
Kalau ada yang mengatakan kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, rasanya memang benar. Hal itu Kalya rasakan saat hampir satu jam lebih dia berjuang untuk melahirkan anaknya yang selama sembilan bulan ini dia kandung. Bernapas bersama, berbagi makanan bersama, tidur bersama, dan mempertaruhkan nyawanya untuk buah hatinya bisa melihat dunia.
Saat ia berada di tengah kesadarannya yang terombang ambing menahan sakit, sesosok wajah tiba-tiba saja hadir di pelupuk mata Kalya. Tersenyum manis, sambil mengusap wajah berkeringat Kalya dan membisikkan kata doa serta semangat. Membuat Kalya bersedih, ketika samar dia mendengar bisikan di kedua telinganya.
"Anakku, Sayang… Kamu pasti bisa. Kamu pasti kuat…"
Sesekali, Kalya membuka matanya yang terasa berat. Dia tahu itu hanyalah sebatas khayalannya semata. Entah dia merasa begitu benci dengan wanita itu, ataukah dia memang menginginkan perempuan itu hadir dan berdiri di sampingnya.
Dia Bu Sarah, orang yang telah mengecewakan hati Kalya hingga membuat sebuah lubang besar di hati wanita itu. Membuat Kalya mendoktrin dirinya sendiri kalau keluarganya memang tidak pernah menginginkannya sama sekali. Membuangnya pada orang lain, dan hidup bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing tanpa mempedulikan perasaan Kalya yang sebenarnya.
Tapi, entah kenapa, pikiran aneh tiba-tiba saja datang di benak Kalya. Kalau memang wanita itu tidak menginginkan kehidupan Kalya dan ingin membuangnya, kenapa dia harus repot melahirkan?
Maksudnya, kenapa mereka tidak membuang Kalya saja saat masih dalam kandungan, entah dengan meminum obat penggugur kandungan barang kali, atau pergi ke rumah sakit untuk aborsi, kan bisa? Lantas kenapa harus melahirkan, yang notabenenya adalah sesuatu yang harus mempertaruhkan nyawa, jika sampai dia gagal? Kenapa?
"Orang tua kamu mengalami kesulitan dan harus melindungi kamu. Mereka tidak membuang kamu! Mereka hanya tidak ingin kamu ikut menderita bersama mereka. Keluarga Ayah kamu saat itu menekan keras pernikahan Ayah dan Ibu kamu. Jadi, bukan maksud mereka untuk mencampakan kamu, Kal... Bukan!"
"Saya menyayangi anak saya, Kalya… Putri kecil saya…"
Seketika, itu menampar Kalya pada keadaan. Bagaimana bisa, dia bersikap seperti itu pada orang yang telah memperjuangkannya mati-matian? Ibunya pasti sudah susah payah dan menderita hanya untuk melahirnya saja. Ditambah dia harus rela melepaskan Kalya untuk kedua orang tua Kendra, membuat hati Kalya semakin terasa tercubit.
Dilayangkannya pandangan lirihnya pada seorang bayi yang tengah menangis kencang dalam pelukan Gavin. Setetes air matanya jatuh, melihat dan mendengar Gavin menangis karena buah hati mereka sudah lahir ke dunia. Membuat hatinya remuk, membayangkan pedih jika sampai dia tidak melihat anaknya seperti Bu Sarah yang tidak pernah melihat Kalya setelah dilahirkan.
"Gavin, aku pengen ketemu sama Ibu... Tolong aku, Gavin… Aku mau ketemu sama dia…" Isak Kalua serak, di dada Gavin, setelah beberapa saat tadi menangis seperti anak kecil yang tidak tahu diri.
Perlahan, Gavin mengusap rambut Kalya dan balas memeluknya.
"Iya… Besok, aku akan minta Bu Sarah datang ke sini, ya? Kamu jangan nangis lagi." Balas Gavin, membuat Kalya mendongakkan kepalanya menatap pria tersebut.
Sambil mengerjap ragu, Kalya bertanya, "Apa… Bu Sarah masih mau ketemu sama aku? Dia… nggak akan ninggalin aku lagi 'kan, Gavin? Aku nggak mau ditinggal lagi…" Isak Kalya serak, menarik napasnya pilu, dan meneteskan air mata.
"Enggak. Dia nggak ninggalin kamu lagi kok, Sayang… Dia masih di sini." Bujuk Gavin tersenyum tipis, mengusap wajah Kalya yang basah karena air mata.
"Dia menunggu kamu. Menunggu saat kamu membuka hati kamu untuknya. Dia menyayangi kamu,"
"Tapi, aku udah menyakitinya dan bilang nggak mau ketemu sama dia. Aku--"
Seperti tidak tahu malu, Gavin merunduk dan mengecup bibir Kalya hingga terdiam. Kemudian, dia tersenyum tipis dan mengusap bibir wanita itu dengan pelan.
"Orang tua nggak akan pernah dendam sama anaknya. Mereka akan memaafkan dan selalu menerima anak mereka bagaimana pun keadaannya." Ujar Gavin, pada Kalya yang balas mengerutkan alisnya sedikit cemberut.
"Kamu tahu darimana kata-kata itu? Sok tahu! Kamu kan bukan--"
"Aku orang tua. Ingat?" sela Gavin, kemudian membawa kepala Kalya lagi untuk dia dekap di dadanya. "Karena kamu, udah menjadikan aku seorang ayah."
***
Kalya sedang menyandarkan bahunya di bantal yang diletakkan di kepala ranjang, saat kedua orang tua Gavin datang dan masuk ke dalam ruang perawatannya dengan tampang yang cukup panik.
"Kalya!"
Nia menghampiri Kalya yang tengah duduk santai setelah menyusui anaknya, dan menangkup kedua pipi wanita tersebut cemas.
"Kal, kamu baik-baik aja kan, Sayang? Kamu nggak papa, kan? Kamu sehat?" tanya Nia beruntun, pada Kalya, sembari terus menyentuh pipi perempuan itu dan mengecek tubuhnya.
"Iya, Ma, Kalya sehat. Kalya baik-baik aja," jawab Kalya tersenyum, melihat Nia yang menghembuskan napas lega.
"Mama cemas mikirin kamu. Tadi malam, Mama pengen kemari dan nungguin kamu melahirkan. Tapi, Papa ngelarang. Jadi, terpaksa deh, pagi-pagi banget gini Mama datang lihat kamu." Kata Nia mencebik, melirik sekilas pada Kendra yang berdiri di belakangnya.
"Iya, Ma, Kalya ngerti kok. Tadi malam kan, emang udah terlalu larut untuk Mama dan Papa datang ke mari. Lagian, udah ada Gavin yang dampingi Kalya sampai anak kami lahir, kok…" Ucap Kalya lagi, tersenyum, melirik suaminya yang saat ini mengusap kepalanya sayang.
"Kamu nungguin dia melahirkan? Maksudnya, kamu dampingi dia?" tanya Nia pada Gavin, membuat pria tersebut menaikkan kedua alisnya sedikit heran.
"Iyalah, Gavin dampingi. Masa, Kalya lagi berjuang melahirkan anak Gavin, malah Gavin biarin sendiri, sih… Jahat banget," kata Gavin, yang sejenak berikutnya, membuat Kalya melirik aneh ke arahnya dan mencibir.
"Kamu ngomong gitu. Padahal, sebelumnya kamu mau ninggalin aku, kalo tangan kamu nggak aku tahan. Iya kan?" tuding Kalya menyindir Gavin, yang wajahnya tiba-tiba saja memerah, dan membuatnya merasa malu.
"Iya, itu karena aku pikir, keberadaanku bisa ganggu proses persalinan kamu. Gimana pun, aku mau proses lahiran kamu itu lancar, dan anak kita lahir dengan selamat. Nggak ada maksud lain, Kal… Gimana sih, kamu…" Bisik Gavin agak geram, pada Kalya yang malah balas mencibir ke arahnya.
"Dasar cowok. Banyak banget alasannya…" Kata Kalya kemudian, membuat Nia dan Kendra tersenyum mendengar hal tersebut.
"Kal!"
"Udah! Kalian ini, kok suka banget sih, ribut untuk hal yang berguna? Mending sekarang, kalian tunjukin ke Mama, mana cucu kesayangan Mama dan Papa? Kami mau lihat!" pinta Nia, menyela ocehan Gavin yang terlihat tidak terima dengan ucapan Kalya dan membuatnya hanya mampu mendesahkan napas panjang.
"Sebentar," ucapnya, lantas berjalan mengitari ranjang Kalya, dan mengambil bayinya dari keranjang bayi yang ada di sisi tempat tidur wanita tersebut.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Nia takjub, melihat bayi yang ada di dalam gendongannya tengah memejamkan matanya, dengan bibir merahnya yang begitu mungil.
"Laki-laki. Gian Aditya." Jawab Gavin bangga, sontak membuat Nia dan Kendra menatap ke arahnya.
"Gian Aditya," gumam keduanya, kemudian tersenyum, menyentuh pipi Gian yang tertidur.
"Gian, anugerah Tuhan yang paling indah. Aditya, layaknya matahari surga." Ucap Kendra, kemudian tersenyum tipis ke arah Gavin. "Nama yang bagus. Sama seperti Ibunya, keindahan dari surga."
Gavin dan Kalya hanya tersenyum mendengar hal tersebut. Memang, yang memberi nama bayi mungil itu adalah Gavin seutuhnya. Dia yakin, Gavin memiliki nama yang cocok untuk anak mereka. Oleh sebab itu, dia menerima apapun nama yang diberikan Gavin untuk buah hati pertama mereka. Toh, artinya tidak buruk, dan memiliki makna yang hampir sama dengan nama Kalya sendiri.
"Ngeliat Gian seperti ini, Papa jadi ingat Kalya yang baru lahir. Mirip banget. Meski udah dua puluh delapan tahun berlalu, Papa masih bisa membayangkan bagaimana rupa Kalya yang waktu itu Papa gendong." Cerita Kendra tersenyum, pada Kalya yang kini matanya sudah mulai berembun membalas tatapan Kendra.
"Makasih, Papa udah merawat Kalya, sampai Kalya menjadi seperti ini. Kalya benar-benar nggak tahu, gimana nasib Kalya, andai yang mengangkat Kalya waktu itu bukan keluarga Papa. Kalya pasti--"
"Udahlah, semua itu udah takdir. Tuhan punya alasan dari setiap peristiwa yang terjadi. Jadi, kamu nggak perlu memikirkan hal semacam itu. Ngerti?" tandas Kendra, terdengar lembut, pada Kalya, yang hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya singkat.
"Aduuh, imut banget, sih… Jadi gemes. Pengen cium terus," ucap Nia, yang sejak tadi hanya terfokus pada Gian dan menarik perhatian tiga orang di sekitarnya.
"Nanti, setelah pulang ke rumah, Gian boboknya sama Oma dan Opa, ya? Kita tidur di kamar Oma dan Opa… Mau kan, Gian sayang…" Kata Nia lagi gemas, pada Gian yang tertidur pulas dan gendongannya, tidak sadar dengan ekspresi Gavin yang tidak terima.
"Ih, Mama apa-apaan, sjh?! Gian kan anak Gavin! Ngapain dia tidur di kamar Mama dan Papa?!" protes Gavin pada ibunya, yang menjauhkan Gian, ketika Gavin hendak mengambil bayi kecil itu dari gendongannya.
"Terus kenapa, kalau Gian itu anak kamu? Mama ini kan Omanya! Orang yang udah ngelahirin bapaknya! Jadi, boleh dong, nanti Gian tidurnya di kamar Papa dan Mama." Debat Nia, melirik Gavin yang tampak masih tidak terima dengan ucapannya.
"Iya, tapi kan, Gian itu masih bayi, Ma… Harus dekat-dekat sama Bundanya. Nanti, kalau dia merengek minta susu atau poop, gimana? Mama dan Papa yang repot, harus bangun malam, cuma karena ngurus Gian." Alasan Gavin cemberut, yang memang masuk akal, dan membuat raut wajah Nia terlihat menjadi sedih.
"Tapi, kan, Mama juga pengen ngerawat Gian. Mama kangen, masa-masa Mama ngelahirin kamu. Ngurus kamu waktu kecil, bahkan harus bangun tengah malam, kalau dengar kamu nangis. Mama…" Nia menghentikan kalimatnya, ketika dirasanya tangan besar Kendra yang hangat mendarat di sebelah bahunya.
Tampak pria paruh baya itu tersenyum kepada Nia. "Kamu bisa bantuin Kalya ngurus Gian waktu siang. Kalo malam, itu urusan Gavin." Kata Kendra lembut, mengusap belakang kepala Nia sejenak, yang tampak setengah berpikir untuk itu.
"Tapi, kan Mas…"
"Udah… Pokoknya, kamu main-main sama Gian siang-siang aja. Kalo malam, kamu main bareng aku. Kan--"
"Mas!" tegur Nia yang tadinya muram, seketika melotot pada Kendra yang tiba-tiba saja berkata demikian.
Sambil mengeratkan giginya, Nia berkata. "Jaga bahasanya! Kita lagi di depan anak dan cucu loh, ini…! Gimana, sih?!" geram Nia yang entah krnapa, malah membjay Gavin dan Kalya kompak menahan tawa mereka.
Sementara itu, Kendra yang merasa tidak bersalah sama sekali, hanya merangkul istrinya itu dan mengusap-ngusap bahu wanita itu sejenak.
"Kamu pengen punya anak bayi lagi? Kita bisa kok, usaha buat--"
"Iiih, Mas! Nggak tahu malu banget sih, mulutnya! Kesel aku…" sentak Nia dongkol, kali ini merentakkan tangan Kendra dari bahunya, meski tidak secara kasar karena takut Gian yang tengah tertidur, akan terkejut mendengar suaranya.
Sedangkan daripada itu, alih-alih merasa takut ibu dan ayahnya bertengkar, Kalya dan Gavin justtu tertawa pelan.
"Loh, kenapa sih? Aku kan cuma nawarin sama kamu doang… Siapa tahu, kamu tertarik buat punya anak lagi terus--"
"Duh, Mas, udah deh… Cukup pusing aku dengar ocehan Mas soal anak tiap malam. Aku nggak mau dengar lagi! Nggak usah sok mau bujuk aku lagi! Oke?" dengus Nia sebal, mencebikkan bibirnya ke arah Kendra, yang saat ini hanya bisa tersenyum membalasnya.
Memang, Kendra memaklumi sikap istrinya saat ini. Sangat sulit baginya dan Nia untuk memperoleh keturunan lagi. Perlu beberapa tahun usia pernikahan mereka, dan usaha untuk mendapatkan anak, sampai akhirnya Gavin bisa hadir di rahim Nia. Dan wajar, kalau keinginan Nia yang merindukan buah hati, terbayar dengan hadirnya Gian sebagai cucu mereka.
"Yakin, kamu nggak mau? Kayaknya seru deh, kalau Gian nanti punya Om yang usianya sama kayak dia. Atau, kita bisa--"
"Mas!"
"Papa!"
Kendra yang terkejut karena ditegur oleh Nia dan Kalya secara bersamaan, sontak tertawa di tempatnya. Bahkan, tawanya yang besar dan seolah tidak memikirkan trmpat, sampai bisa membanginkan Gian yang tadinya tertidur dengan pulas.
"Ih, Mas…! Lihat tuh, Gian jadi kebangun 'kan! Mas itu--"
"Permisi…"
Di saat Nia hendak mengomeli suaminya yang tertawa, perhatiannya teralihkan pada sosok wanita yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang perawatan Kalya dan membuat mereka semua terpaku.
Dengan tampang gugup, dia mendorong pintu perawatan tersebut dan berjalan mendekati Kalya yang masih berbaring di atas bangkar.
"Bu--Bu Sarah?!"
Bersambung