Be My Brides

Be My Brides
Episode 54



Sejak Gavin meletakkan Kalya di atas tempat tidur, tidak sekalipun wanita itu melepaskan rangkulannya dari Gavin. Suara isakan atau tangisan tidak Gavin dengar dari mulut wanitanya. Hanya suara desah napas halus yang mampu ia tangkap dari dekapan Kalya di lehernya. 


Namun, cairan hangat yang Gavin rasakan membasahi bagian bahu kemejanya menandakan kalau istrinya itu sedang menangis dalam diam. 


"Vin," 


Suara panggilan pelan yang Ricka lontarkan untuk Gavin, membuat pria itu menoleh sejenak. 


Dilihatnya sepupunya itu tengah berdiri di depan pintu kamarnya yang sejak tadi memang terbuka lebar. 


"Gue balik dulu." Ucap Ricka dengan gerakan bibir dan tangannya, pada Gavin yang dibalas anggukan kepala oleh pria itu. 


Kemudian, setelah terdengar suara pagar yang ditutup dari arah luar, Gavin pun meraih ponselnya yang ada di saku celana dengan sangat perlahan. Takut Kalya terganggu dan membuat wanita itu tidak nyaman dalam dekapannya. 


"Thanks, Ka, buat hari ini. Tapi, gue minta, tolong lo jangan kasih tahu siapa pun soal kejadian hari ini. Biar gue yang urus." ketik Gavin pada layar ponselnya, untuk Ricka, yang kemungkinan masih berada di depan rumah mereka. 


"Iya, sama-sama. Dan kalau masalah tadi, kayaknya gue nggak ada hak buat kasih tahu siapapun soal ini. Jadi, lo tenang aja," balas Ricka, membuat Gavin bisa menghembuskan sedikit napas lega. 


Sekali lagi membalas, Gavin mengatakan, "Thanks," 


Lalu, Gavin kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Kemudian, dilingkarkannya tangannya di pinggang Kalya dan mengusap rambut belakang wanita itu pelan. Dia tahu, Kalya tengah mengalami syok saat ini. Dan Gavin, sangat khawatir, karena Kalya tampak tidak mengungkapkannya secara gamblang. 


"Gavin," panggil Kalya pelan, namun sanggup membuat Gavin merasa kaget dengan jantungnya yang berdebar kencang. 


"Ya?" 


"Aku… Kelihatan bego, ya?" 


"Ha?" 


"Mereka… lagi membodohi aku, kan?" tanya Kalya pelan, kali ini membuat Gavin terdiam.


"Aku kelihatan tolol, makanya mereka bisa bego-begoin aku kayak gini."


"Kalya, kamu--"


"Apa-apaan itu? Udah ninggalin aku selama puluhan tahun tanpa kabar, sekarang mereka datang dan bilang kalau mereka datang untuk ngeliat aku. Buat apa? Mereka mau bilang kangen?" 


Gavin yang tadinya ingin membuka mulut dan mengatakan kalimat penenang untuk Kalya, terpaksa harus menutup mulutnya kembali. Dia merasa, kalau Kalya sedang meracau saat ini. 


"Mereka datang dengan topeng. Dan bodohnya aku, percaya kalau mereka itu orang baik. Padahal, kenyataannya, mereka cuma mau lihat tampang aku yang udah berhasil menerima mereka dengan tangan yang terbuka. Mereka--" 


"Kalya, kamu--" 


"HOLY SHITT! Aku nggak mau dengar!!" Kalya yang berteriak di dada Gavin, semakin mengencangkan pelukannya di tubuh Gavin. 


Kali ini, badan Kalya terasa berguncang dengan tangis yang terdengar ditahan, dan membuat Gavin semakin kalut dengan kondisi istrinya saat ini. 


Dia takut, jiwa Kalya terguncang, dan akan berakibat buruk untuknya dan juga anak mereka. 


Tapi, alih-alih berusaha menenangkan, Gavin justru bungkam dan mengeratkan pelukannya juga pada Kalya. Dia tahu, kalau Kalya sedang sangat emosi saat ini. Apa pun yang akan dikatakannya akan percuma, mengingat Kalya tidak akan mendengarkan apa pun di saat sedang emosi seperti ini. Meski itu adalah kenyataan yang benar sekalipun. Terkadang, di titik seperti ini, Kalya bisa jauh lebih keras kepala daripada Gavin. 


Sambil mengusap punggung Kalya sabar, Gavin terus mengecup kepala wanita itu seraya menangkannya. 


"Ssttt…! Kamu boleh nangis, Sayang… Kamu boleh nangis… Akan terus nemani kamu di sini, oke? Kamu boleh nangis."


***


Tidak seperti tadi malam, kini Gavin sudah tidak berada dalam pelukan Kalya lagi. Dia sudah duduk di tepi ranjang, setelah pagi-pagi tadi menyiapkan makanan ala kadarnya untuk mereka. 


Kalya sudah bangun. Dan tampaknya, wanita itu kurang tidur malam tadi dari lingkar mata hitam yang terlihat samar. Pandar mata yang redup serta sorot mata kosong yang Kalya lemparkan ke arah luar jendela kamar mereka, membuat Gavin sedikit cemas. Berulang kali dia menarik napas panjang, mencari akal agar Kalya mau mendengar ucapannya. 


"Kal, kita makan dulu, yuk? Udah siang…" Ajak Gavin membujuk, yang sudah terhitung entah keberapa kalinya. Namun tak kunjung mendapatkan reaksi juga dari wanita tersebut. 


"Kal… Kamu harus makan. Anak kita pasti kelaparan, Sayang… Yuk!" bujuk Gavin lagi, lebih intens, dengan mendekati Kalya, dan duduk di atas ranjang di sisi wanita tersebut berbaring. 


Gavin yang tidak tega melihat sorot mata lelah Kalya, mengangkat tangannya dan mengusap dahi wanita itu lembut. Ditatapnya wajah Kalya yang tidak mengedip sama sekali itu dengan pandangan mata yang nanar. Sungguh, dia tidak menyangka kehadiran keluarga Kalyfa bisa berefek seperti ini terhadap istrinya itu. Andai Gavin tahu, dia akan mati-matian melindungi menjauhkan keluarga itu dari Kalya. Biar dikata sebagai orang atauoun menantu yang jahat. Karena pada dasarnya, Gavin itu mencintai Kalya, dan ingin membuat Kalya merasa tenang. 


"Gavin," panggil Kalya tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Gavin, dan membuat pria itu sedikit terkejut. 


"Ya?" 


"Aku… Bisa percaya sama kamu, kan?" tanya Kalya pelan, masih tidak menatap Gavin sama sekali. 


"Soalnya, aku udah capek berpikir… Aku nggak bisa tidur. Aku… Pusing… Dan aku mual, mikirin ini semua." Keluh Kalya pelan, lalu dengan suaranya yang bergetar, Kalya pun memejamkan kedua matanya. 


"Aku nggak percaya sama siapapun. Aku merasa bodoh. Aku--" Kalya yang kembali menangis, hanya memejamkan matanya menggigit bibirnya kuat, mencoba menahan tangisnya. 


"Kal," 


"Kamu juga jahat. Tapi, cuma kamu yang bisa aku percaya. Kamu suami aku… Gimana pun, aku cuma bisa berharap sama kamu. Aku--" 


Gavin yang tidak sanggup mendengar ucapan Kalya, langsung menunduk dan memeluk wanita tersebut. 


Sial! Sungguh sial memang, jika Gavin harus melihat Kalya terpuruk seperti ini. Bahkan ini lebih menyakitkan hatinya, ketimbang saat dulu dia melihat Kalya menderita karena Gavin yang menghamilinya. Gavin jadi ingin bertindak jahat, pada orang yang telah berbuat seperti ini terhadap istrinya. 


"Gavin… Aku takut… Semua orang berusaha untuk nyakitin aku. Semua orang memperolok kehidupanku. Mereka mau main-main sama kehidupan aku, Gavin… Aku nggak mau… Aku nggak mau, Gavin! Tolong hentikan mereka! Suruh mereka pergi! Suruh mereka berhenti untuk bercanda! Aku nggak suka sama candaan mereka, Gavin! Aku bukan keluarga mereka! Aku bukan keluarga mereka!"


Gavin terlihat mulai sedikit kewalahan juga, ketika Kalya kembali meracau. Memikirkan kesehatan Kalya, Gavin jadi cemas, tentang pikiran istrinya saat ini. Begitu mendadak, dan begitu mengejutkan, membuat Kalya menjadi tidak terkontrol seperti ini. Membuatnya khawatir, dan bingung harus melakukan apa saat ini. 


"Gavin, suruh mereka pulang, Gavin! Suruh mereka pulang ke rumah mereka! Aku nggak suka mereka di sini! Please, Gavin… Please…" 


Lama Kalya menangis tidak karuan seperti itu. Menyita perhatian dan tenaga Gavin untuk menenangkannya, hingga ia tertidur kembali dalam keadaan yang belum makan sama sekali.


Keringat mengucur dari dahi dan juga leher Kalya. Membuat wajah wanita itu sedikit mengkilap, menutupi cahaya wajah cantik itu dengan rona kesedihan. Membuat Gavin meringis, dan menahan sesak di dadanya memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyembuhkan Kalya kembali. 


Drt! Drt! 


Gavin hendak memulangkan makanan yang tadinya ia bawa untuk Kalya ke dapur, saat suara getar ponselnya yang ada di nakas, menginterupsi langkah kakinya.


Melirik Kalya yang tengah tidur sejenak, Gavin pun beralih mengambil ponsel tersebut yang menampilkan id Sang Ayah di layarnya. 


Tanpa memikir panjang, Gavin menjawab. "Halo?" 


"Gavin, kamu di mana? Ada yang mau Papa omongin sama kamu." Ujar Kendra langsung, di seberang telepon itu, tanpa menjawab sapaan tidak bersemangat anaknya terlebih dahulu. 


"Gavin di rumah. Hari ini Gavin nggak kerja. Kenapa?" jawab Gavin datar, sejenak tidak mendapat respons apapun dari Kendra. 


Beberapa detik, hanya terdengar sebuah helaan napas panjang, disertai kalimat yang membuat Gavin cukup menahan napasnya beberapa saat. 


"Papa mau bicara. Soal… Keluarga istri kamu, Kalya."


Bersambung.