
Gavin sudah duduk dengan sedikit gelisah di hadapan Pak Malik. Sejak beberapa menit yang lalu, keduanya saling berdiam diri, dengan Pak Malik yang terus menatap lurus ke arah meja yang menjadi pembatas mereka.
"Saya… akui saya bersalah. Sebagai kepala rumah tangga, saya tidak bisa melindungi anak dan istri saya. Saya gagal, dan terpaksa kehilangan anak saya."
Kepala Pak Malik menunduk dalam. Kedua tangannya saling bertautan erat, seolah menyesali keadaan yang sudah terjadi pada kehidupannya dan juga keluarganya.
Saat ini, di depan Sang Menantu, Pak Malik terlihat begitu malu.
"Kendra benar. Seharusnya saya nggak pernah muncul di hadapan kalian. Apalagi di hadapan Kalya. Dia pasti sangat benci sekali pada saya dan juga istri saya. Kami bahkan tidak berhak menyebut diri kami sebagai orang tua. Kami benar-benar tidak berguna."
"Kendra? Maksud Pa--Pak Malik apa? Pak Malik udah ketemu sama Papa?" tanya Gavin gamang, mendengar Pak Malik menyebut nama ayahnya.
Dengan perlahan, Pak Malik mengangguk.
"Kemarin, Kendra datang menemui saya. Dia marah, sekaligus kecewa dengan saya dan juga Sarah. Andai kami datang lebih cepat sedikit, mungkin Kalya tidak akan sesakit ini." Pak Malik menarik napasnya panjang, semakin menundukkan kepalanya lebih dalam. "Tapi…"
Gavin masih setia menunggu kelanjutan ucapan Pak Malik dalam diam. Meski hatinya juga merasa marah, tapi dia juga bisa merasakan kesakitan yang saat ini tengah ayah mertuanya rasakan.
"Saya tidak tahu lagi harus berbicara apa. Kalya sedang mengandung, dan saya tidak ingin membuat pikirannya semakin kacau yang berdampak pada kehamilannya nanti saya--"
"Pikiran Kalya udah kacau! Dan itu semua berkat Pak Malik sekeluarga!" tandas Gavin tiba-tiba, sontak membuat dia sendiri pun merasa kaget.
Mengingat bagaimana keadaan Kalya saat ini, membuat perasaannya tidak terbendung. Terlalu banyak melamun, membuat Gavin selalu merasa cemas akan keadaan istrinya tersebut.
Sementara itu, Pak Malik, alih-alih merasa tersinggung dengan ucapan menantunya, dia justru tersenyum tipis dan mengangguk.
"Iya, ini memang salah saya. Saya yang tidak bisa membendung perasaan rindu terhadap putri saya, dan saya yang tidak bisa mengumandangkan adzan di kedua telinganya ketika lahir."
Setetes air mata Pak Malik jatuh, di balik senyum lirih yang dia perlihatkan di depan Gavin.
"Andai saja, saya cukup kuat dan cukup pintar untuk menyelesaikan semua permasalahan saya waktu itu… Atau, seandainya saja saya tidak memaksakan kehendak saya untuk menikahi Sarah saat itu, mungkin mereka semua tidak akan menikah. Sarah, Kalya dan juga Kaisar, pasti tidak akan ada di dalam permasalahan bodoh seperti ini. Mereka tidak pantas terluka. Mereka orang-orang yang saya cintai, harus terluka karena punya kepala keluarga lemah seperti saya."
Suasana antara Gavin dan juga Pak Malik, berubah menjadi sendu. Pak Malik terlihat begitu terluka atas permasalahan yang saat ini tengah menimpa keluarganya.
Gavin tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Dia kasihan pada Pak Malik. Tapi, Gavin juga tidak boleh lupa, kalau istrinya pun ikut terluka di sini. Bahkan lebih terluka, karena pikiran yang selama ini tertanam dalam pikiran wanitanya tersebut.
"...Keluargaku, nggak ada yang menerima aku. Nggak ada yang mau nerima aku seutuhnya. Salah aku apa, sih?! Memangnya, aku sejelek itu, ya?"
Gavin memejamkan matanya sejenak, dan bergumam dalam hati. "Enggak… Kamu itu perempuan yang cantik, Kal… Kamu adalah perempuan paling cantik yang pernah aku lihat, selain Mama…"
"Saya tahu, saya tidak punya hak sama sekali untuk berbicara seperti ini. Hanya saja, tolong beritahu dia. Meskipun dia membenci saya, saya akan tetap menjadi laki-laki terakhir yang tidak akan pernah putus untuk mencintainya." Ujar Pak Malik lirih, dengan bibirnya yang gemetar, mengucapkan satu kalimat. "Putriku… Kalya,"
***
Hari ini adalah hari yang cukup berat bagi Gavin. Sejak ia kembali dari pertemuannya dengan Pak Malik di dekat kantornya tadi, Gavin memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya. Hati dan pikirannya terasa berat, dan membuat Gavin tidak langsung masuk ke dalam rumah, melainkan duduk di dalam mobil ibunya, yang beberapa hari ini ia bawa untuk pergi bekerja.
"Teruslah mencintai Kalya. Saya mohon padamu. Dan kalau pun suatu saat nanti kamu sudah merasa bosan, katakan. Maka saya yang akan datang memberikan cinta untuknya."
Gavin memejamkan matanya untuk kesekian kali. Pak Malik tampak begitu tersiksa atas penolakan Kalya terhadap keluarganya. Terlihat sekali, kalau Pak Malik sangat menyayangi Kalya sebagai putrinya. Tapi, tidak berani, karena waktu yang sudah tergulir sia-sia di antara mereka.
Gavin bingung. Dia tidak tahu harus menempatkan dirinya dimana. Satu sisi, dia tahu bagaimana sakitnya perasaan Pak Malik sebagai seorang ayah. Mungkin, kalau Gavin punya anak nanti, dia juga tidak akan rela berpisah dari darah dagingnya, meski keadaan yang memaksa. Tapi, dia juga tidak boleh buta, dengan perasaan terluka Kalya selama ini. Pikiran dan kejelasan yang buram tentang sosok orang tua telah membuat pikiran Kalya menjadi kusut. Dia sudah terlanjur mengecap dirinya sendiri sebagai anak yang tidak diharapkan. Dan itu akan sangat sulit diubah, mengingat hal itu sudah mengakar urat dalam pikiran Kalya.
"Sore, Ma,"
Gavin menyapa Nia, yang tampak sibuk dengan makanan di atas meja makan mereka. Wajar, karena sebentar lagi, adalah waktunya makan malam.
"Sore, sayang… Kamu baru pulang?" balas Nia tersenyum, mencium sebelah pipi Gavin yang tadi mengecup punggung tangannya.
"Iya, Ma. Gavin baru pulang," jawab Gavin berdusta, karena tidak ingin membuat ibunya itu bertanya-tanya.
"Papa udah pulang?" tanya Gavin basa-basi, dimana sebenarnya dia sudah melihat mobil Kendra yang terparkir dalam garasi rumah mereka, saat dia baru sampai di rumah sore tadi.
"Udah. Tapi, lagi di ruang kerjanya." Sahut Nia. "Sama Kalya."
"Sama Kalya?" ulang Gavin, dibalas anggukan kepala oleh Nia.
"Tadi, pas Papa kamu pulang, Kalya langsung keluar dari kamar. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba, dia bilang ada yang mau dia omongin sama Papa."
"Ngomongin sesuatu sama Papa?" beo Gavin lagi untuk kedua kalinya. "Apa?"
"Nggak tahu. Kayaknya sih, sesuatu yang penting. Cuma… Kok perasaan Mama nggak enak, ya? Mama kok ngerasa Kalya itu…"
Gavin tidak menunggu Nia menyelesaikan kalimatnya. Dia yang juga merasakan hal cemas perihal tingkah laku istrinya itu beberapa waktu ini, langsung berjalan cepat menuju ruang kerja Kendra yang berada di lantai dua.
Dengan tergesa, dia naik dan hendak membuka pintu ruangan kerja ayahnya itu, saat tiba-tiba saja daun pintu tersebut bergerak dan terbuka dari arah dalam.
"Kalya?"
Gavin mengernyit sedikit kaget, melihat istrinya keluar dengan wajah yang sudah bersimbah air mata. Mata merah dan bibir yang terisak, menjadi pemandangan menyakitkan bagi Gavin yang melihatnya.
"Gavin, kamu udah pulang?" sapaan Kendra yang ternyata berdiri di belakang Kalya, diabaikan begitu saja oleh pria tersebut.
Dia yang panik, lantas mendekati Kalya, begitu melihat wanita itu berjalan tertatih ke arahnya, sebelum akhirnya luruh dengan kedua mata yang terpejam.
"Kal!"
"KAL!"
Gavin beruntung sempat menangkap tubuh besar istrinya yang nyaris membentur lantai.
Sementara itu, Kendra yang juga terkejut adik sekaligus menantunya itu jatuh pingsan, segera mendekati Gavin.
"Kal! Kalya! Kamu kenapa?!" seru Gavin panik, sempat menyentuh wajah istrinya yang terasa panas.
"Dia pasti syok berat. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit. Kamu gendong, biar Papa siapkan mobil."
Gavin yang merasa ucapan Kendra ada benarnya, segera mengangkat Kalya dan mengikuti ayahnya itu yang sudah meluncur ke lantai satu. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Gavin saat ini. Namun, segera ia tahan, untuk langsung membawa istrinya ke rumah sakit.
"Ya Tuhan… Apapun itu, asal anak dan istriku baik-baik aja…"
Bersambung