Be My Brides

Be My Brides
Episode 46



Seharusnya, pagi-pagi seperti ini Kalya sudah sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Seperti merapikan barang-barang, bersih-bersih kamar tidur, sampai membuang sampah rumah mereka ke tempat pembuangan.


Tapi, alih-alih melakukan semua kegiatannya itu seperti kebiasaan, Kalya malah terlihat duduk di atas sofa ruang tamunya dengan punggung yang bersandar.


Di depannya, ada TV yang sedang menayangkan acara gosip seperti hari-hari sebelumnya. Membahas sesuatu yang bagi Kalya sendiri, tidaklah begitu penting. Dia hanya menyalakannya saja, setelah itu mulai larut dalam pikiran yang membawanya kemana-mana.


Entah apa yang harus Kalya lakukan saat ini. Hidupnya seperti mati, ketika dia tahu, kalau Gavin tidak lagi  ingin menatapnya. Dia tidak tahu apa kesalahannya pada pria itu, hingga dia diabaikan seperti ini. Membuatnya layaknya hantu yang tak kasat mata, atau seseorang yang tidak pantas untuk mendapatkan perhatian dari Gavin.


Entahlah! Entah mungkin Gavin juga sudah bosan kepadanya, Kalya juga tidak mengerti alasannya.


Sambil mengusap perutnya yang kian membesar, Kalya menghembuskan napasnya yang terasa begitu berat. Pelupuk matanya sudah kembali penuh dan mengaburkan pandangannya yang tengah tertuju pada layar kaca. Meski tidak sedang menikmati acara TV, tapi, Kalya berusaha untuk terlihat sedang melakukan sesuatu saat ini. Agar tidak terlalu begitu menyedihkan, batinnya.


Perut Kalya kembali terasa keram. Tetes air matanya kembali jatuh, seiring dengan isakan halus yang keluar dari mulut perempuan tersebut. Tangannya bergetar, mengusap perutnya yang belakangan ini jadi mudah terasa sakit tiba-tiba.


"Sabar ya, Sayang… Papa nggak mengabaikan kita, kok… Papa cuma lagi banyak pikiran aja. Mungkin Papa…"


Kalya menggigit bibir bawahnya geram. Memangnya, dia ingin berdusta pada siapa? Diri sendiri? Pada anaknya? Tidak usah dijelaskan pun, anaknya di kandungan sana sudah pasti tahu, kalau mereka sedang diabaikan oleh Gavin.


"Sabar ya, Sayang… Papa nggak mengabaikan kamu. Papa cuma… Papa mungkin cuma marah sama Mama. Mungkin Mama… Mungkin Mama udah buat salah sama Papa. Mama…"


Berulang kali Kalya mengusap air matanya yang jatuh. Sebenarnya, dia tidak ingin membebani pikirannya soal sikap Gavin yang mungkin sudah merasa bosan kepadanya. Dia tidak ingin anak di dalam kandungannya terganggu hanya karena perubahan sikap Gavin saat ini. Dia takut, hal yang buruk akan terjadi pada buah hatinya dan membuat Gavin semakin marah kepadanya, nanti.


Oh, apakah Gavin masih mempedulikan soal itu sekarang?


Dalam kesendirian, Kalya merenung. Kenapa baru sekarang Gavin merubah sikapnya? Di saat Kalya sudah merasa sayang dan cinta pada pria itu, kenapa Gavin malah berpaling darinya? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja, saat Kalya masih menganggap kalau Gavin menikahinya hanya karena sekedar obsesi atau tanggung jawab semata. Toh, mungkin Kalya tidak akan keberatan, saat tahu kalau ternyata Gavin sudah mempunyai wanita lain, dalam hatinya.


Mungkin, Kalya akan tetap diam dan membiarkan Gavin menjalin hubungan dengan wanita lain di luar sana. Dengan atau tanpa sepengetahuan Kalya, andai pria itu bisa jujur kepadanya, mungkin Kalya bisa menerima. Jujur dalam arti, tidak mencoba meluluhkan hati Kalya atas apa yang sudah dia perbuat kepadanya dan jujur dengan mengatakan dia akan meninggalkan Kalya saat anak mereka nanti sudah terlahir ke dunia.


Dengan begitu, Kalya mungkin akan mencoba untuk ikhlas. Hanya fokus pada tumbuh kembang anaknya di dalam kandungan, serta kesehatan anaknya selama masih bersamanya.


Kalya bahkan tidak perlu repot memikirkan cara untuk menghilangkan rasa takutnya atas sentuhan yang pernah Gavin berikan padanya. Dia akan menganggap itu sebagai luka yang tidak perlu diungkit kembali. Membiarkannya berlalu, seperti sebuah lubang yang tak perlu dihiraukan lagi.


Wajah Kalya sudah sangat merah, dengan tangis yang kian tersedu-sedu, ketika sebuah ketukan di pintu rumahnya terdengar lumayan keras.


"Kak Kalya! Permisi… Kaisar datang…!" seru si pengetuk pintu tersebut, pada Kalya yang sontak bangkit dari duduknya.


"Kaisar," gumamnya masih sesegukan, kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi.


"Kak Kal! Kakak di dalam kan? Nggak lagi keluar, kan? Kaisar datang, nih! Kal Kal…!" Panggil Kaisar lagi keras, saat Kalya masih membasuh wajahnya.


Tidak ingin terlihat habis menangis, Kalya kemudian mencoba menetralkan suaranya kembali. Berdeham beberapa kali, sebelum akhirnya berjalan pelan menuju pintu rumahnya yang masih setia digedor oleh Kaisar.


"Kak Kal--"


Sorakan Kaisar yang terdengar seperti anak kecil itu terputus, kala pintu yang ada di depannya terbuka, dan menampilkan sosok Kalya yang keluar dari arah dalam.


Sambil tersenyum, dia menyapa. "Selamat pagi, Kak Kalya cantik…" Katanya girang, hanya dibalas Kalya dengan seutas senyum tipis.


"Pagi, Kaisar… Ada apa?" tanya Kalya sedikit serak, pada Kaisar yang sepertinya tidak menyadari hal tersebut.


"Halah, kayak nggak tahu aja…" Kata Kaisar tersenyum lebar, lantas mengangkat sebelah tangannya yang membawa sebuah kue ke depan wajah Kalya.


"Ta--ra…! Kaisar bawain kue untuk Kakak! Kali ini, spesial! Crepes coklat yang baru selesai dibuat." Tunjuk laki-laki itu bangga, lantas menaik turunkan alisnya menggoda.


"Gimana? Tertarik buat mencoba?" tanya Kaisar menyeringai, membuat Kalya tersenyum melihatnya.


Berhubung saat ini kondisi hati Kalya sedang tidak enak, wanita itu pun memutuskan untuk menerima tawaran Kaisar.


"Oke, tunggu sebentar. Kakak ambil piring kecilnya dulu." Ujar Kalya pada Kaisar, hendak meninggalkan pemuda itu di teras rumah.


Saat berbalik, Kalya tidak sengaja melihat Bu Tuti tengah berdiri di samping pagar rumahnya. Meski sekilas, Kalya bisa melihat sorot mata sinis Bu Tuti yang memandang ke arahnya.


Meski terdengar sedikit asal, Kalya merasa ada yang lain dari tatapan Bu Tuti kepadanya. Perasaannya bilang, kalau mungkin ini ada hubungannya dengan kemarahan Gavin yang kemarin sempat berbicara dengan Bu Tuti sebelum dia mengabaikan Kalya seperti ini.


"Kak Kal, katanya mau ambil piring. Kok malah diam?" tegur Kaisar mencolek lengan Kalya sedikit, saat melihat wanita itu hanya terdiam di tempatnya.


"Ehm, Kai… Kayaknya, hari ini Kakak nggak bisa ngobrol-ngobrol bareng kamu, deh. Kamu… nggak papa kan?" tanya Kalya pada Kaisar, yang tampaknya tidak senang dengan ucapan Kalya barusan.


"Kakak udah nggak mau ngobrol bareng aku lagi? Kakak bosan sama aku?" tanya Kaisar dengan mimik wajah sedih, karena berpikir Kalya tidak mau lagi berteman dengannya.


"Eh, bukan gitu, maksud Kakak. Kakak…" Kalya yang perasaannya tidak enak, kembali melihat Bu Tuti yang ternyata masih memperhatikannya dari arah luar pagar.


Sadar dengan arah pandang Kalya, Kaisar pun menoleh dan melihat apa yang tengah dilihat perempuan perempuan itu di sana.


"Ehm… Si Biang Gosip." Celetuk Kaisar terdengar malas, mendapat perhatian dari Kalya.


"Ya udah deh, Kak. Kalau gitu, aku balik dulu. Perasaanku nggak enak, lihat tuh nenek-nenek natap ke sini terus. Ntar, Kakak kena fitnahnya dia lagi." Cetus Kaisar sedikit kesal.


"Hm, yaudah. Makasih ya, Kai, atas pengertian kamu. Kakak minta maaf," ucap Kalya penuh sesal, yang hanya dibalas senyum tipis oleh cowok tersebut.


"Iya, Kak. Nggak papa. Ini juga demi Kakak, kok. Oh, ya, kuenya jangan lupa dimakan, ya. Soalnya, itu kue buatan Kaisar yang penuh dengan cinta… Hehe…" Kata cowok itu nyengir, menampilkan gingsulnya lagi, yang dibalas tepukan gemas oleh Kalya.


"Iya… Cinta, cinta… Ada-ada aja, kamu ini…" Balas Kalya, lantas mengangguk melihat Kaisar undur diri.


Seperti tidak ingin ketahuan, Bu Tuti --yang sebenarnya sudah ketahuan oleh si pemilik rumah-- langsung menyingkir dari pekarangan rumah Kalya.


Entah apa yang ada di dalam otak wanita tua itu, saat melihat Kaisar melewatinya, dia seperti orang yang tidak punya rasa bersalah sama sekali.


"Perasaan aku aja, atau di sini bau bunga kuburan, ya? Apa jangan-jangan ada setan?" celetuk Kaisar, tepat di samping Bu Tuti, hingga membuat wanita itu melotot ke arahnya.


Kendati melawan, Bu Tuti yang --entah kenapa-- merasa tersindir, hanya menatap sengit pada Kaisar yang menyeringai sinis kepadanya.


"Dasar anak muda nggak tahu sopan santun! Nggak diajari orang tuanya kali, ya!" sewot Bu Tuti geram, malah dibalas enteng oleh Kaisar.


"Tentu, orang tua saya mengajarkan. Kalau enggak, Ibu udah saya hajar dari tadi." Kata Kaisar tersenyum sambil berlalu, benar-benar membuat Bu Tuti merasa berang mendengarnya.


"Heh! Kamu--"


Belum selesai Bu Tuti berteriak jengkel, dia terkejut saat tiba-tiba saja sosok Gavin muncul dari samping tembok rumahnya, dan langsung menarik tubuh Kaisar menjauh darinya.


Melihat kemarahan yang tergambar jelas di wajah keras Gavin, Bu Tuti hanya tersenyum sinis melihat nasib Kaisar yang kini sudah berada di tangan suami Kalya tersebut.


"Mampus kamu,"


 


 


Kaisar benar-benar tidak menyangka, kalau sekarang dia harus duduk di depan Gavin dengan suasana yang terbilang absurd seperti ini.


Tanpa angin, tanpa hujan, Gavin tiba-tiba saja datang menyeretnya dan menghempaskan tubuhnya di bangku taman yang terbuat dari besi.


Sambil menahan napas sebal, Kaisar mengusap bokong dan pinggangnya yang tadi terhempas secara kasar. Sungguh, dia baru tahu kalau Gavin itu bukanlah tipe pria yang suka kelembutan. Dia jadi khawatir dengan kehidupan Kalya selama menjadi istri laki-laki tersebut. Apakah wanita itu baik-baik saja?


"Gue mau, lo jauhin istri gue!"


Kaisar, yang tadinya sedang sibuk menerka-nerka keadaan Kalya, menoleh terkejut pada Gavin itu, yang tiba-tiba saja berkata demikian.


Apa-apaan ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Gavin berbicara seperti itu kepadanya.


"Bang Gavin mabuk, ya? Atau sakit? Berobat gih, sana! Ntar makin parah lo…" Celetuk Kaisar sedikit sebal, membuang pandangannya dari Gavin.


"Gue nggak bercanda! Gue--"


"Bang Gavin berharap bisa bercanda sama saya?" sela Kaisar sinis, lalu menarik sudut bibirnya sedikit. "Saya nggak tertarik."


"Gue nggak berharap dan bakal pernah berharap bisa bercanda sama lo!" tegas Gavin emosi, melihat Kaisar yang hanya menaikkan sebelah alisnya tidak peduli pada Gavin.


"Gue nyeret lo kemari, cuma karena gue mau memperingati lo, untuk jauh-jauh dari Kalya! Gue nggak suka, ada anak yang suka cari perhatian kayak lo gini, ada di dekat dia! Gue nggak sudi! Jadi--"


"Kalo saya nggak mau, gimana?" sela Kaisar lagi, tampak menantang, membuat Gavin semakin kesal dibuatnya.


"Apa masalahnya sama Bang Gavin? Saya kan nggak mengganggu Kak Kalya. Saya cuma mau menemani dia biar dia nggak ngerasa kesepian di rumah! Itu aja, kok! Kenapa mesti dilarang segala?" protes Kaisar kesal, memberengutkan wajahnya melihat Gavin.


"Itu--"


"Itu juga, kami selalu ngobrol di teras. Nggak sampai kemana-mana, apalagi masuk rumah. Jadi, Bang Gavin nggak usah sok mau melarang-larang saja! Emang apa hak Bang Gavin ngelakuin hal itu?" sengit Kaisar, pada Gavin yang sudah menahan napas beratnya di dada.


"Apa hak gue, lo bilang?" geram Gavin tertahan, di antara tangannya yang sudah terkepal.


Sungguh, dia ingin memukul wajah anak remaja ini dengan tangannya.


"Jelas gue berhak sepenuhnya atas diri Kalya. Dia itu istri gue! Dia ibu dari calon anak-anak gue! Dengar lo?!" tuntut Gavin emosi, menuding wajah Kaisar yang memerah.


Tampak bibir cowok itu terkatup rapat. Seperti hendak mengatakan sesuatu, sampai akhirnya dia hanya bisa tertawa sumbang dengan wajahnya yang merah itu.


"Suami, kamu bilang?" desis Kaisar bergetar, lantas membuang pandangannya ke arah lain.


"Nyebelin banget nggak, sih?" Ucap Kaisar pelan, yang tertahan di tenggorokan.


Kaisar benar-benar tidak suka, dengan orang yang mencoba menjauhkannya lagi dengan Kalya.


"Memangnya kenapa, kalau kamu itu suaminya Kak Kalya? Memang apa yang udah kamu perbuat untuk dia, sampai kamu merasa berhak membatasi kebahagiaannya seperti ini?" tanya Kaisar tajam, beserta nada sindiran, pada Gavin yang sontak menatapnya dengan tajam.


"Maksud lo apa? Gue membatasi kebahagiaan Kalya? Kapan?"


"Menikahinya! Dan… Menghamilinya." Geram Kaisar dengan mata merah, hampir menghajar Gavin dengan kedua tangannya.


"Dia istri gue. Dan selayaknya orang yang udah menikah, wajar kalau gue punya anak dari dia. Masalah lo, apa? Lo suka sama istri gue? Iya?!


"Iya! Saya suka sama Kak Kalya! Sangat suka, sampai rasanya mau mati pas lihat matanya merah karena habis menangis tadi!" bentak Kaisar berapi-api, langsung membuat Gavin marah dan memukul sudut rahang pria itu dengan keras.


Bugh!


"Brengsek lo!" maki Gavin berdiri, memukul wajah Kaisar yang memerah.


Sejenak, Kaisar tidak melawan. Dia hanya memejamkan matanya sejenak, membayangkan wajah Kalya yang sembab saat dia menemuinya tadi.


Bukan Kaisar bodoh, untuk melewatkan satu perubahan kecil yang terjadi di pada diri Kalya. Dia hanya diam, karena tidak ingin membahas sesuatu yang menyedihkan dengan kakaknya itu.


"Saya nggak yakin, bisa biarin Kak Kalya tinggal lama-lama sama orang gila kayak kamu." Kata Kaisar, menyulut emosi Gavin yang kian mengobar, dan hendak memukul wajah pemuda itu kembali.


"Lo--"


Tangan Gavin sudah melayang di udara, saat dengan sigap Kaisar menangkapnya dan mencengkramnya dengan kuat.


"Heh! Jangan macam-macam…" Desis Kaisar, sarat akan ancaman kepada Gavin.


Tampaknya, meski terlihat lebih kurus dari Gavin, bukan berarti Kaisar lebih lemah dari apa yang pria itu perkirakan sebelumnya.


"Saya akan pastikan, kalau jalan kamu nggak akan mudah." Desis Kaisar takam, menatap mata Gavin lekat, seolah urat-utat mata yang bisa bening it, terlihat memerah.


"Suatu saat nanti, saya akan buat kamu menyesal udah pernah membiarkan saya melihat Kak Kalya menangis. Kamu dengar?"


Lalu, dengan satu kali sentakan kasar, Gavin mundur melihat Kaisar yang tampaknya lebih marah daripada dirinya.


Dan hey! Siapa yang merebut istri siapa di sini? Kenapa malah bocah itu yang mengancambya?


"Heh! Lo--"


"Ah, ya…! Satu lagi,"


Gavin yang setengah berteriak pada Kaisar mengerurkan alisnya, saat mepihat pemuda itu berbalik.


"Bang Gavin tahu soal Bu Tuti, kan? Tetangga peyot yang rumahnya di sebelah rumah Bu Alya?" tanya Kaisar santai, pada Gavin yang mengerutkan alisnya tidak menjawab.


"Hati-hati sama dia. Biarpun baru kenal sebentar, tapi saya dapat informasi kalau hobinya itu adalah melihat rumah tangga orang berantakan. Jadi… Jaga-jaga aja," setengah menggantung ucapannya, Kaisar menyentuh rahangnya yang tadi dihajar oleh Gavin.


"Siapa tahu, hari ini dia bakal datang untuk menghasut."


 


Bersambung