Be My Brides

Be My Brides
Episode 15



Gavin duduk di tepi ranjangnya dengan perasaan yang sedikit gusar. Matanya yang terlihat sayu menatap lurus ke arah lantai kamarnya, sambil mengingat apa yang dikatakan oleh Mario pagi tadi. 


"Saya mencintai Kalya. Tapi, nampaknya Kalya nggak butuh orang yang mencintai dia." 


Gavin menghelakan napas panjang dan mulai merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Entah apa yang membuat Mario tiba-tiba saja hengkang dari perusahaan. Padahal sebelumnya, sangat sulit untuk membuat pria itu mundur, meski dengan bayang-bayang kuasa Kendra sekalipun. 


"Meskipun begitu, satu hal yang harus kamu tahu. Entah itu sepuluh, atau dua puluh tahun sekalipun… saya akan tetap menunggu dia."


Sekali lagi, Gavin menarik napas panjang dan membuangnya. 


"Maksud dia apa, sih? Belibet banget!" 


Gavin yang pusing, kemudian bangkit dari rebahnya. Dia meraih ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya dan mulai mencari nama Kalya dalam daftar kontaknya. Begitu ketemu, dia pun jadi terdiam.


Tangan Gavin yang sudah berada di tombol hijau layar ponselnya terasa sedikit kaku. Rasa rindu membuat dia ingin menekan tombol itu. Tapi, entah kenapa sudut hatinya yang lain, dia merasa kalau mungkin saja Kalya tidak akan menjawab panggilannya. 


"Coba aja kali, ya?" gumam Gavin lantas menekan tombol hijau tersebut dan mendekatkan ponselnya ke telinga. 


Tidak sampai beberapa detik, jangankan tidak dijawab, bahkan ponsel wanita itu ternyata tidak aktif sama sekali. Dan itu membuat Gavin hanya bisa pasrah dan menghembuskan napas panjang.


"Sekarang keadaan dia gimana, ya?" Bisik Gavin pelan, menerka-nerka keadaan Kalya yang sebenarnya. 


Sebenarnya, Gavin merasa sedikit takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada wanita itu, mengingat beberapa hari ini Kalya tidak masuk bekerja karena alasan sakit. Ingin menjenguk, tapi dia yakin kalau Kalya akan langsung menolaknya. Bertanya pada Ricky juga tidak akan menuntaskan keresahannya, mengingat belakangan ini pria itu semakin sombong terhadapnya. 


Gavin masih memainkan daftar kontak di layar ponselnya, ketika tanpa sengaja dia menemukan nama Ricka di sana. Sepupu dengan usia yang sama dengannya itu dekat dengan Kalya. Apa mungkin, Gavin bisa bertanya padanya? 


"Moga aja diangkat." Harap Gavin ketika menekan layar ponselnya memanggil nomor Ricka. 


"Halo?" 


Tidak lama, panggilan Gavin pun terjawab. Suara Ricka yang terdengar sedikit serak di ujung sana, membuat Gavin sedikit bertanya-tanya. 


"Ka, lo udah tidur, ya?" terka Gavin mengernyit yang langsung dijawab dingin oleh Ricka. 


"Enggak." 


"Terus, suara lo kok serak gitu? Lo sakit?" tanya Gavin lagi kali ini tidak segera mendapat jawaban dari yang bersangkutan. 


"Enggak." Jawab Ricka setelah beberapa saat. 


Karena mendengar jawaban yang seolah memutus pembahasan, Gavin jadi bingung memulai pembicaraan dari mana. Dan anehnya, Ricka yang biasanya bawel itu juga terdengar sedikit pendiam tanpa berniat mengatakan apapun lagi padanya.


"Lo… sehat 'kan, Ka?" 


"Iya," 


"Keluarga lo? Om Nunu, Tante Rara sama sodara-sodara lo?" 


"Sehat." 


"Tante Kal?" 


"Iya, ehm… maksud gue nggak--eh…!"


Ricka yang terdengar ragu dan bingung, sontak membuat Gavin bangkit dari rebahannya. Saat ini mereka sedang membahas Kalya. Dan sikap gugup yang Ricka perdengarkan membuat Gavin mau tidak mau jadi berpikir buruk tentang perempuan itu. 


"Ricka, Tante Kal… sehat-sehat aja 'kan? Dia… baik-baik aja 'kan?" selidik Gavin was-was merasa cemas dalam hatinya. Beberapa hari tidak melihat Kalya membuat dia mudah terserang rasa takut tentang perempuan itu. Apalagi dia tahu kalau beberapa hari ini kondisi Kalya memang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. 


"Ricka," 


Dan rasanya kecemasan Gavin kian bertambah, ketika tidak mendengar suara sepupunya itu dari seberang sana. Pun saat perempuan itu mulai berbicara, rasa penasaran membuat Gavin merasa sulit untuk berpikir. 


"Gavin, besok sore, temuin gue di kafe dekat rumah sakit tempat gue magang." Pinta Ricka diselingi dengan tarikan napas yang panjang. 


"Ada yang mau gue bicarain sama lo." 


***


Sesuai dengan apa yang Ricka minta pada Gavin untuk menemuinya, saat ini cowok itu sudah duduk di kafe tempat mereka berjanji kemarin. 


Gavin tampak gelisah, menanti kehadiran sepupunya itu, yang berhasil membuat dia tidak tenang hampir satu harian ini. Gavin jadi teringat dengan raut wajah ayahnya waktu pulang dari menjenguk Kalya  dari rumah Keanu kemarin malam. Apa ini ada hubungannya dengan apa yang akan dibicarakan oleh Ricka? Apa keadaan Kalya memang benar seburuk itu? 


"Gavin," 


Gavin yang tadinya termenung, mengerjap kaget melihat Ricka sudah duduk di hadapannya. 


"Ka, lo udah datang?" 


Gavin membenarkan posisi duduknya, ketika melihat Ricka menganggukkan kepalanya ringan. 


"Jadi… apa yang mau lo omongin sama gue?" tanya Gavin to the point, yang mana langsung membuat Ricka menatap ke arahnya tanpa ekspresi yang berarti. 


"Gue pesan lemon tea…" ujar Ricka melirik penuh sindiran pada Gavin yang menurutnya terlalu buru-buru. Padahal, jika dipikirkan lagi, Ricka itu baru sampai di sana. Dan dia pun juga bingung harus memulai cerita ini dari mana. 


Sementara melihat sepupunya itu membuang pandangan, Gavin hanya bisa mencebik dan memanggil pelayan untuk memesan apa yang Ricka inginkan. 


"Jadi…?" tanya Gavin menaikkan alisnya, melihat Ricka yang menarik napasnya panjang. 


Terlihat Ricka sedikit ragu atas pertanyaan itu. Di bawah meja, tangannya sudah saling meremat satu sama lain demi memilih kata yang tepat untuk memulai ini semua. 


"Vin, sebelum ini… lo pernah dengar sesuatu tentang Tante Kal, nggak?" tanya Ricka hati-hati, yang malah dibalas Gavin dengan kerutan alis dalam di dahinya. 


"Maksud lo?" 


"Asal usul? Mak-maksud lo apa, sih?!" sentak Gavin semakin mengerutkan alisnya dan menatap tajam pada Ricka. 


Perempuan itu jadi terlihat sedikit salah tingkah dengan terus mengusap rambutnya dan menggigit bibir bawahnya resah. 


"Ricka! Lo mau ngomong apa, sih? Bicara yang jelas sama gue!" perintah Gavin menutupi rasa panik yang tiba-tiba sana datang dan membuat jantungnya berdegup kencang.


Sementara itu, Ricka yang merasa semakin tersudut, semakin bungkam dengan pandangan yang lari ke segala penjuru arah. 


"Rick--" 


"Tante Kal hamil! Dan Ricko yang bakal tanggung jawab!" Ujar Ricka dalam satu tarikan napas, hingga membuat Gavin membeku seketika. 


"A-apa?" 


Ricka memejamkan matanya rapat, menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan. 


"Gue tahu ini kabar yang cukup gila buat lo dengar, Vin. Tapi, Tante Kal emang beneran hamil. Dan…" Ricka menelan ludahnya susah payah, menatap Gavin dengan was-was. 


"Ricko yang bakal tanggung jawab." 


***


Rasanya, sejak pulang dari bertemu Ricka tadi jiwa Gavin sudah terbang entah kemana. Tubuhnya terasa lemas, di balik kemudi mobil yang ia tepikan di pinggir jalan. 


Pikirannya terasa buntu, mengingat semua detil cerita yang dia dengar dari Ricka, atas apa yang sudah terjadi kemarin malam di rumah Keanu. 


"Lo tahu kalo Tante Kalya itu bukan anak kandung dari Oma dan Opa?" 


"Kalo bukan karena Ricky yang nggak sengaja dengar pembicaraan Papa dan Om Kend, gue dan Ricko pasti nggak bakal tahu soal kenyataan ini!" 


Gavin memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan dirinya, kalau ini bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Toh, dia memang sudah lama tahu kalau Kalya itu tidak punya hubungan darah dengannya. 


"Tante Kal hamil. Dan dia nggak mau bilang siapa laki-laki brengsek yang udah berani menghamili dia!" 


"Ricko gila! Cuma karena dia udah tahu kalo Tante Kal bukan adiknya Papa, dia langsung bersedia menikahi Tante Kalya."


Dan apa yang Gavin dengar setelahnya benar-benar membuat darahnya seperti berhenti mengalir. 


"Kayaknya, Om Kendra setuju sama lamaran Ricko untuk Tante Kal." 


Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Bagaimanapun juga, Kalya itu sudah menjadi milik Gavin. Meski belum secara hukum dan agama, setidaknya, dia sudah memiliki tubuh Kalya untuk dirinya. Bahkan soal kehamilan yang dia dengar, Gavin yakin kalau itu adalah benar anak kandungnya. 


"Gue harus bilang ini sama Papa." 


Seolah semua dunia sudah ada di dalam genggamannya, Gavin yang sudah tidak memikirkan apapun lagi, langsung memacu kendaraannya pulang ke rumah. Dia pikir, satu-satunya jalan untuk mendapatkan Kalya secara penuh adalah mengakui perbuatannya terhadap perempuan itu. Bertanggung jawab atas kehamilan Kalya, yang mungkin tidak akan mudah untuk didapatkan. 


Tapi, tidak akan ada hasil, jika tidak ada usaha, bukan? Maka, apapun yang akan terjadi, Gavin akan memastikan kalau Kalya akan berakhir dengannya. 


"Pa…! Papa…!" 


Gavin yang baru saja sampai ke rumahnya, langsung berlari meneriaki ayahnya dan mencari keberadaan pria paruh baya tersebut. Dia mencari sampai ke kamar kedua orangtuanya dan tidak mendapati siapapun di sana. 


"Pa…! Papa…!" seru Gavin lagi mulai mencari ke segala penjuru rumah. 


"Den Gavin, kenapa teriak-teriak begitu?" 


Bik Sanam, asisten rumah tangga di rumah Gavin langsung menghampiri pria yang terlihat sedang gusar tersebut. 


"Bik, Papa mana? Kok nggak ada?" tanya Gavin segera, tanpa menjawab pertanyaan Bik Sanam sebelumnya. 


"Tuan dan Nyonya pergi, Den… mungkin udah setengah jam yang lalu." Jawab Bik Sanam. 


"Pergi? Kemana?" 


"Katanya sih, mau ke rumah Tuan Keanu." Jawab Bik Sanam lagi, sontak membuat kedua mata Gavin membola. 


"Ke rumah Om Nunu?!" 


Tubuh Gavin rasanya semakin lemas sampai mundur beberapa langkah. Pirikannya langsung terasa kosong, memikirkan kalimat terakhir Ricka yang membuat darahnya seperti berhenti mengalir. 


"Mungkin, dalam waktu dekat, Om Kendra bakal menikahkan Tante Kal sama Ricko."


"Den… Den Gavin ke--" 


Gavin yang tidak bisa berpikir jernih lagi langsung berlari kencang meninggalkan Bik Sanam yang terdiam. Wanita itu saja sampai terpelongo melihatnya. 


Gavin meninggalkan rumahnya dengan kecepatan mobil yang sama seperti tadi. Dia seperti orang kesetanan membawa kendaraannya menuju rumah Keanu. Waktu tempuh yang harusnya tiga puluh menit, bisa ia tembus sampai setengahnya. 


"Eh, Den Gavin juga datang? Tuan Kend dan--" 


Gavin yang baru tiba dan turun dari mobilnya tidak menghiraukan sambutan satpam di rumah Keanu. Dia langsung berlari masuk ke dalam rumah, dan langsung mendapati semua orang di rumah tersebut sedang berbicara serius. 


"Gavin? Kamu kok--"


"Papa…" 


Dengan napas tersengal, Gavin mendekati Kendra yang menatap heran ke arahnya. 


"Anak itu… darah daging Gavin." 


Bersambung