
Mobil yang dikendarai Gavin sudah tiba di parkiran rumah sakit. Dengan sigap, dia menggendong Kalya menuju ruang UGD di rumah sakit yang tidak jauh dari kediaman orang tuanya tersebut.
"Suster, tolong istri saya mau melahirkan!" ujar Gavin tergesa, meletakkan Kalya yang terus saja meringis, di salah satu bangkar yang ada di ruangan tersebut.
Dengan tenang, dua orang suster penjaga di UGD itu, mendekati Kalya dan mulai memeriksa keadaan wanita tersebut.
"Sebentar ya, Pak… Biar kami lihat dulu kondisinya," kata salah satu perawat itu, kemudian menyingkap gaun rumahan Kalya, setelah sebelumnya menutup tirai pembatas terlebih dahulu.
"Gimana? Udah bukaan berapa?" tanya perawat yang satunya lagi, pada teman sejawatnya dimana dia berdiri persis di sebelah kaki Kalya yang ditekuk.
Sementara itu, Gavin yang melihat Kalya terus menerus kesakitan, tidak tega dan gemas dengan dua perawat itu yang menurutnya sangat lamban.
"Gimana, Sus?! Istri saya--"
"Udah bukaan sepuluh! cepat panggil Dokter Mona sekarang!"
Belum juga selesai mengomel, Gavin sudah lebih dulu melihat perawat yang tadi memeriksa daerah ************ istrinya, berseru meminta perawat yang satunya lagi untuk segera memanggil dokter yang menjaga.
Tidak butuh waktu lama, dokter yang tadi dipanggil sudah tiba dengan peralatan seperti masker dan sarung tangan.
"Oke, Ibu… Sekarang, dengarkan aba-aba saya, ya…" Perintah dokter itu tenang, namun tegas, pada Kalya yang tampaknya tidak begitu mendengar karena kedua matanya yang sudah terpejam rapat menahan sakit.
"Kal,"
"Pak, silahkan tunggu di luar."
Gavin menoleh, saat salah satu perawat yang tadi membawa dokter perempuan itu ke UGD, memintanya untuk keluar.
Dengan mata sayu, Gavin melihat Kalya yang begitu tersiksa sambil mencengkram pergelangan tangan Gavin kuat.
"Kal,"
"Jangan tinggalin aku, Gavin… Sakit…" Rintih Kalya bergetar, dengan mata yang terus terpejam.
Setelah itu, merasa tidak tega, Gavin pun berkata pada dokter yang akan menangani istrinya.
"Dok," panggilnya pada dokter perempuan itu, yang sepertinya baru saja memberikan beberapa perintah pada salah satu perawat yang ada di sampingnya.
"Saya ingin mendampingi istri saya melahirkan. Bolehkan?" pinta Gavin cemas, takut kalau sebenarnya kehadiran Gavin di sana justru akan menghambat kerja dokter tersebut untuk membantu persalinan Kalya.
Tapi, alih-alih mendapat penolakan, sepasang mata dokter tersebut justru melengkung, menandakan senyum yang tercetak di balik masker hijau yang dipakainya.
"Tentu saja… Kenapa tidak boleh?" jawab dokter itu, membuat Gavin merasa lega mendengarnya.
"Baiklah, sekarang, Ibu dengarkan saya dan ikuti instruksi dari saya." Kata dokter itu tegas dan fokus, dimana dia sudah berada di antara kedua paha Kalya yang tertekuk, dengan posisi yang sedikit menunduk.
"Tarik napas Ibu pelan-pelan…" Ujar dokter itu perlahan, memperhatikan Kalya dan daerah kewanitaan perempuan itu secara bergantian.
Seolah tidak mendengar, Kalya justru menggelengkan kepala dengan keringat yang terus mengucur membasahi keningnya.
"Kal…" Gavin hang merasa khawatir, menggenggam sebelah tangan Kalya menggunakan dua tangan.
"Sakit…" Rintih Kalya, merasa tidak sanggup, bahkan hanya untuk sekedar menangis.
"Kalya…" Gavin yang ikut merasa sakit karena keadaan lemah istrinya pun menundukkan sedikit tubuhnya.
Dia berbisik. "Kamu harus kuat, Kal… Ada anak kita yang harus kamu perjuangkan sebagai seorang ibu. Aku percaya kamu bukan perempuan lemah. Aku mencintai kamu, karena aku tahu, seorang Kalya adalah perempuan yang kuat." Kata Gavin, menatap sedih Kalya yang terlihat begitu tersiksa saat ini.
"Aku percaya kamu bisa, Kal… Demi anak kita, aku mohon…"
Perlahan-lahan, mata Kalya yang tadi terpejam, terbuka dan menatap ke arah Gavin.
Dari pandangannya, Gavin memberikan kekuatan pada wanita itu, sembari mengecup punggung tangan Kalya dan mengusap kening basah wanita tersebut.
"Sekarang, ikuti instruksi dokternya, ya… Aku mendukung kamu,"
Entah apa yang sebenarnya terjadi, Kalya pun tidak bisa memahaminya. Tubuhnya sangat sakit. Nyaris tidak memiliki tenaga lagi untuk berjuang, sebelum akhirnya senyuman dan tatapan mata teduh Gavin membuat jiwa semangatnya kembali merangkak naik.
"Anak aku akan lahir… Anak aku harus lahir…" Batin Kalya bergumam, lantas mencoba mengatur napasnya yang tadi sempat melemah.
"Ayo, Nak… Ayah nunggu kamu di sini…" Bisik Gavin mengusap perut besar Kalya, yang mendadak membuat wanita itu terasa semakin mulas.
"Ayo, Bu… Sekarang ikuti suara saya! Satu… Dua…"
***
"Selamat ya, Pak, Bu, anak laki-lakinya udah lahir dan dalam keadaan sempurna." Beritahu dokter tersebut, mengangkat bayi merah yang masih mengejang tangis.
Gavin yang melihat itu pun, langsung tidak sabar dan mendekati pangeran kecilnya.
"Ini, Pak, anaknya..." Salah satu perawat yang tadi membantu persalinan, langsung menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Gavin.
Dengan perasaan mengembang dan masih tidak percaya, Gavin mengangkat anaknya dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Ayah…" Gumam Gavin bergetar, mendekati ranjang Kalya dan duduk di atasnya. "Sekarang, aku jadi ayah. Aku jadi ayah, Kal! Aku jadi orang tua! Aku jadi ayah!" ujar Gavin bahagia, pada Kalya yang hanya tersenyum lirih menatapnya.
"Aku jadi ayah, Sayang… Aku jadi ayah…" Ucap Gavin lagi yang saking bahagianya, menempelkan wajahnya di pipi Kalya dan menangis di sana.
"Terima kasih, Kal… Kamu udah membuat hidup aku menjadi sempurna." Bisik Gavin serak, menahan tangisnya, dengan anak mereka yang masih berada di dalam gendongannya.
"Makasih…" Ucapnya terus di sela tangisannya.
Sementara itu, Kalya yang juga merasakan hal yang sama dengan Gavin, hanya bisa menyentuh pipi anaknya yang tadi sudah dibalut kain oleh perawat. Air matanya pun menggenang, mendengar tangisan anaknya yang tak kunjung reda itu, bak sebuah symphony yang begitu indah.
"Kamu adzani gih, Sayang… Biar dia istirahat." Kata Kalua lirih, mengusap rahang Gavin yang masih menempel di wajahnya.
Setelah mengatur napasnya beberapa kali, Gavin mulai mengumandangkan adzan di kedua telinga anaknya. Lalu, memberikannya pada perawat untuk dibersihkan. Setelah itu, dia kembali mendekati Kalya yang berbaring lemah, dan memeluk tubuh wanita itu erat.
"Kamu hebat." Ucap Gavin di telinga Kalya, dan mengecup puncak kepala Kalya berulang kali.
Rasanya, tidak ada lagi yang Gavin inginkan di dunia ini. Kehiduapnnya sudah sempurna. Orang tua, istri dan anak yang dia cintai sudah dia miliki seutuhnya. Tidak etis rasanya, jika Gavin masih menginginkan hal lain untuk kehidupannya setelah ini. Paling, satu-satunya hal yang dia harapkan lagi adalah, semoga Tuhan menjadikan Gavin dan Kalya orang tua yang baik untuk anak mereka. Orang tua yang memiliki kesabaran lebih dan senantiasa membimbing anak mereka untuk sesuatu yang baik dan berguna tanpa mengenal rasa lelah. Hanya itu.
"Gavin,"
"Hm?"
"Aku…"
"Ya?"
"Aku…"
Gavin yang tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan Kalya, melepaskan pelukannya dan menatap wanita itu sejenak. Diperhatikannya Kalya seperti tengah bingung dengan menggigit bibir bawahnya resah.
"Kenapa? Kamu mau apa?" tanya Gavin lembut, mengusap wajah perempuan itu, yang masih terlihat sedikit pucat.
"Kamu butuh sesuatu? Kamu mau aku ambilin apa untuk kamu?" tanya Gavin lagi, melihat Kalya semakin resah di tempatnya.
"Itu… Aku... Aku mau…"
Entah kenapa, tanpa Gavin duga sebelumnya, air mata Kalya terjatuh.
"Kal!"
"Aku mau Ibu…" Isak Kalya tiba-tiba dengan wajah merah dan membuat Gavin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Ibu…?" beonya lantas berpikir sejenak. "Mungkin sebentar lagi Mama dan Papa bakal kemari. Tadi--"
"Aku mau Ibu! Bukan Mama!" seru Kalya lantang, menyelak Gavin dan membuat pria itu terdiam. "Aku… mau Ibu. Ibu yang melahirkan aku!"
"Kal... "
Kalya yang sepertinya sudah tidak tahan lagi, langsung memeluk pinggang Gavin dan menangis di dadanya suaminya tersebut.
"Aku pengen Ibu di sini. Aku mau ketemu sama Ibu, Gavin… Tolong aku…" Isak Kalya begitu menyedihkan, yang entah sadar atau tidak membuat Gavin merasa heran.
"Kamu… Mau ketemu Bu Sarah?" tanya Gavin hati-hati, takut salah mengartikan maksud istrinya yang barusan.
"Iya… Aku mau ketemu sama Bu Sarah… Aku… pengen ketemu Ibu, Gavin… Aku… pengen ketemu dia…" Angguk Kalya merengek, pada Gavin yang masih terdiam mematung di tempatnya.
Merasa Gavin tidak merespons ucapannya, membuat Kalya mendongak dan menatap wajah bingung pria itu dengan nanar.
"Bu Sarah… Masih mau ketemu sama aku kan?"
Bersambung