
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, tibalah hari dimana Gavin dan Kalya akan melangsungkan pernikahan. Meski satu minggu ini Gavin harus melalui hari yang berat karena tidak bisa bertemu dengan Kalya, dia masih tetap berpegang teguh pada janjinya untuk tenang, agar bisa duduk bersama wanita yang dicintainya di depan Sang Penghulu.
"Hai," sapa Gavin tersenyum lebar, melihat Kalya yang datang bersama Keanu dan keluarganya.
Hari ini, Kalya terlihat begitu cantik. Meski hari biasanya pun demikian, tapi bagi Gavin, hari ini perempuan itu ratusan, bahkan ribuan kali lebih cantik dari apa yang pernah Gavin lihat selama ini. Entah ini efek dari pernikahan yang sebentar lagi akan mereka lakukan, atau memang sejak dulu dia sudah jatuh hati pada perempuan itu, Gavin juga tidak tahu.
"Hai," balas Kalya sedikit tersenyum malu, karena Gavin yang terus saja menatapnya dengan sorot mata memuja, sejak ia menginjakkan kaki di ruangan tersebut.
Bagi Gavin, saat ini tidak ada hal yang lebih menarik lagi daripada memandang wajah Kalya. Wajah kemerah-merahan serta senyum manis yang disembunyikan itu, membuat Gavin ingin cepat-cepat membawa pulang Kalya dan memeluk wanita itu erat-erat.
"Penghulunya ada di depan. Kamu lihat kemana, sih?!"
Kendra yang sepertinya agak gerah dengan tingkah laku Gavin, langsung memutar kepala anaknya itu --yang terus ke arah samping dimana Kalya duduk saat ini-- ke arah depan, dimana penghulu yang akan menikahkan mereka tengah duduk saat ini.
Sambil memasang wajah sedikit cemberut, Gavin pun akhirnya tersenyum melihat penghulu di depannya yang menggelengkan kepalanya maklum.
"Baiklah, sudah siap semuanya? Bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu tersebut, memperhatikan setiap orang yang ada di sana.
"Sudah, Pak." Jawab yang lain, lantas membuat Sang Penghulu menganggukkan kepalanya.
"Baik, kalau begitu, ikuti kata-kata saya."
Penghulu itu menyodorkan tangannya ke arah Gavin yang langsung disambut oleh lelaki itu.
Rasa berdebar tidak bisa lagi Gavin ungkapkan, ketika namanya disebut dengan tegas sebagai orang yang akan menerima Kalya sepenuhnya.
Hampir saja Gavin tergagap, ketika mengucapkan lafaz ijab qabul-nya terhadap diri Kalya. Dan saat Penghulu itu menanyakan keabsahan kalimat Gavin, dimana yang lain pun menyambutnya dengan kata 'Sah', disitu jugalah darah Gavin seperti meluncur bebas dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Cie… Cie… Yang udah nikah…."
"Ehem! Yang udah jadi suami…"
"Selamat ya, Vin. Atas pernikahannya."
Setelah semuanya selesai membaca doa untuk kedua pengantin, secara bergantian, Ricka, Ricky dan Ricko pun menggoda Gavin dengan kata-kata mereka. Membuat Gavin yang biasanya lancar untuk berkata-kata, hanya bisa diam menundukkan wajahnya yang memerah.
Bagi Gavin, ini bukan saatnya untuk membalas ucapan ketiga sepupunya tersebut. Dia masih ingin menikmati momen mendebarkan itu dalam hati.
Setelahnya, setelah semua berkas ditandatangani, sekarang, giliran untuk foto keluarga yang mereka lakukan di kantor keagamaan tersebut. Kemudian, berlanjut ke rumah Keanu, dimana mereka melangsungkan acara salaman di sana.
Kendra, Nia, Keanu serta Rara sudah duduk di sebuah kursi panjang yang ada di ruang tamu rumah Keanu.
Tampak suasana kembali haru, ketika Gavin duduk bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya, dengan Kalya yang juga berlutut di sisinya.
"Pa,"
Gavin mulai meraih tangan Kendra dengan kedua tangannya, dan meletakkannya di depan wajah.
Gavin mencium punggung tangan ayahnya dalam diam. Mulutnya bergetar, tanpa tahu harus mengatakan apa yang seharusnya dia katakan.
Tenggorokannya bergerak naik turun, ketika satu kata meluncur dari bibirnya yang terlihat kering.
"Pa," suara Gavin terdengar serak, saat a mencoba untuk berbicara.
Lelaki itu tampak mencoba membersihkan tenggorokannya beberapa kali.
"Gavin nggak tahu harus bilang apa. Gavin nggak tahu ini benar atau enggak." Ucap Gavin, lantas menarik napasnya sejenak.
"Maafin Gavin ya, Pa…."
Akhirnya, kalimat yang seharusnya Gavin ucapkan pada ayahnya, keluar juga. Kalimat yang harusnya sejak awal dia katakan, begitu ia tahu, kalau ia menyukai Kalya.
"Maafin Gavin udah bikin hati Papa terluka. Gavin tahu, bahkan sampai saat ini pun, hati Papa masih sakit karena ulah Gavin selama ini. Gavin--"
Tanpa bisa ditahan, air mata Gavin keluar. Merasa sedikit malu, sampai dia benar-benar menutup wajahnya dengan tangan Kendra yang ia pegang.
"Gavin benar-benar anak yang kurang ajar. Belum bisa membahagiakan Papa, tapi udah berani-beraninya melukai hati Papa. Gavin benar-benar nggak tahu diri. Gavin--"
"Tetap anak Papa." Ucap Kendra memotong ucapan Gavin yang tersendat.
Tidak ada yang menduga hal ini sebelumnya, melihat Kendra yang juga tak luput dari air mata di pipinya.
"Gavin," tangan Kendra yang sudah terlihat sedikit tua itu, menyentuh puncak kepala Gavin dan mengusapnya dengan sayang.
"Apa pun yang kamu lakukan, kamu tetap anak Papa. Sudah menjadi tugas orang tua, untuk memaafkan anak-anaknya." Kendra tersenyum lirih, menarik napasnya panjang dan membuangnya.
"Kamu juga akan seperti itu nanti." Ucap Kendra, membuat Gavin terpekur.
Gavin terdiam di tempatnya. Dia bingung, harus mengatakan apa lagi pada ayahnya. Semua sudah ada di hatinya, namun bibir serta lidahnya terasa kelu untuk ia gerakan.
"Papa doain, semoga kamu jadi orangtua yang baik." Harap Kendra lagi, seolah tahu dengan keresahan hati yang sedang dialami oleh anaknya.
"Pa…"
Kendra hanya tersenyum, melihat linangan air mata Gavin yang mendongak ke arahnya. Tangan hangatnya terulur, mengusap lagi puncak kepala Gavin.
"Terima kasih, Pa…"
Gavin yang sudah tidak bisa berkata-kata, tersenyum lirih pada Kendra. Dia terbayang, melihat bagaimana wajah sendu Kendra saat ini, menghapus semua watak keras yang dimiliki oleh pria itu. Demi kasih sayang, Gavin tidak menyangka kalau Kendra akan mengalah sejauh ini.
Pelan, Gavin pun beralih kepada Nia.
Ibunya itu sudah menunggu Gavin dengan sorot yang penuh dengan air mata. Wajah merah, serta isakan halus yang menyambut Gavin dalam pelukannya, semakin membuat suasana di antara mereka kian mengharu biru.
"Ma," panggil Gavin menyentuh kedua lengan Nia yang memeluk tubuhnya.
Perlahan Gavin melepas pelukan Nia, dan menangkup tangan wanita paruh baya itu untuk dia letakkan ke depan wajahnya.
"Terima kasih, karena udah sayang Gavin selama ini." Ucap Gavin bergetar, lantaran dia bingung harus mengatakan apa pada ibunya.
"Terima kasih, karena udah merawat Gavin selama ini." Lanjut pria itu, mengerutkan alisnya dan memejamkan matanya rapat.
"Dan maaf, karena udah pernah jadi anak yang selalu ngerepotin Mama. Sampai sekarang, Gavin tumbuh jadi anak yang selalu mengecewakan Mama." Suara Gavin tercekat, sebelum membuka mulutnya kembali.
"Gavin…"
"Gavin anak Mama." Sambung Nia cepat, tahu dengan getaran yang dirasakan anaknya saat ini.
"Mama senang, kamu repotin waktu kamu bayi. Mama bangga, bisa membesarkan kamu sampai menjadi anak yang seperti ini. Dan tidak ada satu hal pun dalam diri kamu yang mampu membuat Mama kecewa. Karena kamu…" Nia yang tercekat, langsung menelan ludahnya susah payah.
"Mama sayang Gavin. Mama cinta Gavin." Ucap Nia menahan tangis, ketika tangannya terangkat menyentuh kepala Gavin dan mengusapnya.
Seketika, kepala Gavin kembali mendongak. Dia mendengar jelas, kalimat penuh perasaan yang Nia ungkapkan kepadanya.
Kedua bola matanya bergetar, melihat betapa tulus tatapan mata ibunya terhadap Gavin saat ini.
"Ma,"
Tangan Nia yang tadi menyentuh kepala Gavin, turun dan mengusap sebelah pipi anak laki-lakinya itu dengan lembut.
"Kamu boleh mengaku sebagai orang dewasa. Puluhan kali, atau bahkan ribuan kali." Kata Nia tersenyum begitu hangat. "Tapi, bagi Mama, kamu akan tetap menjadi anak bayi Mama, sebagaimana Mama melihat kamu pertama lahir ke dunia ini." Ucap Nia, lalu memajukan tubuhnya sedikit dan memeluk Gavin cukup erat.
"Percayalah, kalau dalam satu kali kebahagiaan yang kamu rasakan, ada seribu kebahagiaan orang tua kamu yang terlihat." Bisik Nia pada Gavin, tak ayal membuat Gavin tersenyum dan memeluk tubuh ibunya tak kalah erat.
"Mama bahagia, kalau kamu pun bahagia." Ucap Nia terakhir, mampu membuat Gavin mengangguk tanpa berkata-kata lagi.
Sungguh, apa yang Gavin lewati sampai detik ini bukanlah sesuatu hal yang mudah. Meski terlihat sepele, dia harus berhadapan langsung dengan perasaan kedua orang tuanya. Hal yang lebih suci, atau bahkan yang paling suci di antara segala hal yang pernah Gavin punya.
"Makasih,Ma… Makasih…" Ucap Gavin tersendat, kembali memejamkan kedua matanya lega.
Sementara itu, di sisi lain, Kalya sedang duduk bersimpuh di hadapan Kendra. Dia yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa membatu dengan posisi berlutut di hadapan kakak --ah, salah-- ayah mertuanya saat ini.
"Eum…, Ma--eh! Pa--eh! Eum…"
Kalya yang terlihat begitu kebingungan, langsung membungkam mulutnya rapat. Tangannya saling *** satu sama lain, dengan kepala yang menunduk dalam penuh rasa penyesalan.
"Aku--"
Baru saja Kalya akan membuka mulutnya, Kendra sudah lebih berhambur memeluk tubuh Kalya dan membuat wanita itu terdiam.
"Kal…" Ucap Kendra bergetar, menahan tangis.
"Mas…" lirih Kalya terisak di bahu Kendra, dan menyandarkan pipinya di sana.
"Adikku, Kalya…" ucap Kendra mengusap bahu Kalya pelan, dan terasa begitu halus.
"Jangan nangis… Kamu harus bahagia…" Kata Kendra lagi, menasehati Kalya, yang menganggukkan kepalanya pelan-pelan.
"Aku bingung, harus panggil apa. Aku…"
Kalya yang masih terisak, semakin membenamkan mulutnya di bahu lelaki itu. Dia merasa tidak siap, jika harus menganggap Kendra sebagai ayah mertuanya. Karena, sudah jelas itu akan membatasi hubungannya dengan pria itu. Jika biasanya dia bisa bertingkah bebas selayaknya seorang adik, kini dia harus memberi jarak pada mereka karena kini, dia sudah menjadi istri Gavin, anak Kendra sendiri.
"Kamu bisa panggil, sebagaimana kamu mau." Bujuk Kendra lembut, membuat Kalya menggelengkan kepalanya.
Pelan, Kalya menjauhkan dirinya dari Kendra. Dia tersenyum pahit, dengan air mata yang menetes dari sudut matanya yang memerah.
"Kayaknya… Mulai sekarang, aku harus belajar manggil Papa," putus Kalya lagi-lagi tersenyum, terlihat begitu sedih.
"...Nggak papa, kan?" tanya Kalya lirih, yang kemudian dibalas anggukan kepala oleh Kendra.
"Yah…, nggak papa…" ucap pria itu, juga mencoba untuk tersenyum, meski dalam hatinya, dia tidak rela. "Nggak papa, kok…"
Lagi-lagi, untuk kedua kalinya, Kendra kembali mengangkat tangannya ke atas kepala Kalya.
"Kita akan jadi mertua dan menantu yang lebih akrab, ketimbang seorang ayah dan anak." Ucap Kendra sendu, yang kembali membuat bukan hanya Kalya, tapi semua orang di ruangan itu tersenyum haru melihatnya.
Tak terkecuali Gavin, yang menggigit bibir bawahnya dengan sedih. Untuk satu itu, sepertinya dia menyesal telah membuat hubungan Kalya dan Kendra jadi berubah seperti ini.
***
Setelah melewati beberapa momen mengharukan di ruang tamu, sekarang tiba saatnya acara menggoda Gavin di ruang makan.
Makan siang mereka dilakukan di kediaman Keanu yang hanya dihadiri orang keluarga mereka saja.
Suasana yang tadinya seolah dipenuhi dengan air mata, kini sudah berganti dengan suasana ricuh, dimana mulut besar Ricky kembali berperang melawan mulut tajam Gavin yang menentangnya.
"Gavin, kamu mau makan pake lauk apa?" tanya Kalya pada Gavin, yang sedang sibuk membalas semua ocehan Ricky terhadapnya.
Ini adalah kali pertamanya Kalya melayani pria itu sebagai istrinya. Membuatkan makanan, adalah hal pertama yang harus dilakukannya saat ini.
"Sayang, manggilnya jangan gitu dong. Kan sekarang, aku udah jadi suami kamu." Kata Gavin pada Kalya, bersikap sok manis, yang kemudian membuat orang-orang di sana memandangnya sedikit heran.
"Lah, emang aku harus manggil apa?" tanya Kalya bingung melihat sorot mata Gavin yang berbinar.
"Ya, Sayang… gitu, atau Ma--"
"Norak lo!"
Kata-kata Gavin sontak tertelan kembali, ketika mendengar suara Ricky yang menggelegar menghinanya.
Dengan malas, dia melirik pria itu yang tengah tersenyum penuh cibiran kepadanya.
"Sayang… Sayang… Norak banget sih?! Kenapa nggak Beb aja sekalian? Biar kelihatan lo itu masih anak ingusan!"
"Lo bisa diam, nggak?" desis Gavin jengkel, mencebikkan bibirnya dongkol pada Ricky yang malah semakin mengejek kepadanya.
"Enggak! Kalo lo yang ngomong, gue nggak bisa diam." Balas pria itu, lalu tersenyum puas lagi, karena Gavin yang sudah mengatupkan bibirnya rapat.
"Lo--"
"Yodah, nih, Gavin Sayang… Dimakan ya, nasi ya…" Ucap Kalya pada Gavin, sambil meletakkan piring untuk lelaki itu yang sudah penuh dengan nasi beserta lauk pauk di atasnya.
Entah kenapa, mendengar Kalya memanggilnya dengan sebutan sayang, bukannya merasa senang, Gavin malah merasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam nada bicara wanita itu memanggilnya.
"Kal, kamu…"
"Ricka Sayang, kamu juga tambah ikannya… Ricky sayang juga, tambah sayurnya, biar pencernaannya lancar…" Ucap Kalya pada Ricka dan juga Ricky, yang kali ini sudah menahan tawa mereka melihat wajah Gavin berubah kusut.
Jadi, maksudnya, Kalya memanggilnya sayang, seolah-olah derajatnya ini sama dengan orang-orang yang dianggap keponakan oleh perempuan itu?
"Bagus. Kamu ini bener-benar, ya…" Keluh Gavin masam, yang hanya dibalas senyuman tidak bersalah oleh Kalya.
"Kamu itu emang--"
"Gavin," panggilan halus yang dilontarkan Ricko, sontak membuat Gavin berhenti.
Dilihatnya cowok berusia tiga tahun di atasnya itu tengah tersenyum ke arahnya sambil menggelengkan kepala pelan. Itu artinya, Ricko sedang menasehatinya, meski mulut pria itu tengah terbungkam.
Alhasil, Gavin pun akhirnya menyantap makan siangnya dalam diam. Dia tidak lagi ikut campur dalam obrolan saudara dan juga keluarganya. Dalam cemberut, dia mengunyah makanannya dengan kasar.
Gavin ingin merajuk kepada Kalya. Dia berharap, wanita itu bisa peka sedikit terhadap perasaannya. Dia mau, Kalya melihatnya sebagai seorang pria yang mencintai Kalya selama ini.
Namun, lama Gavin menanti perhatian dari perempuan tersebut, Kalya malah semakin asyik bercengkrama dengan keluarga mereka. Tertawa bersama, bahkan seolah lupa kalau Gavin tengah berada di antara mereka.
"Yaudah kalau gitu, kami pulang dulu." Ucap Kendra tiba-tiba menyelesaikan makanannya dan hendak pamit kepada Keanu selaku pemilik rumah.
"Loh, buru-buru, Mas?" tanya Keanu ikut bangkit, ketika dilihatnya Kakak dan saudara iparnya berdiri.
"Iya… Soalnya aku masih harus ke kantor lagi. Ada urusan yang harus aku kerjain sedikit." Jawab Kendra, hendak meninggalkan ruang makan.
"Pa!"
Kendra dan yang lainnya sudah beranjak dari meja makan beberapa meter, ketika terdengar suara Gavin yang memanggil ayahnya.
"Iya, Gavin. Kenapa?" tanya Kendra heran, melihat Gavin yang seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Papa, duluan aja. Gavin…masi--"
"Kamu ikut pulang. Jangan banyak cerita!" tandas Kendra segera, bersikap masa bodoh dengan raut wajah terkejut yang Gavin berikan.
"Tapi, Pa…!"
Gavin yang tidak terima, lantas mengejar langkah Kendra dan lainnya yang sudah sedikit menjauh meninggalkan dirinya.
"Pa…"
Gavin sudah berdiri di depan Kendra, yang saat ini menatap dirinya dengan malas.
"Pa, Gavin sama Kalya baru juga nikah beberapa jam yang lalu. Masa udah harus pisah lagi?" rungut Gavin cemberut, menggerakkan badannya gelisah.
"Jadi, maksud kamu, kamu mau tinggal sama Kalya, gitu?" tanya Kendra, kali ini langsung mendapat anggukan kepala cepat dari Gavin.
"Kalo gitu, kamu harus cepat cari pekerjaan. Beres kan?"
"Yah, Pa… Satu malam aja…"
"Enggak! Itu lagi, malah lebih parah nanti."
"Tapi, Pa…"
"Papa nggak bakal kasih kamu kesempatan buat tinggal satu atap bareng Kalya, meski satu malam sekalipun!" tandas Kendra, meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Kalo Papa izinin kamu buat tinggal satu malam bareng Kalya, besok-besok kamu pasti minta tinggal satu rumah sama Kalya. Nggak! Sebelum kamu dapat pekerjaan, jangan harap kamu bisa dekat-dekat sama Kalya. Dengar kamu?!" tuntut Kendra habis, sontak membuat tidak hanya sepupu-sepupu Gavin saja yang menahan senyum, melainkan Kalya sendiri pun ikut **** bibirnya merasa lucu.
"Pa…"
"Udah! Daripada kamu ribut minta yang aneh-aneh, mending sekarang kamu ikut Papa sama Mama pulang. Papa masih ada urusan lagi di kantor. Papa mau ganti baju dulu di rumah." Ajak Kendra pada Gavin, dimana pria itu langsung menahan bahu Gavin dengan tangannya yang lebar, dan memutar tubuh anaknya itu untuk keluar dari rumah Keanu.
"Pa… Masa Gavin--"
Gavin dan semua orang, sudah berada di depan pintu rumah Keanu, ketika seseorang tiba-tiba saja muncul dengan raut wajahnya yang terlihat kaget.
Seorang wanita, yang langsung berdiri kaku melihat keluarga Kendra dan juga keluarga Keanu tengah berdiri di sana.
"Engh...O-om…"
"Kamu?!"
Bersambung