kamu mau bilang aku ini perempuan yang nggak punya mood baik?! Kamu--"
Omelan Kalya yang jelas akan merembes ke mana-mana itu segera ditahan oleh Gavin. Dia mencium bibir Kalya yang segera ditepis oleh perempuan itu.
"Emh… Kamu--"
Baru saja terlepas beberapa detik, bibir Kalya sudah kembali dikunci oleh Gavin menggunakan mulutnya. Kali ini, bukan main-main. Gavin langsung mendekap kepala Kalya di dadanya, dengan posisi kepala mendongak, agar dia bisa lebih leluasa menikmati bibir manis perempuan tersebut.
"Mmmpt! Mmmpt…!"
Awalnya Kalya terlihat menolak. Mungkin karena dia lagi kesal kepada Gavin. Tapi, lama-lama dia terlena juga, yang terlihat dari caranya membalas ciuman Gavin.
Beberapa menit sudah mereka habiskan hanya untuk saling bercumbu. Mengulum dan menghisap rasa dari bibir pasangan mereka, sampai akhirnya, rasa panas tiba-tiba saja menjalar memenuhi rongga dada keduanya.
Gavin melepaskan tautan mulutnya dari Kalya. Dilihatnya wanita itu lekat dengan sorot mata yang meletupkan api gairah. Dan Kalya paham, dengan arti tatapan Gavin kepadanya.
"Gavin… Kamu…" Kalya yang mendadak merasa malu, menundukkan kepalanya sedikit.
Sebenarnya, dia tidak ada masalah dengan Gavin yang menginginkan dirinya saat ini. Dia tahu dan cukup mengerti, mengingat Gavin yang belum pernah meminta haknya lagi, setelah Gian hadir di antara mereka.
"Soal tadi... Aku benar-benar cinta kamu, loh…" Aku Kalya dengan wajah sendu, melirik Gavin yang terus menatapnya.
"Aku nggak punya sisa perasaan lagi, untuk aku kasih ke laki-laki lain. Dan aku nggak bercanda soal itu. Aku--"
Ucapan Kalya kembali dipotong Gavin, dengan mencium bibirnya yang sudah membengkak. Sungguh, rasanya sedikit kebas. Tapi, entah kenapa, Kalya menikmatinya. Yah… Tentu selama yang melakukan itu adalah Gavin.
"Aku percaya. Dan aku pun begitu. Aku bicara kayak gitu, cuma karena rasa cemburu bego yang nggak bisa aku tahan. Kamu harus tahu, kalau aku ini manusia biasa, yang bisa aja cemburu kalau kamu mengagumi laki-laki lain, yang bukan keluarga kamu sendiri." Kata Gavin panjang, mengusap kedua pipi Kalya yang memerah.
"Jadi, maksud kamu, kalau aku mengagumi Ricko atau Ricky… Kamu juga bakal cemburu?"
"Iya."
"Biar pun mereka itu sepupu kamu?"
"Hm,"
"Tapi, itu bego!"
"Dan kamu, harus menerima kebegoan aku itu dengan lapang dada. Karena, aku dan kebegoan aku itu satu paket loh, Kal…" Balas Gavin tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya sedikit lagi ke arah Kalya.
"Sepaket juga sama gantengnya aku…" Ucapnya, sontak membuat Kalya menjauh dan menatap asam ke arahnya.
"Dih! Ganteng?! Kepedean kamu, tuh!" sewot Kalya, lalu membuat Gavin terkekeh.
"Loh, memangnya enggak?" goda Gavin, mendekatkan wajahnya lagi ke arah Kalya.
Lama-lama, Kalya tidak tahan juga. Dari jauh saja, Gavin sudah terlihat memesona. Apalagi dengan jarak seperti ini? Mau jadi perempuan munafik pun, rasanya tidak bisa, ketika hidung mancung dan desah napas pria itu sudah mulai menyentuh kulit wajahnya.
"Gavin…" Lirih Kalya serak, yang memberikan isyarat kalau dia memang ingin Gavin lebih mendekat ke arahnya.
"Hm?"
"Kamu…"
"Ya, I know,"
Tanpa dijelaskan lagi pun, Gavin sudah tahu dengan apa yang diinginkan oleh istrinya. Karena, tidak bisa dipungkiri, kalau dia pun memang menginginkan hal yang sama dengan wanita tersebut.
Memadu kasih dengan cara yang sangat dekat, dan memberikan tanda kalau mereka memang memiliki hak masing-masing atas tubuh pasangannya, serta berlayar ke pusara gairah yang mungkin tidak akan pernah mati.
"Kamu cantik banget… Selalu dan semakin bertambah cantik," puji Gavin, di tengah aktivitasnya bersama Sang Istri.
Sembari tersenyum, Kalya pun membalas pujian Gavin dengan kecupan di bibirnya.
"Itu karena, kamu mencintai aku."
Selesai.