
Hari pertama Gavin sebagai seorang suami, rasanya tidak jauh berbeda dengan kehidupannya saat menjadi seorang lajang. Bangun pagi-pagi sendiri, setelah tadi malam tidur merana seorang diri, hingga mempersiapkan segala sesuatunya pun seorang diri.
Dia tidak tahu apa yang dilakukan istri tercintanya di rumah Keanu. Apakah dia juga merasakan apa yang Gavin rasakan saat ini? Apa dia juga tengah menginginkan kebersamaan seperti yang Gavin inginkan saat ini? Atau ada hal lain yang membuat Kalya tidak menghubunginya sejak semalam?
Ah, Gavin sungguh merindukan perempuan itu sekarang. Berbagi dalam satu ranjang bersama dan dalam posisi yang saling berpelukan adalah hal yang paling Gavin ingin lakukan bersama Kalya.
Masih dalam balutan selimut tebal di atas ranjang, Gavin menolehkan sedikit kepalanya ke arah jam dinding.
Pukul enam lewat dua puluh menit.
Cepat Gavin bangkit dari ranjang empuk miliknya. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Secepat kilat dia bersiap, hingga tidak butuh waktu setengah jam bagi lelaki itu untuk keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi, Ma… Selamat pagi, Pa…" Sapa Gavin terlihat girang, pada orangtuanya yang sudah ada di meja makan, menatap dirinya keheranan.
"Pagi… Kamu mau kemana? Tumben udah rapi. Mau ke kampus?" tanya Nia langsung, memperhatikan penampilan anaknya yang sudah necis. Sudut rambutnya terlihat masih basah, yang menandakan kalau anak laki-lakinya itu baru selesai mandi.
"Oh, enggak kok, Ma. Gavin ke kampus ntar siang." Jawab Gavin santai, berdiri di samping Kendra duduk saat ini.
"Loh, jadi, kamu mau kemana?" tanya Nia lagi, merasa penasaran.
Sementara itu, Kendra yang sejak tadi membaca koran di tempatnya, mengendus sedikit ke arah Gavin yang terasa begitu harum.
"Wangi," gumam pria itu, lantas melirik Gavin curiga.
"Ah, Papa tahu, nih…" Sambil melipat korannya, Kendra menyidekapkan kedua tangannya di dada.
"Kamu pasti mau ke rumah Om Nunu, ya? Mau godain Kalya? Iya 'kan?" tuding Kendra pada Gavin, yang sontak membuat pria itu **** bibirnya malu.
"Ya, nggak ada larangan buat itu kan, Pa? Papa cuma bilang kalo Gavin harus fokus nyelesaikan kuliah dulu, dan cari kerja. Baru, setelah itu, boleh tinggal bareng Kalya dan juga anak kami. Iya kan? Papa nggak bilang, kalo Gavin nggak boleh ketemu Kalya..." Kata Gavin tersenyum cerah, begitu Kendra tidak membantah ucapannya.
"Iya, tapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya gitu ketemu dia kapanpun kamu mau… Ingat loh, Gavin… Usahakan, kamu itu udah dapat kerja, sebelum anak kalian lahir. Kasihan, kalau misalnya nanti anak kalian lahir, kalian masih harus pisah rumah kayak sekarang." Nasihat Nia pada Gavin, yang hanya membuat pria itu tersenyum tipis.
"Iya, Ma… Gavin tahu." Sahut Gavin kemudian. "Minggu depan juga Gavin udah seminar proposal. Jadi, Mama nggak perlu khawatir. Nyelesaikan kuliah dan pekerjaan, masih jadi prioritas utama Gavin, kok…" Kata Gavin lagi, kemudian bergumam pelan. "Ya, sesudah Kalya dan anak kami, tentunya."
"Gavin…"
Gavin pun hanya terkekeh pelan, melihat tampang gusar Nia menegurnya.
"Iya, iya… Gavin paham… Udah ya, Ma, Pa… Gavin pergi dulu." Pamit Gavin lagi pada orang tuanya, yang dibalas anggukan kepala oleh mereka.
"Eh, Gavin, tunggu!" panggil Nia tiba-tiba menahan lengan Gavin yang mencium tangannya.
"Kamu nggak sarapan dulu?"
"Nggak, Ma. Sarapannya di rumah Om Nunu aja!" sahut Gavin, lantas segera berlalu dari rumahnya, setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Dalam keheningan, pandangan Nia tertuju pada bayangan Gavin yang mulai menghilang di ujung ruang tamu. Sambil menghelakan napas panjang, wanita itu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Kendra.
"Perasaan, kita dapatin dia itu lama banget deh, Mas… Tapi, kita kok cepat banget ya, kehilangan dia…" Keluh Nia pelan, mulai menghidangkan seporsi nasi, serta lauk ke atas piring yang akan dia berikannya kepada Kendra.
"Aku jadi sedih," aku Nia kemudian, membuat Kendra menatap lekat wajah istrinya tersebut.
"Kamu kok ngomong gitu? Kehilangan apanya? Gavin 'kan cuma menikah. Bukannya mati, Nia… Kamu nih, ada-ada aja…" Balas Kendra menggeleng, membuat wajah Nia semakin bertambah gusar.
"Ih, Mas ini gimana, sih? Kok ngomongnya gitu?! Siapa yang bilang dia mati? Aku 'kan cuma bilang, aku ngerasa kehilangan dia, karena perhatiannya pasti bakal lebih besar sama Kalya dan anak mereka. Itu doang kok! Jangan ngaco, deh!" sungut Nia masam, lantas mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Lah, kan kamu tadi yang bilang kehilangan. Biasanya itu ditujukan untuk orang yang meninggal. Kamunya aja yang salah menempatkan kata…" Goda Kendra menahan senyum, dengan wajah Nia yang semakin bertekuk.
"Au, ah! Mas memang gitu orangnya! Dari dulu nggak pernah peka sama perasaan orang! Bikin kesel…" Balas Nia cemberut, lantas membuat Kendra semakin menahan senyumnya.
Entah kenapa, dia merasa saat ini sudah waktunya dia memperbaiki hubungan dengan Nia. Setelah awal menikah mereka hanya berdua, sampai anak mereka menikah dan menyisakan mereka kembali berdua, membuat Kendra sadar, kalau dia tidak salah memilih pasangan hidup.
"Ya, terus, kamu mau gimana? Kamu merasa kesepian? Kamu mau kita punya anak lagi? Atau, anak bayi juga, kayak Gavin sama Kalya gitu, hm?" tanya Kendra berpura-pura serius, melihat Nia yang bingung dengan ucapannya.
"Maksud Mas… Angkat anak?"
"Bukan. Tapi…" Kendra memajukan sedikit wajahnya ke arah Nia yang serius menanti ucapannya.
"Buat anak."
"Mas!"
Nia yang kaget mendengar jawaban Kendra, langsung terpekik dan berdiri dari tempatnya.
Dengan wajah yang mulai memerah, Nia menuding Kendra yang saat ini tengah memandangnya dengan sorot mata menggoda.
"Mas ini bener-benar deh, ya! Keterlaluan banget! Udah tua, juga ngomongnya kayak gitu! Nggak malu apa, ya! Ih!" sungut Nia, yang malah semakin jengkel dengan Kendra yang mengedipkan sebelah matanya kepadanya Nia.
"Mas…!"
Dan akhirnya, tawa Kendra pun pecah, melihat Nia yang mengomel meninggalkan dirinya di dapur sendirian.
Ah, rasanya jiwa Kendra berubah menjadi sedikit lebih muda karena momen sederhana mereka di pagi ini.
Ada apa? Apakah ini efek dari dirinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek? Apa dia sedang berusaha menjadi seseorang yang menyenangkan agar bisa bermain dengan cucunya nanti?
Entahlah, Kendra juga merasa sedikit bingung pagi ini.
***
Suasana di ruang makan Keanu pagi ini terasa sedikit dingin. Seperti sunyi, padahal semua orang yang ada di rumah itu, tengah berkumpul bersama untuk menikmati sarapan pagi. Ya, paling hanya asisten rumah tangga dan juga satpam yang makan di tempat terpisah. Sisanya, mereka ada di satu titik, dimana meja makan mereka berada saat ini.
"Selamat pagi, semuanya…"
Di tengah suasana makan yang terbilang cukup hening tersebut, tiba-tiba saja Gavin datang dengan wajahnya yang ceria.
"Hai, Om… Tante dan sodara-sodara gue sekalian…" Sapa Gavin lagi riang, hanya dibalas senyuman kaku dan aneh orang-orang di sana.
"Hai, Sayang…" Sapa Gavin kemudian, pada Kalya, yang terbengong melihat kehadirannya. Ditambah kelakuan Gavin yang langsung mencium keningnya begitu saja di depan semua orang, semakin membuat Kalya merasa bingung dengan ulah anak itu.
"Heemh! Emang kenapa? Nggak boleh?" tanya Gavin mengangguk, menatap Kalya sedikit bingung.
"Eh, bukannya nggak boleh. Tapi…"
"Ngapain sih, lo datang-datang? Mana masih pagi, juga! Ngerusak mood gue aja lo…"
Gavin yang sedang menunggu ucapan Kalya, hanya melirik datar ke arah Ricky yang tiba-tiba saja menyeluh masam kepadanya.
Kalau biasanya Gavin akan langsung membalas ucapan tajam Ricky terhadapnya, kali ini, Gavin tidak akan melakukan itu. Dia sadar, kalau tidak akan ada manfaatnya juga, dia melawan kakak sepupunya yang satu itu. Bukannya cepat lulus kuliah atau dapat pekerjaan, yang ada Gavin akan cepat terserang hipertensi nanti.
Tidak! Gavin tidak mau, menyia-nyiakan usianya hanya karena penyakit melawan Ricky seperti ini. Lebih baik dia berusaha untuk terus hidup sehat, agar bisa punya waktu lebih baik bersama anak dan istrinya nanti.
"Apa lo? Diam aja… Kesambet?! Atau… Lo naksir gue?" ketus Ricky lagi terhadap Gavin, yang terus menatapnya dengan seutas senyum tipis di bibir laki-laki itu.
"Nggak,"
"Lah, terus? Kenapa lo diam aja? Sariawan?" ganggu Ricky lagi, hanya dibalas tarikan napas panjang oleh Gavin.
"Gue berharap, lo cepat jatuh cinta. Biar ada cewek yang bisa lo gangguin tiap harinya. Jangan gue. Soalnya, gue udah punya Kalya…" Kata Gavin, sontak membuat tidak hanya Ricka saja yang merasa lucu, tapi anggota keluarganya yang lain pun menahan tawa mereka mendengar hal tersebut.
Yah, setidaknya kehadiran Gavin di rumah mereka, bisa mengalihkan sedikit rasa canggung yang sempat terjadi di antara mereka semua.
"Gue kok jijik ya, dengar bahasa lo?" sindir Ricky geli, kemudian mendengus melanjutkan makan paginya.
Sementara itu, Gavin hanya tersenyum dan menggeleng melihat tampang kusut yang diberikan oleh Ricky.
"Gavin, kamu udah sarapan? Mau makan sekalian?" tawar Kalya pada Gavin, yang dibalas anggukan serta senyum semangat oleh laki-laki itu.
"Mau…" Jawabnya lagi-lagi dengan nada suara yang girang.
"Oke, sebentar…"
Sementara Kalya mulai bergerak menyiapkan makanan untuk suaminya, Gavin diam-diam memperhatikan raut wajah keluarga Keanu satu per satu.
Biasanya, rumah Keanu itu selalu berisik. Tidak ada canda tawa, pembicaraan serius lainnya pun bisa saja terdengar dari ruang makan mereka. Tapi, entah kenapa, rasanya pagi ini suasana di sana terasa sedikit aneh. Ada kecanggungan di antara mereka. Tapi, apa?
"Oh, iya!"
Seperti ingat akan sesuatu, Gavin menoleh ke arah Ricko yang sedang menyantap sarapannya dalam diam.
"Ngomong-ngomong, gimana soal kemarin? Thalita ada ngomong apa aja sama lo?" tanya Gavin tiba-tiba, yang seketika membuat tak hanya Ricko yang saja menghentikan aktifitasnya, melainkan anggota keluarga yang lain pun melakukan demikian.
Mereka memandang Gavin dengan sorot mata tegang, seolah apa yang Gavin katakan itu adalah sesuatu yang pantang untuk diucapkan.
"Gavin,"
Gavin yang merasa ditegur oleh Kalya, hanya menoleh pada wanita itu, dimana Kalya sudah menggelengkan kepalanya memperingatkan.
Tapi, bukannya mengerti, Gavin malah bersikap masa bodoh, dengan kembali bertanya.
"Kenapa? Aku kan cuma nanya, emang ada masalah?" tanya Gavin lagi, membuat Kalya menipiskan bibirnya geram.
"Gavin…"
"Ngapain sih, lo ngurusin hal itu? Bukannya itu nggak penting, ya?" ucap Ricko mengalihkan perhatian semua orang menjadi ke arahnya.
Tampak pria itu meletakkan sendoknya telungkup di atas meja dan menoleh santai ke arah Gavin.
"Lo yang bilang kemarin, kalo itu nggak penting."
Seolah paham dengan mimik wajah heran Gavin memandangnya, Ricko pun menjelaskan maksud perkataannya.
"Oh, iya… Nggak penting," keluh Gavin, pura-pura menerima ucapan Ricko dengan mendekatkan piring sarapan yang Kalya buat untuknya.
"Tapi, kayaknya itu--"
"Daripada bahas itu, mending kita bahas yang lain aja." Kilah Ricko, sekarang melipat kedua tangannya bertumpu di atas meja dan menatap Gavin dengan intens.
"Lo perlu pekerjaan kan? Di tempat gue ada lowongan. Gue bisa bikin lo kerja--"
"Sory, Man… Gue nggak bisa." Tolak Gavin segera, bahkan sebelum dia mendengar tawaran apa yang hendak Ricko berikan kepadanya.
"Biarpun gue butuh pekerjaan, tapi bukan berarti gue bakal terima bantuan lo gitu aja." Ujar Gavin lagi, sontak membuat Ricky yang sejak tadi terdiam, kembali meronta.
"Dih, sombong banget sih, lo! Lagi butuh, juga…" hujat Ricky sinis, pada Gavin yang hanya tersenyum mendengarnya.
"Lo nggak mau, cepat-cepat kerja, biar cepat bisa tinggal satu rumah sama Tante Kal? Atau, jangan-jangan lo emang nggak niat cari kerja lagi, karena masih mau main?" tuduh Ricky berikutnya, langsung membuat Gavin mengerutkan alis tidak suka.
"Eh, jangan sembarangan ngomong lo! Justru, karena gue niatnya nggak tanggung-tanggung, makanya ngambil sikap kayak gini! Gue maunya, cari kerjaan dengan hasil keringat gue sendiri. Bukan karena bantuan dari orang lain! Gue mau, Papa memang benar-benar mengakui semua usaha gue, dan nggak nyesal karena udah nikahin Kalya sama gue. Jadi, lo nggak usah sotoy deh, sama semua keputusan gue! Ngerti lo!" tuding Gavin kesal pada Ricky, yang kali ini benar-benat terdiam di tempatnya.
"Gavin, udah. Jangan marah-marah…" Lerai Kalya tidak enak, melirik ke arah Keanu dan istrinya yang seperti terganggu dengan suara keras Gavin.
"Kamu jangan bikin ribut. Nggak enak sama Mas Kend dan Mbak Rara…" peringatkan Kalya lagi, hanya membuat Rara dan Keanu saling melihat dan kemudian tersenyum tipis ke arahnya.
"Iya, Vin… Lo nggak usah marah-marah gitu kali, jelasinnya. Gue dan yang lainnya paham kok. Santai kali…" Timpal Rikco membantu Kalya, yang hanya membuat Gavin menarik napasnya panjang.
"Gue nggak marah. Emang cara ngomong gue aja yang kayak gini…" Sahut Gavin, memang sudah bersikap santai seperti biasanya.
"Iya, gue tadi cuma mau nawarin doang kok. Semua keputusan, kan ada di tangan lo. Lo yang lebih tahu apa yang terbaik buat lo dan keluarga lo." Kata Ricko mendukung ucapan Gavin, dengan menepuk pundak adik sepupunya itu pelan.
Tapi, bukannya berhenti mencari masalah dengan saudaranya itu, Gavin malah balas merangkul bahu Ricko, dan tersenyum penuh makna kepadanya.
"Jadi… apa yang diomongin Thalita sama lo kemarin?"
Bersambung